
"Jangan lari! Kami akan menghajarmu!"
Para siswa dan siswi yang tidak kukenal berusaha mengejarku. Aku mencari lingkungan sekitar agar bisa keluar dari situasi itu. Bersembunyi dari mereka meskipun mereka tidak akan membiarkan lolos.
Kenapa?
Kenapa mereka melakukan itu?
Adakah hubungan antara wanita mengeksploitasi Evelyn dengan mereka berniat untuk membunuhku? Padahal, mereka yang salah. Apakah wanita itu dendam padaku dan memanggil rekan bisnis mereka?
Aku semakin tidak mengerti dengan pemikiran mereka. Mereka berniat untuk membunuhku dengan alasan tidak jelas. Mereka sepertinya tidak membiarkanku hidup sedikitpun dilihat dari tatapan dan aura mereka.
Di lorong akademi yang sepi, barulah aku menghadapi mereka. Aku mengambil senapanku dan mencoba untuk menembak mereka. Dengan pelatihan Special Air Service, mereka menjadi benteng untuk para bangsawan itu.
Aku menarik pelatuk dan melepaskan dua peluru dalam satu tembakan. Namun, tubuh mereka terlalu tebal. Mereka sudah tahu semua statusku. Dari keahlian maupun kelemahan.
Aku mengganti AWM dengan pistol dan menembak titik tertentu. Namun, tidak berhasil juga. Alhasil, aku menghindar serangan mereka. Aku mencoba agar tidak terkena pukulan. Karena sudah mempelajari beberapa teknik menghindar, aku bisa menghindari dengan gesit.
“Ada apa? Sepertinya, kekuatanmu di nerf,” olok siswa yang sedang berada di sisi penjaga itu.
“Tunjukkanlah dirimu sebenarnya!” Lanjut siswi itu memegang pedang King Arthur dan mengayunkan pedangnya..
Aku menghindar dan menahan serangan itu dengan pisau milikku. Tatapan yang serius membuatku ingin menyerangnya. Namun, tidak bisa. Aku tidak bisa menyerang wanita. Harus cari cara agar tidak menyakitinya.
Kedua siswa itu hanya bersantai sambil melihat kemampuan penjaga mereka. Mereka berpikir aku akan kelelahan lalu dihajar oleh mereka. Mereka sudah siap dengan bukti identitas sebenarnya. Mereka akan menunjukkan identitasku yang lainnya.
Aku merasakan sesuatu yang mengingatkan memori. Aku tidak bisa lari lagi dari mereka. aku hanya menahan semua serangan dan tidak bisa mengalahkan mereka. Mereka cukup tangguh dengan penjaga SAS. Ini tidak bisa disebut curang. Ini adalah perang psikologis.
Aku menghindari serangan musuh lalu menembaknya. Kemudian, aku menahan serangan dari siswa itu. Dia terlalu kuat. Lebih kuat dari Filia-Senpai. Apa ini namanya kemampuan Kelas III??
Aku tidak peduli. Aku harus keluar dari sini sekarang juga. Mereka tidak mau membiarkanku lewat. Tidak ada pilihan lain. Aku harus mencari solusi untuk menghajar lawan. Mereka tidak bisa membuatku lengah kali ini. Selalu menghantamku dengan tendangan, tebasan, dan pukulan.
Aku menghindari dengan mudah dan menebas kulit mereka walaupun itu tidak selalu efektif. Keputusanku selalu menghindari pertempuran dan mencoba untuk tidak melukaiku. Sudah berapa banyak darah yang keluar akibat aksi yang kulakukan. Aku tidak terlalu ingin mengeluarkan darah lagi.
Namun, ...
Tak lama lagi, … identitasku terbongkar.
[*^*]
Jam 10:12, Shiori dan Bella berjalan menuju ke sebuah kelas. Mereka sudah memesan makanan di kantin dan menuju ke kelas. Mereka sudah seperti soulmate. Menjadi teman yang akrab.
“Bella. Bolehkan aku membeli bukumu?” Tanya Shiori pada Bella di sampingnya.
“Bisa. Kamu harus bayar dulu padaku kalau kamu mau beli,” jawab Bella mengenai buku yang ia buat.
“Dasar Maniak Uang!” Canda Shiori menahan tawanya.
“Tidak ada pilihan lain! Aku harus menabung untuk masa depan.” cekal Bella berpaling dari Shiori karena malu.
“Masa depan apa?! Kalau aku sudah memperkosanya dia akan menjadi suamiku dan kamu tidak punya pasangan lagi,” lanjut Shiori dengan tatapan yang mesumnya.
“Hush! Kamu selalu saja ingin memperkosa Onii-chan. Kalau kamu membuatnya kecanduan, aku akan menghancurkan rumah tangga kalian,” ancam Bella dengan tatapan khasnya.
“Ups! Maaf! Jangan marah, anak kecil! Kamu bisa datang ke acara pernikahanku biar kamu menerimaku,” bujuk Shiori menjadi keibuan.
“Hmph!! Jangan kira aku akan datang karena aku dikira anak SD, kau tahu!” Bella merasa kesal pada Shiori karena dia memanggilnya anak kecil.
Shiori tertawa kecil dengan candaan kecil. Bella juga. Nampaknya, mereka sangat akrab seperti biasanya. Namun, ada sebuah pengumuman yang menggelegak akademi.
“Pengumuman! Saat ini, ada pertarungan yang akan menanti di lorong akademi. 560 m dari taman akademi, ada sebuah hal yang mengejutkan di sana. Kalian bisa bertemu dengan Prince Academy. Kalian akan mengetahui informasi yang menarik mengenainya. Maka dari itu, segeralah datang kemari dan nikmati pertunjukannya!"
"Diulangi. Saat ini, ada pertarungan yang akan menanti di lorong akademi. 560 m dari taman akademi, ada sebuah hal yang mengejutkan di sana. Kalian bisa bertemu dengan Prince Academy. Kalian akan mengetahui informasi yang menarik mengenainya. Maka dari itu, segeralah datang kemari dan nikmati pertunjukannya!"
Pengumuman memancing kedua gadis agar masukndalam jebakan mereka. Merasakan firasat yang buruk mengenai seorang pangeran. Tidak menyadari pengumuma itu hanyalah ajakan agar mereka mengetahui yang sebenarnya terjadi. Mereka akan tahu identitasku yang sebenarnya.
"Aku punya firasat yang buruk," desis Shiori mendengarkan pengumuman itu.
"Ayo! Bella! Kita harus melihat sesuatu. Sesuatu yang cukup buruk mengenai Rivandy." Shiori menyeret Bella menuju lokasi kejadian.
Bella hanya mengangguk mengerti. Ia terpaksa diseret oleh Shiori dan menuju ke tempat kejadian itu. Mereka akan mengungkapkan itu semua.
[*^*]
Jam 10:14, di kantin. Ada ketiga gadis menyelesaikan makanan mereka. Mereka berencana untuk mencariku dan menghabiskan waktu tersisa. Mereka mendengarkan pengumuman menggemparkan akademi sekali lagi. Mereka terpaksa berdiskusi mengenai pengumuman yang sudah disebarkan.
"Rivandy?!" Tanya Akishima mendengar pengumuman akademi.
"Iya. Aku dengar pengumuman itu. Katanya, ada hal yang menarik mengenainya," jawab Aurora mendengar pengumuman itu.
__ADS_1
"Sial! Rivandy Yatsu itu! Dia selalu pergi tidak bilang-bilang. Aku ingin ikut juga," keluh Akishima karena kesal denganku.
"Apakah ada informasi menarik mengenai Sayangku?! Aku tidak akan melewatkannya," tanya Sheeran dengan mata cintanya.
"Sudahlah! Lebih baik kita ke sana sekarang juga," bujuk Aurora berdiri dan meninggalkan meja.
Akishima dan Sheeran mengikuti Aurora dan bergerak menuju ke lorong akademi. Mereka mencari tahu dengan kondisi yang gelap. Mereka akan mengetahui sebuah jebakan yang dilakukan oleh bangsawan itu. Itu adalah … sebuah data yang hilang. Mengenai masa lalu.
[*^*]
Pertarungan semakin berlangsung. Aku selalu menghindari pukulan dan tendangan. Aku menahan serangan itu dan mengayunkan pisauku agar tidak mendapatkan kerusakan. Aku tidak bisa berhadapan mereka dengan banyak. Perlu cari medan yang lain. Dengan celah, aku bisa lari dan bersembunyi sambil melancarkan strategi berikutnya.
Aku membalas tembakan kepada penjaga itu. Namun, mereka masih berdiri tegak dan menghampiriku dengan pukulan. Pukulan yang melesat mengarahkan pada badanku. Gadis dengan pedang King Arthur mengayunkan pedangnya ke arahku.
Aku mundur beberapa langkah dan segera menahan serangan itu. Aku tidak bisa menyerangnya. Butuh timing dan ruang agar aku bisa menghabisi beberapa penjaga itu dan pergi dari sini.
Tiba-tiba, ada segerombolan siswa dan siswi berlari dan berjalan untuk melihat yang sebenarnya terjadi. Mereka melihatku dengan berbagai pertanyaan. Mereka berniat untuk mendekatiku dan mendapatkan informasi mengenai aku. Namun, semua itu dihalangi oleh penjaga. Mereka hanya ingin menghampiriku.
Aku tidak mengerti. Kenapa ada mereka pada situasi ini? Aku tidak bisa melihat adakah sesuatu yang aneh disini. Aku melihat ada rombongan berdesakan dengan para penjaga itu. Dua siswa itu menyeringai dengan arogan. Mengumpulkan sesuatu yang penting.
Sekarang, aku tidak bisa keluar dari sini.
[*^*]
Ada sebuah lorong yang panjang dan sepi tanpa pengunjung sekalipun. Ada seorang remaja yang mengetik untuk membuka program lalu mencari data yang tertera pada akademi. Dia mencari sesuatu dan menyamakan semua data yang ada di akademi.
"Rivandy. Siapa kau sebenarnya?!"
"Apa tujuanmu datang kemari?!"
"Apakah kamu lakukan di akademi ini?!"
"Kau berpihak dengan siapa?!"
"Rekan atau musuh?!"
"Jawab aku, Rivandy!"
Saat ia mencari data, sebuah pemberitahuan yang menarik perhatiannya. Ia menatap sebuah pemberitahuan yang berisiko untuk meretas. Ia melihat ada sebuah tekanan yang membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh.
[Perhatian!]
[{Iya}/{Tidak}]
Ia menekan monitor {Iya} dan mencari tahu mengenai identitas aslinya. Setelah itu, sebuah data yang muncul dan sebenarnya terjadi. Data itu merupakan sebuah data yang disembunyikan dari Neesan. Jika ada yang meretasnya, maka sebuah virus komputer akan memakan sistem komputer itu.
Orang yang gagap akan teknologi tidak akan menyadari bahwa komputer mereka langsung rusak pada komputer lamanya. Tapi, berbeda dengan dirinya. Dia adalah anggota Klub Programmer. Ia terkejut dengan identitas dan sebuah potensi yang cukup menggemparkan.
"Rivandy! Siapa kamu sebenarnya?!"
"Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?!"
"Tidak mungkin? Data ini …."
"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa kamu menyembunyikan dirimu?"
"Sudah kuduga! Ini sudah terjadi pada sebelumnya. Aku tidak menyangka kamu seperti ini."
"Kau bukan manusia. Sebab, namamu adalah …."
[*^*]
Pertarungan yang semakin berlanjut ada banyak kerumuman yang dihadang oleh penjaga. Kedua siswa itu menangkapku dan mengumumkan sesuatu pada publik. Arogan mereka tidak akan terkalahkan.
"Ada apa? Mana aura membunuhmu tadi, hah?"
"Gerard! Biar aku yang …." Richard berusaha untuk menyerahkan ini semua.
"Tidak bisa! Kau akan memenggal kepalanya, iya kan?" Tolak Gerard dengan tatapan yang cukup licik.
Richard mengangguk kecil. Ia bingung bagaimana harus bisa menyerahkan ini. Dengan aristocratic style, ia segera membuka semua rahasia yang terjadi padaku. Maka dari itu, Gerard melihat semua siswa dan siswi yang berdesakan.
"Sudah semuanya, yah? Kalau begitu, …." Gumamnya melirik sekitar dengan bola mata biru bangsawan.
"Aku akan memberitahu siapa kau sebenarnya," tekad Gerard segera maju beberapa langkah.
Ia bergerak menuju arahku. Aku hanya terdiam sambil bertarung kecil dengan penjaga. Siswi itu tidak menyerangku lagi. Jadi, aku harus bersiap untuk lari pada saat yang tepat.
"Darimana saja kau, Prince of *****?!"
__ADS_1
"Kau! Kau tidak pernah kabur dan membunuh semua bangsawan, iya kan?"
"Pangeran Haram sepertimu sepertinya muncul di hadapanku."
Aku terdiam dengan ocehannya. Tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang itu. Siswa siswi berdesakan di tengah eksekutif terdiam. Mereka merasakan firasat yang buruk menimpa mereka.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," tanyaku merasa teringat sesuatu.
Gerard melihat wajahku yang gelap itu. Ia merasa rencananya sukses. Ia melanjutkan eksekusi dengan mimpi buruk.
"Richard! Giliranmu! Aku sudah memberinya tekanan."
"Boleh juga," gumam Richard tersenyum lebar.
Richard berjalan dan menggantikan posisi Gerard dengan baik dan bertekad untuk mengungkapkan identitas yang lain. Dia menyiapkan semua rencana itu untuk memberitahu pada siswa siswi yang sudah berada disini.
"Aku harus mulai dari mana, yah?" Tanyanya dalam hati.
"Begini saja."
Ia membuka mulutnya dengan gertakan dan mencoba untuk memberitahu ini semuanya. Dengan pengalaman yang tidak terlupakan, dosa yang tidak bisa dimaafkan. Dia membuka mulut dan mencoba memberitahu ini semua.
"Kau masih ingat dengan pembunuhan Pangeran Charles Elizabeth V dan Perdana Menteri Inggris?"
Mendengar pertanyaan itu, Bella teringat sesuatu. Ia mengingat semua bukti dari hipotesis itu. Semua dugaan Bella sudah terungkap dan kecurigaannya kepadaku semakin meningkat.
"Tidak mungkin! Aku pernah melihatnya di berita BBC."
"Apakah kamu membunuhnya, Rivandy?" Lanjut Bella merasa tidak beres dengan pemikirannya.
Richard kembali bertanya, "Kenapa kau lakukan itu, huh?"
"Aku tidak tahu," jawabku mengelak dan tidak berbohong.
"Jangan mengelak kamu! Aku sudah tahu semuanya." Richard tidak bisa berpaling dariku.
"Semuanya. dengarkan aku! Kalian berpikir bahwa orang ini mampu menjalani kehidupan akademi dengan baik. Kalian pasti berpikir, dia sangat menawan, sehingga banyak gadis yang berbondong-bondong untuk mendapatkannya."
"Tapi, kalian salah! Kalian ditipu olehnya. Kalian tidak tahu siapa dia sebenarnya. Kalian belum tahu apa yang dia lakukan selama ini. Kalian masih terkena jebakan dengan mudahnya, sehingga kalian tidak akan tahu apa yang dilakukan oleh orang ini pada kalian semua."
"Aku tunjukkan dia siapa siapa sebenarnya."
"Sebenarnya, dia adalah seorang pangeran yang berasal dari hasil perzinahan dari bangsawan. Ibunya mengotori dirinya dengan menjual dirinya ke pria belang. Setelah lahir, dia menghilang tanpa jejak dan orang yang di hadapanku adalah seorang anak haram dari hasil yang tidak diinginkan bangsawan."
"Dia memang tidak diharapkan. Masih menjadi anak dengan hasil yang terhina itu. Ia sampai ingin membunuh bangsawan dengan sadis. Menebas dan menusuk jantung mereka yang lemah lalu memotong kepalanya dan meletakkannya pada suatu tempat."
"Dia bahkan hampir membunuh Ratu Inggris karena sifat yang kurang ajar itu. Setelah membunuh Pangeran Charles dan sebagian besar Perdana Menteri Inggris, dia menghilang dan jejaknya tidak ditemukan."
"Dia pantas diberi pelajaran dengan dipenggal secara umum. Kalau kalian berkenan, biarkan aku yang memenggal kepalanya! Ini adalah eksekusi mati untuk pangeran haram seperti dia! Aku tidak menyangka dia datang kembali. Aku merasa terhormat kalau dia akan diperlakukan seperti budak dan hina itu."
"Aku Benarkah?"
"Reinhardt Elizabeth V?!"
Tatapan menakutkan itu membuatku terbunuh. Banyak siswa dan siswi mengetahui semuanya. Aku tidak tahu aku memiliki memori buruk terjadi padaku. Semua fakta itu benar. Aku tidak bisa lari lagi. Tidak ada yang bisa kulakukan. Mereka sudah tahu semuanya tentangku.
Sepertinya aku ketahuan. Aku tidak bisa menghindari semua ini. Aku hanya terdiam di hadapan mimpi buruk itu. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi.
"Waktunya eksekusi! Penjaga! Habisi dia dan penggal kepalanya!" Suruh Richard kepada pengawalnya.
Penjaga itu menghampiri untuk ekseskusi dan menebasku yang terdiam. Dia menusuk tubuhku agar tidak bisa lari sehingga mereka bisa melaksanakan eksekusi dengan efektif. Aku tidak berteriak. Hanya menjerit kesakitan dengan memori kelam itu.
Richard dan Gerard tersenyum lebar dengan eksekusi itu. Rosalyn bernafas lega dengan teriakanku.
Namun, ada suatu hal yang tidak bisa membunuhku. Dengan suatu situasi, aku tidak sengaja mengaktifkan sesuatu yang tidak pernah kugunakan sebelumnya.
[Arctic Warfare : Apocalypse!]
Aku ditusuk pedang menusuk penjaga dengan tatapanku dan memotong kepalanya. Penjaga itu mati dengan darah yang bercucuran. Aku tidak peduli dengan siapapun. Aku akan membunuh mereka semua.
Semua orang yang melihat ini sangat terkejut, apalagi Bella yang ditemani oleh Shiori. Mereka melihatku memenggal kepala penjaga dengan pedang yang menusuk di tubuhku.
Richard dan Gerard tidak mengerti kenapa terjadi hal yang seperti ini. Mereka tidak menyangka eksekusinya gagal. Mereka berniat melakukan eksekusi itu. Namun, rencana berubah. Sekarang, ini adalah pertarungan hidup mati. Pertarungan untuk kekuasaan dan keadilan.
"Tidak mungkin! Kau membunuhnya!"
Suasana menjadi hening. Tidak ada yang bersuara. Mereka tidak mengerti penjaga mati seketika. Mereka sangat takut akan mimpi buruk yang kurasakan.
Dengan itu, mereka mengambil pedang milik mereka.
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu, Reinhardt Elizabeth V!"