
Jam 13:01, wanita gemuk itu membuang semua makanan instan dan minuman. Hammer mencoba untuk memberontak, namun tidak bisa. Wanita gemuk itu sudah membuat makanan itu tidak bisa dikonsumsi lagi.
Aku hanya berdiri terdiam dengan momen seperti ini. Aku tidak bisa bergerak sedikitpun dan melakukan sesuatu untuk mencegah kejadian itu. Namun, aku ingin sekali mencegah itu.
Selang beberapa menit kemudian, makanan instan sudah bercampur dengan tanah. Tanah juga menjadi lembab karena tercampur minuman. Cuaca Moskow yang semakin dingin. Aku menahannya dengan suhu tubuhku yang tersisa.
Hammer ingin sekali mengucurkan air mata. Namun, ia hanya menahannya. Ia malu di depan wanita yang bukan berada pada pandangannya. Ia mengingat wanita yang tidak ada di hadapannya.
Pada saat itu, wanita gemuk itu semakin marah pada Hammer. Wanita gemuk itu menyuruh, “Pergi ke pasar dan segera membeli banyak bahan makanan. Aku akan mengajarimu cara memasak sekarang juga,” sambil menahan amarahnya.
“Dan kau …segera beli cat tembok!” Suruh wanita itu kepadaku sambil menyerahkan uangnya padaku.
Aku hanya menerima itu dan segera pergi dari apartemen Hammer. Hammer hanya terdiam dengan bentakan itu. Terpaksa aku harus mengelilingi 2.511 km karena tidak tahu dimana aku bisa membeli cat tembok.
Sial! Kenapa aku harus berjalan di suhu yang semakin dingin ini?
Kalau musim dingin tiba, aku langsung dibawa ke rumah sakit.
Aku juga teringat bahwa aku dirawat rumah sakit oleh paman itu. Paman itu merawatku dengan ikhlas dan tanpa imbalan apapun. Aku hanya menerima itu dan menunggu musim semi sambil berada di kotatsu.
Aku segera menuju ke apartemenku dengan perjuangan seperti seorang ksatria untuk mengambil syal merah yang tertinggal di apartemenku. Aku tidak bisa menggunakan taksi karena aku baru mengetahui bahwa ponselku sedang bermasalah. Jadi, aku tidak bisa membayarnya dengan aplikasi Uber.
[*^*]
Hammer kembali menuju ke apartemen dengan suram. Ia mengambil uang miliknya dan segera menuju ke pasar sebelum dimarahi habis-habisan oleh wanita itu. ia berjalan kaki sendirian dengan suram tanpa ada perhatian oleh penduduk Moskow yang sedang menikmati hangatnya ruangan tu.
Sesampainya di pasar, ia melihat pasar yang cukup sepi karena ini sudah siang hari. Hammer mencari bahan yang sudah ditulis di kertas oleh wanita itu. Ia juga menggenggam dengan pela dan terpaksa menerimanya.
Ia mencari wortel, tomat, daging ikan, dan lainnya. Ia juga harus membeli garam, gula, merica, dan bumbu lainnya. Entah kenapa garam selalu habis dengan cepat. Ia menemukan barang yang dituju walaupun tempatnya pasarnya yang sudah kotor
Pada saat ia ingin mendatangi pedagang sayur yang sedang menunggu kedatangan pelanggan. Pada saat ia menuju kemari, ia tidak menyadari bahwa gadis berambut Ashen itu mendekatinya dan menyapa Hammer.
“Hammer! Kamu disini, yah?“ Sapa Saphine mendekati Hammer.
“ ....” Hammer tidak menjawab sapaan itu.
“Ayolah! Kenapa kamu tidak menyapaku?” Rayu Saphine dengan genit.
“Hentikan rayuanmu itu! Aku sedang tidak mood.” Hammer berpaling dari Saphine.
“Eh?! Kamu kenapa? Biasanya kamu langsung menyapaku,” tanya Saphine ingin tahu dengan Hammer.
Setelah Hammer mengambil beberapa bahan belanjaan, ia bertanya ke pedagang itu dan segera membayar harga yang sesuai dengan respon itu. Setelah itu, ia berniat untuk pergi dari Saphine sekarang juga.
__ADS_1
“Aku pergi dulu,” pamit Hammer meninggalkan Saphine.
“Tidak boleh! Kalau kau meninggalkanku, aku pasti menjadi incaran pria belang,‘ larang Saphine mengikuti Hammer setelah membayar ke pedagang itu.
“Kenapa kamu tidak menggunakan shotgun punyamu?” Tanya Hammer ragu pada Saphine.
“Aku tidak terlalu ahli. Aku hanya fokus dengan ilmu dokter. Rivandy memberiku harapan itu padaku,” rengek Saphine dengan mata berkaca-kaca.
“Terserah.” Hammer pasrah dengan rengekan itu.
Hammer terpaksa bersama Saphine yang berada dalam di sisinya. Hammer membeli bahan makanan terlebih dahulu sebelum menemani Saphine ke tempat yang dituju. Saphine juga menitip pesan dari Denis dan Zhukov yang sedang berada di restoran sambil bekerja sambilan.
Setelah membeli bumbu, daging, dan sayuran, mereka meninggalkan pasar dan segera menuju ke tempat Saphine tuju untuk menemanintya. Saphine khawatir jika ia mengulangi kejadian yang sama. Ia belum tentu kuat karena ia adalah seorang pendukung (Support).
Dia diajak Saphine untuk menuju ke toko buku dan mencari buku yang ia cari. Buku yang ia cari adalah buku kedokteran dan buku Campbel jilid terbaru. Buku yang pernah dibaca oleh Aurora.
Setelah Saphine membeli beberapa buku, Hammer menemani Saphine untuk pulang ke apartemen miliknya. Saphine menghentikan langkahnya dan segera membuka kunci pintu itu. Setelah itu, ia segera masuk ke dalam apartemen itu. Sebelum masuk, ia mengatakan sesuatu pada Hammer.
“Terima kasih, Hammer. Aku akan membalas budi pada hari Selasa nanti. Jadi, ditunggu, yah!” Pamit Saphine sambil mengunci pintu.
Saphine menutup pintu dan segera mengunci pintunya lagi agar tidak menjadi incaran lagi. Hammer hanya suram dengan itu, berpikir Saphine menjadi waspada. Dengan itu, Hammer berniat menuju ke apartemen dan dipaksa dibantu memasak oleh wanita itu.
Hammer segera pergi ke apartemen miliknya dan segera berjalan menuju ke jalanan yang dingin itu. Ia pergi dengan belanjaan yang cukup berat di tangannya.
Setelah sampai di pertigaan, ia tidak melihat ada mobil melesat cepat menuju padanya. Mobil itu membuat Hammer kehilangan sesuatu. Mobil itu membuat Hammer menghindar dan mobil itu menabrak bawang belanjaan itu.
Mobil itu tidak memberhentikan lajunya dan segera menuju ke jalan yang lainnya. Hammer yang sedang terjatuh akibat kelajuan mobil itu membuat kehilangan semangatnya Ia tidak bisa melakukan apapun. Membelinya lagi sudah percuma. Ia tidak bisa kembali ke apartemen dan mengambil dompetnya lagi.
Ia juga mendengar perkataan yang terngiang di kepalanya, takut dengan bahan belanjaan yang berserakan di sini. Ia merasa petir yang sudah menyerangnya di musim gugur di Moskow.
“Jangan pulang kalau kau tidak membawa barang belanjaan itu. Ingat itu!”
Begitu perkataan yang diucapkan oleh wanita gemuk itu. Dengan itu, Hammer segera lari ke gang dan tidak akan pulang menuju ke apartemennya. Ia takut akan dibentak oleh wanita itu.
Ia menuju ke gang yang dingin, sepi, dan tidak ada perlindungan apapun. Lalu, ia juga tidak bisa melakukan apapun dan hanya menunduk dan menahan rasa laparnya itu selama mungkin.
Ini yang terbaik untuknya.
[*^*]
Aku pergi menuju ke apartemen dan mengambil apartemenku. Aku mengenakan syal milikku sebelum pergi membeli cat tembok. Entah apa yang disuruh oleh wanita gemuk itu. Ini cukup sulit bagiku yang hanya tergantung pada teknologi.
Setelah itu, aku keluar dari apartemenku dan segera menuju ke toko bangunan. Aku lari meninggalkan apartemen dengan larian yang cepat. Aku tidak terlalu peduli dengan suhu dingin itu.
__ADS_1
Dengan sedikit olahraga, aku bisa mengeluarkan keringat dan tidak cemas dengan suhu dingin yang menyerang tubuhku di saat terakhir ini.
Dengan banyak bergerak, aku bisa mempertahankan hidupku lebih lama. Ini masih musim gugur, sebelum musim dingin yang terjadi pada akhir November 2025.
Aku ingin sekali memanggil taksi agar aku bisa menghangatkan diri. Namun, itu terlalu beresiko. Aku tidak bisa seenaknya menggunakan uangku secara tunai pada sopir itu. Aku ingin sekali menggunakan kartu kreditku. Namun, tanpa perantara melalui aplikasi Uber juga percuma.
Jadi, aku memutuskan untuk berlari walaupun aku tidak bisa melampaui Nina. Nina sangat cepat dan lincah. Aurora tidak kalah dengan kecepatan itu. Mereka bisa berlari dengan 10 detik sepanjang 100 meter. Artinya, mereka bisa lari 10 m/s. Sedangkan aku hanya bisa sampai 9,01 m/s.
Aku teringat sesuatu pada teknik “Arctic Warfare : Observation” untuk mencari Akishima. Namun, dengan luas Kota Moskow yang sebesar 2.511 km dan batas penggunaannya hanya 10 km. Ini tidak bisa dipakai karena mataku akan sakit.
Aku menanyakan sesuatu pada penduduk Moskow karena aku tersesat. Beruntungnya orang itu mengetahui arah jalan menuju toko bangunan. Maka dari itu, aku menyimaknya dengan baik dan segera mengingat apa yang diucapkan oleh orang itu
Setelah mengetahui arahnya, aku berterima kasih kepada orang itu dan segera menuju ke tempat yang kutuju, yakni toko bangunan. Aku bergerak dengan kecepatan 7 m/s untuk mempercepat langkahku. Terdapat 700 meter lagi untuk ke toko bangunan.
Namun, pada saat itu, aku tidak terlalu tahu apa yang terjadi pada Hammer. Maka dari itu, aku hanya fokus untuk pergi menuju ke toko bangunan. Aku tidak peduli lagi dengan hal yang disekitarku. Aku hanya berlari menuju alamat yang sudah dihafal di otakku.
Dengan IQ 168-ku, aku sudah menghafal arah jalan yang menuju ke toko bangunan dan bisa membuat perjalanan menuju ke apartemen milik Hammer untuk mengecat tembok.
Setelah tiba di toko bangunan, aku masuk ke toko bangunan dan membeli cat tembok. Penjual itu langsung menyuruhku ikut untuk melihat cat tembok yang dipilih. Setelah sampai di rak cat, penjual itu menyarankan padaku untuk memilih cat yang ada.
Aku lebih cenderung dengan Nippon Elastex dan No Drop untuk menunjang pekerjaan sebagai tukang cat. Kemudian, aku segera membelinya dan segera membayar dengan uang yang ada di tanganku. Setelah itu, aku keluar dari toko bangunan itu dan segera menuju ke apartemen Hammer dengan teknik “Arctic Warfare : Observation.”
Aku menggunakan teknik itu dan melihat titik yang dikenal agar aku bisa mengenal tempat sampah yang dilihat di mataku. Dengan kecerdasanku, aku bisa melihat apa yang ada di dalam di penglihatanku itu. Aku segera menemukan tempat dimana aku dan Hammer bisa membuang tempat sampah.
Aku mematikan teknik yang kubuat dan segera berjalan dengan membawa cat yang kubawa dengan kedua tanganku itu. Lalu, aku menghangatkan tubuhku agar bisa menjalankan aktivitas musim gugur ini.
Setelah sampai di apartemen Hammer, aku kembali menuju tempat yang berada dimana makanan instan dibuang. Aku segera mencari tempat tembok yang disuruh oleh wanita gemuk itu. Dia sedang berada di ruangan yang lain untuk urusan rumah tangga lainnya
Aku mengecat tembok yang luntur itu meskipun warna putih. Aku menunggu Hammer sambil melakukan pekerjaanku. Aku mencari cat yang rusak dan segera mencari cara untuk menyelesaikan tanpa merusak pakaianku. Aku mengenakan pakaian khusus untuk mengecat tembok yang rapuh tu. Setelah itu, aku merapikan cat itu dengan kuas kecil untuk merapikan hasil cat itu.
Pada jam 15:12, aku merasakan hal yang aneh. Hammer sama sekali belum pulang. Dia belum terlihat sekalipun saat aku ingin sekali menghubunginya, namun, aku tidak bisa karena handphone ku bermasalah. Aku ingin bertanya pada wanita itu. Namun, itu sedikit memperburuknya.
Aku mulai cemas dan segera menuju ke apartemen Hammer. Aku membereskan pekerjaanku sebagai tukang cat terlebih dahulu sebelum kembali ke apartemen Hammer. Setelah membersihkan cat itu aku menyimpan cat itu di gudang agar bisa dipakai kembali.
Aku mencoba untuk membuka pintu itu. Namun, tidak ada siapapun. Aku mencoba untuk mendobraknya. Percuma. Ini akan membuat kerugian yang tak terhindarkan.
Karena aku tidak bisa membuka pintu. Tidak ada pilihan lain. Aku menggunakan "Arctic Warfare : Translucent" untuk menerobos pintu itu. Setelah itu, aku mencari seisi ruangan apartemen untuk mencari Hammer.
Aku mencoba mencari Hammer dari segala penjuru. Namun, aku melihat ponsel dan dompet miliknya yang tertinggal di ruang tamu. Aku juga melihat banyak barang yang penting juga tertinggal di ruang tamu apartemen Hammer.
Apa-apaan ini? Kenapa Hammer melakukan ini semua? Apakah ia tertekan karena itu? Tidak mungkin! Ini pasti karena sesuatu. Bukan karena kejadian ini.
Lalu, apa maksud dari semua ini? Jangan-jangan … ?
__ADS_1
Ini ...