
Keesokan harinya, jam 10:12, Diana dan Sinta sedang makan di kantin. Zera dan Nina sedang menghangatkan diri di suatu tempat. Oleh karena itu, mereka makan berdua. Pada saat mereka sedang melahap makanan yang mereka sajikan di meja. Ada gadis perawakan Tuan Putri. Dia dengan ramahnya bertanya sesuatu pada mereka
"Halo. Bolehkan aku menumpang disini?" Tanya seorang gadis itu dengan membawa Confit de Canard.
"Boleh. Ini sedang kosong, kok," terima Sinta dengan entengnya.
“Asyik! Terima kasih ya!” Terima gadis itu duduk dan segera makan dengan lahap.
“Sama-sama,” ujar Sinta penuh kebaikan dan tidak sombong.
Mereka pun makan bersama dengan 3 gadis tuan putri. Mereka pun memakan makanan mereka dengan lahap dan cukup serius. Akhirnya, setelah keheningan di tengah ramainya suasana kantin itu, Diana membuka suaranya.
“Sinta. Claveriska. Aku ingin sesuatu. Aku ingin menjenguk Rivandy sekarang juga,” tekad Diana sambil melahap makanannya.
“Dia dirawat oleh mansion kepala sekolah. Aku sudah mengirimkan izin padanya,” lanjut Diana memakan makanan dengan sopan.
“Asyik! Kita akan menjenguk Pangeran sekarang juga. Soalnya, kamu akan memberikan hadiah kepadanya."
“Aku sudah membawa permata yang indah kepadanya. Ini bertujuan agar dia mengingatku.” Nona Claveriska menunjukkan permata miliknya kepada Sinta dan Diana.
“Wah! Cantik sekali! Aku ingin memberi hadiah kepadanya dengan tubuhku,” tekadnya membuka belahan pakaiannya.
“Tidak boleh! Aku akan memberitahu pada Zera,” ancam Diana meminum teh.
“Jangan beritahu! Zera akan menghukumku berdiri di lorong ” mohon Sinta agar tidak membicarakan hal itu.
“Dasar anak kecil!” Gumam Diana menyindir Sinta dalam hati.
“Kalau kamu, mau berikan apa padanya?” Tanya Nona Claveriska pada Diana.
“Kalau aku, … tentu saja surat nikah,” jawab Diana memperlihatkan surat nikah pada Nona Claveriska.
“Eh? Kenapa surat nikah?” Tanya Nona Claveriska bingung pada Diana.
“Karena, dia tidak akan selingkuh jika dia sudah menandatangani surat nikah ini. Secara otomatis, dia milikku,” lanjut Diana dengan percaya diri.
“Tch! Surat nikah saja. Kenapa tidak jadi tunangan saja?” Sinta kesal dengan hadiah dari Diana.
“Itu … kau tahu. kalau aku tunangan … aku tidak bisa berhubungan akrab dengannya. Libidoku selalu meningkat setiap aku melihatnya,” jawab Diana dengan aura mesumnya.
“Kita adalah bangsawan. Harus bertunangan dulu baru menikah. Kalau tidak, malah jadi kawin lari. Kamu tahu kan. Kamu akan dicoret dari surat. Kalau kamu begitu, kamu akan menjadi janda,” jelas Sinta dengan cueknya.
“Tapi, aku .... Argh! Aku pusing. Tidak mau berpikir lagi. Aku harus menghabiskan makananku saja,” keluh Diana mulai berfokus dengan makanannya.
Nona Claveriska hanya terdiam sambil tertawa sedikit. Ia baru mengetahui sikap seorang bangsawan seperti ini. Meskipun mereka bangsawan, mereka bertingkah seperti gadis muda dan remaja.
[*^*]
Jam 15:02, mereka berkumpul lagi di lorong akademi dan pergi meninggalkan akademi. Mereka menggunakan kaki mereka untuk berlalu ke mansion Nina ikut bersama mereka. Nina membawakan sweater yang ia buat kemarin bersama Zera serta masakan yang ia buat untuk menghangatkan tubuhku. Ia berharap aku menyukainya.
Mereka liburan dengan aktivitas Klub Disiplin. Ada orang lain yang sedang menggantikan tugas mereka dan melaksanakan tugas itu. Orang itu menjalankan aktivitas disiplin dengan baik dan tidak membiarkan pembangkang itu berkeliaran.
Setibanya di mansion milik Neesan. mereka memberikan izin ke mansion dan masuk setelah diizinkan oleh seorang penjaga. Mereka disarankan berbaikan dengan seekor beruang Mereka menjinakkan beruang itu selama 10 detik dan segera memasuki mansion itu.
Di sana, mereka melihat ada sebuah ruangan yang cukup besar. Langit-langit mansion itu dipenuhi dengan lukisan orang terkenal. Banyak lukisan dan lampu yang artistik yang menggoda mata. Ada karpet yang digunakan untuk furniture ruang tamu dan ruangan yang lainnya.
Tak lama kemudian, ada seorang wanita yang berpakaian seksi tanpa mengenakan pakaian dalam, kaos pendek, dan rok mini yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Orang yang memandangnya itu cukup ilfil. Namun, yang di hadapan mereka adalah seorang kepada sekolah.
“Ara-Ara. Kalian sudah datang rupanya.” sapa Neesan berjalan di atas karpet.
“Oo;.Kochou-Sensei. Kami disini untuk memberikan hadiah,” jelas Nina memperlihatkan sesuatu.
“Sensei. Aku juga memberikan ini ke Rivandy,” lanjut Nona Claveriska memperlihatkan permatanya pada Neesan.
“Hmm? Cie. Rivandy menang banyak nih. Sainganku banyak sekali nih,” gumam Neesan..
“Baiklah! Silahkan duduk! Aku akan memanggil Rivandy. Dia masih lelah dengan aktivitas ranjangnya,” ajak Neesan pada para gadis.
“Iya,” terima mereka dan duduk secara bersebelahan.
Mereka pun duduk di kursi ruang tamu mansion. Melihat ruangan yang cukup besar itu. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli mansion itu. Banyak barang mewah yang terdapat disini. Dengan pekerjaan yang terlalu banyak dan membebani, dia bisa membeli semua mansion itu.
10 menit kemudian, seorang remaja mengenakan kaos lengan pendek dan celana pendek menghampiri mereka. Aku dengan langkah kaki yang berat mendekati mereka yang mengobrol di ruang tamu. Aku mulai mengeluarkan suara yang cukup kecil.
__ADS_1
“Kalian? Kalian datang juga,” sapaku berdiri di hadapan mereka.
Diana dan Sinta segera melancarkan aksinya. Mereka mendekatiku secara antusias dan mulai agresif. Nina dan Nona Claveriska hanya terdiam sambil tersenyum.
“Rivandy! Ayo menikah denganku! Aku tidak bisa menahan libidoku,” ajak Diana membawa surat nikahnya dan segera memaksaku untuk menandatangani surat itu.
“Tidak boleh! Kamu harus lulus dulu,” tolakku dengan mata seram.
“Rivandy! Aku bawa alkohol nih. Main yuk!” Ajak Sinta sambil menggenggam alkohol miliknya.
“Entah kenapa aku mengingat trauma yang kualami,” komentarku mulai ketakutan.
“Sinta. Aku akan melaporkan Zera sekarang juga,” tegur Nina dengan senyuman yang mengerikan.
“Jangan! Dia akan memaksaku untuk meminum alkohol dan meninggalkanku di pasar gelap,” mohon Sinta
“Entah kenapa mereka semakin aneh saja,” komentar Nona Claveriska sambil memakan cemilan coklatnya.
“Oh iya. Rivandy. Ini. Aku berikan ini untukmu agar kamu tetap hangat.” Nina memberikan hadiahnya dengan senyuman yang mempesona.
“Tidak. Terima kasih. Aku menolaknya dengan terpaksa,” tolakku dengan sopan.
“Tidak baik kamu menolak pemberian ini,” tegur Nina dengan senyuman menyeramkannya.
“Habisnya, aku akan mendesah setiap kali aku memakan masakan Neesan,” lontarku menahan malu.
“Apa? Kamu mendesah? Kenapa kamu tidak bisa katakan kepadaku? Aku akan melayanimu dengan senang hati."
“Kamu berlebihan, Diana,” komentarku pada Diana yang berlebihan.
“Aku siapkan alkohol untuk melampiaskan hasratmu, Rivandy,” tekad Sinta masih menggunakan alkoholnya.
“Sudah kubilang jangan minum alkohol lagi!” Cocorku pada Sinta yang sudah buta akan cinta.
“Aku harap aku mendapatkan hadiah yang normal,”
“Oh iya. Ini punyaku. Aku memberikan ini padamu,” lontar Nona Claveriska memberikan permata padaku.
Ini kan?
Bukankah ini Bort? Tapi kenapa? Dia memilikinya. Namun, untuk apa dia repot-repot memberikan ini padaku? Ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerima hadiah ini. Aku mengingat sesuatu pada benda yang satu ini.
Aku teringat karakter Bort di Anime Houseki no Kuni. Dia dingin dan kuat. Dengan kemampuannya, ia bisa mengalahkan lawannya. Aku merasa Houseki no Kuni adalah Anime yang cukup bagus untuk ditonton secara visual.
“Te-Terima kasih. Aku akan … menyimpannya nanti untuk … kenangan.” Aku tidak bisa berkata apapun dengan pemberian hadiah ini.
“Tidak masalah. Aku senang kamu menerimanya,” jawab Nona Claveriska.
“Yeah! Aku menang. Rivandy menerima hadiahku!” Seru Nona Claveriska memenangkan kompetisi.
“Jangan sombong kamu!” Diana kesal dengan kekalahannya.
“Ini masih permulaan. Suatu hari aku akan mendapatkan Rivandy,” lanjut Sinta tidak menerima kekalahan.
[*^*]
“Kalian menjengukku?” Tanyaku menduga hal itu terjadi.
“Iya. Kamu sedang sakit. Maka dari itu, kami datang menjengukmu,” jawab Nina dengan entengnya.
“Kamu harus sembuh sekarang juga. Kami juga merindukanmu,” lontar Sinta tanpa pikir panjang.
“Kalau kamu tidak ada, siapa yang menikah denganku?” Lanjut Diana hampir menangis.
“Kami ingin menunggu kedatanganmu di akademi. Nanti kita keliling Paris sambil romantisan di sana. Lalu, kita bertunangan dan berpacaran. Aku akan menjagamu agar tidak ada yang merebutmu,” jelas Nona Claveriska mengenai jadwal liburannya.
“Aku rasa itu ide yang buruk,” balasku mendengar rencana itu.
“Apa? Tidak! Aku baru tahu kamu mengidap penyakit hipotermia. Tidak jadi, deh,” respon Nona Claveriska dengan murungnya.
Nina tertawa dengan guyonan itu. Ia hanya berpikir bangsawan itu haruslah terpandang dan terhormat. Ia baru tahu ada gadis bangsawan yang sikapnya seperti itu.
“Aku baru tahu ada gadis yang seperti ini,” lontar Nina menahan tawanya dengan tangan secara feminin.
__ADS_1
“Maksudmu?” Tanyaku kepada Nina.
“Ra-ha-sia,” jawabnya dengan pose istri idaman.
“Kalian tidak mengajak Zera dan Spinx?” Tanyaku kepada para gadis mengenai keberadaan mereka.
“Zera?” Sinta berpikiran mengenai Zera.
“Dia sepertinya diajak seseorang,” jawab Diana dengan cepat.
“Spinx juga. Dia diajak oleh seseorang untuk mengurus sesuatu,” lanjut Nona Claveriska berpikiran sama.
“Oh begitu.” Aku memahami penjelasan mereka.
“Rivandy. Bolehkah ajak kami keliling mansion? Ini terlalu luas bagiku,” mohon Diana dengan sangat.
“Bolehkah kau mengantarkanku ke ranjang? Aku mau minum sekarang juga,” mohon SInta dengan antusias.
“Kamu sama seperti Aurora,” komentarku melihat tingkah Sinta.
[*^*]
Kami mengelilingi mansion yang sudah kuanggap sebagai kakak perempuanku. Aku tidak pernah memiliki kakak sebelumnya. Semenjak aku bertemu dengan Neesan, aku merasa dia adalah kakak yang baik meskipun dia selalu membuatku mendesah dan menghisap cairanku.
Aku tidak peduli. Hanya merasa seperti itu. Itu adalah … sudahlah! Aku tidak mau memikirkan hal itu lagi. Ini cukup membuat bebanku meningkat lagi.
Neesan sedang mengerjakan tugasnya. Seharusnya, ia mengerjakan tugasnya di akademi. Namun, dia menggunakan alat teleportasi yang ia gunakan. Jadi, dia bisa menghubungkan kamar tidurnya dengan ruang kepala sekolah dengan mudah.
Ini digunakan untuk menghisap cairanku dan menikmati tubuhku. Aku tidak tahu apa Neesan pikiran.
Kami bersenang-senang walaupun musim dingin itu akan membunuhku. Kami ke taman dan segera melakukan suatu permainan yang cukup mengisi waktu yang kosong itu.
Permainan tiu adalah Hadiah Tuan Putri.
Permainan ini dibuat oleh 3 gadis tuan putri. Mereka mencari bunga yang mereka minati untuk diberikan oleh Pangeran. Pangeran akan memilih siapa saja yang akan menerima hadiah dari tuan putri.
Jika Pangeran menyukai bunga yang diberikan, maka peserta yang memberikan itu akan menang. Jika tidak, mereka harus mencarinya lagi. Jika ada yang curang, tuan putri harus menjadi seorang pelayan untuk Pangeran dan Tuan Putri.
Ini digunakan agar Sinta tidak melakukan hal yang aneh seperti minum alkohol. Itu akan membuatku trauma.
Nina menjadi wasit, aku menjadi Pangeran, dan tiga gadis itu menjadi peserta Tuan Putri. Aku harap yang menang akan menjadi gadis yang baik.
“Semuanya bersiap?”
“1, 2, 3. Mulai!”
Diana dan Sinta segera mencari bunga dan membuatnya jadi buket bunga. Aku hanya duduk di teras bersama Nina untuk berbicara sebentar. Nina menerima itu. Ia menyuapi masakan miliknya padaku dengan romantisnya.
Aku menerima suapan dan tidak merasakan apapun yang akan membuatku mendesah. Ini cukup berbeda dengan masakan Neesan. Namun, ini lebih aman daripada masakan Neesan.
Kalau ada lelaki yang melihat itu, mereka akan menangis keras dan menyalahkan diri mereka. Tapi, … lelaki di Rusia memang lebih sedikit daripada lawan jenis karena Perang Dunia 2. Banyak korban yang berjatuhan saat itu terjadi ketika melawan Jerman.
Itulah sebabnya populasi Rusia sedikit menurun.
Kembali ke lomba. Sinta dan Diana mencari bunga yang siap untuk dijadikan buket untuk Pangeran. Primrose, Snowdrop, Hyacinthus, Siberian Kandyk, dan tanaman musim ingin lainnya.
Mereka memetik dan membuatnya jadi buket bunga. Nona Claversika mencari Winter Flower agar bisa bertunangan dengan Pangeran. Ia melakukannya dengan serius dan bersungguh-sungguh dan mengharapkan Pangeran menerima hasil kerja keras mereka bertiga, khususnya untuknya.
Nona Claveriska mengumpulkan beberapa bunga untuk disiapkan untuk membuat buket itu menjadi lebih indah. Ia juga membuat tahap yang berikutnya untuk menggabungkan menjadi satu. Menjadi sesuatu yang indah di pandang mata Pangeran.
Ia menyelesaikan buket bunga itu dan mengharapkan kemenangan di pertandingan yang dibuat oleh mereka sendiri. Harapan kemenangan yang harus ia capai adalah mutlak.
Ia tidak membiarkan celah yang membuat peluang kekalahannya semakin membesar dan membiarkan musuh menang.
“Aku akan menang,”
“Lihat saja nanti!”
“Aku akan menjadi pemenang dan segera menyembuhkannya."
“Penyakit Hipotermia tingkat Parah? Menarik."
Aku tidak puas dengan kemenangan sementara itu. Aku hanya ingin menang secara absolut ~ Claveriska Bonaparte.
__ADS_1