Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Kotori Andromeda : Pesan Terakhir


__ADS_3

Jumat, 24 April 2026 jam 14:59, pelajaran militer sudah berakhir dan jadwal pelajaran akademi akan dimulai Senin depan. Anggota Klub Teater sedang berkumpul untuk latihan sandiwara dan aktivitas klub lainnya.


Kelas I Saintek A, Pak Stephan sudah meninggalkan kelas. Aku dan Nina membantu Pak Stephan untuk membereskan peralatan militer. Mulai dari senapan, amunisi, armor, dan peralatan lainnya.


Tak lama kemudian, seseorang berada di luar kelas dan memanggil dengan suara yang pelan. Ia mencari siswi yang bisa mendengar suara kecil dan lembut. Itu adalah ...


"Aurora."


Aurora menoleh ke sumber suara dan menghampiri Kotori. Dengan ramahnya, Kotori disambut dengan baik meskipun lawan bicara sedang cemas.


"Kotori. Ada apa?"


"Rivandy mana? Aku harus mengatakan sesuatu padanya."  Kotori bertanya sambil melirik sekitar.


"Rivandy? Oo. Rivandy sedang ke ruang guru bersama Nina. Ada apa?"


"Bolehkah aku mengirimkan sesuatu padanya? Sebuah pesan yang penting."


"Ayo! Kita ke taman aja. Sepertinya di kelas tidak bisa."


"Baiklah kalau begitu. Ikut denganku."


Tidak banyak waktu, Kotori menggunakan kekuatan "Electro Dubstep : Shockwave" untuk mengantarkan Aurora ke taman yang sepi.


Setelah sampai di taman, Kotori menoleh sekitar untuk menjaga kerahasiaannya. hanya Aurora yang mengetahui rahasia ini. Tidak untuk yang lain.  


"Jadi, Kotori. Kamu kenapa repot-repot datang ke sini?"


"Tolong terima barang ini piring hitam ini! Dan jangan sampai mereka mendapatkannya." Kotori merogoh saku rok untuk mengambil barang itu 


Aurora sebuah barang dan piring hitam milik Kotori. Pandangannya tertuju pada sebuah barang itu dan  sebuah piring hitam.


"Tunggu sebentar! Apa ini? Kenapa aku harus terima barang ini?" Aurora masih memegang dengan kedua tangannya.


"Itu adalah chip semua memori kehidupanku dan piring hitam itu adalah sebuah kenangan."  Kotori menjelaskan barang yang diterima Aurora.


"Eh? Kenapa? Apakah kamu pindah sekolah?" Aurora memegang kedua barang itu dengan erat dan tidak mau dilepaskan begitu saja.


"Tidak! Aku tidak pindah. Hidupku sekarang dalam bahaya. CIA akan memburuku dan kepala sekolah tidak bisa berbuat banyak lagi." Kotori merespon pertanyaan Aurora.


"Selain itu, Rivandy berada dalam bahaya. Aku tidak mau dia  terluka karena aku. " 


Aurora semakin tidak paham dengan itu. Tidak hanya itu, pikiran  masih berputar karena Kotori mengatakan secara mendadak. Dia memberikan semua kenangan itu dan pergi tanpa kembali.


"Kotori. Tapi, kenapa kamu harus seperti ini? Kita bisa mengalahkan CIA bersama-sama." Usulan Aurora diutarakan meskipun tidak cukup.


"Tidak. Situasi ini jauh berbeda. CIA lebih kuat daripada kita. Kalau dia EG, kita tidak bisa melakukan apapun lagi."


"Aku harus menghadapinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Kalau kau membantuku, kau akan ditangkap juga." 


Perdebatan Aurora dan Kotori semakin membesar. Air mata bermata biru tak tertahankan. Mungkin,  hanya sesaat sebelum kejadian yang lainnya.


"Tidak mau! Aku tidak mau  kamu pergi. Kalau kamu tidak ada, Rivandy juga tidak ada. Selain itu, kita baru menjalani kehidupan akademi." Aurora menahan air mata meski tidak mungkin. Tersujud karena tidak mau menerima semua ini. 


Kotori sudah lelah dengan semua itu. Ia sudah cukup menyakiti Aurora. Tapi, ia harus memenangkannya sebelum terlambat. Tangan mungil nan halus memegang pipi Aurora, lelah karena berdebat dengan gadis remaja.


"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat lagi. Keimutanmu membuatku malas untuk berdebat.  Tapi, ... sekarang giliranmu."


"Aku tidak mengerti. Kenapa harus menjadi seperti ini. Setidaknya, ...."


".... Rivandy tidak mendengar ini."

__ADS_1


Ekspresi Kotori berubah, menjadi sebuah empati. Mengangkat tubuh Aurora dan bertatapan dengan fokus. Namun, tatapan Kotori tetap menjaga jarak dengan tujuan mengasihani.


"Tidak apa. Aku memang buronan. Meskipun begitu, aku ingin tetap hidup. Tidak peduli mereka mengancamku. Asalkan kau tidak menganggapku seperti monster."


"Sebenarnya aku adalah ...." Kotori mengungkapkan sebenarnya, membuka tudung dan masker miliknya.


Mata Aurora menjadi lebar, tidak percaya dengan wajah Kotori tanpa masker dan tudung. Berusaha untuk lari. Namun, kedua kakinya terhalang, tidak mau lari.


"Kau ... Berbohong, kan?"


"Kali ini tidak. Aku tidak berbohong di saat kondisi serius begini."


Tudung dan masker dikenakan lagi.  Kedua tangan Aurora menutup mulut dan menahan ketakutannya. Namun, karena kepercayaan, dia mengurungkan rasa takutnya.


"Bagiamana? Kau masih percaya denganku?"


"Iya. Tapi, .... Kenapa?"


"Entahlah. Sejak dulu, aku memang seperti itu."


Keheningan kembali terjadi. Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan semenjak terungkap siapa Kotori sebenarnya.


"Satu yang ingin aku katakan padamu." Kotori memulai perbincangan sebelum meninggalkan Aurora.


"Tolong jaga Rivandy! Jangan sampai Rivandy berada di tangan EG!" Pesan Terakhir Kotori terucapkan dengan jelas.


"Kalau kau meninggalkannya, kau akan menyesal. Karena Rivandy sangat cocok jika dia menjadi suamimu."


"Eh?! Apa? Tidak mungkin! Padahal, kami belum ....." Aurora mengalihkan pandangan, tidak mau membahas Rivandy di tengah perpisahan.


"Setidaknya, belajar 3 tahun dan menolak tawaran EG. Kau sudah mendapatkan kehidupan yang aman bersama Rivandy." Secara perlahan, Kotori membuat saran dari prediksi dan nalurinya."Dia tidak memilih orang lain. Kelas 3, hari Valentine, dia memilihmu menjadi pasangan yang ideal setelah menjalani rintangan yang berat."


"Percayalah padaku! Dia hanya memilihmu. Jadi, kau harus melindunginya." Jari telunjuk Kotori meyakinkan Aurora, meskipun tidak selamanya Aurora percaya pada ramalan.


"Baiklah. Aku percaya. Tapi, apa yang kau lakukan setelah ini?"


"Meninggalkan Moskow dan bergerak menuju Siberia. EG takkan menjangkau tempat terpencil di Siberia. Meskipun wilayah berbahaya, itulah tempat yang aman untukku."


Aurora teringat seseorang. Seseorang yang meninggal Moskow dan takkan kemana lagi. Ia sudah melupakan kenangan itu dalam-dalam. Namun, percuma. Malah teringat lagi.


"Hei. Kotori. Sebenarnya, aku ingin melindungimu. Tapi, sudah tidak mungkin. Karena kalah dari keadaan, aku membiarkan begitu saja. Aku memang lemah. Jadi, aku tidak melakukannya."


"Aku akan mengatakan kalimat terakhir sebelum meninggalkan taman ini." Setiap detik Aurora memudar dan menghilang.


"Selamat tinggal! Jaga dirimu! Dan jangan pernah ... lupakan aku!"


Aurora menghilang. Namun, Kotori tidak terkejut dengan sebuah kehilangan. Ini adalah sebuah kekuatan supernatural yang sudah biasa terjadi.


"Dia punya kemampuan menghilang melalui perasaan?"


Dia terdiam, merenungkan semua kesalahan dan mengingat mimpi buruk agar tidak terjadi.


"Maafkan aku, Siren. Aku hanya bisa lari saja."


[*^*]


1 Mei 2026. Seminggu kemudian, kehidupan sekolah Kotori belum berubah. Sebentar lagi, dia akan meninggalkan Moskow dengan penuh persiapan. Tidak mungkin bertahan di Siberia tanpa perbekalan.


Kotori mendatangi apartemen Andika tanpa menyapa kepada Bella terlebih dahulu, apalagi dengan Shiori. Dia tidak mau terlibat lagi.


Dia menyusup dan memasuki apartemen tanpa diketahui pemiliknya. Andika sedang tertidur pulas di sore hari karena keseharian akademi yang melelahkan. Namun, tidurnya diganggu dengan penggilan Kotori.

__ADS_1


"Andika." Bisikan Kotori membangunkan Andika.


"Hmph?! Buset! Kotori! Kau ...."


"Sst! Jangan keras-keras! Nanti Bella dengar." Jari Kotori menutup mulut Andika agar tidak terdengar.


"Kamu ngapain disini?" Andika bertanya sekaligus bingung dengan apa yang terjadi


"Aku ingin memberikan sesuatu padamu."


"Apa itu?" Tanpa basa-basi, Andika langsung bangkit dari tempat tidur.


Dari dalam Jaket Kotori, kedua tangannya memegang sebuah benda yang berharga. Bisa mahal kalau dijual. Apalagi bila digunakan untuk bermain konsol game.


"Ini. PlayStation 5."


"PlayStation 5? Oh, begitu yah?"


Ekspresi Andika berubah menjadi bahagia. Sampai menangis terharu-haru karena mendapatkan benda yang diinginkan. "Apa?! PS 5?! Wah! Aku sangat suka PS 5. Pengen aku beli PS. Tapi, uangku selalu dikuras ibu kos-kosan."


"Dasar Penghutang! Kau pasti menyindir Shiori dengan ibu kos-kosan."


"Ya iyalah! Dia selalu menguras uangku, menagih hutangku setiap hari. Sampai aku gak bisa tenang main game karena Ara-Ara Shiori." Curhatan Andika cukup lebay sampai harus berperan sebagai suami yang tersakiti.


"Tidak usah curhat! Aku berikan ini untuk sesuatu yang penting."


"Apa itu?"


"Jagalah Bella dan Shiori! Jangan sampai mereka mencariku! Kalau tidak, mereka dalam bahaya."


"Bahaya? Kumaha atuh? Aku gak tau." Andika mengangkat bahu sebagai pertanyaan.


"Ceritanya panjang. Aku tidak bisa bercerita saat ini. Ini menyangkut nyawaku."


"Kenapa Bella dan Shiori gak boleh tahu sama kamu? Emang kamu lagi berantem sama mereka karena Kalian saling merebut pangeran?"


Tamparan Kotori mendarat di pipi Andika. Meskipun kena, tapi tidak sakit.


"Bukan itu! Ada yang mengincarku. Mereka sangat kuat dan jenius. Kita tidak bisa apa-apa dengan mereka. Belum tentu BIN bisa membantu kita untuk mengalahkan musuh sekuat CIA."


"Selain itu, aku tidak ingin melibatkan mereka. Aku tidak ingin menyeret mereka dalam masalah ini. Aku harus menghadapi mereka dengan melarikan diri agr mereka selamat."


Andika mendengarkan semua, sudah memahami penjelasan Kotori yang terdesak. Senyuman dan senang hati terlukis pada Andika. Dia senang hati melakukan sesuatu untuk Kotori.


"Begitu yah? Kenapa gak kasih tau sama aku dulu? Aku akan mendukung cewek cantik kayak kamu ini."


"Aku tidak secantik itu. Shiori mengalahkanku." Mengalihkan pandangan, Kotori dikalahkan oleh Shiori dalan kecantikan.


"Ibu kos-kosan Ara-Ara selalu menghabiskan uangku. Bella juga selalu menagih hutangku buat beli saham. Uangku habis semua buat prediksi Saham Forex."


"Baiklah. Jangan sampai mereka keluar dan mencariku. Alihkan perhatian mereka sampai aku bisa mengalihkan CIA."


"Oke. Nanti, aku ajak Elevator buat mensukseskan operasi ini." Dengan semangat, Andika menjadi percaya diri


"Jangan ajak dia! Dia membuat rencanaku hancur berantakan." Kotori merasa cemas karena Eleva akan menghancurkan rencana.


"Jangan cemas! Dia gak pernah teralihkan sama PS 5 ini. Kalau dia marah, aku akan menantangnya di game lain. Dia akan marah kalau Man United kalah sama tim lain, apalagi Real Madrid, tim dukunganku." Andika menyembunyikan tawa mengenai pengalaman yang terjadi sebelumnya.


Kotori sudah percaya dengan Andika. Semangat membara dan ramah terhadap teman membuat Andika sulit dimusuhi, namun menyebalkan di mata Bella.


"Baiklah. Aku mengandalkanmu." Kotori meninggalkan kamar Andika dan menghilang.

__ADS_1


"Sampai jumpa! Jangan lupa oleh-olehnya yah!"


"Hore! Akhirnya dapat PS 5! Waktunya main!"


__ADS_2