
10 November 2025, jam 14:45, pelajaran militer telah berakhir lebih awal karena para guru militer akan menghadiri rapat untuk mengadakan acara untuk akademi. Jadi, para siswa perbolehkan pulang lebih awal.
Sebelum pulang lebih awal, ada sebuah pengumuman yang menggema seisi akademi. Pengumuman itu berasal dari ketua Klub Memasak, Filia Andela, siswi yang berasal dari Finlandia yang berasal dari Kelas II Soshum B, siswi Angkatan 2024.
“Pengumuman untuk para siswa dan siswi sekalian. Bagi kalian yang mengikuti Klub Memasak, segera berkumpul untuk berdiskusi untuk mengikuti lomba memasak. Anggota Klub Memasak wajib mengikuti Lomba Memasak untuk mengasah kemampuan dan keterampilan kalian.”
“Lalu, untuk yang ingin mengikuti Lomba Memasak yang diadakan oleh panitia akademi pada minggu depan, silahkan daftar di ruangan Klub Memasak dan menulis biodata kalian. Minggu depan nanti, kalian akan diberi nomor oleh panitia dan berkesempatan untuk mendapatkan ₽ 100.000 (Rp. 18.684.554,12) setiap angkatan.”
“Pada tanggal 17 November 2025, jam 09:00 atau minggu ke -12, acara akan dimulai. Semua jam pelajaran militer akan ditiadakan Semuanya boleh ikutan. Siswa angkatan manapun bisa ikutan. Tempatnya di aula akademi dengan tempat duduk bertingkat.”
“Bagi penonton yang mengikuti acara ini, akan berkesempatan untuk mendapatkan hadiah lotre yang akan diundi secara acak. Kalian juga bisa merasakan masakan dari peserta jika kalian sudah lapar.”.
“Itu saja yang saya sampaikan. Sekian terima kasih. Saya dari ketua Klub Memasak, Filia Andela, mengundurkan diri dan semoga harimu menyenangkan,” tutupnya.
Pengumuman itu membuat seisi kelas berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri dan mengambil brosurnya untuk melihat info mengenai Lomba Memasak lebih lanjut. Mereka mengambil brosur dan segera pulang untuk menunggu acara itu sementara anggota Klub Memasak harus berkumpul terlebih dahulu.
Tidak terkecuali aku yang mengenakan syal merah yang diberikan Akishima. Aurora dan Evelyn mengambil brosur dan segera menunjukkan padaku.
“Rivandy. Dengan kemampuanmu, kamu pasti akan menang ” cetus Aurora sambil membaca brosurnya.
“Aku pikir ini semakin dingin,” komentarku dengan cuaca Moskow yang semakin dingin.
“Saat kamu juara, kamu bisa mentraktir kami, desu,” lanjut Evelyn sambil memakan Muffin.
“Aku tidak terlalu ingin juara. Aku hanya mengikuti acara ini saja,” lontarku diberikan brosur oleh Aurora.
Ketika aku membaca brosur dari Aurora. mataku tertuju pada sebuah bacaan yang cukup memikat. Aku melihat brosur cukup lama untuk memahami acara ini. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.
“Aku pergi dulu. Aku ingin berkumpul dulu dengan klub yang lain. Filia-Senpai menungguku.” pamitku sambil merapatkan syal merahku.
“Sampai jumpa. Jangan sampai kalah, ya!” Pesan Aurora pada acara ini.
“Kalau kalah, kamu harus mandi bersama, desu,” lanjut Evelyn berpisah dariku.
Aku pergi meninggalkan Aurora dan Evelyn yang pulang ke apartemen mereka. Aku bergerak dengan syal yang merapat di tubuhku. Aku berlari menuju ke ruangan klub dengan nafas yang terengah-engahz berlari di koridor meskipun mendapatkan larangan dari petugas disiplin.
Klub Saintek libur dulu. Minggu depan, klub itu akan dilaksanakan lagi. JAdi, Aurora libur dulu. Evelyn yang mengikuti Klub Robotik pada hari Kamis dan Programer pada hari Jumat pulang ke rumah untuk istirahat terlebih dahulu.
Sial! Ini semakin dingin.
Aku ingin sekali pingsan.
[*^*]
Jam 15:12, di sekitar Kelas I Soshum A, Farah, Andika, Wulan, dan Yudha berkumpul di kelas. Kotori sudah menghampiri Bella dan Shiori 5 menit yang lalu. Bella dan Shiori duduk di kelas sambil merencanakan sesuatu.
“Bella,” panggil Andika menghampiri Bella.
“Apa?” Sahut Bella.
“Kamu harus menang biar dapat uang. Uangnya 18,6 juta, lho. Nanti, kita hamburkan,”
“Tidak mau. Aku tidak ingin menghamburkan uang,” cela Bella benci dengan kelakuan tu.
“Gunakan tempe dan tahu untuk memenangkan lomba ini!” Usul Yudha tanpa pikir panjang.
Farah tertawa dengan guyonan itu. Ia mencela, “Yudha. Kamu akan membuat Bella kalah.”
“Iya. Cobalah untuk memasak dari masakan luar negeri,” lanjut Wulan mendengar guyonan itu.
“Bella. aku akan membantumu. Jadi, aku akan mendukungmu dengan musik,” tekad Kotori sambil memegang alat Launchpadnya.
Shiori menenangkan, “Jangan khawatir, Bella! Aku akan ikut juga. Kau tidak usah khawatir,”
“Kau benar. Aku harus menyiapkan barang terlebih dahulu.” terima Bella dengan menghela nafasnya.
“Kalian harus membantuku belanja. Aku harus mencari bahan yang cocok untuk lomba nanti,” pesan Bella mengambil tasnya.
__ADS_1
“Ashiiap!” Andika, Farah, Wulan, dan Yudha menerima pesan Bella.
“Ashiiap terus!” Seru Bella dalam hati berjalan meninggalkan kelas.
Kotori dan Shiori mengikuti Bella di sampingnya. Mereka pergi ke supermarket dan mengambil beberapa bahan makanan dan peralatan yang lainnya, Kemudian, mereka mencobanya di apartemen mereka.
[*^*]
Jam 15:06, Zhukov, Denis, Hammer, dan Saphine berkumpul di kantin. Mereka mendiskusikan mengenai acara yang akan diikuti. Zhukov memberikan informasi. pada mereka.
“Denis. Hammer. Kalian akan ikut.”
“Dengan ₽ 100.000 kita bisa beli apa, ya?” Gumam Denis sambil berpikir.
“Kita akan membeli mobil,” jawab Hammer dengan pikiran yang singkat.
“Kau harus beli 3 kali harga mobil dibandingkan pelanggan di AS. Selain itu, kau tidak punya lisensi mengemudimu.” cela Denis.
“Iya,” respon Hammer yang membuat mereka tertawa.
Di saat mereka berpikir bagaimana cara menghabiskan uang mereka, Zhukov mengalihkan perhatiannya dan menuju tatapan Saphine yang sedang membaca buku biologi spesialis dokter. Zhukov bertanya beberapa detik kemudian.
“Saphine, bagaimana denganmu?” Tanya Zhukov menoleh kepada Saphine.
“Tentu saja aku ikut walaupun kemampuanku tidak seberapa,” jawab Saphine.
“Eh? Bukankah kamu harus menjadi istri yang baik?” Rayu Zhukov dengan guyonannya.
Wajah Saphine menjadi memerah dengan pertanyaan itu Ia mencekal, “Eh?! Tapi, aku masih … belum cocok … menjadi istri. Soalnya, … aku belum … berpengalaman.”
“Oo. Bukannya kamu sudah melakukan itu bersama ....,” canda Zhukov ucapannya terhenti.
“Mau aku pukul?” Tanya Saphine mengepal tangannya sambil ingin memukul Zhukov.
“Aduh! Jangan pukul! Aku bisa benjol nanti,” pinta Zhukov dengan santai mengingat kejadian benjolnya.
“Jangan marah! Kau bisa membantu Rivandy. Dia akan mengajarimu secara intim,” gombal Zhukov mendekati tubuh Saphine.
“Aku tidak mau mendengarmu lagi,” tolak Saphine menutup telinganya.
Setelah keseharian itu, mereka memutuskan untuk menuju ke ruangan Klub Memasak dan menemani Saphine untuk mendaftar menjadi peserta. Hammer, Denis dan Zhukov bertemu denganku yang mengenakan syal merah dan bertemu dengan Filia-Senpai di dalam ruangan klub sementara Saphine pulang duluan.
[*^*]
Jam 15:01, di luar Kelas I Soshum B, Spinx dan Nona Claveriska berjalan di koridor akademi. Spinx sedang mengawal Nona Claveriska di samping sementara ia berjalan dengan tas yang ada di genggamannya. Spinx melihat Nona Claveriska yang sedang tidak enak badan. Ia menoleh padanya dan mulai mengeluarkan suaranya.
“Nona. Apakah kamu lelah?” Spinx memandang Nona Claveriska dengan kasihan.
“Tidak. Aku hanya merasa tidak enak dengan kemampuanku,” jawabnya dengan langkah berat.
“Aku merasa ada yang mengganjal di hatiku,” lanjutnya sambil menggesekkan dadanya dengan lembut.
Mendengar keluhan itu, Spinx menghentikan langkahnya dan segera melakukan sesuatu Ia mengayunkan tangannya kepada Nona Claveriska dan menepuk punggungnya. Nona Claveriska yang mengalami dorongan itu segera tersadar. Spinx mulai menasehati majikannya.
“Nona. Pergilah! Aku akan pulang. Aura-neechan akan menjemputku pulang,” pesan Spinx untuk menenangkan Nona Claveriska.
Nona Claveriska tersenyum dengan itu. Ia berucap, “Terima kasih, Aku pergi dulu, yah,” meninggalkan Spinx dan segera menuju ke ruang Klub Memasak.
Spinx segera pergi menuju gerbang akademi untuk segera pulang ke mansion bersama Aura-neechan. Ia tersenyum dengan syal warna biru kehitaman Ia meninggalkan koridor dan bertemu dengan kakaknya. Kemudian, mereka pulang ke rumah.
[*^*]
Jam 15:13, di koridor akademi dekat Klub Disiplin. Nina, Sinta dan Diana telah menyelesaikan tugasnya. Mereka membereskan ruangan klub mereka sementara anggota yang lainnya sedang berpatroli. Setelah keluar dari ruangan klub mereka, Nina mengatakan sesuatu kepada mereka sebelum pulang.
“Diana, Sinta. Aku akan mendaftar lomba dulu. Kalian pulang bersama Zera. Jangan biarkan dia lolos, ya!” Pesan Nina untuk yang sedang terburu-buru.
“Tenang saja. Aku akan memborgolnya,” balsa Diana dengan santai dan senyuman tipisnya.
__ADS_1
“Kalau Zera kabur, aku akan memaksanya ke apartemenku,” tekad Sinta.
“Bukankah itu tidak boleh? Pengurus apartemen akan memarahi kita,” sanggah Diana mendengar tekad Sinta.
“Terus bagaimana?” Tanya Sinta dengan polos.
“Kita akan menculiknya dan melakukan ini bersama di apartemen Nina,” balas Diana memberikan kode tatapan matanya kepada Sinta.
“Wah! Ide yang bagus tuh,” puji Sinta mendengar kode itu.
“Sudah! Tapi, jangan berlebihan! Zera akan marah kalau begitu,” tegur Nina perhatian pada Zera.
“Aku pergi dulu,” pamit Diana segera berjalan cepat menuju ke ruangan Klub Memasak.
Diana dan Sinta melambaikan tangan Nina dan segera pulang menjemput Zera yang sedang tertidur di kelasnya. Lalu, mereka akan membawanya ke apartemennya lalu mereka pulang ke apartemen mereka.
[*^*]
Jam 14:52, di depan Kelas I Saintek B, Eleva dan Andela segera pulang dan memperlihatkan sesuatu mengenai brosur itu. Lalu, mereka berjalan tanpa banyolan dari Andika yang aneh itu.
“Eleva. Kamu mau ikut tidak?” Tanya Andela sambil membaca brosurnya.
“Tidak. Kalau Zhukov menyuruhku ikut, aku akan membunuhnya,” jawab Eleva sambil mengepal tangannya.
“Lalu, kalau aku mengajakmu bagaimana?” Tanya Andela mendekati Eleva.
“Memangnya kamu bisa memasak? Masakanmu sangat payah,” sindir Eleva mengingat kejadian semalaman.
“Eh?! Kalau begitu, aku akan ikut lomba dan menjadi istri idaman se-Dunia,” tekad Andela meskipun teknik memasaknya sangat buruk.
“Semoga beruntung. Aku harap juri tidak merasa jijik dengan masakanmu itu,” lanjut Eleva.
“Jangan sindir aku! Nanti, aku tidak mau mandi dan tidur bareng bersamamu,” rengek Andela dengan wajah mutungnya.
“....” Eleva terdiam dengan guyonan dewasa itu.
Mereka pulang setelah Andela mendaftarkan diri untuk menjadi peserta Lomba Memasak minggu depan.
[*^*]
Jam 15:00, Mei Lisa dan Mei Dina pulang bersama sambil membaca brosur dengan sekilas yang mereka ambil dari Klub Memasak tadi. Kemudian, mereka menyimpannya di tas mereka untuk pulang menuju apartemen mereka.
“Lisa. Kamu harus ikut lomba. Nanti, kamu dapat suami yang keren, lho. Seperti Pangeran Rivandy,” gombal Dna mendekati Lisa.
“Tentu saja tidak. Aku sangat buruk dalam memasak,” tolaknya sambil memakan Muffin yang diberikan oleh Klub Memasak secara gratis.
“Eh?! Kalau begitu, kamu tidak bisa menikah, lho. Kamu akan menjadi perawan tua, lho,” tegur Dina agak terkejut.
“Aku banyak tugas sekarang. Aku ingin melatih diri untuk menjadi lebih kuat. Aku harus melampaui Aurora sekarang juga,” tekad Lisa memandang matanya secara sekilas.
“Terserah kamu. Jika Pangeran Rivandy direbut Aurora, kesempatanmu akan sirna, kamu tahu,” nasihat Dina untuk tidak memikirkan bekerja terlalu keras.
Pembicaraan mereka terhenti, segera pulang ke apartemen dan masuk ke dalam untuk beristirahat.
[*^*]
Jam 12:13, aku bertemu dengan Akishima di kelasku. Aurora dan Evelyn tidak ada di kelas. Aku berdekatan dengan Akishima seperti sepasang kekasih. Ini cukup memalukan. Aku harap tidak ada Klub Pangeran yang ada di kelasku. Aku akan mati.
“Pakailah Syalku! Syalku ada banyak. Jadi, percuma saja syal punyaku banyak, tapi tidak dipakai,” nasehat Akishima memberikan syal miliknya padaku.
Aku mengenakan syal itu dan merasa lebih baik. Suhu udara dingin mencegahku pingsan. Dia melindungiku dari hawa dingin yang akan membunuhku. Wajahku memerah karena senyuman Akishima yang manis itu.
“Terima kasih,” responku dengan perasaan malu menutup mulutku dengan syal.
“Iya kan? Kau akan memakainya sesukamu,” lontar Akishima dengan penuh riang gembira.
Akishima mendekatiku dan segera bermesraan di kelas. Aku tidak terlalu Ingin menikmatinya. Tapi, ini lebih baik. Kami berpegangan tangan di tengah siswa yang sedang mengurus diri mereka.
__ADS_1
Setelah itu, kami berpisah saat bel akademi sebelum kejadian yang akan menimpaku nantinya. Minggu depan ada Perang Memasak yang akan menegangkan.