Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Hammer Rizka 1,2


__ADS_3

Jam 12:21, aku dan Hammer saling berhadapan dengan pikiran kosong. Aku tidak berpikiran bahwa aku bertemu dengan Hammer yang sudah disuruh oleh wanita itu untuk membeli bahan makanan di pasar. 


Kami menatap satu sama lain dengan sesaat. Lalu, aku mencoba untuk mengangkat suaraku. Namun, Hammer mengangkat suara terlebih dahulu.


“Ri-chan. Kamu melihat sesuatu?” Tanya Hammer yang berada di hadapanku.


“Tidak. Aku hanya membersihkan kamarmu. Aku tidak melihat apapun,” jawabku berbohong.


“Begitu, yah?” Hammer merespon kebohonganku.


“Tadi, aku datang kesini untuk memberi pesan padamu bahwa pengurus apartemen memanggilmu,” lanjut Hammer dengan wajah murung.


“Iya. Aku akan ke sana,” pamitku mengakhiri pembicaraan dan segera melewati badan Hammer.


Setelah itu, aku dipanggil oleh wanita gemuk itu dan menggali tanah untuk menanam tanaman dan menyiram rumput. Lalu, mengatur gudang menjadi rapi. Banyak barang yang harus dibersihkan di sana.


Jam 12:31, Hammer dipanggil lagi oleh pengurus apartemen itu. Dengan teriakan yang cukup keras itu, Hammer segera keluar dari apartemen dan segera menuju ke sumber suara. Aku hanya melanjutkan aktivitasku.


Aku sudah membersihkan gudang lalu, wanita itu menyuruh, “Hammer! Kau harus menemaninya untuk membuang sampah ini."


“Tapi, bukankah ….” Hammer mencoba untuk memberontak.


“Diamlah dan turuti perintahku!” Bentak wanita itu.


Tidak ada gunanya. Suara wanita gemuk itu membuatku ilfil. Aku merasa cukup kasihan kepada Hammer karena aku tidak tahu apa yang membuat wanita gemuk itu memarahinya sampai segitunya.


Aku khawatir kalau Akishima atau Aurora menjadi wanita gemuk dan suka memarahi pada orang lain. Tapi, kemungkinan itu hanyalah 0,000034% (Rumus Persamaan Drake) dimana rumus itu melambangkan  N \= R* x Fp x Ne x Fi x Fc x L. Rumus itu dapat digunakan untuk mencari kehidupan di luar angkasa atau mencari pasangan sempurna.


Orang amatir tidak mengetahui apa rumus ini. Aku sudah membacanya di buku sebelum tidur dan diganggu oleh para gadis yang berisik. Aku tidak keberatan bahwa aku membersihkan semua ruangan apartemen. Jadi, aku sudah terbiasa dengan itu.


Akhirnya, aku dan Hammer pergi menuju ke tempat dimana kami bertemu. Aku ingin sekali menghubungi Bibi Anita. Namun, percuma saja. Tidak ada yang bisa dihubungi. Wanita itu sudah menghubungi Bibi Anita untuk meminjam diriku. Aku tidak bisa melakukan apapun.


Selain itu, Akishima dan Aurora punya kesibukannya sendiri. Sheeran dan Rin harus membantu Bibi Anita untuk menjaga bunga hias. Kemudian, aku tidak tahu kabar Evelyn seperti apa. 


Bella dan Shiori sedang berada di apartemen Kotori. Aku ingin menghubungi Bibi Rita. Namun, dia harus menjaga rumah agar tidak dirampok. Berita keamanan Moskow hanyalah sebuah ilusi. Aku sering mendapatkan preman dan begal yang bertebaran dI Moskow.


Sudahlah! Aku tidak terlalu ingin berpikir. Aku hanya harus menjalani kehidupan ini saja.


Setelah sampai di tempat pembuangan sampah, kami segera membuangnya di tempat sampah. Kami juga meminta para pekerja di sana untuk menyerahkan semua sampah itu lalu pergi dari sana dan kembali ke apartemen.


Sebelum kembali, Hammer berniat untuk berpikiran sesuatu. Ia segera menoleh kepadaku dengan wajah memelasnya. Ini baru pertama kali. Ia memanggilku dengan pelan, sehingga menarik perhatianku padanya walaupun aku tidak menoleh.


“Ada apa?”


“Kita beli sesuatu. Kita terlalu banyak bekerja,” jawabnya sambil memelas.


“Kamu mau beli apa di supermarket?” Tanyaku sambil mencari pandanganku ke supermarket terdekat.


“Kita lihat saja,” balas Hammer.


“Um.” Aku menerima itu dan segera mengajak Hammer untuk ke supermarket.


Kami berjalan cukup lama untuk mencari supermarket. Kami juga melihat kota Moskow yang masih ramai walaupun hari ini hari Sabtu. Hari untuk liburan.  


“Selamat datang!” Siapa pelayan kasir itu dengan ramah.


“Nina?” Tanyaku melihat Nina yang bekerja sebagai kasir.


Aku tahu itu. Tidak biasanya pelayan itu sangat ramah. Tidak ada pelayan kasir yang ramah di Moskow. Yang kulihat selama setahun di Moskow adalah pelayan kasir Moskow yang tidak ramah dan suram. Walaupun begitu, mereka adalah orang yang baik. Tidak seperti yang kulihat sebelumnya.


“Kyaa! Rivandy. Kamu datang kesini?! Nina kaget melihatku dengan penampilan seperti seorang kasir.


“Iya. Aku datang bersama temanku, Hammer,” jawabku dengan pelan dan datar.

__ADS_1


“Oh. Begitu. Aku sudah mengetahui setiap nama di akademi. Jadi, aku tidak bisa melupakannya,”  jawab Nina dengan senyuman ramahnya.


“Iya. Kau yang menolongku untuk menghindari Aurora yang meminum alkohol,” jawabku mengingat kebaikannya.


“Oh. Iya. Hammer. Tidak biasanya kamu suram. Biasanya, kamu cukup ramah,” seloroh Nina tatapan langsung ke Hammer.


“Ee … dia melakukan itu sebelum kembali ke suasana sekarang. Dia akan sembuh nantinya,” jawabku bertatapan dengan Nina.


“Oh iya. Kamu mau beli apa? Biar aku ambilkan!” Tawar Nina dengan kebaikannya.


“Tidak usah! Aku ingin melihat bersama Hammer. Dia yang memilih,” tolakku dengan tawaran itu.


“Ok. Aku akan menunggu. Tidak boleh lama,, ya! Zera akan ... .”


“Sudahlah! Ayo, Hammer! Kita mencari sesuatu yang bisa dimakan,” ajakku kepada Hammer. 


Kami pun meninggalkan kasir untuk mencari bahan makanan. Hammer lebih suka yang instan. Aku ingin memasak sesuatu untuknya. Namun, ini terlalu bertentangan. Dengan terpaksa, aku menerima hal itu. 


Aku segera menuju ke rak untuk melihat sesuatu yang ada di supermarket itu. Hammer juga begitu. Kami ingin mengambil barang yang ada di rak yang tersusun rapi. Hammer mengambil barang yang cukup menarik perhatian baginya. 


Sebelum itu, kami merasakan suatu dorongan yang menghantam dari punggungku. Aku merasa sedikit terdorong dengan tekanan itu. Aku mencoba menoleh kepada orang yang menabrakku. Ternyata, aku melihat seorang gadis yang kukenal. Sudah kuduga seperti ini.


“Maafkan aku! Aku tidak sengaja,” sesal pelayan itu meminta maaf padaku.


“Tidak apa-apa. Aku segera pergi dari sini,” pamitku memaafkannya dengan mudah dan segera mengajak Hammer untuk pergi dari sini.


“Tidak boleh! Kamu tidak boleh pergi,” cegah pelayan itu.


“Hah? Kenapa?” Tanyaku melihat itu. 


“Soalnya, aku mau ...” Ia menahan malunya saat itu. 


“Kamu mau apa?” Tanyaku sambil menoleh ke gadis itu.


“Aku mau mengajakmu kalau kamu sedang senggang. Bagaimana?” Ajak gadis itu dengan wajah memelas.


Sebelum aku menyelesaikan perkataanku,  ada seorang gadis yang berpenampilan seperti gadis dewasa dan seksi. Dia menggunakan lipstik dan menurunkan berat badannya demi kesehatan dan kecantikannya.


“Ara-Ara. Kamu merayunya lagi, Sinta?” Tanya gadis itu sambil dengan gaya Oneesannya.


“Tidak. Tidak benar. Aku tidak merayunya,” cela Sinta menoleh ke Diana. 


“Sudah kuduga. Mereka disini rupanya,” dugaanku benar. 


“Aku segera pergi dari sini sebelum situasi ini semakin memanas.” Aku berniat untuk pergi dari sini.


Sebelum aku dan Hammer segera pergi dari sini, Diana yang cekatan itu langsung menyahut, “Ara-Ara. Kamu mau kemana, Sayang?”


Aku yang terpancing dengan rayuan itu segera mencocor, “Jangan panggil aku Sayang!”


“Ri-chan. Mereka siapa?” Tanya Hammer sambil menoleh padaku


“Mereka itu ….” Ucapanku terhenti dengan sebuah pelukan.


“Dia ini tunanganku,” jawab Diana sambil memelukku dengan erat.


“Tunggu! Apa yang kau lakukan lepaskan aku!” Pintaku melepaskan pelukan itu.


“Kenapa kamu terangsang? Aku akan membawamu ke apartemenku dan setelah itu aku ingin merasakan cairanmu dan meminumnya dengan terhormat,” rayu Diana mengeluskan pipiku.


“Rivandy. Jangan dengarkan perkataan dia! Dia menyesatkanmu,” nasehat Sinta.


“Tidak. Aku sedang sibuk sekarang, Aku harus pergi dari sini sebelum mengganggu orang lain." Aku menolak.

__ADS_1


“Eh? Padahal, aku sedang senggang, tahu,” cela Diana melepaskan pelukannya.


“Rivandy. Tolong ajak aku ke hotel!” Mohon Sinta dengan mata berbinar-binar.


“Tidak bisa, kalian harus bekerja dulu. Lihat! Kalian harus menyelesaikan pekerjaan kalian. Aku harus menemani Hammer dulu. Kalian mengerti?” Tanyaku dengan aura menggurui.


“Tidak,” jawab mereka singkat.


“Ok.Aku akan melapor pada Zera di Kelas I Saintek F nanti,” pamitku sambil berpaling dari mereka.


“Tidak! Jangan lapor ke Zera!” Pinta SInta dengan air mata yang mengalir.


“Zera akan memarahi kita kalau kita ketahuan,” lanjut Diana.


“....” Aku hanya terdiam dan segera pergi dari sini bersama Hammer. 


“Aku akan melakukan apapun untukmu. Jadi, jangan pergi!” Sinta mencegahku pergi.


“Aku akan menyerahkan mahkotaku padamu jika kamu mau,” lanjut Diana menghentikan langkahku.


Aku menghentikan langkahku. Dengan terpaksa, aku mengatakan, ”Baiklah! Kalau begitu, kalian harus bekerja sampai selesai. Lalu, kalian bisa pulang jika pekerjaan selesai. Aku harus pergi dan mengerjakan sesuatu yang harus kulakukan.”


“Baiklah, aku akan kerja sampai malam,” tekad Sinta segera kembali bekerja.


“Aku akan bekerja sampai mendapatkan uang yang banyak biar bisa menikah denganmu,” lanjut Diana dengan suasana hati yang riang dan semangat.


Aku terdiam dengan itu. Hammer juga begitu. Mereka terlalu hiperaktif dan mendengarkan apa perkataanku. Mereka seperti seorang istri yang mendengarkan ucapan suaminya. Aku tidak terlalu berharap dengan itu.


Setelah mengambil beberapa barang, kami segera pergi menuju ke kasir. Hammer membeli beberapa minuman dan makanan. Sementara aku membeli beberapa bubuk teh untuk menghangatkan tubuhku. Aku tidak mau mati kedinginan. 


Aku masih belum terbiasa dengan cuaca dingin di Moskow walaupun sudah tinggal satu tahun lebih. Paman itu menyarankanku untuk pergi ke tempat yang hangat. Dia juga membelikan kotatsu padaku untuk keamanan. Namun, aku tidak bisa membawa kotatsu ke apartemenku karena sedikit merepotkan.


Setelah membayar dengan uang ₽ 890 di kartu kreditku, kami segera pergi dari supermarket dan kembali ke apartemen Hammer sebelum cuaca dingin menyerangku. Aku akan mati dengan cepat jika hal ini terjadi.


Namun, sesampainya di apartemen Hammer, kami tidak tahu apa yang telah terjadi pada wanita tua itu. Kami mendapatkan suatu masalah yang tidak sepele. 


Aku melihat ada sebuah bencana yang menghampiri kita dan segera menuju kemari. Bencana yang akan menjadi akar dari sebuah masalah ini.


Kami sudah berhadapan dengan wanita tua yang sedang marah karena suatu hal. Aku tidak tahu apa yang membuatnya marah. 


"Dari mana saja kalian, hah?" Tanya wanita itu dengan nada marah.


"Aku belanja untuk kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang lain," jawabnya.


"Aku tidak menyuruh kalian untuk belanja. Banyak pekerjaan yang harus kalian selesaikan dan kalian tidak mengikuti aturanku?" Marah wanita itu di hadapan kami.


"Selain itu, kalian membawa makanan yang tidak sehat?! Apa kau sudah gila, pemalas?!"


"Aku tidak suka dengan hidangan yang pemalas itu. Sudah tidak sehat, murahan, dan tidak membuat kenyang!" Lanjutnya memarahi Hammer.


"Dan kau malah membiarkan hal itu terjadi. Kenapa kau tidak melarangnya? Aku harus memberi contoh pada orang pemalas sepertinya!" 


"Kalau belanja, harus ke pasar, bukan ke supermarket yang sangat merendahkan pasar tradisional!"


Ceramah yang dilontarkan oleh wanita itu membuat kami tidak berkutik lagi. Kami tidak bisa mengatakan apapun. Aku ingin menyangga, namun tidak bisa. Ocehannya yang terlalu keras dan cepat itu membuatku untuk mengurungkan niat itu. 


Di tengah ocehannya itu, ia menghampiri Hammer dengan cepat dan segera mengambil dan menumpahkan makanan itu di lantai. Bahan makanan dan minuman yang dilindungi oleh aluminum dihancurkan oleh wanita itu dan menimbulkan lantai kotor.


Aku tidak menyangka kausalitas ini. Ini mengakibatkan sebuah akibat yang tidak diinginkan. Aku tidak menyangka akan kejadian yang keterlaluan ini. Ini terlalu berlebihan. Ini bisa saja menyakiti perasaan Hammer.


Hammer tunduk ke bawah dan segera mengambil beberapa bahan makanan instan yang selamat. Namun, ia malah dimarahi habis-habisan oleh wanita itu. 


Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya terdiam seolah-olah mimpi buruk itu menghantuiku. Wanita itu tidak membiarkan Hammer untuk mengambil makanan instan itu dan segera menaruhnya di bawah dengan paksa kemudain ia menginjaknya.

__ADS_1


Hemmer di tidak bisa berkata-kata dengan tindakan itu. Ia juga tidak bisa menenangkan wanita itu yang sedang dalam aura kebencian. Ia merasa mengingat sesuatu yang tidak boleh diingat selamanya. Sebuah pesimisme yang selalu menghantuinya.


Sejak kejadian ini, masalah klimaks akan dimulai.


__ADS_2