
22 November 2025, jam 07:56, di kota Moskow yang ramai dan tidak ada pekerjaan karena banyak pekerja yang libur. Mereka yang libur memilih untuk istirahat di rumah atau keliling Kremlin.
Di sebuah apartemen yang cukup lusuh dan agak tua, ada sebuah ruangan apartemen yang sangat berantakan. Baik ruang tamunya maupun ruang kamarnya. Apartemen ini hanya dihuni oleh satu orang dan satu pengurus apartemen.
Di sana, ada seorang bertubuh gemuk yang sedang tertidur pulas. Dia tidak memikirkan di sekitarnya. Ia hanya tertidur dengan pulas sambil mendengkur dengan keras. Ia tidak terlalu peduli matahari yang semakin memuncak.
Namun, ada seorang wanita yang menghampiri seseorang yang tertidur itu. Dia melewati semua rongsokan itu dan segera menghampiri orang yang sedang tertidur dengan nyenyak. Ia membawa ember isi air lalu menumpahkan kepada Hammer.
“Hammer! Bangunlah, dasar pemalas! Kau pikir ini jam berapa? ini sudah jam 8. Bersihkan kamarmu dan segera buang sampah sekarang juga! Banyak sampah yang sudah menumpuk,” suruh wanita itu membangunkan Hammer dengan air.
“Jadi, cepatlah! Tidak ada waktu lagi,” pamitnya sambil mengeluh dengan ruangan yang berantakan itu.
Hammer bangun dengan seketika. ia sudah terbangun.dari tidurnya, namun ia bukan seperti biasanya. Ia murung dengan hari yang libur itu. Dengan suruhan wanita tua itu, ia segera menuju ke apartemen
Ia mengambil beberapa sampah di apartemen dan membuangnya di tempat sampah. Ia mengunci pintu yang lusuh itu dan segera pergi menuju tempat sampah dengan jalan kaki
[*^*]
Jam 08:12, ia menemukan tempat dimana ia bisa membuang sampah. Ia meletakkan semua sampah yang ia pegang dan segera pergi dari sini. Ia juga memastikan bahwa tidak ada yang ketinggalan.
Namun, panggilan itu membuat Hammer tertuju pada seseorang yang sedang kebetulan sambil membawa sesuatu. Orang itu memanggilnya, sehingga ia menoleh kepada seseorang kepadanya.
“Hammer.” panggilku sambil menghampiri Hammer.
“E… Hai. Ri-chan,” sahut Hammer dengan murung.
“Kebetulan kau tidak memelukku saat aku datang. Biasanya, jika kita bertemu, kamu memelukku,” dugaku tidak melihat Hammer seperti biasanya,
“Tidak aku hanya menjalankan tugasku walau terpaksa,” sahut Hammer berpaling dariku.
“Ri-chan sedang apa?”
“Aku mencari alamat untuk mengirimkan sesuatu. Ini alamatnya.” Aku memberikan kertas alamat pada Hammer.
Hammer menerima kertas alamat itu dan segera membacanya. Aku melanjutkan, “Google Maps-nya sedang di maintenance. Mungkin bisa beroperasi besok.”
“Ayo. Aku mengantarmu ke alamat ini. Ikuti aku!” Pinta Hammer membawaku ke alamat yang ingin dituju.
Aku hanya menerima itu, berjalan di belakangnya dan segera mengikutnya dari belakang tanpa perbincangan sekalipun.
[*^*]
Setelah sampai di apartemen Hammer yang lusuh dan tua, kami menghampiri ke ruangan itu. Aku melihat ruangan yang sudah rusak di sekitar. Apartemen kayu yang sudah rusak masih berdiri kokoh. Aku melihat pemandangan yang familiar saat singgah di Toko Bunga Anita.
Ini tidak jauh berbeda dengan apartemen Sheeran dan Rin. Hanya saja ini lebih parah.
Setelah itu, kami sampai di ruangan pengurus apartemen dan melihat wanita itu sedang melakukan aktivitas cuciannya. Dia dengan aura marahnya sedang menghampiri Hammer.
“Hammer! Ayo, bersihkan apartemen ini dan cuci baju! Aku harus ….” Wanita itu menghentikan suaranya.
Ia melihat sosok yang sangat tampan dan tinggi. Ia juga sedikit berotot dan sangat bersih. Di belakang Hammer, ada seorang remaja yang sedang berdiri di hadapan wanita yang gemuk itu.
“Pangeran!” Seru wanita itu memanggilku dan menghampiriku dengan cepat
Setelah itu, dia memelukku dengan erat sambil mencium pipiku. Kemudian, ia ingin menciumku, sehingga membuat tubuhku semakin memanas. Aku mencoba menahannya untuk tidak terangsang oleh wanita gemuk itu.
__ADS_1
Tolong! Aku tidak mau terangsang oleh wanita lain. Aku masih mau hidup sekarang juga.
Aku memberontak itu segera mencela, “Mou. Jangan cium aku! Aku terangsang, nih,” melepaskan pelukanku dari wanita itu.
“Hehehe. Maafkan aku. Kamu terlalu tampan. Aku lupa umur. jadi, seperti ini,” respon wanita itu cengengesan melepaskan pelukannya.
“Oh iya. Aku memberikan ini padamu. Silahkan menikmati!” Aku memberikan sesuatu pada wanita itu.
Wanita itu menerima pengiriman itu dan segera membukanya. Ia membuka pemberianku dan melihat ada sebuah bunga yang telah dilindungi oleh plastik khusus agar tanaman tetap terjaga.
“Aku iri pada Anita. Dia menggunakan paket pengiriman melalui setampan Pangeran ini,” gumam wanita itu.
“Oh iya. Pangeran. Kamu bisa ke sini kapan saja. nanti aku akan mengirimmu sebuah minuman dengan rasa cinta."
“Tidak usah repot-repot. Aku tidak terlalu ingin minuman itu,” tolakku sambil menahan rangsanganku..
“Lagipula, aku sedang menahan nafsu birahiku,” lanjutku dengan wajah memerah.
“Tidak usah menahannya! Kau boleh melakukannya padaku,” pamitnya sambil segera menuju ke dapur.
Setelah wanita itu meninggalkanku dan Hammer, aku melihat ruangan yang cukup rusak. Tembok yang rapuh dan lantai yang tidak beraturan, Pada saat itu, HA
ammer berniat untuk meninggalkanku untuk bergerak ke suatu tempat.
“Aku ke apartemenku. Jangan bangunkan aku!” Hammer segera meninggalkanku dan menuju ke kamarnya
“Tunggu. Hammer. Kamu mau kemana?” Tanyaku pada Hammer namun Hammer cuek dan mengabaikanku.
Percuma saja. Hammer tidak menjawab. ia sama sekali tidak mendengarkanku. Aku berniat untuk menghentikan langkahnya karena aku cemas wanita gemuk itu akan menghisap cairanku selama mungkin. Jadi, aku perlu perlindungan.
Seketika itu … Hammer hanya menerimanya. Dia tidak bisa menolak itu dan mau tidak mau harus memenuhi perintah dari wanita gemuk itu.
Ia menuju ke ruangan dimana ia bisa mencuci pakaian, menunda ke apartemen yang berantakan itu dan segera mencuci dengan terpaksa.
Aku hanya melihatnya tanpa ada reaksi apapun. Aku hanya berdiri tanpa ada pergerakan apapun. Wanita yang gemuk merasa iba denganku yang terdiam disitu. Ia menghampiriku dan mendekatiku sambil mengeluarkan rayuannya.
Kemudian, wanita itu menjawab, "Jangan khawatir dengan dia! Dia yang pemalas itu harus diberi pelajaran."
"Kalau aku sudah mengerjakan tugasku, aku akan mengajakmu ke ranjang dan bermalam selama mungkin," rayu wanita itu membuatku tidak enak.
"Tidak terima kasih. Aku … harus …." Aku mencoba untuk pergi.
"Jangan malu-malu. Aku punya pekerjaan untukmu," cegah wanita itu menarik tanganku dan menyeretku ke suatu ruangan.
"Tunggu! Apa yang kamu lakukan? Aku harus mengantarkan paket ke Bibi Rita dulu. Lalu, aku harus kembali ke Bibi Anita untuk melaporkan sesuatu padanya," protesku sambil membeberkan bukti kepada wanita itu saat aku diseret.
"Tenang saja. Aku akan menghubungi Bibi Anita bahwa kau harus melakukan sesuatu disini. Jadi, jangan khawatir!" Balasnya melakukan sesuatu.
"Um. Baiklah. Aku terima itu," terimaku dengan pasrah.
Pada saat kami sampai di suatu ruangan yang lusuh dan berlubang, aku disuruh untuk menyetrika baju. Kemudian, aku membereskan apartemen yang sepi itu. Terakhir, aku harus ke pasar untuk membuat makan siang. Sementara itu, Hammer mencuci baju dan menjemur baju itu di belakang apartemen. Lalu, ia menyapu semua halaman di apartemen yang lusuh itu.
Wanita yang gemuk itu sedang melakukan sesuatu yang belum kami lihat. Ia menghubungi Bibi Anita agar menitipkan sesuatu padaku untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia juga menelpon kepada Bibi Rita untuk menitipkan sesuatu padanya. Ia menyuruh Hammer untuk membawa paket yang ingin kuantarkan ke Bibi Rita.
Denis sedang ada pertemuan dengan Zhukov dan Saphine. Jadi, ia tidak ada. Itulah perkataan yang dilontarkan Bibi Rita pada Hammer. Setelah itu, mereka kembali menuju ke apartemennya dan segera melapor pada wanita itu.
__ADS_1
Kemudian, wanita itu menyuruh, "Ini. Belilah garam! Kita sudah kehabisan garam. Rivandy akan membersihkan apartemenmu. Jadi, cepatlah!"
Dengan perintah itu, Hammer segera pergi menuju ke pasar untuk membeli garam. Jika aku yang disuruh, mungkin aku segera menuju ke supermarket.
Aku agak cemas jika ada pencuri di pasar. Dia akan melancarkan aksinya jika lengah. Tidak hanya itu, ada sekelompok preman yang akan melancarkan aksinya dan melakukan pembegalan kepada korban.
Jangan khawatir! Hammer bukan orang yang lemah.
Sementara itu, aku yang sedang membersihkan apartemen Hammer. Aku diberikan kunci untuk membuka apartemen dan membersihkannya. Setelah itu, aku disuruh ke ruang kamarnya untuk berduaan.
Tolonglah! Jangan rayu aku lagi! Rayuan Neesan sudah membuatku terangsang, apalagi ini.
Aku melihat ruangan berantakan setelah membuka pintu apartemen. Aku melihat banyak barang yang berserakan di sana. Aku mencoba menganalisis awal dari akar penyebab ini. Tentu saja iya. Hammer tidak membersihkan ini selama sebulan.
"Kotor sekali. Sejak kapan kamar ini dibersihkan?" Gumamku saat melihat pemandangan yang kotor itu.
Setelah melihat.ruangan sekitar dengan sesaat, aku mulai melancarkan aksiku untuk membersihkan ini semua. Aku melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum membersihkan ruangan ini.
Aku memilah barang yang bisa digunakan atau tidak. Lalu, membuang sampah yang tidak ada artinya dan segera merapikan ruangan ini. Aku juga mengemas barang yang masih bisa dipakai dan segera mengembalikan ke tempat semula.
Butuh beberapa saat untuk menyelesaikan ini. Orang kaya dan terpandang tidak akan tahan dengan ruangan ini dalam satu detik. Ini berbeda dariku. Aku langsung membersihkan tempat kotor itu walaupun mereka merasa jijik padaku.
Setelah merapikan ruang tamu selama 40 menit lamanya, aku segera bergerak menuju ke kamar mandi. Di sana, aku melihat pemandangan yang tidak mengenakkan di sini. Aku berpikiran sesuatu bahwa aku merasakan hal yang tidak enak disini. Tapi, aku mengabaikannya dan segera membereskan ini semuanya.
Aku mengambil semua kotoran yang ada di kamar mandi dan segera mengeluarkannya dai sini. Aku mengambil kantung sampah dan sarung tangan pelindung untuk mengambil semua kotoran itu.
Ini cukup memakan waktu yang lama. Jadi, aku tidak terlalu terpaku dengan waktu. Aku menjalani aktivitas ini. Tak lama kemudian, aku sudah menyelesaikan tahap pertama. Saatnya tahap kedua.
Aku membuat formula untuk membuat cairan untuk mengepel. Setelah itu, aku mengeringkannya dan segera membereskan itu semua. Aku mengepel lantai dan dinding. Aku juga membersihkan toilet dengan tisu basah yang ku beli di supermarket.
Jam 12:13, aku sudah membersihkan kamar mandi. Aku sudah memastikan tidak ada yang ketinggalan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membersihkan tempat lain juga.
Selanjutnya kamar Hammer. Aku tidak terlalu ingin mengetahui dengan kamar Hammer. Tapi, karena suruhan dari wanita itu, aku harus melakukannya. Aku yang sedang membawa alat kebersihan untuk membersihkan kamar Hammer.
Maafkan aku, Hammer! Aku akan mengintip ada apa di dalam kamarmu itu.
Saat aku membuka pintu, aku melihat kamar yang berantakan. Aku juga melihat suatu misteri yang ada terdapat dalam kamar itu. Tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ini semua terlihat jelas pada apa yang kulihat.
Aku melihat catatan yang aneh beserta dengan foto keluarga yang tidak bahagia. Aku juga melihat apa yang ia sukai dan tidak. Lalu, aku juga melihat perisai yang ia gunakan disimpan dengan rapi, sementara ruangan lainnya berantakan.
Saat aku melihat fotonya, aku sudah menduga ini akan terjadi. Aku melihat ada anak yang rajin dan yang malas. Keduanya mendapatkan kausalitas yang berbeda. Jadi, ini yang membuat Hammer kemari.
Aku membersihkan kamar sebelum Hammer datang. Ia selalu disuruh oleh wanita itu.
Setelah itu, aku segera meninggalkan apartemen Hammer dan segera menutup pintu. Namun, saat aku kembali ke pengurus apartemen, Hammer sudah ada di hadapanku.
Aku sedikit shock dengan itu. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang aku katakan padanya.
Aku harus berhati-hati agar tidak menyakiti perasaan Hammer. Aku sudah tahu apa yang membuatmu seperti itu.
Namun, kenapa?
Kami saling berhadapan dengan rasa canggung di sekitar kami. Kami saling bertatap muka dengan pikiran yang kosong.
Pada saat itu, ia menjawab sebuah kalimat padaku.
__ADS_1
Kalimat Iiu adalah ....