
“Sebenarnya, Zera itu …." Sinta melanjutkan ceritanya sambil menahan semua perasaannya.
Aku mendengarkan cerita itu secara seksama. Sinta mengatakan cukup serius. Ia mengenakan nafasnya terlebih dahulu sebelum menghembuskannya. Ia juga menenangkan Diana agar dia berhenti menangis. Setelah itu, Sinta memulai ceritanya.
Namun, saat aku ingin mendengar cerita dari Sinta. Sinta hanya terdiam lesu di sana. ia tidak bisa menggerakkan bibirnya untuk bicara. Aku merasakan hal yang aneh dalam dirinya.
“Maafkan aku, Rivandy! Aku tidak bisa cerita sama kamu,” sesalnya sambil menangis memelukku.
“Kenapa kamu malah minta maaf?” Aku bertanya pada Sinta yang sedang memelukku sambil menangis.
“Habisnya cerita Zera terlalu kelam untuk didengarkan."
Aku rasa aku tidak perlu mendengarkan cerita dari mereka. Mereka tidak terlalu diandalkan untuk menceritakan sesuatu padaku. Aku hanya menghembuskan nafasku dengan tingkah laku mereka yang aneh itu.
“Saking kelamnya, aku ingin menjual tubuhku dengan harga yang murah,” lanjutnya sambil membuka pakaiannya sedikit.
“Sinta. Kau tidak perlu melakukan itu,” gumamku mengelus kepala Sinta.
“Kalau aku tidak bisa menyelamatkan Zera, aku lebih baik hidup seperti ulat saja,” putus Diana dengan air matanya yang berlinang.
“Kau juga,” lanjutku menatap Diana dengan datar.
“Sudahlah! Kalian tidak perlu segitunya. Kalian hanya menjalani kehidupan normal kalian,” usulku menatap kota Moskow yang sedang mengalami sunset.
“Tapi, aku tidak bisa memaafkan diriku jika aku tidak bisa menyembuhkan Zera,” ungkap Diana berakting seperti orang galau.
“Itu benar. Aku tidak akan membiarkan Zera menderita sendirian,” sambung Sinta memelukku dengan erat.
“Aku tidak bisa menyelesaikan masalahnya jika kalian terus mengoceh tidak jelas begini,” celotehku melihat tingkah mereka.
“Kau akan mengerti nantinya. Pangeran. Dia sudah menderita selama hidupnya. Aku memintamu untuk menyelamatkannya di dimensi kegelapan itu."
“Aku paham. Aku paham. Aku masuk dulu. Aku ingin membicarakan sesuatu pada Zera sekarang juga,” pamitku sambil melepaskan pelukan Sinta dan segera memasuki ke ruang tamu.
“Jangan lupa pesanku! Jangan katakan ‘Jangan menyerah!’ kepadanya! Kau akan menyakitinya,” pesan Sinta sebelum aku meninggalkan mereka.
Aku hanya menerima hal itu dan segera masuk ruangan. Mereka menahan nafas mereka semenjak kepergianku.
Yang kulakukan adalah membuat Zera maju ke depan, yakni masa depan.
[*^*]
Jam 18:43, aku mengajari Zera dengan poin yang penting. Sinta dan Diana memberikan dukungan penuh ke Zera. Nina yang sedang terduduk sambil minum teh hijau hanya melihatku dengan perasaan gelisahnya. Zera tidak mengalami perkembangan sekalipun. Ia mengalami stagnan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
“Zera. Aku sudah menjelaskan semuanya tentang variabel x, \=, +, kuadrat, akar, perkalian silang, konstanta, -, /, kali, angka, dan lainnya. Apa otakmu sudah tersambung?” Tanyaku sambil menatap Zera dengan serius.
“Belum. Aku tidak bisa,” jawabnya dengan kepalanya masih tertunduk.
Aku yang mendengar itu menahan kekesalanku. Aku merasa kasihan kepada yang lainnya. Diana dan Sinta masih mendukung Zera sampai titik penghabisan. Nina mendengarkan pengajaranku selama 10 kali nonstop.
Aku sudah mendengar kata itu sebanyak 10 kali berturut-turut. Ini sudah malam. Seharusnya, aku sudah bisa pulang. Tidak kusangka.pembelajaran ini menguras tenaga dan waktu. Guru biasa akan stres dengan ini. Namun, tidak bagiku.
Aku memutuskan, “Kita ulangi dari awal. Persamaan adalah …,” mengajari Zera secara berulang.
Aku kembali mengutak-atik papan tulis dan menghabiskan alat tulis yang cukup banyak. Aku berfokus angka yang sederhana dan cukup mudah. Nina yang sudah bosan segera bermain handphone dan melihat sosial media. Diana dan Sinta yang kelelahan itu tertidur dengan pulas seketika.
Aku sudah menggunakan berbagai metode untuk mengajari Zera. Mulai dari Teknik Ceramah, Teknik Diskusi, Teknik Tanya Jawab, Teknik Penugasan, Teknik Simulasi, Teknik Inquiry, Teknik Eksperimen, Teknik Karya Wisata, Teknik Tutorial, sampai Teknik Problem Solving
__ADS_1
Namun, tidak ada satupun teknik yang membuahkan hasil. Teknik Ceramah dan Teknik Penugasan terlalu membosankan, sehingga Zera tidak bisa menangkapnya dengan baik. Teknik Tanya Jawab tidak bisa kulakukan karena ia tidak bisa menjawabnya. Begitupun dengan teknik lainnya.
Teknik Pomodoro adalah teknik belajar manajemen waktu yang diciptakan oleh Francesco Cirilo. Teknik ini terbilang efektif dan efisien. Siswa hanya perlu memilih pelajaran yang ingin dipelajari, lalu, mempelajarinya selama 25 menit. Setelah itu, ia istirahat selama 5 menit. Kemudian, kembali ke 25 menit lalu 5 menit.
Ini teknik yang membuat kemampuan belajar siswa meningkat secara pesat. Manajemen waktu dan fokus ke satu titik menjadi manfaat yang biasa diperoleh oleh siswa itu. Tidak heran, teknik ini efektif untuk calon mahasiswa untuk mengikuti ujian di perguruan tinggi.
Namun, ini belum cukup.
Ini malah tidak efektif pada murid seperti Zera.
Zera malah tidak memperhatikan hal yang seperti itu. Ia tidak jarang mengabaikan pelajaran yang aku ajarkan. Ia hanya menatap bulan yang bersinar.
Tidak ada pilihan lain. Aku mengadakan ujian sebanyak 10 kali. Ini adalah pilihan terakhirku. Jika teknik ini gagal, aku akan pulang dengan perasaanku yang gusar Jika berhasil, aku bisa tenang dan mereka akan senang denganku.
Jam 21:12, sudah sembilan ujian dilaksanakan. Namun hasilnya belum memuaskan. Nina dan lainnya memilih tidur. Aku dan Zera masih berhadapan sebagai guru dan murid. Berbagai kertas ujian yang sudah dilaksanakan. Hasilnya sangat mengecewakan. Ibunya akan menangis dengan hasil ini.
[Ujian Zera]
[Pertama :F
Kedua : F
Ketiga : F
Keempat :F
Kelima : F
Keenam : F
Kedelapan F
Kesembilan F]
Aku mengadakan ujian terakhir. Jika ini gagal, maka aku akan mencari jalan keluar besok. Aku Sebelum itu, aku mengingatnya yang sedang tertidur pulas di taman akademi. Aku juga melihat sudut pandang Zera. Baik dari matanya yang sayu dan lainnya.
“Zera. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Aku memulai berbicara.
“Kau tidak peduli hasil yang baik dan buruk. Kau selalu dikekang oleh orang lain agar mendapatkan nilai bagus. Ketika nilaimu jelek, tidak sedikit guru kecewa dengan hasilmu. Nina, Diana, dan Sinta menyemangatimu agar kau bisa menjadi lebih baik. Itu percuma. Kau tidak bisa dikekang dan disemangati.”
“Kau hanya melakukan apa yang kau lakukan. Kau tidak perlu takut untuk maju dan menghadapi masa lalu. Kau hanya melakukan yang kau jalani.”
“Aku mohon.” Aku mengambil secarik kertas ujian.
“Kerjakan soal ini dengan kemampuanmu. Kau tidak perlu memaksakan diri. Kau hanya mengerjakan dengan tenang. Itu yang aku minta darimu.” Aku memperlihatkan kertas kosong itu kepada Zera.
Zera menerima kertas itu dengan perlahan dan mulai mengerjakan soal. Aku berdiri dan memperhatikannya dengan tenagaku yang tersisa. Ini cukup melelahkan.
Setelah selesai mengerjakan soal, dia berhenti menulis. Dia memberikan soal itu sambil mendesah, “Sudah. ini. Periksalah!” Dengan senyuman yang tipis itu. Aku merasa lega dengan senyuman itu.
Aku mengambil kertas itu dan segera memeriksanya. Aku memeriksa setiap langkah dan hitungan. Hasilnya, di luar ekspektasiku. Aku menulis huruf A+ di lembar ujian. Zera cukup senang dengan hasilnya. Ia tidak terlalu mengharapkan itu sedari awal. Setelah senang dengan ujian itu, ia tertidur lelap di mejanya.
Aku merasa lega dengan hasil ini. Tidak kusangka hasilnya begini.
Ini sudah jam 10 malam. Aku merasa lelah dengan aktivitas ini. Namun, aku belum ingin tidur. Aku harus menyampaikan ini kepada mereka sebagai kerja keras dari Zera.
Aku mengangkat Zera ke kamar Nina dan segera menyelimutinya, kemudian aku membangunkan mereka bertiga. Ada yang harus kusampaikan kepada mereka pada tengah malam ini.
__ADS_1
Setelah aku membangunkan mereka, Nina dan Sinta terbangun dengan setengah sadar. Diana masih ingin tidur. Ia berharap aku tidur dengannya.
Sinta mulai berbicara, “Ada apa, Rivandy?”
Nina melanjutkan, “Kau menggangguku tidur saja.”
Dengan spontan aku menjawab, “Ini hasil ujiannya,” sambil memberikan 10 kertas ujian Zera kepada Nina dan Sinta.
Nina dan Sinta menerima dan terkejut dengan hasil itu. Mereka cukup bersyukur dengan hasil yang diperoleh. Karena itu mereka memanggilku, “Rivandy! Terima kasih!” Dengan tangisan mereka yang membasahi seragam akademiku.
Aku lupa sesuatu. Aku lupa membawa pakaian ganti. Nina mengajakku secara mendadak, jadi hasilnya begini.
Dengan tangisan itu Diana terbangun dan bertanya, “Ada apa? Ribut begini. Aku tidak bisa kabur,” sambil mengeluh dan mengucek matanya.
Sinta membalas, “Diana. Lihatlah ini!”
Nina melihat hasil ujian Zera dengan mata sayunya. Matanya menjadi fokus melihat huruf A+ di ujian Zera. Diana sangat senang dengan itu. Ia berterima kasih padaku sambil memelukku. Sifat kedewasaan Diana berubah menjadi anak kecil seperti Akishima.
“Terima kasih, Rivandy. Aku menyayangimu,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Aku menjawab, ‘Itu belum seberapa,” menerima pelukan itu.
“Pangeran. Aku ingin bertanya. Bagaimana kamu bisa melakukannya?”
“Itu benar. Aku ingin tahu bagaimana cara menghadapi trauma Zera,” lanjut Sinta sambil mendesakku untuk menjawab.
Setelah menghela nafas, aku menjawab, “Sebenarnya, Zera bisa melakukannya. Hanya saja, dia hanya melakukan apa yang ia lakukan. Kalian tidak perlu menyemangatinya. Kalian hanya perlu melindungi Zera dan memastikan agar ia tidak mengalami kejadian yang sama,” jelasku mengenai solusinya.
“Zera sedang tertidur di kamarmu,” lanjutku menginformasikan mengenai Zera.
“Kebetulan dia tidur. Biasanya dia begadang sampai pagi untuk melihat bulan yang indah,” celetuk Nina sambil tertawa kecil.
“Tunggu. Aku lupa. Kamu tidak membawa pakaian ganti, kan? Aduh! Maafkan aku!” Canda Nina melupakan hal penting.
“Ya iyalah!”
“Kalau begitu, kamu tidur saja di pangkuanku. Kamu pasti lelah,” bujuk Sinta menidurkanku di pangkuannya.
“Bagaimana denganmu? Kau harus tidur juga,” komentarku dalam hati.
“Tidak bisa. Kamu harus mandi dulu sebelum tidur. Aku akan menemanimu,” tawar Diana memegang sabunnya dan membuka sedikit pakaiannya.
“Tidak usah! Aku tidak terlalu ingin mandi,” komentarku.
“Sebagai permintaan maaf, kau boleh menginap disini selama kamu mau,” cetus Nina.
“Baiklah, aku terima tawaran kalian,” terimaku sambil menghela nafas.
Mereka gembira dengan aku yang terpaksa itu. Aku mandi bersama Diana dan melakukan sedikit hal yang nakal. Lalu, aku tidur di pangkuan Sinta. Tak lama kemudian, Nina dan Diana mengenakan piyama mereka dan tidur denganku di ranjang.
Aku yang tertidur dengan manis dan lelap itu dimanfaatkan oleh mereka bertiga untuk menyentuh tubuhku. Mereka memelukku dengan erat dan tenang. Nina dan Sinta tidak sengaja meraba tubuh sixpackku dan Diana tidak sengaja meraba leherku.
Aku tidak menyadari itu, tidak sadar mereka memiliki perasaan padaku. ini seperti Akishima dan gadis lainnya. Jika mereka tahu aku menempel bersama mereka, perang cinta akan dimulai dengan sengit.
Sudahlah! Aku tidak mau memikirkan perang lagi, selalu saja menjadi korban dalam peperangan yang sengit.
Aktivitas yang cukup melelahkan malam ini.
__ADS_1