Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Hammer Rizka 1,7


__ADS_3

24 November 2025, jam 14:34, aku terbangun dari sebuah ruangan yang cukup familiar. Aku bangun di tempat aku membersihkan suatu ruangan. Aku melihat ada jendela dan ventilasi udara yang membangunkanku. 


Aku melihat luka yang diterima dari gang itu. Namun, tidak merasakan apapun yang ada di tubuhku. Semuanya mati rasa karena suatu alasan yang membuatku seperti ini. Iya. Aku bekerja terlalu keras sehingga menjadi seperti ini. Aku juga melihat Hammer tertidur pulas dengan berbaring di sampingku itu. Aku ingin membangunkannya. Namun, tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa membangunkannya. 


Dengan ide yang cemerlang itu, aku memanggil Hammer dengan suara yang cukup keras. Namun, tidak memancing suara yang lain. 


"Hammer?!" Panggilku membangunkan Hammer. 


Hammer tidak bangun juga. Aku harus melakukan sesuatu untuk membangunkan Hammer. Aku mengerahkan semua tenagaku dan segera melancarkan suara keras untuk membangunkan Hammer. 


"Hammer! Bangunlah!" 


Aku memanggilnya dua kali. Namun, dia tidak bangun juga. Apakah ia masih tertidur juga? Kalau begini terus, aku tidak bisa bergerak lagi. Aku sedikit cemas jika merasakan lumpuh. Jika itu terjadi, Akishima dan Aurora akan selalu menempel di sisiku. 


Yah … setidaknya aku masih hidup. Namun, aku harus ….


Eh? Tunggu dulu? Aku lumpuh? 


Ayolah! Aku bukan orang pesimis. Aku hanya berharap bisa bergerak lagi walaupun peluangnya hanya 0,1% saja.


Sudahlah! Pikiranku mengalir begitu saja. Ini sisi gelap dari IQ 168-ku. Dia tidak mau berhenti. Lupakan itu dan aku harus membangunkan Hammer sekarang juga!


Aku mendesis lagi, "Hammer! Bangunlah! Apa yang kau lakukan?" 


Mendengar suara itu, Hammer terbangun juga. Dia mendengar suaraku. Namun, ia hanya terdiam karena melihatku berbaring di kamarnya. Aku merasa bersalah dengan perlakuan seperti itu.


Tiba-tiba, ….


"Ri-chan! Akhirnya kamu bangun juga!" Teriaknya sambil menangis dan memelukku.


"Hammer! Apa yang kau lakukan? Sakit sekali," keluhku sambil berteriak histeris.


"Aku pikir Ri-chan akan mati," respon Hammer sambil menangis.


Aku menerima pelukan hangat itu dan terpaksa dipeluk Hammer. Aku menyerah, tidak akan mengeluh lagi. Aku akan menerima pelukan Hammer. Semoga saja tidak ada yang memanggilku gay.


Aku menghela nafasku karena bisa bicara walaupun tidak bisa bergerak. Itu sudah cukup bagiku.


Aku juga merasakan hal yang cukup hangat di samping Hammer. Aku menerima itu dan segera bertanya, "Hammer. Apa yang terjadi?" 


Hammer menceritakan semuanya. Ia mengangkatku kembali ke apartemen miliknya dan segera bertemu dengan wanita itu. Lalu, mereka menyesali perbuatan mereka dan segera merawatku. 


Aku menyimaknya dengan penuh konsentrasi dan mendengar semua ceritanya sampai habis. Ini cukup bagus untuk bisa mencari suatu informasi yang cukup penting disini.


Setelah cerita berakhir, Hammer berucap, "Begitulah ceritanya, Ri-chan."


Aku merasakan sebuah kausalitas yang cukup memuaskan. Aku menghela nafasku karena Hammer dan wanita itu sudah berbaikan. Aku juga sudah mendengarkan cerita dari Hammer mengenai sesuatu yang cukup membuatku malu. 


Aku tidak tahu itu apa, yang pasti tidak terlalu ingin mendengarnya. Aku hanyalah seorang pendengar yang baik. Setelah sampai pada intinya, rasanya ingin mengucapkan sesuatu pada Hammer. Aku ingin tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini. 


Tapi, aku tidak mau mengatakannya. Aku harus mengurungkan niat itu demi Hammer. Aku tidak mau menyakiti perasaannya hanya karena itu. Aku harus mengatakan sebuah kata untuk Hammer. 


"Hammer," panggilku kepada Hammer. 


Hammer menjawab, "Ada apa, Ri-chan? Kamu tidak melihat video yang dikirimkan di grup Telegram?"


"Eh? Ada apa dengan grup Telegram? Aku tidak mengerti," jawabku dengan polos. 


Hammer mengambil ponsel yang sudah terisi dengan baik. Ia membuka aplikasi Telegram yang ada di handphone miliknya itu dan menyiapkan sebuah video adaku.


"Lihat ini, Ri-chan!" Responnya memberikan smartphone miliknya padaku. Aku hanya menerima itu dan segera melihat video apa yang dimaksud Hammer itu.


Aku melihat video yang berdurasi 30 detik itu. Aku merasakan tidak asing pada video ini. Aku dipeluk oleh Diana dan Hammer merekamnya diam-diam. Aku tidak tahu apa yang aku lalui saat ini. 

__ADS_1


Yang menjadi masalah aku tidak tahu ini tanggal berapa. Aku merasa was-was karena ada yang tidak beres yang menghantuiku. 


"Hammer. Ini hari apa?" Jawabku dengan panik.


"Ini hari Senin. Kamu tidak pergi akademi dulu. Aku juga melakukan hal yang sama," jelas Hammer.


"Apa yang kau lakukan? Ini jam 14:40? Yang benar saja! Aku ketinggalan pelajaran, tahu," cocorku melihat jam yang terpampang di Hammer itu. 


"Tenang saja. Kita akan aman. Kita terbebas dari akademi yang membosankan itu," respon Hammer dengan bahagia. 


Dengan nasehat itu, aku menghapus video itu dan mengembalikan punya Hammer. Aku merasa ada yang tidak beres yang menghantuiku. Aku menghela nafasku dan melupakan semua beban di kamar untuk berbaring lagi.


"Eh? Ri-chan. Kamu menghapusnya," keluh Hammer melihat ponselnya. 


"Itu memalukan, kau tahu," jawabku sambil melihat langit-langit. 


"Tenang saja. Aku akan merawatmu sampai …." Ucapan Hammer terhenti. 


"FBI! Open the door!" Ada sebuah suara yang dari depan pintu dan mendobrak pintu itu. 


Hammer segera mengambil senapan miliknya dan melihat siapa yang mendobrak pintu itu. Ternyata ada empat gadis yang sedang marah karena suatu alasan. Mereka mendekati Hammer dan bertanya padanya.


"Hei. Kalian! Ri-chan sudah memperbaiki pintu itu," tegur Hammer. 


"Mana Rivandy?" Tanya Aurora sambil memarahi Hammer.


"Aku harus menghukumnya, desu," lanjut Evelyn menggembungkan pipinya 


"Aku harus bertemu sekarang juga," tekad Akishima.


"Sayangku tidak pernah melakukan itu," sambung Sheeran.


"Dia ada di kamarku. Dia sedang tidak bisa bergerak. Jadi, …." Ucapannya terhenti karena keempat gadis itu meluncur menuju ke kamar tidur Hammer. 


Mereka segera memasuki kamar dan melihatku sedang sekarat dan tidak bisa bergerak lagi. Dengan rencana jahat mereka, mereka mendekati secara diam-diam lalu mengejutkanku dengan sebuah panggilan yang tidak biasanya. 


Aku terkejut dengan panggilan itu. Aku bertanya, "Tunggu! Apa yang kalian lakukan?"


"Kau selingkuh lagi, yah?" Tanya Sheeran sambil menahan air matanya. 


"Aku sedang mencarimu. Tapi, kamu tidak ada," jawab Aurora cemas padaku.


"Jangan harap kau meminjam catatanku, desu! Satu halaman bayar $10/ 750 Rubel, desu," sambung Evelyn dengan manja dengan gaya Lolinya.


"Pantas saja aku mencarimu tidak ada. Rupanya kamu sedang selingkuh dengan gadis lain dan akan mengajakmu ke hotel," jelas Akishima dengan penalaran detektifnya.


"Aku tidak melakukan hal itu!" cocorku pada Akishima.


"Kenapa kamu pelukan dengannya dan sedang beromantis ria?! Aku tidak akan menerimanya. Aku akan membunuh mereka jika perlu," ancam Sheeran dengan teknik miliknya.


"Sudah kubilang mereka itu …." Aku tidak bisa berkata apapun.


"Selagi kamu tidak bergerak, aku membawa air minumku dan minum bersamamu." Aurora membawa air minum di tas miliknya dan segera meminumnya.


"Tidak! Jangan lagi!" Aku cemas dan ketakutan dengan situasi yang horor itu.


Evelyn tertawa dengan ketakutan itu. Ia memotret aku yang ketakutan itu dan menyimpannya di wallpaper miliknya. Ia berkata, "Muehehehehe. Sekarang kamu menjadi milikku, desu.*


"Evelyn! Apa maksudmu?" Tanyaku pada Evelyn yang memotretku.


"Aku akan merekam saat Aurora meminum alkohol dan akan menerkammu, desu. Lalu, aku merekammu yang sedang bermain dengan Aurora. Lalu, video yang sudah dikumpulkan akan aku jadikan koleksiku, desu. Muehehehe," lanjut Evelyn siap merekam aksi bejat Aurora.


"Tidak boleh! Aurora curang! Aku juga mau dong," cegah Sheeran.

__ADS_1


"Tidak! Hammer. Lakukan sesuatu!" Aku ketakutan dan mengharapkan Hammer untuk membantuku.


"Maafkan aku, Ri-vhan. Aku mau lihat juga," jawab Hammer mengkhianatiku.


"Tidak! Aku tidak mau mati! Aku …."


"Chotto! Kalian terlalu berlebihan," tegur Akishima mengangkat tubuhku.


Mereka terkejut dengan itu. Mereka melihat Akishima mengangkatku yang sedang kaku itu. Akishima bisa mengangkat 60 kg dengan mudah. Entah apa rahasia yang digunakan. 


Aurora pun berkata, "Akishima. Kamu, …."


"Tidak mungkin! Kamu bisa mengangkatnya yang berat itu," lanjut Sheeran.


Akishima sangat bangga dengan kejutan mer la. Ia menjawab, "Dengan teknik yang ku latih selama dua tahun, bukan tiga hari (3D2Y), aku bisa mengangkat benda apapun yang sangat berat. Batas yang bisa kuangkat adalah … 200 kg!" 


Aku tidak percaya Akishima bisa mengangkat berat badan yang berat juga. Aku ingin sekali melihat benda apa yang dipakai olehnya untuk mengangkat berat yang begitu berat. 


Namun, Akishima menggendongku keluar dari ruangan dan meninggalkan kamar Hammer. Ketiga gadis itu merasa ditipu oleh Akishima dan segera mengejarnya. 


"Akishima! Apa yang kau lakukan?" Tanya Aurora mengejar Akishima.


"Tunggu kami, desu,* lanjut Evelyn.


"Oi! Jangan lari! Kau tidak boleh membawa Sayangku lari," lanjut Sheeran memarahi Akishima 


"Aku akan mengajaknya untuk nonton Nekopoi dan mempraktekkan di apartemenku. Jadi, jangan mengganggu, ya!" Pesan Akishima sebelum meninggalkan apartemen Hammer.


"Satu lagi, aku akan mendesah bersamanya. Jadi, kalian tidak boleh mengganggu kami. Kami akan nonton Nekopoi nanti malam," lanjut Akishima sambil mengejek ketiga gadis itu.


Dengan pesan itu, membuat Aurora dan lainnya mengejar Akishima. Belum sampai keluar pagar, Akishima sudah ditahan oleh Aurora karena Aurora lebih cepat daripada Akishima. Evelyn dan Sheeran menahan Akishima agar tidak bisa kabur dan menonton Nekopoi bersamaku.


"Kya! Aurora! Kau curang! Kau menggunakan lari ninja Uzumaki Naruto untuk menangkapku," protes Akishima.


"Aku harus menjadi istri baginya. Kau selalu menghalangi jalanku. Rasakan ini!" Sheeran memukul punggung Akishima dengan keras.


"Aku harus menjadikannya robot, desu," lanjut Evelyn menampar pahanya.


Akishima hanya mendesah dan berteriak seperti seorang artis Nekopoi. Aurora meremas dadanya agar tidak bisa berdiri lagi.


Hammer hanya tertawa dengan perilaku ketiga gadis itu. Mereka merebutkanku dengan keegoisan mereka. Aku yang tidak bisa bergerak hanya pasrah dengan perdebatan itu 


Di tengah pertengkaran itu, Bu Ennie melerai keempat gadis itu dan meminta maaf padanya. Hammer hanya mengikutinya dari belakang. Akishima yang sedang menggendongku memohon untuk membawanya pulang dan tidak akan mengajak nonton Nekopoi bersamanya. 


Aurora juga berjanji untuk merawatnya samai sembuh. Ia juga tidak mengikuti pelajaran jika perlu. Evelyn dan Sheeran akan menemaniku dan tidak mengikuti pelajaran selama seharian penuh. Mereka bolos demi aku.


Aku hanya lega dengan permohonan para gadis yang berkaca itu. Bu Ennie menerima permohonan mereka berempat dengan senang hati dan membiarkan kami pulang. Setelah itu, timbullah perpisahan dari kami, Hammer, dan Bu Ennie. Aku akan mengunjungi apartemen Hammer lain kali.


Sekarang, aku berada di tangan keempat gadis itu. Mereka sudah bersiap untuk melakukan sesuatu yang mereka tunggu-tunggu, yaitu mereka akan menginap lagi di apartemenku. Sheeran dan Evelyn tidak peduli dengan pakaian ganti. Sheeran lebih suka memamerkan tubuhnya padaku.


Jadi, mereka memutuskan untuk menonton Nekopoi berlima. Sheeran memilih mengenakan handuknya untuk menggodaku. Evelyn masih mengenakan seragam akademi. Apa mereka gila? Mereka melakukan seperti itu hanya untuk merawatku?


Jujur saja, aku ingin menangis melihat perilaku mereka. Entah apa perasaan mereka padaku. Yang pasti, aku harus hati-hati agar Perang Cinta tidak meletus lagi.


Ya Ampun! Aku tidak tahan lagi.


Terpaksa aku menerima itu. Aku mengalah dari egoku dan menerima mereka dengan sukarela. Padahal, aku ingin memiliki gadis yang normal seperti Rin atau yang lainnya.


Jam 21:21, apartemenku, Kami menonton Nekopoi bersama. Meski ini dilarang. Namun, mereka tetap menjalankannya. Lalu, mereka mencoba untuk merayuku. Aku menutup mata dan tidak melihat apapun. Apalagi, melihat Aurora meminum alkohol.


Keesokan harinya, pagi hari, aku, Evelyn, dan Sheeran mandi bersama. Aurora dan Akishima ikut juga. Terpaksa aku mandi bersama mereka dan berangkat akademi secara bersamaan. 


Aku sudah sembuh berkat obat kemarin. Obat menonton Nekopoi. Aku harap mereka tidak melakukan hal gila padaku. Sial! Aku kehilangan tenagaku lagi. Aku merasa kejadian ini seperti kemarin saja.

__ADS_1


Sudahlah! Biarkan saja. Yang penting ini lebih baik daripada tidak sama sekali. 


Ini jauh lebih baik daripada masa sebelumnya. 


__ADS_2