Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Evelyn Emily 1,6


__ADS_3

Aku tidak percaya..Apa yang terjadi pada Evelyn? Kenapa Evelyn menjadi seperti itu? Evelyn selalu mengelap agar lantai itu bersih dan mengkilap. Ia tidak peduli dengan kehidupan pribadinya dan sudah menjadi gadis yang merupakan korban eksploitasi.


Kenapa? Ada apa denganmu? Jawablah aku! Siapa yang melakukan ini?


"Evelyn!" Aku berteriak pada Evelyn.


Evelyn tidak menjawab. Mengabaikanku dan mengelap lantai agar bersih mengkilap. Majikannya akan senang dengan itu. Dia bisa memperlakukan Evelyn sesuka hatinya.


Tapi, aku tidak senang. Aku cemas kepada Evelyn membersihkan semuanya Aku berusaha untuk membuatnya menoleh padanya. Entah kenapa Evelyn menjadi seperti ini.


Ini sudah berlebihan. Tidak ada yang bisa menolongnya.


"Evelyn! Dengarkan aku!"


Evelyn masih tidak menjawab dan tidak mendengarkan ucapkanku. Ditambah lagi, dia berbalik badan dan mengabaikanku lalu mengelap lantai dengan lap lantai dan mengelap di bagian yang lainnya. Dia membersihkan bagian yang menurutku bersih.


Aku tidak bisa membujuk Evelyn yang mengelap lantai. Dia membersihkan semua rumah ini sendirian. Tanpa bantuan orang lain. Aku melihat tubuhnya dan matanya kelelahan dan diperlakukan seperti robot yang tidak akan istirahat.


Aku sepertinya tidak bisa menahan ini semuanya.


Dengan tekad dan aksi, aku menculik Evelyn dan membawanya ke tempat yang sepi. Aku mengambil borgol milikku dan memasangnya di tangan kanan aku dan Evelyn.


Setelah memasang borgol, aku menahan Evelyn agar tidak melakukan pekerjaan rumah yang merepotkan. Aku tidak membiarkan orang busuk itu mengeksploitasi Evelyn lebih lanjut lagi.


Itulah kenapa Evelyn menjadi anak kecil karena kurang pertumbuhan akibat bekerja terus. Aku memperkirakan Evelyn hanya bisa makan sekali sehari. Ia cukup lahap dalam makan di kantin.


“Evelyn!”


“Evelyn!”


“Evelyn!”


“Evelyn!”


Aku memanggil Evelyn dengan namanya. Evelyn tidak mau menerima perintahku. Mencoba melepaskan semua borgolnya dan kembali bekerja.


Aku tidak membiarkannya mengepel lantai karena suatu alasan. Dengan kain pel yang dipegang, ia menolak dan melepaskan borgol yang dipasang. Namun, ia tidak bisa membukanya. Masih memberontak dan diperlakukan seperti robot.


Aku segera mengambil borgolku yang satunya agar tidak melakukan pekerjaan yang lebih berat lagi. Aku sudah muak dengan semua kemewahan ini. Aku ingin sekali membawa Evelyn pergi dari sini.


Di tengah bujukan dan sedikit paksaan, ada sebuah teriakan yang membuatku terpojok. Aku harus mencari persembunyian agar bisa membawanya keluar dari sini.


“Evelyn!”


Suara keras datang menuju kemari. Aku melihat seorang wanita akan mendekati kami. Dia, wanita memperalat Evelyn menyuruh Evelyn untuk membersihkan bagian yang lainnya.


“Sembunyi! Jangan bersuara! Kalau kamu bersuara, kita dalam masalah besar.” Aku mengancam Evelyn agar diam dan menyembunyikan dirinya.


Evelyn mematuhi perintahku tanpa pikir panjang Kami bersembunyi di dalam lemari dan melihat apa yang wanita itu lakukan. Kami memasuki ke lemari terbuka dan bersembunyi di dalam lemari dengan lubang kecil yang bisa kulihat.


“Evelyn! Kamu dimana?! Kenapa ruangan ini masih belum dibersihkan?!” Tanya Nyonya Manshery membuatku tidak nyaman dengan teriakan keras itu.


Namun, tidak ada yang mendengarkannya. Aku menutup telinga Evelyn agar ia tidak mendengar perintah wanita busuk itu. Aku mencoba untuk tenang dan tidak gegabah. Aku bukan orang ceroboh, masih punya pikiran. Membiarkan dia marah terlebih dahulu kemudian keluar bersama Evelyn dari rumah ini.


Evelyn terdiam dengan teriakan dan amarah yang terkumpul pada wanita itu. Aku menunggu kesempatan emas agar bisa keluar dari sini. Cooldown “Arctic Warfare : Intruders” cukup lama, sehingga butuh beberapa hari agar teknik itu bisa dipakai lagi.


Di tengah amarah Nyonya itu, dia melakukan teriakan untuk memanggil penjaga itu. Aku tidak tahu berapa penjaga yang berpatroli. Aku melihatnya memanggil dengan teriakan tanpa etika. Evelyn tidak mendengar apapun mengenai teriakan itu.


“Penjaga! Penjaga!” Panggil Nyonya Manshery kepada para penjaga.


Para penjaga bergerak menghampiri majikannya dan berbaris untuk menghadap kepada majikannya. Wanita itu dengan cepat memberikan perintah dengan tubuhnya dihiasi dengan alat yang mahal dan mewah.


“Cari Evelyn sekarang juga! Aku tidak peduli sampai berapa lama kalian mencarinya! Aku tidak mau tinggal di tempat yang kotor ini jika tidak ada budak untuk membersihkan tempat ini!” Pintanya mencari Evelyn.

__ADS_1


Para penjaga itu dengan senang hati mematuhi perintah majikannya. Mereka dengan profesionalnya mencari Evelyn di sudut ruangan dan segala arah. Mulai dari yang mudah dilihat, sampai susah dilihat.


Aku cemas kalau kita ditemukan. Kalau Evelyn ditemukan, dia akan menyiksanya dan aku akan ditangkap olehnya. Aku tidak akan membiarkan situasi ini semakin lebih buruk. Maka, aku akan membuat Evelyn pergi dari rumah ini.


“Evelyn. Jangan bersuara! Aku akan mengeluarkanmu dari sini!” tekadku membuat Eevlyn jauh lebih tenang.


Tidak ada pilihan lain. Aku menggunakan ”Arctic Warfare : Camouflage” agar Evelyn bisa menghilang bersamaku. Ini bukan teknik menghilang. Ini sama seperti bunglon yang menggunakan kulitnya untuk menghilangkan dirinya.


Saat para penjaga itu menghampiri lemari, ia membuka itu dan melihat pandangan yang kosong. Ia mencoba untuk menyentuh sesuatu. Namun, tidak sengaja ia menyentuh tubuh vital Evelyn. Evelyn mencoba berteriak kesakitan. Aku menutup mulutnya agar Evelyn bisa selamat dari penjaga itu.


“Tidak ada.”


Aku lega karena kami tidak ditemukan. Jadi, mereka menutup lagi dan segera mencarinya di tempat lain.


“Ok. Kita keluar dari sini dengan perlahan. Kemudian, dengan keluar kita dari sini, aku akan melepaskan borgol ni,” beberku pada Evelyn agar dia mengerti.


“....” Evelyn hanya menerima itu dengan senang hati.


AKhirnya, kami keluar dari lemari itu dan berjalan perlahan, sehingga tidak ada suara yang keluar dan memancing mereka. Di saat penjaga itu sedang sibuk untuk mencari keberadaan kami,ereka tidak sadar bawah kami melakukan suatu rencana agar pergi dari sini.


Kami mencoba untuk berdiam diri dan berjalan perlahan. Kami tidak mau membuat suara bising yang akan mengganggu aktivitas mereka. Sepertinya, mereka bukan penjaga biasa. Dengan pelatihan khusus dari Resimen Special Air Service (SAS), mereka bisa melihat situasi sekitar dan lainnya. Jadi, mereka menjalankan misi mereka untuk menjaga keturunan Ratu Inggris.


Dengan pelatihan dari Pak Stephan, aku bisa berjalan pelan dan tanpa ketahuan bersama Evelyn. Evelyn menjalankan perintahnya dengan baik. Aku sudah membuat rute yang bagus untuk bisa keluar dari sini.


Aku sudah mengingat semua ingatan dalam peta rumah ini dalam waktu singkat. Ini tidak seperti multitasking. Aku memahami medan terlebih dahulu sebelum memasukinya. Ini bagus untuk sebuah kemampuan untuk mengintai dalam militer.


Setelah berada di pintu luar, aku menggendong Evelyn yang dalam kondisi mata kosong. Aku segera berlari dan meloncat pagar seperti sebelumnya dan melihat ada seseorang yang cukup mengganggu pikiranku.


Mungkin sebuah potongan puzzle yang menghalangi otakku.


Namun, entah kenapa aku merasakan hal yang menekan hatiku. Aku melihat ada sebuah potongan itu membuat identitasku terbongkar. Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.


Tapi, aku fokus untuk mengeluarkan Evelyn dari sini. Setelah keluar, kami lari sebelum mereka menyadari kepergian kami. Kami pergi dari rumah yang merupakan neraka bagi Evelyn.


Kami melepaskan teknik itu dan memberi perintah padanya untuk berlari. Aku menggendongnya jika Evelyn tidak bisa berlari lebih lama. Aku sudah lihat kemampuan Evelyn yang cukup lemah itu. Itu karena situasi yang seperti sudah gawat itu.


[*^*]


Setelah sampai di apartemenku, aku masuk ke apartemenku lalu segera memasuki kamarku. Kemudian melepaskan borgolku dengan kunci. Aku mencoba untuk mencari baju yang bagus untuknya karena aku tidak ingin ia mengenakan baju seperti budak Tenryuubito dalam Anime One Piece.


Ketika mencari baju untuk Evelyn, Evelyn tidak sadar dengan dirinya ada di mana. ia sadar anda melihat berada di apartemenku, bukan di rumah mewah dan mengeksploitasi. Ia emas kalau kembali dan mendapatkan kekerasan dari wanita itu.


“Kenapa … kamu menyelamatkanku darinya, desu?” Tanya Evelyn dengan ketakutan.


“Aku tidak mau melihatmu dalam kondisi seperti itu,” jawabku segera mengambil baju yang pantas untuk Evelyn pakai.


“Padahal, aku bukan manusia lagi, desu” lanjutnya melihat tangannya kram akibat mengelap dengan permanen.


“Ini. Ini milikmu kan?” Tanyaku memberikan titipan pemberian dari Hanna.


“Tidak, desu! Aku tidak membutuhkannya lagi, desu,” tolak Evelyn membuang pemberian itu di tanganku.


“Oi! Kamu kenapa? Aku sudah mengeluarkan kamu dari sini,” tanyaku memegang bahu Evelyn dengan keras.


“ ….” Evelyn hanya terdiam dengan pertanyaanku.


“Evelyn! Aku melakukan ini karena mencemaskanmu. Bicaralah!” Aku memaksa Evelyn untuk bicara walaupun hati dan perasaan Evelyn sudah mati.


“Aku ingin bertanya. Apakah kamu mengerjakan tugas akademi?” Tanyaku pada Evelyn masih terdiam dengan pertanyaanku.


“Apa yang kau lakukan padamu? Lalu, kalau kamu merasa kesulitan, kenapa kamu tidak memberitahuku dan Aurora? Aku bisa memberitahu ini kepada Neesan jika dia melakukan hal yang buruk padamu,” ocehku membuat Evelyn


“Kamu siapa, desu? Kenapa kamu membawaku kesini, desu?” Tanya Evelyn sudah melupakanku.

__ADS_1


Aku tidak terima jawaban dan respon Evelyn itu. Ia bukan manusia yang seperti yang kukenal. Dia sama seperti robot yang menerima perintah dari manusia. Mereka bisa memperalat robot dengan seenaknya. Jadi, tidak wajar robot bisa menggantikan peran manusia.


“Jangan bercanda!” Aku segera menampar Evelyn dengan keras dan Evelyn tersadar dengan pukulan karena ia mengingat sesuatu yang ia ingat.


Itu adalah … tamparanku.


Evelyn ketakutan karena tamparan itu cukup keras untuk menyadarkannya. Aku sudah berhasil membuatnya sadar. Namun, aku sudah muak dengan perlakukan wanita itu pada Evelyn. Ini sama seperti sebelumnya.


“Apakah kamu sudah bicara sekarang? Jawablah! Aku akan mendengarkanmu,” tegasku dengan wajah yang cukup gelap.


“Berisik, desu! Kenapa kamu selalu ikut campur dalam urusanku, desu?!” Evelyn memarahiku dan melepaskanku dari cengkeramannya.


“Memangnya kamu pikir aku siapa, desu? Ayahku? Kamu bukan ayahku, desu! Kau selalu didekati oleh banyak gadis, desu Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, desu. Kamu selalu mengingatkan pada mimpi burukku, desu!”


“Dia selingkuh dengan wanita lain dan membuat keluarga yang baru dan melupakanku, desu! Ibuku meninggal karena ditabrak oleh mata-mata itu, desu! Aku selalu membersihkan semuanya sendirian ,desu. Tidak ada yang membantuku, desu.”


“Aku hanya sendirian dan selalu mendapatkan kekerasan, desu. Kau hanya orang yang tidak mengerti tentang penderitaan, desu!"


“Aku sudah tidak punya siapapun lagi, desu. Aku hanya budak Tenryuubito, desu. Aku tidak bisa berharap lagi, desu! Semuanya sia-sia, desu. Aku akan dibawa kembali dan bawa ke London bulan depan, desu."


“Aku bukan manusia lagi, desu. Aku … adalah … robot seperti Optimus Prime, desu.”


“Seperti itu, yah? Kalau begitu, aku akan menjagamu darinya. Aku akan membunuhnya kalau perlu,” pamitku pergi dari kamar dan segera bersiap untuk mengisi senapanku.


“Kenapa kamu tidak mengerti, desu?! Kenapa kamu tidak biarkan aku saja, desu?!” Tanyanya segera menghentikan langkahku untuk pergi.


“Hentikan! Aku perintahkan kamu untuk berhenti! ”Pinta Evelyn menghentikanku.


“Kau tidak punya senjata untuk melawanku, anak kecil,” responku memarahi dan mengejek Evelyn.


“Kuhancurkan kamu!”


Evelyn mengambil pisau dapur dan menusukku dari belakang. Aku berdarah dari punggung dan terkapar di lantai dengan darah yang deras. Evelyn menusukku dari belakang dengan cepat.


“Mati!”


“Mati!”


“Mati!”


“Mati!”


“Mati!”


Saat Evelyn ingin membunuhku, ia teringat pada sesuatu. Ia juga melihat darah dan penderitaan yang kurasakan. Ia tidak mengerti penderitaan apa yang ku lalui selama ini dengan melihat bekas luka yang ada di tubuhku, sehingga ia merasakan sesuatu yang cukup menyengat.


“Sudah cukup! Aku tidak ingin berdarah lagi,” desisku tidak bergerak sedikitpun.


“Rivandy. Kenapa kamu selalu menderita, desu?”


“Untuk apa kamu menderita, desu?” Tanyanya menghentikan tusukan itu.


“Kamu juga … mengalami hal yang sama denganku,desu. Kenapa, desu?”


“Aku saja sudah cukup. Kamu tidak perlu menderita lagi,” ucapku menahan rasa sakit.


“Rivandy. Kamu ...”


Tangisan Evelyn mulai mengalir ke pipinya. Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi. Ia tidak bisa mengungkap semua penderitaannya sendirian. Ia butuh orang lain untuk melupakannya. Maka dari itu, semua penderitaannya segera tertuang pada tangisan itu.


Akhirnya, ia mengucurkan air matanya sambil memelukku. Aku terdiam dengan pelukan itu karena banyak luka yang terlukis di punggungku. Aku merasakan semua penderitaan Evelyn. Ini sebabnya, tubuhnya tidak akan tumbuh karena ini.


Aku juga ingin memeluknya. Tapi, ini lebih baik. Aku ingin membuat keputusan untuknya. Keputusan agar Evelyn tidak diincar lagi oleh mereka.

__ADS_1


Aku tidak bisa melindunginya terus. Aku akan membiarkannya melakukan suatu keputusan yang harus diselesaikan secepat mungkin.


Keputusan untuk keluar dari masalah yang menghantuinya.


__ADS_2