Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Musim Dingin Moskow : Awal Musim Dingin


__ADS_3

1 Desember 2025, jam 07:12, musim dingin di kota Moskow telah tiba. Para penduduk Moskow mulai mengenakan seragam hangat. Mantel, syal, dan sarung tangan ada dimana-mana. Mereka juga menggunakan penghangat ruangan di rumah mereka agar bisa menghadapi musim dingin.


Seorang remaja yang bernama Wahyu mengendarai kendaraan pembersih salju. Dia diberi upah menengah atas pekerjaan itu. Karena itu, Wahyu bekerja dengan baik dengan kendaraan pembersih salju.


Ketika ia membersihkan salju di Moskow, ada sekumpulan siswa yang sedang pergi ke akademi. Mereka pergi ke akademi secara bersama-sama. Kemudian, mereka berjalan di atas salju yang cukup dingin itu.


Sinta dan Diana sudah berada di sisi Zera. Nina juga tidak ketinggalan. Ia berada di samping Sinta. Jadi, Zera merasa tidak terlalu khawatir. Hanya ekspresi murungnya.


"Zera. Apakah kamu merasa hangat?" Tanya Sinta perhatian pada Zera.


“Hm.” Zera mengangguk pelan.


“Syukurlah! Kalau kamu masih kedinginan, kita ke hotel, yuk!” Ajak Sinta untuk mengajaknya bermalam di hotel.


“Kita punya apartemen,” cela Zera.


“Iya. Aku akan menemanimu di apartemen. Jangan khawatir!”


“Aku ingin mendapatkan uang sekarang juga. Aku harus mengajaknya kencan pada Natal nanti." Diana bertekad.


“Heh? Kamu ingin mau mengajak Rivandy berkencan?” Tanya Nina mendengar tekad Diana.


“Iya. Aku akan mengajaknya ke Paris dan mengajaknya ke hotel,” tekad Diana dengan mata bersinar.


“Aku tidak yakin dengan soal itu. Soalnya, Rivandy akan absen bulan ini Aku mendengar dari kepala sekolah,” respon Nina.


“Kalau Rivandy tidak masuk akademi kali ini, itu bisa menggemparkan akademi, lho,” komentar Sinta berada di hadapan Nina.


“Itu benar. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mendapatkannya sekarang juga,” tekad Diana dengan membara.


“Diana,” panggil Zera sambil menepuk bahu Diana.


“Tenangkan pikiranmu kepadanya!”


“Dia tidak apa-apa,” lanjutnya.


“Aku akan mengurusnya nanti,” tekad Zera dengan mata kantuknya.


Diana dan Sinta itu merasa lega dengan Zera.


“Kau benar Zera. Aku akan mengajaknya saat malam Natal lagi,” balas Diana.


“Syukurlah, Zera! Aku akan membalas kebaikanmu,” lanjut Sinta memeluk Zera sambil menangis.


Zera tidak tahan dipeluk Sinta karena tubuhnya yang halus dan perawan telah menyentuhnya. Zera mengeluarkan aura menjijikannya dengan kekuatan Inside Out. Disgust dari Zera segera memberi perintah apa adanya untuk mengeluarkan aura menjijikkan itu.


“Menjijikan, menghilanglah!” Wajah Zera menjadi sinis melihat pelukan itu.


Tangisan SInta menjadi-jadi. Kali ini Sadness dari SInta memberi perintah untuk menangis. Setelah saraf sensorik menghampiri otak, otak itu segera melancarkan saraf motorik kepada Sinta.


“Zera jahat!! Aku membencimu!” Teriak Sinta dan segera lari menuju Nina.


Sinta memeluk Nina sambil menangis keras. Nina menerima pelukan itu sambil mengelus kepala yang dipenuhi rambut perak itu. Nina dengan aura keibuannya segera melancarkan aksinya untuk membuat Sinta tidak menangis.


“Sudah. Sudah. Kamu jangan menangis! Dia tidak jahat, lho,” nasehat Nina memeluk Sinta.


“Zera. Jangan begitu! Sinta memberikan perhatian padamu,” tegur Nina kepada Zera yang mengantuk.


“Percuma. Zera mengantuk kali ini. Dia tidak mendengarkan cemarahku lagi,” respon Nina melihat langkah Zera semakin cepat meskipun ia mengantuk.


“Zera! Dengarkan aku! Jangan abaikan aku!” Tegur Nina.


“Aku ke akademi sekarang,” balas Zera menoleh ke Nina dan memainkannya lagi.


“Jangan tunggu aku!” Lanjutnya meninggalkan ketiga gadis itu.


Zera mempercepat langkah kakinya meskipun udara dingin Moskow menyerang kulitnya, tidak peduli dengan rintangan musim. Ia ingin meninggalkan mereka karena mereka sangat menyebalkan.


Meskipun Zera, Nina, Diana, dan Sinta kenal dari kecil. Namun, Zera hanya mengabaikan mereka. Mereka terus menerus menempel di sisi Zera. Ia merasa ditekan oleh suatu tekanan dari gadis itu.

__ADS_1


Namun, semua itu sirna dengan seorang siswa yang mengajarinya belajar. Ia juga bisa memikat semua gadis dengan mudahnya. Itu yang membuat harapan Zera menjadi bersinar. Dia melakukan apa saja untuknya agar bisa mewujudkan permintaan yang Zera inginkan.


Itu adalah Pangeran Akademi, Rivandy.


Aku harap Rivandy merebut semua gadis dariku. Aku tidak ingin mereka di sampingku. Aku hanyalah antisosial ~ Zera Lelousiana.


[*^*]


Jam 07:23, aku pergi ke sekolah bersama dua orang kakak dan satu tuan putri. Ia menggunakan mantel dari Perancis dan mengenakan sebuah bunga yang hanya ada di musim dingin yang terletak di kepalanya sebagai hiasan.


Aura-neechan dan Spinz-niichan tidak mengenakan apapun yang menghangatkan mereka .Seragam akademi mereka dengan jas almamater militer. Itulah yang mereka kenakan. Jas almamater itu diberikan ke siswa dan siswi sejak mereka diterima


Jas itu dikenakan hanya saat musim dingin. Aku berpikiran buruk pada saat memikirkan almamater itu. Tapi, aku hanya ingin membuat Nona Claveriska tidak kedinginan Aku juga bersiap untuk menghangatkan tubuhnya. Bukan berarti aku tidak melakukan hal yang aneh.


“Spinx, ada apa? Kamu melamun?‘“ Tanya Spinz-niichan membuat lamunanku memudar.


“Hayo. Kamu memikirkan apa? Apakah aku harus merayumu agar kamu tidak melamun lagi,” Aura-Neechan mendekatiku.


“Hentikan! Kamu bisa membunuh Rivandy-dono,” cocorku dengan perasaan jijik.


“Heh? Tidak! Aku hanya ada di sampingmu. Kalau kamu mau, kamu boleh masuk ke kamarku dan segera mengeluarkan cairanmu.” rayu Aura-neechan menggeliat di tubuhku.


“Kamu tidak boleh melakukan itu. Kita adalah Klan Sentinel. Tidak boleh pernikahan antar saudara!” Tegur Spinz-niichan dengan entengnya.


“Eh? Kamu ngomong apa sih? Tidak jelas,” hina Aura-neechan dengan aturan itu.


“Jelas, kok. Kalau tidak, aku akan melaporkan pada Mama,” ancam Spinz-niichan.


Di tengah pertengkaran itu, Nona Claveriska membuka ponselnya dan melihat pesan. Setelah itu, ia berbalik badan dan segera memperlihatkan sesuatu pada mereka di depan layar ponsel.


“Spinz. Aura. Andika mengirimkan tugas kepada kalian. Pastikan kalian harus mengerjakan sekarang juga!” Pinta Nona Claveriska.


“Tidak mau! Aku benci tugas,” tolak Aura-neechan dengan mentah-mentah.


“Hmph! Dasar pemalas!” Sindir Spinz-niichan tertawa kecil.


“Kau yang terlalu santai,” balas Aura-neechan.


Aku tidak mengerti lagi dengan perilaku mereka. Aku memilih untuk diam di tengah suasana musim dingin yang menghantui. Aku merasakan diabaikan oleh mereka dan memandang kota Moskow dengan salju yang indah itu.


Sesampainya di akademi, kami memisahkan diri dari gerbang dan menuju ke akademi Aura-neechan dan Spinz-niichan segera memisahkan diri dan menuju ke Kelas I Saintek C. Aku menemani Nona Claveriska dan tidak akan membiarkannya sendirian.


Aku melihat aura yang cukup mengkhawatirkan darinya. Dari instingku, aku merasakan kegelisahan dari dirinya. Aku melihat Nona Claveriska sedang menyalurkan hasratnya kepada Rivandy-dono. Aku segera memberikan perhatian padanya.


“Nona. Apakah kamu kedinginan?”


“Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu,” jawabnya berbohong.


“Kamu memikirkan Rivandy-dono, kan?”


Nona Claveriska menjadi pucat karena pertanyaan itu. Ia tidak berpikiran bahwa ia ketahuan. Diharapkan aku tidak melihatnya dengan pose memalukan itu. Aku segera memberikan perhatian padanya agar dia tidak gusar, berjalan cepat dan segera menghentikan Nona Claveriska dengan tepukan bahuku. Sejak saat itu, aku bertekad untuk menenangkannya.


“Tidak apa-apa. Aku akan menyerahkan Rivandy-dono padamu. Dia tidak akan keberatan dengan ajakanku. Hanya saja, Aku akan mengurus Aura-neechan dan membiarkanmu beromantis dengannya" sahutku.


“Habisnya, Rivandy-dono adalah seorang Pangeran yang akan bertunangan denganmu.”


“Maka dari itu, tolong jangan cemas!” Aku meyakinannya dengan senyuman.


Aku jarang tersenyum karena aku memiliki masalah yang kompleks. Aku hanya tersenyum kepada Nona Claveriska agar dia tidak sendirian lagi. Dia membalas senyuman ketika melihat senyuman manisku.


Dengan itu, kami berlalu ke kelas dengan kedua senyuman di wajah kami. Sebelum ke kelas, aku melihat ada sekumpulan gadis yang sedang bergosip. Mereka membicarakan Rivandy-dono.


Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang pasti merasakan hal yang buruk yang akan terjadi padanya. Aku tidak mendengarkan apa yang mereka lontarkan padaku.


Aku mendengar setiap kata yang mereka lontarkan kepada teman mereka. Sangat cemas ketika mereka kehilangan sosok yang dicintai Mereka menahan nafas mereka untuk menahan rasa duka meeeka.


Apa yang terjadi padamu, Rivandy-dono?


[*^*]

__ADS_1


Jam 07:10, Eleva dan Andela berjalan bersama keenam siswa dan siswi itu. Eleva tidak terlalu peduli dengan obrolan mereka. Andela mengobrol dengan Shiori dan Bella dengan akrab. Andika dan Yudha terus mengganggu Eleva yang tidak mengenakan jas almamater


“Eleva. Kamu kok gak pake jas? Apa gak kedinginan?” Tanya Andika mendekati Eleva.


“Iya. kamu kuat banget. Sixpack lagi. Nanti ada tante cantik yang merayumu,” lanjut Yudha dengan tatapan mesumnya.


“ ....” Eleva hanya terdiam dan memalingkan wajah mereka.


Andika dan Yudha merasa diabaikan. Tapi tidak berarti mereka ada tapi tidak dianggap. Eleva hanya malas meladeni mereka. Ia tidak mau berurusan dengan mereka dengan sepele. Soalnya, Eleva benci dengan basa-basi.


“Eleva. Oh. Elevator!” Panggil Andika dengan usil.


“Wah! Nama yang bagus nih! Elevator!” Lanjut Yudha.


“Elevator!”


Eleva yang tidak bisa tenang itu, mengeluarkan pisaunya dan menyerang mereka. Andika dan Yudha tidak menyadarinya dan menahan serangan dengan reflek tanpa sadar.


“Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan membunuhmu,” ancam Eleva dengan menggenggam seragam Yudha.


“Huft! Kamu no life banget,” lontar Yudha melepaskan genggaman Eleva.


“Tapi, kamu dapat pacar yang cantik dan menggoda itu. Aku menangis melihat ini,” lanjut Andika ingin menangis.


“Sudah kubilang … aku dan Andela hanyalah teman masa kecil saja!” Teriakan Eleva membuat mereka terdiam.


Di tengah teriakan Eleva, Andela, aku, dan Shiori sedang mengobrol dengan enaknya. Farah dan Wulan ikutan juga. Mereka menggosip sesuatu. Ini sudah seperti ibu-ibu yang sedang menggosip setelah pulang dari pasar.


“Maafkan aku yang melihat kelakuan usil mereka!” Aku meminta maaf kepada Andela.


“Tidak apa-apa. Eleva memang seperti itu. Dia memang kasar. Tapi, dia tidak jahat, kok,” jelas Andela mengenai sifat Eleva.


“Lalu, kamu seperti pangeran. Dengan siapa yang sama seperti Pangeran Rivandy. Kamu adalah gadis seperti Rivandy.” oceh Andela dengan mesumnya.


“Berhenti mengatakan yang itu kalau tidak aku akan menghajarmu!” Aku mengepal tangan untuk memukul Andela.


“Aku sudah menciumnya. Dia merasa kehangatan dan ingin nambah lagi,” jawab Shiori dengan wajah memerahnya dan penuh dengan rasa cinta.


“Wah! Kamu main berapa jam? Apakah kamu akan hamil?” Tanya Andela penasaran dengan Shiori.


“Jangan bilang seperti itu!” Cocorku kepada gadis mesum.


Shiori tertawa dengan pertanyaan itu. Ia menjawab, “Setelah lulus, aku akan mengambil cairannya dan membuatnya jadi milikku. Aku akan merebutnya dari Aurora dan menjadikan dia suamiku,” tawa Shiori dengan mata cintanya.


“Rasanya aku ingin menghajar Onii-chan,” pikirku mencoba meredakan kekesalanku.


“Coba kamu minum alkohol! Aku membawa alkohol untukmu agar kami bisa minum bersama-sama dan ….” Ucapan Andela terhenti dengan sebuah pisau yang mendarat ke alkohol


Alkohol itu tumpah dan mengenai salju, sehingga membaut salju itu meleleh dengan air alkohol yang terbuang.


“Kyaa! Alkoholku!” Teriak Andela


Eleva mengabaikan Anidka dan Yudha dan menghampiri Andela dengan amarah. Ia segera mengambil pisaunya dan menumpahkan botol alkohol itu ke lantai. Andela hanya terdiam dengan tindakan Eleva yang kasar. Ia tidak tahu apa yang harus diucapkan padanya.


“Jangan minum alkohol! Kau hampir membunuhku sebanyak 10 kali karena kau meminum alkohol ” cocor Eleva pada Andela dengan amarahnya.


“Tapi, Eleva. Aku ….” Andela menjelaskan sesuatu pada Eleva.


“Tch! Jangan minum lagi atau aku akan menghajarmu!” Potong Eleva dan berjalan menuju ke akademi, mengabaikan sekitar dan pemandangan salju.


Melihat Eleva yang marah itu, aku dan Shiori mengomentari apa yang telah terjadi. Kami hanya terdiam lesu dan datar. Aku tidak tahu apa yang Eleva perbuat. Namun, sangat kasar kepada wanita. Ingin sekali aku memukulnya. Tapi, aku urungkan.


Aku beralih ke Andela dan wajahnya mermerah. Ia merasa hasrat dan nafsu birahinya meningkat. Ia segera mengambil sisa alkohol itu dan meminumnya walaupun aku dan Shiori tidak menghentikan dia. Stres aku melihat ini.


“Aku tidak tahu apa yang Andela pikirkan,” komentarku melihat Eleva memarahi Andela yang berwajah mesum.


“Iya. Aku harus menyelamatkan Rivandy dari Aurora. Dia akan mati karena Aurora minum alkohol,” lanjut Shiori.


Sejak saat itu, situasi menjadi seperti semula. Eleva masih cuek kepada Andika dan Yudha. Kami para gadis sedang ikut-ikutan gosip biar mencerahkan suasana di Kota Moskow yang dingin.

__ADS_1


Kami pergi ke akademi dan aku mendapatkan firasat yang buruk. Eleva merasa tidak bergerak sejengkal sekali pun. Hanya ekspresi diam dengan kondisi yang heboh tersebut.


Apa yang terjadi? Jawab aku, Rivandy! ~ Eleva


__ADS_2