Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Denis Spyxtria 1,2


__ADS_3

28 Oktober 2025, jam 10:15, suasana ruangan yang semakin mencekam. Tatapan kedua orang itu sedang berseteru.Mereka tidak mencoba untuk mengakrabkan diri. Mereka mencoba untuk menghilangkan sosok mereka yang ada di pandangan mereka


"Apa yang membuatmu memanggilku, Cherry?" Tanya Denis dengan tatapan dinginnya.


Dr. Cherry dengan spontan menjawab, "Huft! Itu hanya kewajibanku saja. Aku tidak terlalu ingin menatapmu lebih lama," dengan tatapan sinisnya.


Denis teringat pesan wanita itu. Ia juga mengingat kiriman itu harus dikirimkan kepada Cherry. Tidak ada pilihan lain. Ia harus melakukannya. Ia mengambil kiriman dari wanita itu dan segera memperlihatkannya ke Dr, Cherry.


"Ini. Ada kiriman untukmu," lontar Denis melemparkan kirimannya.


"Apa yang kau lakukan? Kau akan menghancurkannya," tegur Dr. Cherry mengambil paket dengan kedua tangannya.


Denis hanya terdiam dengan teguran itu. Ia menoleh ke kiri sambil memalingkan Dr. Cherry sementara Dr. Cherry sedang membuka paketnya  Terdapat sebuah benda yang cukup membuatnya menghela nafasnya. Ia juga teringat seseorang yang berasal dari sisinya.


"Rita,” gumam Dr. Cherry menyimpan benda itu di laci mejanya.


Setelah meletakkan kiriman itu, ia menutup laci itu dan segera menguncinya. Kemudian, ia menidurkan laptopnya dan meletakkannya di mejanya. Setelah itu, ia membicarakan kepada Denis dengan empat mata.


“Jadi, aku akan mengatakan sesuatu padamu.” Dr. Cherry memulai pembicaraannya..


“Tolong bijaksanalah!” Lanjutnya dengan tatapan sinisnya.


Dr. Cherry dan Denis mulai berbicara. Mereka berusaha memendam rasa kebencian mereka untuk tidak menimbulkan keributan di dalam akademi. Lalu, mereka berbincang dengan tatapan sinisnya. Denis ingin menghindari pembicaraan itu. Namun, percuma saja. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka.


Denis dan Dr, Cherry mengalami hubungan Perang Dingin karena suatu perbedaan ideologi yang dapat merusak hubungan mereka. Karena itu, ikatan persaudaraan mereka sudah putus sejak lama.


Pada saat perbincangan telah berlangsung, Entah sengaja atau tidak, Dr. Cherry mengeluarkan kata yang membuat Denis terpancing. Denis tidak menyadari bahwa amarahnya saat ini membuat malapetaka.


“Kenapa kau menyalahkanku, Cherry?” Tanya Denis dengan perasaan marah.


“Kau sendiri yang membuat penderitaan kepadaku dan Rita,” lanjutnya berdiri di depan Dr. Cherry.


“Sudah aku bilang bukan aku yang melakukan itu. Kau juga melakukan hal yang sama,” cela Dr. Cherry yang membuat suasana menjadi memanas.


“Dari awal kau sudah membuat kerusakan dalam keluarga ini. Kau sudah mengecewakan semua orang dengan ideologi yang kau buat itu,” hina Dr. Cherry.


“Lalu, kau membuat Presiden Rusia kecewa. Aku memerlukan bukti yang sangat kuat untuk membuatnya berpikir keras," lanjut Cherry.


“Aku tidak peduli dengan сука. Aku tidak mau berkaitan dengan itu. Kalau bisa, aku akan menghancurkan Kremlin!” Denis mengutarakan kemarahannya.


“Kalau kau melakukannya, aku akan menghajarmu,” ancam Dr. Cherry masih terduduk manis di kursinya.


“Hajar aku kalau bisa!” Tantang Denis dengan tatapan yang tajam itu.


“Tidak. Aku menolak. Aku tidak mau menghajar orang PTSD sepertimu. Kau terlalu naif, pembangkang, dan …,” teguran Dr. Cherry terhenti dengan sebuah teriakan.


“Sudah cukup, сука блять!” Umpat Denis menghina Dr. Cherry.


“Tarik kembali ucapanmu!” Dr. Cherry tidak sengaja mengeluarkan Tec 9 miliknya.


Denis mulai mengeluarkan pisau dan senapan miliknya. Ia sudah mengisi amunisi senapan sebelum berangkat ke akademi. Ia juga mengasah pisau M9 Bayonet miliknya, sehingga ia siap melakukan penembakan jika perlu.


Konflik tak terhindarkan. namun, Dr. Cherry masih belum mengeluarkan tembakan untuk melampiaskan amarahnya. Denis masih melakukan ancang-ancang sebelum melakukan tembakannya.


Namun, di tengah konflik mereka, mereka memutuskan untuk tidak membuat kekacauan. Mereka tidak ingin kehancuran yang mereka buat. Jadi, mereka menarik kembali senjata mereka dan berbalik badan mereka.

__ADS_1


Dengan reaksi tersebut, mereka terdiam beberapa saat kemudian di tengah mendungnya kota Moskow. Gemuruh hujan sudah meredup dan air hujan berhenti meneteskan air matanya. Denis melakukan tindakan untuk menghindari konflik itu. Ia memutuskan untuk pergi.


“Aku mau pergi saja dari ruangan ini,” pamit Denis dengan tatapan sinis meninggalkan Dr. Cherry yang sedang  berpaling dari Denis dengan datarnya.


“Satu hal lagi. Tetap disini dan membusuk selamanya!” Lanjutnya sambil membuka pintu dan menutupnya dengan keras.


Dr. Cherry membalikkan badannya dan segera menuju ke aktivitasnya. ia membuka laptopnya sambil mengingat perbuatan Denis selama ini. Dia tidak tahu apa tujuan Denis untuk masuk akademi ini. Padahal, Cherry sudah melarangnya untuk masuk.


Ia berpikiran sesuatu, mengingat sebuah perkataan dari paman yang ia kenal. Paman itu memasukkan Denis dengan bukti yang kuat. Lalu, ia memasukkan seorang remaja yang bermasalah ke akademi itu.


“Apa yang harus kulakukan?” Pikir Dr. Cherry menatap layar komputernya.


“Roman Spyxtria?”


[*^*]


Jam 10:26, di Kelas I Soshum D Denis kembali dengan perasaan murungnya. Ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat itu. Ia selalu menyalahkan Dr. Cherry karena membuat kesalahan yang tidak dapat diperbaiki.


Begitu ia kembali ke kelasnya, ia melihat sebuah kerumunan yang tidak biasanya di kelas. Ia menyerobot kerumunan itu dengan cepat untuk menuju pintu masuk Ia juga merasakan kerumunan yang sangat ketakutan. Namun, ia tidak peduli dengan itu.


Ketika ia sudah menerobos kerumunan yang sedang bersemangat, ia melihat segerombolan gangster yang sedang menghancurkan kelas I Soshum D. Lalu, mereka menggerombol Hammer yang sedang lemah tidak berdaya.


“Dimana Denis?” Tanya seseorang yang sedang mengancam Hammer.


“Tidak tahu,” jawab Hammer yang penuh luka di kepalanya.


“Jangan bercanda!” Seru siswa itu memukul Hammer.


Denis mencoba untuk menghampiri gerombolan itu. Langkah kakinya yang sedang pelan. Kemudian, ia mengendap-endap apa yang mereka lakukan pada Hammer. Ia melihat perundungan yang masih terjadi pada akademi ini.


“Jadi, kau Denis Spyxtria, bukan?” Salah satu gangster senior memanggilnya dengan senapan AK-47 di tangan mereka.


Denis tidak menjawab. Ia hanya terpaku dengan luka tembak di dadanya. Ia mencoba berdiri. Namun, seorang gangster dengan memegang tongkat baseball-nya mencegahnya berdiri dengan menginjak dada Denis.


“Jawab pertanyaan kami!” Gangster itu memukul Denis dengan tongkat baseball, sehingga Denis terpukul di bagian kepalanya.


Dengan respon tersebut, seorang gangster yang melihat Denis sambil memegang kanabo mulai mengejek, “Si payah itu tidak bisa bergerak sekalipun,” sambil tertawa kecil.


Beberapa saat kemudian, seorang gangster yang sudah memukulnya mulai berseru, “Oi! Dia adalah Denis. Orang yang memiliki keturunan dengan Spyxtria.”


Gangster yang menjadi ketua itu menyahut, “Bawa dia! Kita akan menginterogasinya kembali."


“Baik!”


Mereka pergi sambil membawa Denis keluar kelas. Para kerumunan itu tidak bisa melakukan apapun karena mereka belum berpengalaman dalam bertarung sungguhan. Beda cerita jika mereka menyerang Kelas III yang membuat gangster itu tidak bisa lolos dari kejaran siswa dan siswi yang sudah berpengalaman.


Sebelum itu, ada seorang siswa yang sedang menghalangi sambil menyerang gangster itu dengan pisaunya. Gangster yang sedang terhempas itu segera menabrak pintu kelas. Akibatnya, kerumunan itu lari ke tempat yang aman.


Para gangster itu terkejut dengan seorang gangster yang terhempas itu. Mereka menoleh ke seorang siswa dengan perasaan marah saat mereka menyadari bahwa ada seorang gangster yang terhempas tadi. Mereka menatapnya siswa berambut gelombang silver itu dengan tajam.


“Kau siapa?” Tanya ketua gangster itu mulai mengeluarkan senapan miliknya.


“Oi! Kalian salah orang. Dia bukan Denis,” jawab siswa berambut gelombang itu.


“Apa? Jangan berbohong kau!” Seru anak buah gangster itu.

__ADS_1


“Aku tidak berbohong. Aku bersungguh-sungguh,” jawabnya dengan penuh keyakinan.


“Kalau dia bukan Denis, kau siapa?” Tanya ketua itu bingung dengan kebohongan Eleva.


“Dia Eleva. Aku adalah Denis Spyxtria!” Tekad Eleva dengan penuh agresif.


“Kau benar,” lirihnya membuang Denis yang sebenarnya ke kelasnya.


“Kalau begitu, kau akan menghajarmu sekarang juga,”


“Kalian! Habisi dia!” Perintah ketua gangster itu untuk menghajar Denis yang palsu.


Para gangster itu segera melakukan tembakan sambil melakukan pukulan ke Eleva. Dengan tembakan yang bertubi-tubi membuat Eleva tidak bisa menyerang mereka. Ia selalu menghindari tembakan itu, mendekati saat ada peluang, dan mundur jika dihadang.


“Menarik juga! Aku akan serius sekarang juga,” pikir Eleva langsung bergerak cepat sambil menghindari tembakan itu. Namun, gangster pemegang tongkat menghampiri dan memukul kepala Eleva dan membuat Eleva terhempas ke taman akademi.


“Jangan menghalangiku!” Cocor Eleva dengan teriakannya.


Mereka melakukan tembakan dan sabetan tongkat pemukul untuk menjatuhkan Eleva. Eleva mengeluarkan pisaunya untuk melakukan pertahanan sambil menangkis peluru yang ia lihat di matanya. Para gangster itu mencoba menghadapi Eleva yang penuh luka itu.


“Ayo! Hadapi aku, Denis!” Seru ketua itu tidak sadar ia ditipu oleh Eleva.


“Heh. Maju sini, Kono Yarou!” Eleva berteriak sambil mengeluarkan Cold Steel Recon miliknya, pisau yang tajam dan berbahaya.


Pertarungan mulai menjadi sengit. Para gangster itu mencoba melakukan tembakan pada Eleva yang sangat cepat. Eleva mengayunkan pisaunya untuk menusuk gangster itu. Gangster yang cepat itu menghindari sabetan dengan lincah dan memukul Eleva dengan keras.


Dengan pukulan itu, Eleva terhempas ke udara dan segera jatuh dan menyentuh tanah  Tidak sampai disitu, mereka melakukan tembakan yang cukup cepat yang membuat Eleva mengeluarkan darah yang  cukup banyak.


Akhirnya, Eleva terkulai tidak berdaya. Ia mencoba berdiri, namun tidak ada kesempatan untuk berdiri. Para gangster itu segera melihat Eleva yang lemas. Mereka tersenyum kecil melihat Denis yang palsu itu lemah tidak berdaya.


“Tangkap dia! Jangan sampai lolos!” Pinta ketua gangster itu untuk melancarkan aksinya.


“Baik!” Terima gangster itu berseru dan langsung menghampiri Eleva untuk mengambilnya dan segera menuju ke tempat yang lebih jauh.


Namun, karena bel akademi berbunyi, para gangster itu terkejut dan mengeluarkan keringat dingin mereka. Mereka kehabisan waktu. Jika mereka tetap disini, mereka akan dibantai oleh siswa dan siswi angkatan 2023 atau guru bimbingan militer, Pak Terry, Bu Anvelia, atau Pak Stephan.


“Semuanya, mundur! Kita akan mendapatkan masalah jika kita terus di sini,” pinta kita itu segera untuk menghentikan aktivitas mereka.


“Kalau kita ketahuan oleh Cherry sialan itu, kita tidak bisa kabur dari sini,” lanjutnya dengan panik dan segera menarik senjatanya dan membiarkan Eleva berdiri dengan pincang itu.


Mereka menerima perintah itu dan segera bergegas menuju ke tembok akademi untuk melarikan diri. Mereka tidak mau diketahui keberadaannya oleh Cherry karena ini lebih merepotkan.


Ini sudah ke ratusan kali mereka menunjukkan diri. Namun, mereka tidak mendapatkan hasil mereka untuk menangkap sesuatu yang penting dari keturunan Spyxtria.


Gangster itu hanya menjalankan aksinya pada jam 10:00-10:30 dan 12:00-12:30 untuk menjalankan aksinya dan targetnya pun tidak sembarangan. Jika mereka menyerang siswa siswi Kelas III, mereka akan mendapatkan masalah serius.


Pada kelas yang hancur itu, Eleva bergerak menuju menghampiri Denis yang sekarat itu dan merasa kesal dengan Denis yang sedang sekarat itu. Lalu ia juga tidak mau berurusan dengan hal yang merepotkan. Ia hanya suruhan oleh seseorang yang cukup penting.


“Tch! Aku tidak melakukan untukmu. Zhukov hanya menyuruhku berbohong pada gangster itu,” desis Eleva sambil meninggalkan Denis yang sekarat itu dan segera menuju ke kelasnya.


“Sebentar lagi, gadis mesum itu memarahiku lagi,” lanjut gumamnya dengan penuh tembakan yang ada d tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, suasana akademi menjadi histeris dengan hancurnya Kelas I Soshum D. Maka dari itu, Kepala Sekolah Akademi Militer Spyxtria mengeluarkan maklumat kepada siswa dan siswi untuk menyiapkan senapan mereka untuk berjaga-jaga dan mengeluarkan sistem darurat dimana siswa dan siswi dapat menggunakan senjata mereka untuk menjaga diri mereka dari gangster itu.


Kemudian, Dr. Cherry memikirkan rencananya untuk mengatasi situasi yang semakin kacau ini. Ia memandang kota Moskow yang sedang akan hujan kembali dan memikirkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2