
Jam 19:40, di suatu gang yang digunakan sebagai pertemuan dengan seorang gangster. Bos itu tersenyum lebar karena sudah menemukan hal yang dicari. Ia langsung melakukan penyerangan kepada orang yang ingin menyelamatkan sandera itu.
Dr. Cherry dan Denis menghindari serangan itu dan mencari cela untuk melakukan tembakan. Namun, tidak bisa. Mereka terpojok dan tidak bisa kabur dari sini. Ketua gangster yang licik itu memerintahkan anak buahnya untuk membuat mereka tidak bisa menyerang lagi.
Aku yang menggunakan teknik "Arctic Warfare : Stealth" untuk menyelinap di antara mereka dan mencari sandera. Aku juga mencari beberapa titik untuk mengambil sandera dan membebaskannya.
Setelah mengetahui tentang sandera itu, aku segera menuju ke sana, melakukan tembakan kepada anak buah agar bisa diberi peluang untuk mengalahkan mereka. Namun, karena medan perang yang sudah disiapkan oleh ketua gangster itu, mereka masih belum diberi peluang.
Cherry-neesan dan Denis langsung memberi tembakan kepada anak buah yang sedang menembak. Denis menarik pelatuk dan membidik dengan scope yang berada di atas senjatanya. Cherry-neesan melakukan tembakan dan menangkis tembakan musuh. Namun, dia harus berhadapan dengan anak buah yang memegang pemukul.
Di tengah pertarungan itu, ada sekumpulan siswa yang sedang menonton. Mereka adalah Zhukov, Eleva, Yudha, dan Hammer. Saphine harus menuju ke sandera untuk memberi pengobatan.
Eleva sangat senang dengan pertarungan itu. Ia bertekad, "Menarik sekali. Aku ingin melakukan balas dendam sekarang juga."
"Tidak boleh. Kau harus tetap tinggal disini," larang Zhukov menghentikan langkah Eleva.
"Hah?! Kenapa kau menghalangiku?!" Bentak Eleva berbalik badan dan langsung berhadapan dengan Zhukov.
"Eleva. Kita harus menunggu sandera itu selamat. Lalu, kita habisi mereka," jawab Hammer melihat pertarungan berat sebelah.
"Aku rasa pertarungan ini lebih menguntungkan gangster itu," komentar Yudha melihat pertarungan itu.
"Tch! Aku menunggu saja dan memakan McDonald's." Eleva berpaling dari Zhukov lalu membuka kotaknya dan langsung memakan burger itu secara rakus. Zhukov dan lainnya hanya menonton saja.
Setelah sampai di sandera, ada dua orang yang sedang berjaga. Tanpa pikir panjang aku langsung membunuhnya dengan pisau dan segera mengakhiri ini semuanya. Saru gangster itu sudah ditusuk sementara yang lainnya ditidurkan dengan seseorang. Aku menonaktifkan teknikku dan melihat Saphine yang sedang berdiri di hadapanku.
"Sa-Saphine?" Panggilku tidak percaya apa yang ada di hadapanku.
"Rivandy. Aku sudah menduga kamu disini." Saphine datang menghampiriku dan memelukku.
Setelah pelukan hangat itu, aku membawa sandera itu bersama Saphine dan mengamankan sandera itu segera. Kami pergi ke titik aman sambil membawa wanita yang merupakan bibi dari Denis.
Pertarungan itu berlangsung. Denis dan Dr. Cherry sedang kelelahan. Sepertinya mereka tidak bisa memenangkan pertarungan itu walaupun aku sudah membunuh anak buah gangster itu.
"Sial! Apa ini? Kenapa mereka banyak sekali?" Umpat Denis mengganti senjata menjadi pisau.
"Jangan banyak mengeluh! Kau tidak bisa mengendalikan emosimu," ejek Dr. Cherry yang sedang menghindari serangan tersebut.
"Apa?! Justru kau yang payah," cekal Denis masih menangkis serangan itu.
Sebuah peluru bazooka menghampiri mereka dan segera meledakkan diri disaat mereka masih bertengkar. Denis dan Dr. Cherry menghindari ledakan itu. Namun, mereka malah terkena serangan itu.
Dengan peluang yang cukup banyak, mereka memojokkan Denis dan Dr. Cherry secara bersamaan dan membuat mereka tidak bisa menghindari lagi. Alhasil, mereka pun terjatuh dan tersungkur di tanah dengan darah yang mengalir di tubuh mereka.
"Bagaimana dengan teknikku? Kau suka?" Tanya bos itu yang tidak terlalu melakukan tembakan.
"Kau curang. Kau memancing kami kesini dan membuat pergerakan yang tidak bisa diprediksi," jawab Dr. Cherry yang tidak berdaya sambil menahan luka di lengannya.
Bos itu tertawa dengan Dr. Cherry yang tidak berdaya. Ia menjawab, "Benar. Aku menggunakan peluru 2000 Mach dan kalian tidak bisa mengalahkan kami dengan tindakan amatir kalian," tertawa lagi karena kemenangan sudah ada di tangannya.
"Lalu, aku sudah mensurvei medan perang ini dan hasilnya kalian tidak bisa melakukan apapun dengan hasil yang kulakukan. Ini bukan gang yang seperti yang kalian lihat. Ini adalah … markas kami," lanjut ketua gangster itu menjentikkan jarinya, sehingga awalnya latar tempatnya gang menjadi markas mereka.
__ADS_1
"Apa?! Tidak mungkin! Aku terjebak disini. Pantas saja tidak ada jalan keluar," jelas Dr. Cherry yang sudah menduga dengan hal itu.
"Sekarang, kalian menjadi milik kami dan kau akan menjadi boneka kami untuk selamanya," cetusnya mengarahkan senapan ke depan.
Sebelum itu terjadi, ada sebuah pisau melayang menuju tangan kiri bos itu. Pisau itu memotong tangan bos itu dengan mudah dan tangan itu langsung menyentuh tanah sambil memegang pistol.
Bos itu berteriak dengan kencangnya mengeluarkan darah yang cukup hebat. Ketua gangster dan anak buahnya sedang kepanikan dengan mendengar teriakan itu. Mereka melihat tulang, daging dan darah yang bersih itu terpotong dengan baik.
"Rebellion : Beelzebub Cut!"
Pisau itu melayang melintasi Dr. Cherry dan menancap di lantai dengan keras.
Sesaat kemudian, ada seorang siswa yang sedang memegang pisau belatinya dan mulai berbicara.
"Oi! Kalian. Bagaimana dengan teknik baruku? Apa kalian menikmatinya?" Tanya Eleva dengan senyuman psikopatnya.
"Sialan! Kenapa kau ada disini, Pembohong?!" Ungkap ketua sedari awal bahwa Eleva bukan Denis.
Ketua yang melihat ada yang ikut campur segera menelpon. Ia berpinta, "Hei! Kalian! Ada yang yang ikut campur disini. Cepat bunuh dia dan …."
"Sandera itu sudah diamankan oleh polisi, lho. Dan dia akan segera menangkapmu," balas Eleva pada saat ketua sedang menelpon.
"Apa?! Jangan konyol! Sanderanya ada d tangan kami. Kau tidak berbohong, kan?" Gertak ketua itu dengan ocehannya.
"Ini semua karena berkat dia," jawab Eleva memperlihatkan handphone miliknya ke pelaku bahwa sandera sudah diselamatkan.
Semuanya panik melihat sanderanya sudah ditangan polisi. Kemudian, polisi itu sudah mengetahui markas mereka dan segera mengepungnya.
"Awas kau, ya! Aku akan menghancurkanmu sekarang juga. Habisi dia!" Pinta Bos itu segera mengambil pistolnya dengan tangan kanannya dan memerintahkan pada mereka untuk menghabisi Eleva.
Aku dan Saphine segera menuju ke medan perang dan segera membantu mereka. Kami menyerahkan sandera itu menuju ke polisi dan segera membantu mereka.
Sebenarnya, aku dan Saphine hanya membebaskan sandera saja. tidak kurang lebih seperti itu. Namun, kami harus terlibat dalam pertempuran untuk berjaga-jaga saja.
Para gangster yang sedang menembak itu berusaha keras untuk menembus pertahanan Hammer. Namun, tidak bisa. Dengan itu, Eleva bisa maju ke depan dan segera membalas kekalahannya.
Belum sampai disitu, gangster yang menggunakan tongkat pemukul segera menghadapi Eleva. Pertarungan jarak dekat mulai terjadi. Eleva menghindari dengan mudah. Gangster yang ada di hadapan lawan mengayunkan tongkatnya. Eleva bergerak sambil menusuk gangster itu.
Namun, Zhukov ketahuan. Para gangster itu mulai melakukan tembakan kepada Zhukov. Ia hanya bersembunyi dari mereka sambil menunggu kesempatan untuk menembak.
"Sial! Kami masih terpojok disini. Rivandy. Saphine aku membutuhkanmu," gumamnya dalam hati sambil bersembunyi.
[*^*]
Aku dan Saphine berlari untuk melibatkan diri dalam medan pertempuran. Kami harus mempercepat langkah kami agar kami bisa membantu Denis dan Cherry-neesan. Kami juga didukung polisi dari belakang sambil mengikuti kami dari belakang secara diam-diam.
Setelah sampai di lokasi pertarungan, aku dan Saphine segera bersembunyi dan melakukan pendekatan secara diam-diam. Para polisi sedang menonton pertarungan itu dan merekamnya untuk keperluan nanti.
Kami segera menuju ke tempat Cherry-neesan dan Denis berada untuk mengobati luka mereka. Namun, ada satu yang terlintas dalam pikiran kami. Bos yang gemuk dan menjijikan itu. Aku harus melakukan sesuatu atau kami semua akan mati.
Pertarungan semakin berlanjut. Eleva dan gangster pemukul tongkat sedang melancarkan serang mereka untuk menghabisi satu sama lain. Zhukov melakukan tembakan jitu. Namun, gangster itu menghindari dengan mudah.
__ADS_1
Hammer dan Yudha membantu Zhukov untuk melakukan tembakan dengan peran garda depan mereka. Pertarungan di markas gangster semakin lama semakin larut. Mereka tidak bisa bertarung lagi dalam jangka panjang. Mereka kehabisan amunisi mereka.
"Zhukov kami tidak bisa membantumu lagi. Peluruku sudah mau habis, nih," beber Yudha membuang selongsong peluru ke tanah dan memasukkan amunisi penuh peluru terakhir ke senapannya.
"Aku juga," lanjut Hammer.
"Kalian sabar sedikit! Rivandy dan Saphine sudah datang. Kalian harus bertahan sedikit lagi agar Detektif Alan segera kemari. Jadi, bertahanlah sedikit!" Pinta Zhukov melakukan tembakan.
"Baik!"
[*^*]
Sementara itu, ada sebuah korps polisi tingkat profesional bersama dengan Detektif Alan yang terdapat di dalam korps itu. Seorang polisi menghampiri Detektif Alan dan melapor, "Pak. Kami menemukan laporan tempat ini adalah markas dari seorang gangster yang sedang bersembunyi. Kami harap kami akan menemukan mereka."
"Iya. Aku sudah mendapatkan laporan dari seorang siswa dari Akademi Militer Spyxtria untuk kasus ini. Kasus yang terjadi pada tahun 2019. Kemudian, aku juga mendapatkan laporan ada pergerakan aneh dari menteri yang berhubungan tidak baik dengan Pemerintahan Rusia. Aku juga baru tahu bahwa dia adalah pelaku dari Klub malam itu," jelas Detektif Alan dengan panjang lebar.
"Aku ingin tahu kenapa dia tidak langsung memenjarakan pejabat itu," gumamnya dengan penuh keraguan.
"Segera cari mereka dan bantu mereka!" Pinta Detektif Alan yang merujuk pada siswa akademi.
"Baik, Pak!" Terima korps polisi itu dan segera menjalankan aksinya.
Mereka segera masuk kedalam sambil mengikutiku dari belakang. Mereka mencari peluang untuk melakukan tembakan beruntun.
[*^*]
Pada saat yang bersamaan, Denis yang tergeletak di tanah dan segera untuk berdiri tapi tidak bisa. Begitu juga dengan Dr. Cherry. Mereka mencoba bangkit. Namun, karena luka yang cukup parah membuat mereka terdiam di tempat mereka.
Bos yang semakin geram itu melakukan rencana terakhir untuk mengakhiri semua ini. Ia memasukkan peluru 2000 Mach yang dibuat dari pabrik senjata dengan serum yang berasal dari seorang monster yang akan membunuh murid kelas 3 SMP di Jepang dan memasukkannya ke dalam machine gun.
Setelah itu, dia memegang machine gun di tangan kanannya dan mengarahkan pada Denis dan Dr. Cherry yang sedang sekarat. Mereka terkejut melihat itu, mencoba untuk lari dari sini. Namun, tidak bisa. Mereka tidak punya waktu lagi untuk menghindar.
"Aku akan menghancurkan kalian semua dengan ini," tekad bos itu mengarahkan machine gun ke depan.
"Rasakan ini!" Bos itu menarik pelatuknya dan peluru 2000 Mach melesat menuju Denis dan Dr. Cherry. Mereka tidak bisa menghindari dari tembakan itu.
Pada saat yang sama, ada seorang remaja yang sedang berlari dan melindungi mereka dari maut itu. Dia datang ke arah tembakan dan menerima tembakan yang sangat cepat itu.
Berbagai luka dam tekanan yang dialami oleh remaja itu dengan hebat. Remaja itu mengalami luka yang hebat. Banyak peluru yang menembus tubuh remaja itu dan memperlambat peluru itu menjadi 0 m/s.
Bos itu terkejut dengan apa yang dia lakukan. Begitu juga dengan Denis dan Dr. Cherry. Mereka cemas dengan keadaan remaja yang tertembak oleh peluru 2000 Mach itu.
"Ti-Tidak mungkin! Kenapa dia senekat itu?" Bos itu terkejut dengan apa remaja itu lakukan.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Dr. Cherry dalam hati.
"Padahal, kamu bisa membiarkan kami mati disini," lanjut Denis.
"Kenapa kamu membiarkan penderitaan itu selalu menyertaimu?" Tanya Denis dalam hati.
"Padahal aku menyuruhmu untuk tetap hidup. Kenapa kamu melakukan hal senekat sehingga kamu ingin mendekati kematianmu?" Tanya Dr. Cherry dalam hatinya dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Kenapa dia melakukan hal senekat itu? Dia seharusnya tidak bisa bertahan hidup dengan tembakan secepat itu," tanya Dr. Cherry melihatnya yang banyak luka di tubuhnya.
"Rivandy?!"