Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-hari : Rivandy, Bella, Shiori, Kotori


__ADS_3

20 September 2025, jam 07:23, aku masih belum bangun. Mereka terus mencegahku agar aku tidak bangun. Bau klorin yang menyengat itu selalu memenuhi ruangan itu. AKu tidak memiliki peluang untuk bisa bangun dari mereka. Aku mencoba untuk menelpon Zhukov atau yang lainnya. Namun, percuma saja. Aku lupa mengisi baterai.


Aku memberanikan diri untuk membangunkan mereka. Aku menyentuh mereka yang kelelahan itu dan segera membangunkan mereka. Aku berbisik kepada mereka di tengah cuaca kota Moskow yang cerah itu.


“Akishima!”


“Aurora!”


“Evelyn!”


“Sheeran!”


“Hei! Bangunlah!"


“Kita akan terlambat. Ini sudah jam 07:26,” resahku dengan keterlambatan di akademi.


“Kenapa buru-buru? Ini hari Sabtu,” cela Akishima masih mengigau.


Aku terkejut dengan itu. Tidak ada pelajaran akademi di hari Sabtu. Aku segera mengarahkan kepalaku ke atas dan berpesan, “Bangunkan aku jika kalian ingin sesuatu!” Ingin berbaring di ranjang bersama mereka lagi.


Mereka memelukku sambil merasakan sensasi mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yang pasti aku tidak terlalu ingin berpikir lagi.


[*^*]


Jam 08:00, akhirnya kami bangun dari ranjang lalu mandi secara bergantian. Aku ingin meminum sesuatu karena aku merasa lelah karena kejadian kemarin. Mereka segera membersihkan diri agar bau klorin menghilang. Aku masih berfokus dengan seduhan kopi Nestle di genggamanku.


Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatku lelah?


Tidak ada yang tahu. Kesadaranku kosong pada saat itu. Aku tidak akan tahu dengan kejadian itu. Aku harap tidak ada yang terjadi yang bukan-bukan.


Setelah semuanya sudah mandi. Akishima menghampiriku dan menyuruh, “Rivandy, kami sudah mandi. Tinggal kamu yang belum mandi,” untuk mandi.


“Aku nanti saja. Kalian pulang saja.” Aku meminum kopi secara perlahan.


“Kenapa?” Tanya Aurora mendengar saranku.


“Aku tidak bisa mandi karena kalian ada disini. Aku malu,” jawabku menahan wajah memerah itu.


“Tidak usah malu! Aku akan memandikanmu,” tawar Sheeran untuk mandi.


“Sudahlah! Kalian pulang saja,. Aku harus mengambil jemuranku sekarang juga,” aku minum kopi sambil menatap kota Moskow yang cerah.


“Eh?! Tapi, … sudahlah, desu! Tapi, minggu depan aku akan datang kesini, desu,” ajak Evelyn sambil mematikan sistem “Lubang Hitam” agar kami bisa keluar.


“Tidak akan!” Aku menoleh ke Evelyn dengan perasaan malu.


Setelah itu, mereka mengucapkan selamat tinggal kepadaku dan ranjangku yang berisi bau klorin. Aku harus mandi dan mengangkat jemuran yang belum diambil kemarin. Kemudian, aku mengenakan pakaian panjang dan pergi menuju ke restoran karena aku tidak sempat membuat sarapan karena aku terlalu lelah.


[*^*]


Jam 09:00, aku sampai di Restoran Nobu, Moskow. Aku memasuki ke restoran itu dan memesan masakan Jepang. Para pelayan itu segera memberi pesan kepada koki untuk memasak masakan Jepang. Sashimi.


Namun, tidak kusangka aku bertemu dengan anak kecil lagi. Dia sama denganku. Bertingkah seperti orang normal dan memesan Sashimi. Anivesta Bella.


“O-Onii-chan?!” Bella terkejut melihatku.


“Kenapa Onii-chan disini?” Tanya Bella dengan blak-blakkan.


“Kamu Bella, kan?” Aku menghela nafas dan menebak.


“Iya. Kau benar,” jawabnya mengangguk.


“Kamu kesiangan?” Tanyaku lagi.


“Iya. Kau benar,” jawabnya mengangguk.


“Kamu tidur bareng dengan mereka?” Aku bertanya lagi.

__ADS_1


“Iya. Kau benar,” jawabnya mengangguk.


“Kamu pesan Sashimi?” Aku bertanya lagi.


“Sudah! Kamu juga merasakan hal yang sama?” Tanyanya dengan lesu.


“Semuanya benar,” responku tertunduk lesu.


“Rivandy, Bella. Selamat pagi,” sapa Shiori sambil menghampiri kami.


“Pagi, Shiori,” sahut kami menoleh ke Shiori.


“Sepertinya kalian tidak enak badan. Ada apa?” Tanya gadis sebelah Shiori, Kotori.


“Mereka mengerikan. Aku tidak bisa fokus karena permainan yang mereka mainkan. Itu membunuhku, Besoknya, aku mencium bau klorin di tubuhku,” keluhku panjang lebar.


“Aku hampir mabuk dengan kejadian malam. Mereka hampir memasukkan alkohol ke dalam gelasku. Lalu, aku ingin sekali melakukan penetrasi yang kencang itu,” keluhnya ingin tertawa sekeras-kerasnya.


Shiori tertawa kecil. Ia melanjutkan, “Begini, kemarin malam, Bella …,”  tapi mulutnya ditutup oleh Bella.


“Tidak boleh! Kamu tidak boleh membeberkan rahasia ini,” pinta Bella ingin menangis.


“Siapa peduli dengan rahasia itu? Aku sudah mengalaminya,” celaku dengan wajah murung dan penuh tekanan.


“Apa mereka tidak waras?”


[*^*]


Setelah keluhan itu, kami dihadapkan dengan kursi empat orang sambil Sashimi disajikan  di atas meja. Kotori dan Shiori mendengarkan ceritaku dan Bella alami kemarin malam. Suasana yang agak ricuh, tapi  mereka menahan tawa mereka agar tidak mengecewakan kami.


“Oo, begitu. Jadi kalian mengira bahwa kalian melakukan itu sejak kemarin?” Duga Kotori sambil memakan Udon.


“Iya, itu benar,” jawab kami menunduk kepala.


“Sarapan dulu. Aku memesan Udon, lho,” ajak Shiori sambil makan Udon.


Aku dan Bella menyantap Sashimi yang ada di meja. Kami menyadari sesuatu yang sangat penting. Saking pentingnya, itu dapat merenggut isi dompet kami.  Apalagi, aku harus mengisi kartu kreditku.


“Aku lupa. Aku harus menghemat uang untuk saat ini. Lagipula, ini sudah masuk tanggal tua,” keluh kami secara bersamaan.


Shiori dan Kotori tertawa kecil dengan tingkah laku tu. Shiori mendesah, “Ara-Ara. Kalian memang mirip,”


[*^*]


Setelah membayar tagihan, aku dan Bella diajak Kotori untuk menghindar dari stres yang berlebihan. Shiori menggendong Bella, aku dipangku Kotori agar aku bisa berjalan. Setelah sampai di apartemen Kotori, kami duduk di ruang tamu dan Kotori akan menyediakan sesuatu pada kami.


Ia mengeluarkan barang miliknya dan mendorong TV layar lebarnya kepada kami. Lalu, ia menyalakan Playstation 5. Aku dan Bella hanya terdiam dengan monitor layar yang disambung oleh PS5.


Ilustrasi PS 5



“Ayo, kita main PS 5!” Kotori memegang stick warna putih elegan.


“Rainbow Six, Final Fantasy XV, Spiderman, atau GTA VI?” Tawar Kotori untuk memainkan permainan PS 5 untuk 4 pemain.


“Kotori, aku baru tahu kamu punya PS5,” ungkap Shiori baru mengetahui ada PS 5.


“Wah! Dengan harga Rp, 8.900.000,00, bisa beli apa nih?” Tanggap Bella dengan melihat PS 5.


“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Bella. Yang penting aku baru mengenal barang yang seperti ini,” komentarku yang baru mengetahui tentang PS 5.


Kami memutuskan untuk bermain GTA VI, suatu permainan dimana pemain melakukan apa saja yang diinginkan oleh pemain itu Mereka bisa menjalankan misi atau menghancurkan kota.


Aku dan Bella memutuskan untuk melakukan kejahatan. Shiori dan Kotori mengawasi kami agar kami tidak melakukan kejahatan. Itu akan membuat nyawa kami dalam bahaya kalau banyak polisi akan mengejar kami. Apalagi mencapai bintang enam.


“Rivandy, ambil mobilnya! Kita akan tabrak mereka semua,” bujuk Bella untuk menghancurkan kota.

__ADS_1


“Aku harus mengambil uang mereka dan melakukan kejahatan lainnya,” tekadku melakukan perintah kepada karakterku untuk melakukan perampokan.


“Aku tidak tahu apa yang merasuki mereka,” gumam Kotori melihat tingkah laku kami.


“Biarkan saja. Mereka harus meluapkan emosi mereka," cegah Shiori untuk membiarkan kami bersenang-senang.


Permainan ini terus berlanjut. Namun, saat menuju ke kota. Shiori tidak sengaja memberi perintah kepada karakternya untuk menembakku. Padahal, ia ingin menembak mafia itu.


“Tunggu, Shiori! Apa yang kau lakukan?” Aku panik karena karakterku ditembak oleh Shiori.


“Ingat! Ini hanya game.” Shiori mengingatkanku untuk tetap tenang.


“Iya. Ini hanya game,” balasku menghela nafas sambil melanjutkan permainan.


Setelah bermain GTA VI dengan puas selama sejam, Kotori menyarankan kami untuk bermain Super Mario Bros. Setelah menekan tombol untuk masuk, terdapat layar monitor untuk memulai. Setelah memulai, mereka


“Aku pilih Luigi,” gumam Kotori memilih Luigi.


“Aku pilih Peach,” ungkap Bella memilih Peach untuk memulai permainan.


“Mario. Dia sangat imut,” lanjut Shiori dengan tenang.


“Yoshi,” lanjutku dengan singkat.


Permainan dimulai. Kami berkompetisi untuk siapa yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Aku mencoba iseng untuk menjatuhkan Kotori,. Kotori membalas serangan itu  Tapi, Bella terkena gesekan Kotori. Bela membalasnya lagi dan mengenai Shiori. Setelah itu, Shiori membalasnya lagi kepadaku. Aku membalasnya lagi kepada mereka hingga puas.


Baru pertama kali kami melakukan hal yang aneh itu. Bukannya kami fokus dengan garis finish, kami malah menjatuhkan satu sama lain, sehingga permainan ini semakin menarik.


Permainan berikutnya, kami harus mencari cara agar mendapatkan poin terbanyak. Kami secara ceroboh melakukan cara dan menjatuhkan satu sama lain lagi. Permainan ini cukup menyenangkan untuk orang stres sepertiku dan Bella.


Aku senang sekali. Tapi, bagaimana caranya aku bisa tersenyum? Aku tidak pernah tersenyum seumur hidup. Semenjak aku lahir, aku tidak pernah tersenyum, hanya ada mimpi buruk dan trauma.


“Rivandy. Ini sudah jam 11. Mau makan apa? Biar aku masak,” panggil Bella sudah menyiapkan bahan masakannya.


“Biarkan aku membantumu,” jawabku dengan serius.


“Ayolah! Jangan bantuan lagi! Aku sudah lelah dibantu,” tolak Bella menahan tawanya.


“Aku akan membantumu. Aku tidak ingin membiarkanmu melakukan itu sendiri. Setidaknya kita lakukan ini bersama. Seperti Game PS 5 yang kita mainkan,” cekalku dengan penolakan itu.


Bella terdiam sesaat dengan ucapan itu. Tidak ada yang mengatakan seperti itu padanya. Ia mencela, “Iya. Tapi, kamu tidak boleh membebaniku,”


“Aku pesan Coto Makassar,” pesan Shiori sambil bermain Twitter bahasa Jerman di handphone


“Aku juga,” lanjut Kotori sambil membereskan PS 5 miliknya.


Aku dan Bella memasak coto dengan kemampuan kami secara bersama  Perpaduan dan kerjasama tim yang baik sebagaimana yang dilakukan dalam game di PS 5. Setelah memasak selama sejam, kami menyajikannya dan memberikan kepada Kotori dan Shiori.


Kami menikmati sambil memutar musik yang cukup tenang saat makan. Setelah itu, kami mengundurkan diri dan kembali ke apartemen masing-masing. Setelah itu, kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku berjalan sendiri ke apartemen sementara Bella dan Shiori berjalan bersama menuju ke apartemen.


[*^*]


Jam 14:12, di ruangan penyiksaan, ada seorang gadis yang berlumuran darah di sekujur tubuhnya tergeletak di lantai. Ia mencoba berdiri dan masuk ke Iron Maiden lagi. Setelah ia menyiksa diri di dalam sana,  ia keluar dari Iron Maiden dengan banyak darah yang keluar dan segera berjalan menuju ke ranjang.


Setelah tiba di ranjang, ia tidur dengan jarum di perutnya dan melupakan kejadian yang menyenangkan. Tidak lupa, ia menanggalkan semua pakaiannya dan menusuk tubuhnya dengan jarum dengan keras.


Ia tertidur dengan lelap dengan banyak darah yang menyertainya.


Jam 19:23, ia terbangun dan segera mengambil apa yang ada di atas meja. Ia melihat ada sekumpulan paku yang ada di mangkuknya. Ia mengambil beberapa paku dan mengunyah  dengan perlahan.


Setelah itu, ia kembali menjalankan aktivitas untuk menyakiti dirinya. Setelah menyiksa diri, ia kembali tidur dengan rantai dan jarum tajam.


Butuh beberapa bulan lagi aku pasti akan mati ~ Shiori von Zuckerberg.


Keesokan harinya, ia terbangun dan mengobati lukanya sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Ia bertemu dengan Bella dan lainnya seperti biasanya. Lalu, mereka menghabiskan waktu mereka untuk menjalankan aktivitas mereka.


Aktivitas yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2