
Jam 17:23, di sebuah ruangan sepi, ada seorang wanita yang mengetik mengenai administrasi dalam observasi perkembangan akademi di Moskow. Dia berada di situasi deadline untuk mengumpulkan pekerjaannya.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil melalui panggilan darurat ketika dia menyelesaikan administrasinya. Dengan seriusnya, dia menanyakan keadaaan akademi yang mengalami kekacauan.
“Nona Cherry. Aku memanggilmu di Pengadilan Moskwa. Kau harus datang untuk menjelaskan semua peristiwa yang terjadi pada akademi,” panggil orang itu memaksa Cherry.
“Eh?! Ada yang bisa dibantu?” Tanya Cherry menyapa seseorang seperti anak kecil.
“Aku mendapatkan laporan dari beberapa kalangan bahwa ada kekacauan di akademi. Lalu, ada polisi yang datang ke akademi dan memeriksa pembunuhan yang terjadi. Aku mendapatkan laporan dari saksi yang telah dilaporkan dari pihak keamanan,” jelas orang itu dengan jas hitam yang rapi.
“Bisakah kamu datang besok untuk membahas persoalan ini?” Tanyanya menatap Cherry tajam.
“Eh? Aku tidak mau. Soalnya, aku tidak punya jatah libur. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini agar aku bisa istirahat,” rengeknya seperti anak kecil.
“Jangan berlagak seperti anak kecil! Aku sudah muak denganmu,” tolaknya dengan bentakan seperti orang tua kepada anak kecil.
“Eh?! Jahatnya! Padahal, sedikit lagi aku sudah selesai.‘ rengek Cherry tidak terima dengan keadaan mendesak.
“Aku tidak peduli. Pokoknya, kamu harus datang ke pengadilan besok pada jam 07:00. Aku permisi dulu,” tutupnya mematikan panggilan darurat dari Cherry.
Panggilan itu ditutup. Cherry memegang kepalanya dengan pelan. Ia menunda pekerjaan secara sebentar. Ia menyalakan rekaman Drone Akademi yang dinyalakan. Ia membuat drone itu tidak terlihat oleh para siswa dan siswi karena alat itu mampu menembus bangunan dengan mudah.
Ia melihat pertarungan yang sengit antara Rivandy dengan para bangsawan. Rivandy membunuhnya dengan teriakan dan kebencian. Cherry erdiam dengan hasil rekaman yang kemarin terjadi.
“Sepertinya kamu sudah ketahuan, Rivandy!” Gumamnya menggerakkan lidahnya.
“Tenang saja! Aku akan melindungimu … dari mereka.”
[*^*]
Keesokan harinya, jam 06:02, di Pengadilan Moskwa, sebuah panggung yang digunakan untuk menonton perdebatan antara hakim dengan tersangka. Para hakim dan jaksa sudah mengenakan pakaian rapi dan duduk di kursi mereka masing-masing.
Para penonton dan saksi memasuki pengadilan satu per satu. Tidak ada siswa dan siswi akademi yang diperbolehkan untuk masuk ke ruang pengadilan. Mereka belum siap dengan dunia hukum.
Kalau ada, hanya orang tertentu saja yang akan diizinkan oleh pihak akademi. Orang itu harus menjadi anggota yang dipercaya dari Klub Disiplin. Jadi, biasanya Presiden Akademi (Ketua Klub Disiplin) akan mengirimkan salah satu anggotanya untuk menghadiri pengadilan itu.
Itupun sebatas mengenai akademi.
Syaratnya pun sangat ketat. Pertama, anggota Klub Disiplin kelas Saintek dilarang mengikuti pengadilan itu. Kedua, murid yang memiliki nilai A- sebagian kecil mata pelajaran Soshum kebawah dilarang mengikuti pengadilan. Terakhir, murid itu harus siap dalam segala kondisi ketika ditunjuk. Tidak boleh ada halangan apapun. Baik sakit maupun izin.
Murid akademi yang memiliki syarat dan kriteria yang baik, akan diberikan kartu izin pengadilan dan akan duduk di kursi ruangan VIP dan mendengarkan apapun yang akan dijelaskan. Lalu, ia akan menjelaskan mengenai kondisi akademi.
Para saksi yang menonton pengadilan mengenai akademi adalah orang yang telah dewasa dalam dunia hukum dan sosial. Mereka sudah bekerja sama dengan pihak akademik dalam dunia hukum.
Tidak heran bahwa Akademi Militer Spyxtria memiliki koneksi yang sangat bagus di Moskow, bahkan dunia.
Ketika pemeriksaan, ada seorang gadis dari Klub Disiplin sedang diperiksa secara dokumen dan diberikan kartu izinnya. Setelah itu, dia segera masuk dan diarahkan dalam kelas VIP.
Dia adalah Diana Raventought, siswi Kelas I Soshum A.
Tak lama kemudian setelah penduduk Moskow memenuhi ruang pengadilan, ada seorang wanita memasuki ke akademi. Dia berpakaian gaun ketat warna ungu dengan kulit yang bersih dan langkah kaki seperti seorang model.Ia berjalan lurus di hadapan Hakim dan Jaksa.
Hakim melihat wanita itu menatap tajam dengan mata sipit dan wajah keriput. Dengan pakaian hakim, ia berniat untuk membuat Cherry mempertanggungjawabkan dengan kejadian sebelumnya.
Para penonton segera berbisik mengenai penampilan Cherry yang seksi itu. Dia duduk di tempat VIP dengan mengenakan seragam yang rapi hanya terdiam dengan keberadaan Cherry masuk tiba-tiba. Perdebatan itu akan segera dimulai.
__ADS_1
“Selamat pagi, Nona Cherry! Apakah Anda sudah menyelesaikan tugas PBB-mu?” Tanya Hakim dengan mata setajam silet.
“Selamat pagi, Yang Mulia. Aku ingin istirahat sebentar. Aku sudah tidak lama berada di luar,” jelas Cherry berdiri di hadapan Hakim.
“Duduklah! Saya membahas sesuatu mengenai peristiwa tempo hari,” suruh Hakim dengan duduk yang rapi.
Cherry tidak mendengarkannya. Ia menendang kursi dan meja sampai hancur berantakan. Para saksi heran dengan perilaku Cherry. Diana melihat tingkah laku Cherry dan merekam audio dan visual di tengah hakim.
“Aku tidak ingin duduk dulu. Aku sudah menghabiskan seharian dengan duduk di kursi. Jadi, aku ingin berdiri beberapa saat dulu,” tolak Cherry dengan aura Oneesan Ara-Ara.
“Baiklah! Lakukan sesukamu! Saya tidak peduli apa yang Anda lakukan,” terima Hakim walaupun ia masih dingin kepada Cherry.
Cherry menghela nafasnya karena ia merasa lega. Ia bisa berdiri dengan tegak di hadapan Hakim tanpa menggunakan kursinya. Ia mempersiapkan semua bukti, sehingga proses persidangan akan dimulai.
“Jaksa. Tolong jelaskan mengenai kasus ini!”
“Baiklah!” Jaksa segera membaca semua kasus.
“Pada tanggal 13 Maret 2026, jam 10:19, terjadi keributan di lorong akademi. Keributan itu menimbulkan korban yang tidak sedikit. Aku mendengar laporan dari beberapa polisi dan detektif mengenai keributan akademi ini.”
“Sebanyak 42 Penjaga SAS telah dibunuh dalam keadaan mengenaskan. Aku juga menemukan darah yang berceceran menurut dari beberapa sumber dari siswa dan siswi akademi. Aku menemukan jasad dari ”
“Pertama, siswa Angkatan 2023, Gerard Remington Elizabeth V, Kelas III Soshum C, telah tewas karena kepalanya sudah terbentur dengan keras. Paramedis tidak bisa menyembuhkan korban yang terluka parah itu, sehingga ia dinyatakan meninggal dunia.”
“Kedua, siswi Angkatan 2023, Rosalyn Elizabeth V, Kelas III Saintek A, telah tewas dengan tangan kirinya dipotong oleh seorang pembunuh. Alat vitalnya mengalami memar dan kepalanya mengalami benturan dan bekas tendangan dari seorang pembunuh itu.”
“Dan ketiga, siswa Angkatan 2025, Richard Meleouse Elizabeth V, telah tewas dengan komplikasi yang aneh. Dia mengalami tusukan di perutnya dan beberapa tulang yang fraktur akibat hentakan pembunuh yang membuatnya kehilangan nyawanya. Ia berteriak keras di rumah sakit sebelum meninggal dunia.”
“Ada seorang pembunuh yang kabur dan meninggalkan akademi. Dia menghilangkan diri dari akademi dan pergi meninggalkan jejak yang tidak diketahui. Ini membuat banyak siswa dan siswi menjadi trauma dan ketakutan atas pembunuhan itu.”
“Dan pembunuh itu … adalah siswa Kelas I Saintek A, Prince Academy, Rivandy Lex atau Reinhardt Elizabeth V.”
“Dengan peraturan yang ia langgar, membuatnya terancam hukuman yang berat. Dia harus menghadapi kurungan penjara yang tidak main-main. Kalau perlu, dia harus dikeluarkan dari Akademi Militer Spyxtria.”
“Menurut Undang-Undang Akademi Militer Spyxtria Tahun 2023 Nomor 56a, murid akademi yang membunuh murid akan dikenakan hukuman berat berupa 3 bulan penjara. Nomor 56b, murid akademi melakukan pembunuhan dengan mutilasi dan membuat keamanan akademi terancam, dia harus dikeluarkan dari Akademi Militer Spyxtria.”
“Tapi, sebagai kepala sekolah, harus diberi hukuman yang setimpal karena membuat keamanan siswa dan siswi akademi menjadi terancam. Ini membuat reputasi akademi menjadi menurun karena pemerintah berbagai dunia sudah mengirim siswa dan siswi dari belahan dunia.”
“Aku sudah menonton dan melihat semua barang bukti dari rekaman dari salah satu siswa atau siswi akademi. Dia melanggar Undang-Undang Akademi Militer Spyxtria Tahun 2023 Nomor 56b. Dengan ini, kehidupan akademi akan dijaga ketat oleh para mata-mata dari belahan dunia.”
“Itu saja yang aku sampaikan. Terima kasih.”
“Sama-sama. Saya sangat menghargai dengan kasus ini,” puji hakim itu pada jaksa yang sudah meneliti semua barang bukti dari Kepolisian Moskow.
“Saya sangat ragu dengan jabatan anda sebagai kepala sekolah akademi. Dengan kondisi ini, akan menurunkan martabat pada PBB. Saya sangat menyesal membuat anda memegang jabatan sebagai kepala sekolah akademi. Padahal, anda merupakan anggota PBB yang memiliki prestasi yang gemilang.”
“Saya juga mendengar dari Nyonya Manshery bahwa tersangka itu telah melenyapkan aset yang berharga itu. Dia juga sudah melakukan dosa yang tidak bisa dimaafkan. Pembunuhan yang terjadi pada Ratu Inggris, Pangeran Charles, dan sebagian besar Perdana Menteri Inggris membuat bukti yang jelas.”
“Dia menjadi penumpang gelap di sebuah kapal dan penduduk yang ilegal di Moskow, sehingga dosa yang ia terima lebih banyak lagi. Ia melakukan kejahatan yang tidak dimaafkan. Jadi, kesimpulannya, tersangka itu sudah melakukan banyak sekali kejahatan.”
Cherry hanya terdiam dan mendengarkan semua keluhan itu. Itu membuat orang yang menonton persidangan itu bingung dan keheranan. Diana hanya mendengarkan sambil mendengarkan dengan kualitas MP4. Dia sangat tidak menikmati persidangan itu.
“Yang Mulia. Bolehkah saya ikuti bicara?” Tanya Cherry tanpa rasa takut.
“Ada apa?” Tanya Hakim itu dengan dingin.
__ADS_1
“Seperti yang Yang Mulia katakan, Rivandy melakukan pembunuhan pada bangsawan tempo hari. Lalu, dia mengalami tindak kriminal karena dia melakukan kejahatan.”
“Tapi, itu hanya sebagian kecil dari kejahatan di dunia. Yang Mulia belum tahu apa yang ia lakukan. Dia bahkan menyelamatkan siswa lain dari korban kejahatan yang semakin memburuk."
“Contohnya, Joe Hyeon Asuka, Romano Zerevyaka, Ray Anggarita, dan Parrel Paulia. Mereka berasal dari Kelas II Saintek C. Mereka adalah pelaku dari human trafficking yang sudah menjual gadis sebanyak 645 orang dan terjual sebesar 45%."
"Jadi, ada 290 gadis yang sudah dijual di belahan dunia."
"Saphine Vera adalah salah satu korban yang mengalami human trafficking. Dia dipaksa melayani hasrat mereka. Tapi, jika bukan karena Rivandy, Saphine sudah dibawa ke Bandung untuk dieksploitasi lebih lanjut."
"Kalau dibiarkan itu terjadi, mereka akan mengincar gadis yang lain untuk dijual kembali dan meraup keuntungan yang sangat banyak itu."
"Tidak selama membunuh itu hal yang buruk," sanggah Cherry serius sambil melampirkan sesuatu kepada Hakim.
"Saya tidak yakin dengan anda katakan. Saya menganggap tersangka sebagai remaja yang dipenuhi dengan dosa dari Kristen Ortodoks," tolak Hakim itu mentah-mentah.
"Saya bertanya kembali. Saya melihat keluhan dari saksi. Dia melihat keamanan akademi yang begitu longgar. Apakah itu benar?" Tanya Hakim itu.
"Sepertinya tidak ada. Aku sudah mengurus mereka," jawab Cherry dengan santai
"Lalu, kenapa banyak pihak yang tidak diinginkannya selalu masuk seenaknya?!" Tanya hakim itu menahan amarahnya.
"Itu, karena mereka menyelinap dan segera menggunakan otoritas merea untuk masuk secara paksa dan kekacauan pun terjadi," jawab Cherry dengan memikirkan sesuatu.
"Jangan mengada-ada! Saya sudah tidak tahan dengan keamanan akademi yang semakin longgar itu!" Keluh Hakim memukul mejanya.
"Lalu, apa yang dilakukan Klub Disiplin saat itu? Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang melerai perkelahian itu?" Tanya Hakim itu lagi.
Diana merasa tersinggung. Ia mendengar Klub Disiplin itu tidak berguna dalam menghadapi masalah yang serius. Tapi, ia tetap tenang dan mendengarkan persidangan itu agar ia bisa mnulis laporannya.
"Eh?! Mereka sudah berkerja keras, kok. Aku yang membiayai 37% isi kartu kreditku pada anggaran mereka. Jadi, mereka bisa membuat anggaran itu untuk menertibkan akademi. Jangan remehkan mereka!" Cherry dipermainkan dan menjalaninya dengan aura Oneesan Ara-Ara.
"Lalu, saya tidak melihat mereka melakukan hal yang baik saat mendapatkan laporan dan keluhan. Saya juga melihat ada Perang Cinta yang selalu muncul setiap 3 tahun sekali."
"Mohon maaf, Yang Mulia! Aku merasa bersalah kali ini. Meskipun dipajangkan dengan ketat, ada saja orang yang akan melanggar, sehingga itu membuat akademi menjadi kacau." Cherry merasa ruangan itu cukup membuatnya kesakitan.
"Sebab, semakin naik tingkat keamanan, semakin banyak aturan yang akan ditetapkan. Semakin banyak aturan, banyak yang berkemungkinan untuk melanggar aturan itu."
"Aku, pembimbing Klub Disiplin, mengatakan bahwa tidak semua kejahatan bisa diselesaikan. Sebagian itu pun belum tentu bisa terlaksanakan.”
"Masih banyak kejahatan yang tidak dihitung. Itupun membuat masyarakat menjadi was-was dan ketakutan akan kejahatan yang akan dialami. Pihak kepolisian masih belum mempunyai personil yang lengkap untuk membasmi kejahatan di Moskow.”
"Revolusi Perancis berakhir dengan kekalahan kaum oportunis. Rakyat jelata berevolusi menjadi pejabat pemerintahan dan menteri. Satu lagi, presiden diangkat karena ia terpilih oleh rakyat.”
"Aku akan memberikan sesuatu padamu.”
“Ambillah dan bacalah! Aku sudah menyalin bukti ini semalaman,” sodor Cherry memberikan semua bukti berupa sebuah buku virtual pada Jaksa.
Para jaksa aegera membaca semua bukti yang ada. Ia membaca bukti satu per satu secara sekilas. Ia melihat banyak bukti kejahatan dari seorang siswa dan siswi akademi. Bahkan, korban dari kejahatan itu pun ditulis dan melihat' kasus yang tidak pernah tuntas.
Ia terkejut dengan bukti sebanyak itu. Ia mera tidak tahu apa isi buku ini. Ini terlalu banyak. Hanya sebagian kecil kasus itu terpecahkan oleh detektif.
Kasus terakhir dicatat oleh Evelyn yang ditulis oleh Rivandy. Kasus itu sedang dalam pencarian. Tidak mudah seorang KGB menemukan Evelyn, sehingga pada tanggal 3 Maret, Evelyn resmi dikeluarkan dari Akademi Militer Spyxtria.
"Pak, sebaiknya anda melihat bukti ini!" Usul Jaksa segera memberikan buku virtual itu pada Hakim.
__ADS_1
Hakim segera mengambil buku itu dan segera membacanya. Iaterkejut dengan banyak bukti yang ada di buku itu. Diana menatap dengan keringat dingin di tengah persidangan yang ramai iris bb
Hakim itu menghentakkan buku itu dan mengoceh, "Cherry Sialan! Kau ...."