Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Rivandy Lex 2,7


__ADS_3

Keesokan harinya, aku masih belum bisa sadar karena aku mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sinta selalu memberi kesempatan infus pada tubuhku agar aku tetap hidup. Ia mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhku. Aku hanya remaja yang tanpa kesadaran diberi kasih sayang yang tidak perlu.


Setelah merawatku, ia pergi meninggalkanku dengan koma yang cukup parah. Sinta dan yang lainnya pergi ke akademi untuk mengikuti pelajaran.


Setelah mereka pulang, mereka merawatku. Mereka juga mengharapkan aku bisa bangun dengan sadar dan segera mengajukan pertanyaan padaku. Hanya untuk memastikan bahwa Nyonya Manshery sudah tidak ada di dunia ini.


Diana sudah menduga semua ini.


Nyonya Manshery telah dibunuh olehku. Nona Claveriska sangat senang dengan berita itu. Begitu juga yang lainnya, sehingga Zera dan Nina bisa berterima kasih dan pulang ke apartemen karena agen yang mengejar mereka telah mati.


Berbagai bukti dari penalaran umum yang Diana nyatakan. Diana sudah mengumpulkan pernyataan.


Pertama, dia melihatku yang sedang terluka. Kedua, dia melihat peluru yang digunakan oleh agen MI6, dan terakhir, berita kebakaran rumah Nyonya Manshery.


Dengan itu, misi selesai. Nyonya Manshery telah mati. Namun, dia harus berhadapan denganku sekali lagi. Dengan rasa cinta dan kasih sayang, ia akan menegaskan sesuatu padaku.


Pada saat yang tepat, ….


4 April 2026, jam 06:11, terjadi sesuatu yang rumit. Diana dan Sinta merawatku setelah bangun tidur. Mereka bangun lebih awal daripada yang lainnya agar mereka bisa merawatku.


Jam 06:13, ketika mereka sedang mengobrol, aku membuka mataku dengan kesadaran penuh. Aku terbangun di tempat yang tidak seharusnya. Aku hanya ingin mati. Tapi, mereka datang untuk membawaku kemari.


Aku menjadi kesal karena dibawa ke tempat mimpi buruk oleh sialan itu. Aku seperti dibawa ke neraka karena kehabisan darah. Aku melakukan kesalahan yang besar sekalipun. Aku meninggalkan Sheeran dan Neesan, dan melupakan Aurora dan Akishima. Aku menghilangkan diri dari mereka.


Aku melihat mereka berdua. Aku merasakan mereka adalah bangsawan pada saat itu. Aku mengingat semua dan tidak akan membiarkan mereka hidup dalam kemewahan. Aku akan menghancurkan mereka semua dan membawanya ke neraka.


Aku segera bergerak untuk membunuh mereka. Namun, ada rantai yang sudah terikat di dekatku. Aku mencoba untuk membunuh mereka. Namun, tidak bisa menggapainya. Rantai itu sudah dipasang dengan ketat.


Diana dan Sinta sontak terkejut dengan reaksi itu. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan diperlakukan seperti korban yang tidak bersalah. Sinta sangat takut dengan pasien yang di dekatnya. Jadi, ia berlindung ke Diana.


"Diana. Aku takut," rengek Sinta bersembunyi di belakang Diana.


Diana yang mengetahui keinginan membunuh menggunakan akal sehatnya untuk menenangkanku di tengah kerusakan psikologi.


"Serahkan padaku, Sinta! Aku akan menghentikannya." Diana menyerahkan dirinya.


"Kau sudah bangun, Rivandy?!" Tanya Diana menyapaku.


"Berisik! Aku akan menghancurkanmu, dasar sialan!" Aku memberi ketakutan pada Diana.


Diana terdiam dengan ocehanku. Dia sudah mengerti kenapa aku melakukan hal yang kejam seperti itu Aku hanyalah orang yang memiliki sebuah ketakutan dan trauma yang tidak dapat dijelaskan.


"Aku tidak akan memaafkan bangsawan busuk seperti kalian. Kalian akan kubunuh dan masuk neraka!"


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan damai. Aku akan menghancurkan kepala kelian dan menusuk perut dengan cepat."


Diana hanya terdiam. Dia hanya mendengar ucapanku yang menyakitkan. Diana segera menciumku seperti sepasang kekasih baginya. Aku menerima sebuah ciuman Oneesan Ojou-sama itu. Aku tidak bisa memberontak walaupun aku tidak menginginkan hal itu. Aku hanya ingin dia menghilang.


“Lepaskan aku! Aku tidak akan berhenti sampai kalian terbunuh!” Aku merasa ketakutan dan menghindari ciuman itu.


“Sudah cukup!” Teriak Diana agar aku berhenti.


Aku terdiam sesaat. Aku tidak percaya pada bangsawan di depanku. Aku tidak akan percaya pada omong kosong seperti dia. Aku berpikir dia akan melakukan hal yang buruk padamu.


“Jangan takut, Rivandy! Aku tidak akan menyakitimu” bujuk Diana melakukan pendekatan.


Aku berusaha untuk menghindar dari Diana. Namun, aku sangat takut karena Diana akan menyakitiku. Aku tidak bisa menghindari darinya.


“Tidak apa-apa. Aku tidak akan menyakitimu," bujuk Diana sambil mengelus wajahku.


"Aku tahu kamu sangat membenci bangsawan. Tapi, …." Diana mulai mengungkapkan dirinya dengan kemampuan Klub Teaternya.


"Tidak semua bangsawan itu jahat, kau tahu!" Diana menenangkanku seperti seorang bayi.


"Aku datang kemarin untuk merawatmu."


Aku tidak bisa mengatakan apapun. Sinta hanya terdiam dengan drama itu. Diana sudah membulatkan tekadnya untuk menjadi sosok yang akan membuat Diana menjadi seorang tunanganku.


"Aku akan membuatmu pilihan. Kalau kamu membenciku, kau boleh menghindariku atau memukulmu. Tapi, kalau kamu tidak keberatan, …." Diana melepaskan bajunya.


"Aku sudah bersiap untuk menyerahkan perawanku padamu!" Diana mengungkap ingin mengotori dirinya.


Kenapa ada bangsawan yang akan mengotori dirinya? Kenapa ada bangsawan yang perhatian padaku? Aku tidak butuh kasih sayang lagi. Aku hanya ingin menghilangkan dari sini.


Aku ingin menghindar darinya agar aku tidak mau menyakitinya lagi.


"Kumohon, Rivandy! Kalau kamu masih membenciku, tolong pukul aku dan lakukan sesukamu! Kau boleh membuatku lebih hina lagi! Setelah kamu memukulku, aku berjanji takkan mengenal pakaian lagi selain pakaian akademi," ungkap Diana bersumpah pada dirinya.


"Padahal, tidak semua bangsawan jahat padamu. Aku yakin kamu menderita karena bangsawan itu, kan? Aku rela menjadi wanita yang kotor dan hina karena aku melanggar sumpahku," lanjutnya.


Diana pun berakting seperti wanita yang disakiti. Dia sudah tidak tahan lagi dengan trauma yang ku lancarkan.


Diana tidak mengerti perasaanku. Setidaknya, dia memperlihatkan mahkotanya padaku agar kebencianku pada bangsawan itu memudar. Ini sudah biasa terjadi padaku yang sampah dan tidak berguna itu.


"Kalau begitu, aku akan membuatmu lebih baik. Dengan tubuhku ini, aku akan menyembuhkanmu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan keperawananku. Aku akan melepaskannya untukmu."

__ADS_1


"Ok?"


Aku mengerti. Diana melakukan sesuatu agar aku bisa berhubungan ranjang dengannya. Aku berharap bahwa Diana tidak melakukan hal yang jahat padaku.


Diana melepaskan ikatanku dan menciumku. Aku menerimanya dengan ciuman dan berharap diperlakukan lembut di ranjang. Kalau diperlakukan dengan keras, aku akan menangis. Sinta mengerti dengan cinta itu. Dengan cinta dan kasih sayang, membuatku lebih baik lagi.


"Sinta. Ayo! Kita rawat Rivandy dengan tubuh kita!" Ajak Diana kepada Sinta yang polos untuk berhubungan ranjang denganku.


"Baiklah!" Terima Sinta tanpa pikir panjang.


Mereka segera membuka pakaian mereka dan membuka pakaianku. Mereka memasukkan lubang mereka ke dalam alat yang akan mengeluarkan cairan.


Aku menerimanya sambil mendesah dan tidak bisa melakukan apapun. Ini semua karena sikap mesum bangsawan yang akan memperkosaku. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan ini. Mereka hanya mengobatiku saja. Tidak ada yang lainnya.


"Sinta! Diana! Pelan-pelan!” Rintihku kesakitan karena gerakan cabul mereka.


"Jangan panggil aku begitu! Kau boleh memanggilku Raven. Itu lebih akrab lagi untuk tunangan,” panggil Diana.


"Baiklah. Raven," terimaku dengan wajah yang memerah.


Aku dan Diana berciuman di ranjang. Sinta mengeluarkan cairannya ke tubuhku. Itu sudah cukup membuatku gila. Aku tidak pernah segila ini sebelumnya. Rasanya, aku digangbang oleh gadis bangsawan yang baik.


Setelah 12 ronde berlalu, Diana memelukku seperti seorang kekasih. Sinta juga begitu. Entah kenapa bau mereka menyengat. Aku ingin memeluk dan meremas dada Diana. Setelah itu, aku akan tertidur dengan pulas.


[*^*]


Jam 07:00, Spinx segera menjenguk ruangan yang isinya pasien. Ia segera menjenguk SInta dan Diana untuk mengajaknya sarapan di ruang makan. Ia akan merawatku yang sedang tertidur di kamar karena banyak darah yang mengalir.


“Halo! Nona Diana. Nona Sinta! Aku memanggil kalian untuk ….” Spinx membuka pintu dan melihat adegan panas.


Sina dan Sinta menoleh ke Spinx yang berdiri dengan memperlihatkan tubuh mereka.


“Spinx. Rupanya kamu. Aku kira siapa,” sapa Diana menunjukkan tubuhnya yang hina itu.


“Apa yang kalian lakukan? Aku merasa tidak nyaman pada kalian,” tanya Spinx menjauh dari Diana.


“Tidak apa-apa. Aku memang seorang wanita yang hina untuk Rivandy kesayanganku."


“Silahkan ke ruang makan duluan!. Aku akan segera ke sana bersama Rivandy,” suruh Diana agar Spinx segera


“Baiklah! Maafkan aku! Aku permisi dulu!” Spinx malu dan menutup pintu.


Diana dan Sinta berbaring sebentar. Mereka memikirkan sejenak agar dapat menjalani kehidupan seperti biasanya. Mereka memandang tubuh mereka agar mereka menjadi lebih baik. Diana menatapku dan tubuhnya agar menjadi tunanganku.


Setelah itu, mereka membangunkanku lalu mengajakku mandi. Aku menerimanya dan keluar tanpa mengenakan pakaian apapun. Selama Diana adalah tunanganku, tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan tubuh wanita.


Kami segera mandi dan sarapan pada Hari Sabtu.


[*^*]


Setelah sarapan, aku dipanggil oleh ayah Spinx. Sinta dan Raven segera beraktivitas seperti biasanya. Itu adalah bekerja sampingan. Nina dan Zera berkencan sebentar. Spinx, dan lainnya segera belanja ke supermarket.


Hanya aku dan Claveriska yang tersisa. Kami berhadapan dengan mereka berdua. Ini adalah pertemuan bangsawan antara Inggris dan Perancis. Aku merasa terdiam dengan tatapan Claveriska yang menawan itu.


Aku memanggilnya Clave. Itu bisa lebih singkat lagi.


Tak lama kemudian, aku disuguhkan teh oleh ayah Spinx. Aku menetap teh itu sesaat. Clave berada di sampingku. Ada cemilan dekat teh itu. Clave memakannya seperti Katarina Claes.


“Nak. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan untukmu,” sapa paman itu dengan serius.


“Apakah kamu mengenal Manshery Elizabeth V?” Tanya paman itu sambil memakan beberapa cemilan di meja.


“Apakah kamu menghancurkan bangsawan itu dan membunuh Manshery Elizabeth V?”


Aku menunduk dan mengangguk pelan. Aku takut dia akan memarahiku lagi seperti sebelumnya. Clave hanya menatap pembicaraan itu sambil memakan cemilan.


Paman itu sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa ada seorang yang melakukan hal yang semacam itu. Aku memang melakukan hal yang jahat, namun paman itu memberikan reaksi yang berbeda.


“Nak! Terima kasih atas perbuatanmu! Jika bukan karenamu, entah apa yang akan terjadi di sini jika Manshery melakukan hal yang kejam."


Aku tidak mengerti lagi. Kenapa dia berterima kasih padaku? Aku melakukan hal yang kejam. aku sudah membakar rumah bangsawan sialan itu. Namun, itu hanya memberikan keuntungan bagi yang tersakiti.


“Hentikan! Aku melakukan kejahatan. Aku hanya orang yang busuk dan tidak berguna. Aku hanya ….” Aku mengelak dari paman itu.


“Tenang saja! Aku tidak menganggapmu sebagai penjahat!”


“Claveriska sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Dia memang ceria dan tidak seperti bangsawan pada umumnya. Dia adalah anak yang baik. Membuat hubungan dengan yang lainnya lebih bersahabat. Dia sering melakukan hal yang ia inginkan. Jadi, kalau berkenan ….”


“.... Tolong, jaga dia!“


Itu adalah pesan terakhir dari paman itu.


Aku sedang berada di halaman mansion bersama Clave. Aku sudah berdua di taman mansion yang luas. Mansion yang sepi dengan suasana yang cerah. Hari Sabtu yang sangat menyenangkan dengan keberadaan sepasang kekasih.


“Hei. Clave. Aku ingin mengatakan sesuatu untukmu. Tapi, … setidaknya, kamu tidak akan marah padaku.” Aku memulai pembicaraan itu.

__ADS_1


Clave mendekatiku. Perkataan yang keibuan itu segera memegang tanganku. Tangan yang lembut itu membuatku terpaku dengan wajah Clave. Ingin aku lari darinya, namun, aku memberanikan diri untuk tetap berada di tempat.


“Sudah! Aku mengerti kalau kamu membenci bangsawan. Setidaknya, kamu baik-baik saja."


“Kau benar. Aku memang bodoh. Aku malah membuat keadaan seperti ini,” balasku menatap Clave dengan mata yang cukup ketakutan.


“Tidak apa-apa! Ini sudah biasa terjadi. Namun, aku akan menemanimu. Setidaknya, aku diterima sebagai tunanganmu,” lontar Clave menenangkanku.


Dengan sosok yang tenang itu membuatku ingin memeluknya. Tubuhku menyentuh perut dan dadanya. Aku merasakan tubuh yang wangi dan harum. Ini sama seperti pelukan sebelumnya. Aku ingin berada di sini sebentar saja.


“Clave.” Aku memanggil Clave.


“Iya.” sahut Clave.


“Aku ingin menangis. Apakah kamu tidak keberatan?” Tanyaku sambil menahan air mataku.


“Aku ingin berada disini. Aku takut. Aku tidak mau. Aku akan terus menderita selama hidupku. Habisnya, aku ….” Aku mulai mencurahkan hatiku.


“Tidak apa-apa. Lagipula, kamu adalah tunanganku,” jawab Clave mendengar curhatanku.


“Jadi, mohon bantuannya!” Clave tersenyum membalas pelukanku.


Aku mengucurkan air mataku sambil memeluk Clave seperti kakakku sendiri.


Di tengah momen itu, Nina menghampiri kami yang berpelukan itu. Ia sangat iri karena ada suasana yang romantis. Sontak membuat sebuah cuitan yang tidak terelakkan.


“Cie! Ada yang sedang romantis,” canda Nina dengan tatapan menggombal.


Dengan candaan itu, aku melepaskan pelukanku dan menahan rasa maluku. Aku tidak percaya aku telah dipermainkan oleh teman sekelasku sendiri.


“Sudahlah! Bukan berarti aku ….” Wajahku mulai memerah dan mulai bersikap seperti anak gadis.


“Aku paham, kok. Karena Zera selalu memelukku dengan romantis,” jawab Nina mengingat pengalamannya.


“Ayo! Aku akan mengajakmu keluar! Kalau mereka tahu, kamu akan dimarahi,” lontar Nina segera meninggalkanku.


“Maafkan aku!” Aku menyesal dan ingin meminta maaf.


Aku ditemani oleh Clave. Dia memegang tanganku karena dia sudah percaya denganku.


Aku sudah berada di samping mereka. Jadi, mereka akan membawaku ke suatu tempat.


[*^*]


Setelah keluar dari mansion, kami segera ke taman untuk berkumpul. banyak siswa dan siswi segera berkumpul denganku.


Kami melihat ada orang yang banyak. Bahkan, Sheeran sedang berada di situ. Aku pikir dia tidak ada. Belum jelas tujuan Sheeran datang ke kemari untuk apa. Yang pasti ia akan mengatakan sesuatu padaku.


Sheeran menghampiriku. Aku memohon Clave untuk segera melepaskan tanganku. DIa menerimanya. Sekarang, aku sudah berhadapan dengan Sheeran.


“Maafkan aku! Aku tidak mengerti perasaanmu. Karena aku egois, jadi aku meninggalkanmu.”


“Jadi, aku mohon. Bisakah kita mengulangi hubungan ini dari awal? Aku akan bertanggung jawab."


Aku menerimanya dengan anggukan kepalaku. Aku ingin mengulangnya dari awal. Aku berjanji untuk tidak mengecewakan Sheeran untuk kedua kalinya. Sekali saja sudah cukup. Tidak boleh ada kejadian yang kedua kalinya.


Aku sudah berbaikan dengan Sheeran. Aku berpelukan seperti suami istri lagi. Bau Sheeran sama seperti bunga violet. Aku sampai ingin menangis lagi. Aku takut dengan keberadaan yang sebelumnya terjadi.


“Rivandy!” Kedua gadis itu menatapku dengan aura kemarahannya.


“Aku sudah mencarimu selama 3 hari berturut-turut! Tapi, kamu tidak bisa ditemukan,” omel Akishima berhadapan denganku.


“Bisa-bisanya kamu berada di tempat yang mewah itu. Lain kali, aku akan merantaimu,” lanjut Aurora sambil memegang rantai.


“Maafkan aku!” Aku meminta maaf pada mereka yang mencariku di seluruh kota Moskow.


"Rupanya kamu disini. Darimana saja kau?" Akishima menghampiri Sheeran.


"Berisik! Ini bukan urusanmu." Sheeran mulai bertengkar.


"Sheeran menghilang. Zhukov mencarimu kemana dan kau terkena ceramahnya." Aurora membeberkan rahasia.


"Kau juga!" Teriak Sheeran.


“Tapi, sudahlah! Ayo! Kita akan foto untuk kenangan,” ajak Aurora mengajakku ke sebuah tempat.


Aku segera menemui kerumunan itu. Zera mulai berteman dengan Zhukov. Spinx dan lainnya saling berkumpul. Sinta dan Raven sudah berada di samping mereka.


Denis dan Hammer segera memelukku. Aku sudah baik-baik saja. Eleva memarahiku karena harusnya Eleva membunuh bangsawan itu. Tapi, sudahlah! setidaknya, itu berikan peluang untukku.


Sedangkan gadis lainnya, Rin, berkumpul dan berinteraksi. Saphine melakukan hal yang sama seperti gadis lainnya. Ini menandakan hubunganku yang cukup banyak itu. Aku tidak bisa menghitungnya. Itu terlalu banyak di penglihatanku.


Semuanya berkumpul. Kami pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu kami. Banyak gadis yang mengerumuni. Aku tidak keberatan dengan itu. Aku sudah merasa lebih baik lagi. Mereka sangat baik padaku, sehingga aku tidak akan menuju ke kegelapan itu lagi.


Aku mengingat Evelyn yang sudah menghilang itu. Aku tidak mengerti. Namun, aku akan terus meningkatkan kekuatanku agar tidak terulang lagi.

__ADS_1


Evelyn. Kalau kau menemukanmu, aku akan melakukan hal sesuatu padamu. Kau akan terkejut dengan itu. Aku akan … menemukanmu dan segera membawamu ke tempat yang cukup nyaman ~ Rivandy Lex.


__ADS_2