Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Anivesta Bella : Sebuah Drama


__ADS_3

Rivandy merogoh sebuah pisau dari kantong. Ia tidak menggunakan AWM miliknya yang tertempel di punggung. Ia mengurungkan niat untuk menembak d kepala mereka. Lebih baik, ia membunuh orang dengan menebas leher mereka dengan pisaunya.


"Asalkan aku membunuh mereka dengan pisau, itu bukan apa-apa dengan penderitaan yang kualami."


"Ini menjadi taruhan bagiku untuk menentukan pilihan."


"Aku ... akan menebus semua kesalahanku"


Rivandy mulai berlari dengan langkah kakinya. Gerakan yang acak agar bisa mendapatkan celah untuk menghabisi lawan. Tidak mungkin ia membidik dengan sniper dengan jarak sedekat itu.


"Bunuh dia!" Perintah CEO Andy kepada pengawalnya.


Pengawal itu membidik area yang rentan pada orang tersebut. Peluru dilancarkan Rivandy menghindar dengan mudah sembari menangkis tembakan melalui tarian pisaunya.


Belum cukup. Masih ada permasalahannya. Ia tidak bisa menghindar di tengah medan perang yang dipenuhi dengan kertas dan laptop yang berserahkan.


Presiden Andy memprediksi arah mana serangan pisaunya dilepaskan. Ia masih terlibat dengan peluru yang memojoknya dari segala arah.


"Lemari Coklat dan Kulkas! Sudutkan dia! Aku harus membuka dan melecehkan cewek ini."


Andy sibuk denganku yang sudah terlena dan jatuh dalam jurang nafsu. Dia memulai rencananya dengan mencium leherku dengan keras. Itu belum cukup untuk membuatku mendesah.


Aku masih memberontak meskipun dia memberikan sensasi nikmat sebagai duda yang kurang ajar.


"Ayolah! Kau harus mematuhi perintahku!"


Sementara itu, Kotori memutarkan musiknya untuk membantu Rivandy. Peluru berhenti bergerak. Jadi, Rivandy bisa mendekati pengawal itu dan membunuh mereka dengan sasaran yang ada di leher mereka.


"Rivandy. Jam 1-3. Bantai mereka!"


Tanpa disuruh pun, dia akan melakukannya. Ia sampai dengan cepat dengan kecepatannya dan memotong leher mereka menjadi dua. Alhasil, banyak darah yang keluar. Tidak sedikit darah itu menghiasi pakaian, pisau maupun wajah Rivandy.


Pengawal Andy semakin kebingungan. Disaat majikan mereka masih sibuk untuk melecehkan seorang gadis, para pengawal menghadapi neraka yang sesungguhnya terjadi.


Salah satu dari pengawal mereka menghindari pertumpahan darah dan melaporkan pada Andy yang sibuk membuka pakaianku yang sudah setengah telanjang.


"Tuan! Disini tidak aman. Kita keluar dari sini! Cepatlah!" Pengawal itu menyeret Andy dan aku untuk keluar dari medan pertempuran.


"Iya! Iya!" Andy membawaku dengan setengah pakaian.


Disaat mereka sedang lari, Rivandy terkena tembakan dari berbagai arah. Tembakan yang beruntun itu menembus tubuhnya dan mengeluarkan banyak darah tanpa pergerakan sekalipun.


"Kuhancurkan kau!" Salah satu mata-mata memberikan tembakan yang cepat untuk memberikan luka pada Rivandy.


Meskipun peluru yang berat itu mengenai jantungnya, Rivandy masih berdiri dengan tegak dan darah yang bercucuran tidak menghalanginya untuk membunuh orang. Para pengawal semakin panik karena tidak ada cara yang bisa membunuhnya.


"Kenapa? Kenapa dia masih hidup?!"


"Sialan! Dia tidak bisa dibunuh dengan tembakan."


Rivandy maju dengan langkah kaki yang berat meskipun ia membencinya. Ia menjatuhkan pisau miliknya dan merogoh pistol Deagle dari pinggangnya Tatapan mata yang seakan-akan mengancam dan pembunuh dengan sekali tembakan atau sekali tebasan pisau.


"Kubunuh kau! Kalian tidak berguna mati saja," pesan Rivandy melepaskan tembakan dan mengenai kepala mata-mata tersebut.


Ia menghampiri mata-mata yang lainnya dan menarik pelatuk dengan mata sebagai sasaran yang dituju. Semuanya kena. Tidak ada yang meleset. Tanpa penyesalan yang berarti. Hanya teringat masa lalu yang kelam.


"Rivandy! Cepatlah! Andy akan membawa Bella keluar dari sini."

__ADS_1


Tanpa diragukan lagi, Rivandy segera pergi dengan cepat. Langkah kakinya seakan-akan berubah menjadi cheetah. Kecepatan larinya berubah menjadi liar semenjak darah yang ia keluarkan menjadi lebih kuat.


[*^*]


Di koridor, seorang penjaga berada di samping Andy dengan aku yang digendong agar bisa merasakan penyiksaan.


Tak lama kemudian, kepala penjaga itu langsung pecah tanpa sebab. Andy mendengar tembakan itu dari jauh tapi sebenarnya tembakan itu tidak berada di dekat kepala penjaga itu.


Andy menjadi ketakutan karena Rivandy sudah berada di samping Andy dengan Deagle di tangannya.


"Mundur! jangan mendekat! Kalau tidak, aku akan perkosa cewek ini dan kau akan semakin dibenci olehnya."


Ia hanya terdiam dengan ocehan yang tiada artinya. Mungkin itu semacam gertakan agar Andy bisa menyudutkan Rivandy. Tapi, percuma saja. Rivandy tidak termakan tipuan itu dan membunuhnya segera.


"Lihat ini! Aku akan memegang dadanya. Lalu, aku akan menjilatinya seperti es krim dan ...."


Ucapan Andy terpotong. Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Rivandy langsung menembaknya duluan tanpa menunggu waktu. Wajahnya penuh dengan darah yang memaksanya untuk tetap dingin.


"Berisik! Aku tidak peduli dengan ocehanmu."


Akhirnya, Andy terkapar dengan mengenaskan dengan peluru yang bersarang di otaknya. Ia mengucapkan umpatan itu sebelum menutup matanya.


"Sialan kau! Reinhardt!"


Aku menjadi teringat dengan adegan pembunuhan itu. Aku kehilangan kedua orang tuaku di depan mataku. Ini sudah terlambat. Tidak ada yang bisa kulakukan.


Aku melirik ke atas dan terlihat ada seseorang yang di depanku. Rasa amarah dan tangisan tercampur menjadi satu.


"Kenapa? Kenapa kamu datang kesini, Reinhardt?!"


Lawan bicaraku tidak mengatakan sepatah kata apapun. Hanya terdiam kaku dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Banyak peluru yang masuk ke dalam tubuhnya tanpa ada kepedulian apapun yang terjadi padanya.


Tidak ada jawaban. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kekesalanku semakin memuncak karena ia mengabaikan pertanyaanku. Entah apa yang kulakukan padanya lagi. Aku hanya terdiam dengan kondisiku yang setengah telanjang.


"Bodoh! Kau seharusnya tidak perlu menolongku. Kenapa kamu keras kepala dan membiarkamu diperlakukan seenaknya?"


Aku membentaknya. Namun, ia tidak merasa ketakutan dengan suaraku yang dipenuhi dengan amarah tersebut. Entah kenapa aku ingin menbunuhnya karena


"Kenapa kamu membunuhnya? Apa kau sudah gila?!"


Rivandy masih belum menggerakkan bibirnya. Darahnya masih terus mengalir ke bawah. Organ tubuhnya masih berjalan dengan baik meskipun organ tubuhnya dipenuhi dengan peluru.


"Kisama! Kenapa kau tidak menjawab semua pertanyaanku?! Bukankah sudah kubilang untuk menjauh dariku!"


Rivandy masih terdiam. Tidak ada jawaban lagi untuk ketiga kalinya.


"Oi! Atheis! Aku bicara denganmu!" Ejekku dengan penuh tangisan dan drama.


"Kenapa kamu hanya diam saja?! Bicaralah!"


Aku tidak peduli dengan tubuhku. Aku mencari senjataku dan mengisi peluru walaupun aku merobek semua pakaianku. Jadi, aku tidak mengenakan satu helai pakaian apapun.


"Kalau tidak bicara, aku akan menembakmu sekarang juga!"


Aku menembakkan peluru padanya di bagian perutnya. Anehnya, bukannya dia tidak tersungkur, ia malah menghampiriku. Mimpi buruk itu mendekatiku seolah-olah aku akan dipenuhi dengan kecemasanku.


"Mati kau! Reinhardt! Aku akan membawamu ke neraka!"

__ADS_1


Tembakan demi tembakan. Peluru yang keluar dari pistolku mengarah kepada perutnya. Suara yang berisik itu menggema di dalam perusahaan itu. Tapi, dia tidak tertembak seperti orang normal sebelumnya. Ia terus berjalan dengan penuh luka.


"Kenapa kamu tidak mati saja?!"


Aku terus memaksa diri untuk membunuhnya. Amarah yang tidak dapat kubendung dan mata yang semakin melebar. Tidak akan aku berhenti menembak sampai aku bisa menjatuhkannya.


Tapi, ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Ia masih melangkah maju sambil melepaskan pistol yang ia pegang untuk melakukan sesuatu yang belum tersampaikan.


Langkah demi langkah. Aku kehabisan peluruku. Sudah terlambat. Aku tidak bisa lari darinya. Dia sudah di dekatku dan inilah akhir kehidupanku.


Tidak kusangka. Aku merasakan hangat dan penderitaan darinya. Pelukan yang penuh dengan darah membuatku menyesali perbuatanku. Seandainya, aku tidak menyakitinya, ini tidak akan terjadi


"Kenapa kau memelukku, Rivandy?"


Rivandy menjawab,"Maafkan aku! Karena aku, kau menjadi lemah dan mudah diperalat begitu saja," dengan nada pelan dan lembut.


"Padahal, aku membuatmu menangis. Aku juga ...."


"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar ocehanmu lagi. Ini membuang waktuku."


Aku semakin ingin mengeluarkan air mataku dengan pelukan yang penuh dengan penderitaan. Rasanya, Rivandy adalah aku yang penuh dengan darah dan penderitaan yang selalu menyerang


"Tidak! Aku tidak mau memaafkanmu. Kau sudah ..."


"Kalau begitu, aku akan bertanggung jawab. Kau boleh mengakhiri hidupku sekarang juga."


"Tidak mau! Aku tidak ingin membunuhmu. Kau terlalu banyak menderita. Saking menderitanya, kau ingin menangis kan? Menangis sepeti anak kecil karena sendirian."


"Kau ingin membunuhku, kan? Kalau begitu, akhir hidupku sekarang!"


Rivandy masih keras kepala untuk mati.


"Tidak! Aku mohon jangan mati! Kenapa kau ingin mati? Aku tidak berpikiran seperti itu saat aku ingin dilecehkan."


"Aku mohon! Maafkan aku!"


"Jangan pergi! Aku tidak mau kau mati karena aku! Aku menembakmu dan berharap kamu mati. Aku juga tidak menyangka kalau pembunuh sepertimu ...."


Wajah Rivandy tidak berubah. Wajahnya masih penuh dengan darah. Rambut hitam yang natural dibanjiri dengan peluru senapan. Ia masih hidup meskipun Malaikat Martin berusaha untuk mencabut nyawanya berkali-kali.


"Menangislah! Aku akan memelukmu sampai kamu selesai menangis."


Aku tidak bisa menahan tangisanku. Aku mencoba agar aku menjadi dewasa. Percuma saja.


Pertama kalinya, aku mulai mengucurkan air mataku. Aku menggunakan dada yang berlubang itu sebagai sandaranku. Ini bukan pangkuan orang tuaku, atau semacamnya. Ini pangkuan dari seroang kekasih.


"Maafkan kau! Aku menyakitimu. Aku menyembutmu pembunuh, atheis, gigolo, dan lemah. Meskipun aku membencimu, kau selalu datang untuk menolongku dari bahaya."


Tangisanku terdengar keras di telinganya. Rasanya tidak keberatan kalau aku memeluknya untuk waktu yang lama.


"Kotori. Sisanya, aku serahkan padamu. Temui Shiori dan suruh dia memeluk Bella. Aku sudah cukup disini dan aku akan istirahat sekarang juga," pesan terakhir Rivandy sebelum meneparkan dirinya.


Aku merasakan Rivandy sudah tidak sadar lagi. Rasanya aku tidak mau meninggalkannya. Tubuhku yang mungil merasakan hangatnya darah yang bercucuran.


Setelah kejadian itu, Kotori membawaku keluar dari perusahaan itu bersama dengan Rivandy. Lalu, Shiori memelukku dengan erat. Aku masih belum selesai menangis. Jadi, aku lanjutkan tangisanku di pangkuan Shiori sebagian sahabat karib.


Mereka berempat sudah menyelesaikan misi mereka. Mereka membawaku pulang dengan selimut yang diberikan oleh Andika. Kotori dan Shiori akan merawat Rivandy sementara aku ditemani oleh keempat teman yang berusaha untuk menghiburku.

__ADS_1


Setelah aku mandi dan mengenakan handuk kimonoku di malam hari, aku beranjak ke kamar sambil menidurkan diriku. Tubuhku sudah lelah sekarang. Waktunya untuk tidur untuk besok.


__ADS_2