Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Akishima Renji 1,4


__ADS_3

Cerita kelam Akishima Renji dimulai pada saat ini.


Dimulai dari 23 April 2016. (2016年 4月 23日)


Tokyo, Jepang. (東京、日本)


Kota yang cukup maju dengan bangunan kota yang tinggi. Tokyo Tower menjulang tinggi dengan banyak turis yang di dalamnya. Akihabara, Harajuku, Shibuya, Asakusa, dan Odaiba menjadi sebuah distrik yang bisa dikunjungi oleh turis. 


Tidak ada siswa yang pergi ke sekolah karena mereka libur. Jadi, mereka istirahat di rumah atau mereka mengajak teman mereka menuju ke tempat yang menarik. Para pekerja kantoran lebih memilih istirahat sambil melihat musim semi dan pohon sakura yang masih bermekaran..


Disneysea menjadi tempat yang ramai untuk bersenang-senang. Tiket pesawat dari negara turis menuju Jepang menjadi mahal. 


Di sebuah rumah yang cukup ramai, ada seorang anak yang kesepian sedang bermain mobil-mobilan yang diberi oleh ayahnya. Tiba-tiba, ada sekumpulan pasir yang melesat menuju ke kepala anak itu. 


“Kena! Sekarang kau jaga,” seru seorang anak gadis yang melemparkan pasir kepada anak itu.


“Berisik! Aku tidak bermain denganmu,” umpat anak itu berpaling dari Akishima.


“Eh?! Kamu sendirian?” Tanya gadis itu mendekati anak itu.


“Um. Aku tidak terlalu ingin punya teman,” jawabnya.


“Kalau begitu, namaku Akishima Renji. Orang yang akan menjadi Raja Bajak Laut,” tekad Akishima bergaya seperti Monkey D Luffy.


Anak itu tertawa dengan guyonan itu. Ia membalas, “Kalau begitu, aku Takeshi Nishimura (西村 武). Mohon bantuannya.”


“Kamu main apa?” Tanya Akishima mendekati Takeshi.


“Mobil,” jawab Takeshi singkat.


“Yosh! Kita bertanding! Aku akan menggunakan kapal Sunny Go untuk mengalahkan mobilmu,” tekad Akishima mengajak lomba mobil sambil mengambil Mobil Sunny Go miliknya.


Takeshi tertawa dengan pelan. Ia mengejek, “Kau tak bisa mengalahkanku dengan kapalmu,” mempersiapkan diri untuk menantang Akishima.


“Mulai!” Akishima mulai menggerakkan kapalnya dengan remote control.


“Hei! Aku belum siap,” cocor Takeshi melihat kecurangan Akishima.


Perlombaan dua anak sedang berlanjut. Takeshi mencoba untuk mengalahkan Akishima. Namun, Akishima terlalu cepat untuk dilewati. Ia dengan kapal Sunny Go mengalahkan mobil Takeshi dengan mudah, sehingga Takeshi dinyatakan kalah.


Setelah perlombaan itu, Akishima ditantang untuk bermain ulang oleh Takeshi. Namun, setelah permainan berlanjut 3 kali, Takeshi lelah dengan lomba yang diadakan oleh Akishima itu. Ia agak senang dengan teman seperti Akishima. Begitupun dengan Akishima. 


Ini baru pertama kalinya Takeshi punya teman. Ia rasanya ingin bersama dengannya selamanya.


[*^*]


Rabu, 2 Mei 2018, Takeshi bersekolah yang sama dengan Akishima. Mereka saling percaya satu sama lain. Akishima sering menempel di sisi Takeshi kemanapun ia pergi. Ini membuat para siswa perempuan tidak nyaman dengan Akishima karena ia seharusnya berteman dengan perempuan, bukan sebaliknya.


Jam menunjukkan pukul 12:00. Takeshi dan Akishima pulang bersama. Mereka memutuskan untuk pulang bersama. Mereka singgah ke taman terlebih dahulu sebelum pulang. 


Pada saat itu, Takeshi memberanikan diri untuk memanggil Akishima. Ia memanggil, “Akishima,” membuat Akishima menoleh ke Takeshi.


Akishima menjawab, “Ada apa, Takeshi?”


“Kenapa … kamu tidak berteman dengan… anak perempuan? Soalnya, mereka menyebutmu orang aneh,” protes Takeshi sambil menahan malunya.


“Apa?! Mereka memanggilku aneh?!”  Akishima terkejut dengan itu. 


“Stt! Diam! Suaramu terlalu keras,” protes Takeshi mendiamkan Akishima.


“Oh iya. Maaf,” respon Akishima cengengesan. 


Takeshi hanya menghembuskan nafasnya. Ia kembali melanjutkan, “Akishima. Kita dipanggil aneh karena mereka ...,” curahan hati Takeshi terhenti.


“Aku tidak peduli,” cekal Akishima sambil menutup telinganya.


“Eh?! Kenapa?!” Tanya Takeshi kebingungan dengan tingkah Akishima.


“Tidak peduli dengan siapa aku berteman. Selama ada kamu, itu sudah cukup. Jadi, jangan berkata seperti itu lagi!” Pesan Akishima mencubit hidung Takeshi.


“Ah! Hidungku sakit!” Takeshi merintih kesakitan. 


“Aku akan membalasmu, Akishima!” Takeshi mulai mengejar Akishima.


“Kejar aku kalau bisa!” Ejek Akishima lari di depan Takeshi sambil menjulurkan lidahnya.


Mereka melakukan aktivitas kejar-kejaran. Aktivitas yang cukup menyenangkan karena Takeshi tidak terlalu khawatir dengan masalahnya saat ini. 

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, ibu Akishima menyambut kedua anak dengan baik. Ia memasak kue kepada kedua anak itu. Mereka mengambil makanan dan segera memakannya. Terdapat sebuah kebahagiaan yang mengalir pada mereka. 


“Okaa-san. Ini masakan yang paling enak,” Puji Akishima dengan puas.


“Aku juga,” lanjut Takeshi. 


“Kalau Okaa-san ikut kontes memasak, Sanji akan kalah,” celotehnya sambil memakan dengan lahap.


Ibu Akishima tertawa dengan itu. ia membalas, “Lain kali aku membuatnya kepada Naruto agar kamu senang,” sambil mengelus kepala Akishima.


“Yatta! Naruto! Aku akan pergi ke Desa Konoha untuk memberitahukan Naruto sekarang juga.” Akishima segera bergegas menuju ke kamarnya untuk memberitahu Naruto. 


“Akishima, jangan lupa kerjakan pr matematikamu!” Pesan ibunya sambil berteriak.


“Tidak mau! Matematika itu sangat menyebalkan. Lebih baik aku ke Konoha saja.” Akishima mengeluh dengan itu.


Ibunya dan Takeshi tersenyum dengan tingkah Akishima. Mereka adalah orang yang terdekat bagi Akishima untuk sementara.


Cerita kelamnya akan dimulai 6 tahun lagi.


[*^*]


19 Mei 2023, Takeshi sudah memiliki teman. Akishima bersyukur karena Takeshi sudah memiliki teman. Ia mengajak teman barunya menuju ke suatu tempat, yakni Tokyo Tower. Di sana, mereka melihat matahari yang akan segera terbenam. 


Teman Takeshi sangat beruntung berdekatan dengan gadis Akishima. Mereka tidak perlu berteman dengan anak perempuan yang lain. Ini menguntungkan mereka karena mereka bisa diajak olehnya untuk menonton anime. 


Mereka selalu diajak olehnya untuk berpetualangan. Mulai dari taman, pegunungan, perkotaan dan tempat lainnya.


Mereka juga mengajak Akishima untuk pergi ke Akihabara. Tempat yang paling disukai oleh Akishima. Jadi, Akishima, Takeshi dan teman lainnya segera menuju ke Akihabara dan melihat banyak cosplay yang bertebaran dan kaset yang melimpah.


Sesampainya di toko buku, Akishima membaca buku komik tema Shounen. Takeshi dan lainnya secara tidak sengaja tersesat di ruangan majalah dewasa meskipun anak kecil dilarang untuk menuju ke sana. 


Mereka melihat banyak adegan yang cukup luar biasa. Mereka membacanya dan tertawa kecil. Mereka terpukau dengan adegan yang sangat fantastis. Mereka membacanya lagi dan lagi, sehingga mereka mulai berpikiran sesuatu yang jahat. 


Mereka berharap ada gadis yang bisa bergaya seperti itu.


Mereka berharap mereka bisa bermalam dengan seorang gadis yang nakal.


Dari situlah niat jahat mereka muncul secara mendadak karena mereka berpikiran sesuatu dalam pikiran mereka.


Pikiran kotor mereka.


[*^*]


Sesampainya di karaoke, Mereka memesan tempat yang khusus untuk Akishima. Setelah itu, Akishima menyanyikan lagu opening anime kesukaan. Takeshi hanya melihat senyuman Akishima yang sebentar lagi menghilang. 


Takeshi hanya melamun menunggu Akishima selesai menyanyikan lagunya. Ia hanya bersandar sambil tersenyum lebar melihat keelokan Akishima. Namun, sebuah suara yang menghentikan lamunannya.


“Takeshi,” panggil Akishima menghentikan lamunan Takeshi.


“Kau tidak menyanyikan lagumu?” Tanyanya sambil menoleh pada Takeshi.


“Tidak usah. Aku mengambil minuman untukmu,” pamit Takeshi segera keluar dari ruangan karaokenya.


Setelah mengambil minuman di mesin minuman, Takeshi segera menghampiri Akishima yang sedang menyanyi di ruangan karaoke. 


Akishima berterima kasih kepada Takeshi dan segera minum minuman itu. Takeshi segera meminum milikinya. Ia tertawa kecil dengan lugunya Akishima. 


Entah kenapa Akishima merasa ada yang aneh. Ia merasakan tubuhnya agak panas, mematung dan tidak bergerak lagi. Takeshi membawanya ke suatu tempat yang cukup asing baginya.


[*^*]


20 menit kemudian, di gang yang sepi, Akishima terbangun dan mendapati dirinya yang sedang memuaskan hasrat seseorang yang ia kenal. Yang tidak lainnya adalah temannya sendiri.


“Tidak! Apa yang kalian lakukan, teman-teman?” Keluh Akishima tubuhnya dipegang.


“Lepaskan aku!” Akishima mulai ketakutan. 


“Hei! Hei! Jangan bergerak dulu! Aku sedang menikmati tubuhmu ini,” cekal temannya dengan santai.


“Rasanya enak sekali mendapatkan yang perawan,” puji teman yang lainnya.


“Tidak! Takeshi! Selamatkan aku!” Teriak Akishima tapi didiamkan oleh temannya.


Mereka yang mengelilingi tertawa dengan keras. Ia menjawab, “Dengarkan aku, Gadis Mesum! Takeshi sudah merebut keperawananmu. Setelah itu, dia memberikannya kepada kami,” dengan wajahnya yang menyebalkan. Saking menyebalkannya, Rivandy ingin membunuhnya.


“Eh? Apa?!” Akishima terkejut mendengar pernyataan dari temannya.

__ADS_1


“Tidak! Ini tidak mungkin!” Akishima menahan tangisannya.


“Oi! Takeshi! LIhatlah dia! Dia seperti anak kucing saja,” tawa teman Takeshi sambil memanggil Takeshi. 


Takeshi yang terpanggil segera menghampiri Akishima yang sedang berpose nakal. Ia menyapa, “Yo! Akishima. Bagaimana dengan harimu? Apakah kamu merayu kami? Kami berusaha untuk menolak tapi kau terus menggodaku dan mengajakku ke gang kecil dan sepi ini,” dengan wajahnya yang cukup menyebalkan.


“Tidak! Apa yang kau lakukan?!” Tanya Akishima merasa dikhianati.


“Hentikan! Aku akan melakukan semuanya untukmu.” Akishima memohon untuk berhenti.


“Baiklah. Aku akan berhenti,” terima Takeshi tapi bohong. 


“Tapi, bagaimana dengan matematika?” Takeshi mengeluarkan secarik kertas dan spidol.


“Jangan! Jangan matematika lagi,” mohon Akishima dengan sangat.


Namun, percuma saja. Takeshi menuliskan persamaan dan rumus matematika di tubuh Akishima yang halus. Temannya ikut melakukan apa yang Takeshi buat. Mereka bersenang-senang di    atas penderitaan orang lain.


“Tidak!”


“Jangan!”


Akishima mengatakan tidak sambil menangis. Namun, mereka tidak mendengarkan Akishima. Mereka sibuk dengan permainan mereka dan tidak lupa merekam agar mereka bisa menyimpannya di memori handphone. 


Setelah permainan selesai, mereka menghentikan aktivitas mereka dan segera memotret Akishima yang sedang berpose nakal. Akishima segera menyadarkan dirinya sambil bertanya, “Di-Dimana bajuku?”


“Kami membuangnya,” jawab temannya dengan singkat.


“Jangan tinggalkan aku! Aku masih membutuhkan kalian.” Akishima memohon kepada temannya dengan bertekuk lutut.


“Aku tidak membutuhkanmu lagi.” lanjut mereka secara bersamaan.


“Takeshi! Aku mohon.” Akishima menoleh kepada Takeshi.


Takeshi mendengar permohonan gadis teman kecilnya. Dahulu ia tidak punya teman. Sekarang, Ia sudah punya teman lebih banyak. Ia membulatkan tekadnya dan segera.


“Akishima. Aku … tidak membutuhkanmu lagi. Aku sudah punya teman sekarang. Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti mereka,” jawab Takeshi dengan lantang


“Aku sudah … tidak mau berurusan denganmu lagi, Gadis Jalanan!”  Lanjutnya sambil tersenyum lebar dan tertawa.


“Takeshi, teganya ….” Akishima menahan tangisannya melihat senyuman jahat itu. Ia merasa dikhianati oleh temannya sendiri.


“Ayo! Takeshi! Tinggalkan dia! Dia pantas berada disini,” ajak temannya keluar dari gang.


“Yo!” Terima mereka secara bersamaan.


Mereka meninggalkan Akishima yang kotor dan hina. Ia tidak bisa bergerak. Tubuhnya penuh dengan coretan. Ia tidak bisa berbuat apapun. Ia tidak bisa melapor kepada polisi maupun ibunya. Kini ia sendirian. 


Disitulah Akishima mulai menangis keras karena ia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Yang bisa lakukan adalah mengucurkan air mata dengan keras di gang sempit, dan sepi itu. Ia menangis sampai malam tiba.


Ia tidak bisa berjalan dengan kondisinya saat itu. Lalu, ia tidak tahu dimana ia berada. Dan terakhir, ia tidak punya siapa pun yang disampingnya.


Karena itulah … Akishima tidak akan memaafkan seorang pengkhianat.


[*^*]


27 September 2025, jam 10:00, Akishima tiba di apartemennya dengan kondisi yang lebih buruk. Ia tidak bisa mengenakan pakaiannya lebih lama lagi. Ia membuka pintu dengan sistem keamanan yang canggih. 


Kemudian, ia menutupinya dan tidak akan membiarkan seorang pun masuk ke dalam apartemennya. Ia menuju ke kamar mandi dan menyesali perbuatannya yang kekanak-kanak itu.


Ruangan apartemennya sangat gelap karena ia menutup jendela dengan gorden agar mereka tidak mengetahui apa yang Akshima rasakan. Tidak seperti apartemenku yang terang dan rapi. 


Pada saat termenung di kamar mandi, simbol matematika dan kanji menyala dan menandakan Akishima yang sudah kotor dan hina. Ia hanya mengeluarkan air matanya di pahanya. 


Akishima merasa dirinya dikutuk oleh seseorang. Seseorang yang tidak diketahuinya.


Kutukannya adalah ia tidak bisa mengenakan pakaian secara bebas. Ia hanya bisa mengenakan seragam akademi, kimono, dan baju gamis gelap.


Ruangan yang gelap itu sedang menghantuinya agar ia terus menerus berada dalam kegelapan. 


Hati Nurani Akishima yang gelap sedang menghasutnya agar tidak percaya pada teman yang bisa mengkhianatinya kapan saja.


Ia tidak bisa berpikir lagi. Ia hanya mengutarakan perasaan yang sangat menderita karena  tidak bisa percaya. Bahkan, kata mutiara dari anime kesukaan tidak akan bisa merubahnya.


“Siapa saja, hancurkan aku!”


"Aku tidak mau hidup lagi."

__ADS_1


"Aku hanya wanita yang hina."


__ADS_2