Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Serangan Balasan dari Kakak Perempuan 1,2


__ADS_3

"Aurora! Dengarkan aku! Ini bukan yang seperti yang kau pikirkan!" Aku mencoba menjelaskan sesuatu pada Aurora.


Aurora merasakan suatu kegelapan yang terulang kembali. Hanya terdiam setelah mendengar pengumuman itu. Ia takut aku akan meninggalkannya. Kalau itu terjadi, hati Aurora akan hancur lebur karena aku menghilang. Padahal, Aurora baru berumur 14 tahun, tapi sikapnya semakin lama semakin dewasa.


"Rivandy. Dengarkan aku!" 


"Apa itu?" Tanyaku merasa cemas dengan kondisi Aurora


Aurora mendekatiku yang berada dalam kondisi mencemaskan. Dengan tenang memberikan ciuman padaku. Ciuman itu memecahkan pikiranku. Aku merasakan hal yang sama. Aku ingin sekali lari dari kenyataan. Namun, tidak bisa. Aurora sudah berada di sampingku. Jadi, aku takkan bisa melakukannya.


Setelah Aurora menciumku, dia melepaskan tubuhku. Dia dengan tas yang dibawa ditenteng di punggungnya dan segera memegang tanganku. Ia dengan hangatnya memberikan perhatian yang cukup baik padaku. Aku tidak mempedulikan lingkungan sekitar. Pandanganku hanya terpaku dengan Aurora..


"Aurora. Kamu …."


"Tenang saja. Kalau kamu ingin sekali melakukan seperti itu, kenapa kamu tidak katakan saja padaku lebih awal?" Tanya Aurora memelukku dengan cinta dan hangat.


"Kalau kamu berani, cium aku dan tolong buka bajuku! Aku akan selalu berada di sisimu meskipun dunia ini sangat rapuh," titah Aurora memegang tanganku dan merasakan dadaku.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku terkejut dengan sikap Aurora yang berubah.


"Bukankah kamu terlalu mudah dirayu oleh gadis lain? Aku tidak mau kamu bersama gadis lain," balasnya tidak mau melepaskan pelukannya.


Aku tidak mengerti. Kenapa Aurora tiba-tiba berbuat sejauh ini? Aku tidak berencana untuk melakukan hal yang mesum pada Aurora. Padahal, ini hanyalah mengembalikan suhu tubuhku. Aku tidak tahu bahwa Aurora menjadi lebih serius. Aku malah membuatnya cemas dengan kehilanganku karena ia percaya padaku


Pemikiran gadis itu sangat rumit. Bahkan, matematika tidak bisa memecahkannya.


"Aku pikir … kamu akan marah padaku. Aku salah menilaimu. Aku … membuatmu sakit hati lagi,” sesalku merasa bersalah karena menyakiti hati Aurora.


“Lupakan dengan itu! Kalau kamu tidak menciumku, aku akan meminum alkohol sekarang juga,” sodor Aurora memulai memegang botol alkohol di tangannya.


Entah kenapa tubuhku merinding setiap kali mendengar kata alkohol. Aku tidak mengerti kenapa aku ketakutan. Kenapa setiap kali aku ketakutan ketika Aurora memegang botol alkohol?  Aku tidak bisa kabur darinya. Percuma kabur tapi dia bisa mengejarku sampai ujung dunia.


Aku harus menghindar darinya kalau dia minum alkohol.


“Sudah cukup! Jangan alkohol lagi! Lagipula, darimana kamu mendapatkan alkohol?” Tanyaku mencoba menjauh dari Aurora.


“Aku diberikan oleh anggota Klub Saintek,” jawab Aurora dengan entengnya. 


“Kenapa kita tidak melakukan itu di apartemenmu saja? Kau bisa melakukan apa saja padaku,” cegahku tidak membiarkan Aurora untuk meminum alkohol.


“Ide bagus. Kita pulang saja!‘ Ajak Aurora pulang ke apartemen.


Aku mengikuti jejaknya dari jarak jauh. Merasakan Aurora ingin melakukan sesuatu padaku. Ia dengan seriusnya mengatakan hal yang intim padaku. Aku tidak tahu kenapa Aurora melakukan hal itu. Ini seperti sebuah teka-teki yang belum bisa dipecahkan.


Sebelum pulang, ada sekelompok para gadis yang akan mengejar kami. Aurora mengajakku lari dari kejaran mereka karena mereka mengincarku. Para pengejar itu menggunakan senjatanya agar menghentikanku dan Aurora. 


Aurora lari dengan cepat. Aku tidak bisa mengejarnya lagi. Aku takut ditangkap lagi. Aku mencoba menyamakan kecepatan lari Aurora. Namun, tidak bisa. Dia terlalu cepat, sehingga aku merasakan kelelahan.


Aurora memegang tanganku dan berlari bersama. Aku tidak bisa menahan semua  itu. Kaki ku terasa sakit, sehingga ini mencapai batas. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berhenti dan memberitahu Aurora kalau aku tidak bisa lari dari para pengejar.


“Aurora. Sudah cukup! Aku tidak bisa lari lagi,” keluhku tidak bisa lari lagi menahan nafasku.


“Kalau kita tertangkap, kau tidak bisa mengambil keperawananku.” Aurora malah mengkhawatirkan sesuatu.

__ADS_1


“Tapi, aku ….” Ucapanku terhenti karena para pengejar itu sudah mengepung kami.


Benar saja. Para mengepung dari Klub Pangeran sudah mengepung kami. Aurora berniat untuk keluar dari pengepungan itu. Ia biasa saja meloncat dari atas dan segera kabur. Namun, ia masih mempertimbangkanku untuk melarikan diri.


$aat kami terpuruk,  ada dua wanita yang menembak para pengepung itu. Mereka mengenakan seragam yang cukup ketat dan menggoda. Dengan sosoknya itu membuat wajahku memerah.


Dengan rok mini dan baju akademi yang mereka kenakan digunakan sebagai Bandeau. Dengan sosok itu, mereka menghampiriku dan segera menyelamatkanku dari pengepungan itu meskipun Aurora merasa tidak percaya dengan mereka.


“Ara Ara. Ayo, Lari!” Ajak wanita yang mengenakan seragam akademi yang menggoda.


“Kita akan segera menghabisi para janda ini,” lanjut wanita lainnya menembak gadis dengan jitu dengan Five Seven.


Aku dan Aurora menerima uluran tangan itu dan segera kabur dari kejaran mereka. Kami kabur dengan bantuan kedua wanita itu.  Mereka menembak dan mengenai target dengan mudah karena sifat Oneesan yang membuat mereka menjadi lebih kuat.


Entah kenapa mereka menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Sifat mereka menjadi berbeda seperti sebelumnya. Mereka menjadi lebih dewasa dibandingkan dengan mereka yang biasa. Dengan sifat Oneesan Ara Ara itu, mereka bisa mengalahkan pengepung itu dengan dada rayuan mereka dan membawaku dan Aurora keluar dari akademi.


Setelah kami meninggalkan akademi dengan peluru 300 Winchester Magnum dan 5,7 x 28 mm, kami segera berlari menuju ke tempat yang aman untuk berlindung. Kedua wanita itu mendekatiku dan menghampiriku. 


Wanita mengenakan rok mini dan bandeau mendekatiku dan meraba tubuhku. Dengan seenaknya membuatku terangsang. Aku tidak tahu tujuan mereka. Tapi, ingin sekali berterima kasih pada mereka. Dengan tubuh yang dewasa, membuatku teringat dengan seseorang yang sangat penting bagiku.


“Ara Ara. Sekarang kamu sudah aman. Aku tidak akan membuatmu lepas dariku,” rayu wanita yang ingin memelukku.


“Ayo, Suamiku!! KIta pulang yuk! Aku akan menginap di apartemenmu,” ajak wanita yang mengaku sebagai istriku.


“Sial! Kenapa kalian selalu merayu Rivandy?” Tanya Aurora memarahi kedua wanita itu.


Wanita itu tertawa sedikit. Ia menjawab, “Ara Ara. Jangan begitu, Aurora! Kami sedang menyembuhkannya,”


“Dia sudah resmi jadi suamiku. Aku tidak akan membiarkannya direbut oleh para janda,” lanjut wanita yang satunya.


“Aku pulang dulu. Aku akan menghabisi mereka semua. Kalian jagalah Rivandy,” pamit Aurora meninggalkan kedua wanita itu.


“Aye Aye. Istri Rivandy,” sahut wanita yang memegangku.


“Jangan khawatir! Aku tidak akan selingkuh lagi,” lanjut wanita yang satunya memegang Five Seven.


Aurora meninggalkan kedua wanita itu dan menghadapi para pengejar itu. Kedua wanita itu segera membawaku dan memegang tanganku dengan dada mereka. Mereka mengajakku ke apartemen Akishima dan melakukan sesuatu yang cukup mesum dengan kedua wanita itu.


Sepertinya aku kenal mereka. Tapi, mereka siapa?


[*^*]


24 Januari 2026, jam 06:00, di sebuah ranjang ditempati oleh aku dan kedua gadis itu, kami tidur bersama dengan kasih sayang. Akishima dan Sheeran tidur dengan berantakan. Aku yang dipenuhi oleh bau menyengat bertebaran di tubuhku. Aku merasakan sebelumnya. Hanya tidak mengingat apapun.


Akishima terbangun dan melihat tubuhnya. Melihat pakaian yang sedang berserakan. Gadis yang lainnya tertidur pulas karena ia sudah tidak mampu lagi.


“Eh?! Kenapa aku tidak mengenakan apapun?” Tanya Akishima merasa terkejut tubuhnya terlihat.


“Sudahlah! Aku harus mandi dulu, lalu aku membuat sarapan untuk mereka, terutama untuk Rivandy,” lanjutnya segera menuju ke kamar mandi meninggalkanku di kamar.


Akishima menuju ke kamar mandi dan menyalakan air panas di bathtub nya. Mengusap tubuhnya dan menggunakan Listerine untuk membersihkan mulutnya. Dia berendam dengan bau sabun berbau bunga Sakura. Ini sebabnya tubuh Akishima seperti bunga Sakura.


Ketika tidak bisa mengenakan samponya,  ia menunda keramasnya itu. Memilih berendam dan berniat untuk mencari seseorang agar bisa membantunya untuk mengeramas rambut panjang itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, aku datang ke kamar mandi. Akishima sangat bahagia karena keberadaanku. Ia langsung menghampiriku dan memberikan bantuan padaku. Tidak peduli dengan air yang ada di bathub yang membasahi tubuhnya.


“Rivandy. Aku tidak bisa mengeramas rambutku. Bisakah kamu membantuku? Aku sangat tertolong,” mohon Akishima menyodorkan sampo miliknya padaku.


Aku tidak menjawab apapun. Hanya menahan semua perasaanku dari dalam. Dengan mata kosong itu, Akishima semakin bingung apa yang aku pikirkan. Ia mengira aku tidak sehat karena kejadian semalam.


“Rivandy. Apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu tidak sehat,” tebak Akishima merasakan cairan putih yang memenuhi tubuhku.


Aku memeluknya dengan erat. Merasakan bau bunga Sakura yang merasukiku. Aku baru tahu Akishima selalu menggunakan sabun bunga Sakura. Jadi, aku merasa kejadian kemarin malam yang sangat panjang dan menyenangkan.


“Yamero! Apa yang kau lakukan?” Akishima membentakku karena aku memeluknya.


Akishima memberontak karen merasakan ketidaknyamanan tubuhnya yang berbau Sakura. Keramas rambut saja tidak bisa. Diperlukan waktu lama untuk mengeramas rambut Akishima.


“Neesan. Aku tidak tahan berada di ranjang lagi. Kalau boleh, aku akan membantumu,” keluhku karena tubuhku semakin melemah.


“Eh? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti,” tanya Akishima melihatku yang memeluk Akishima.


Aku mengambil sampo yang ada di tangan Akishima dan melepaskan pelukan itu lalu dengan paham membantu Akishima dengan senang hati. Aku membawanya ke tempat duduk untuk bisa mengeramas rambutnya. Kemudian, aku mengambil semprotan air dan membasahi rambut Akishima.


“Aku akan mengeramas untukmu, Neesan. Jangan khawatir! Aku akan membuatmu lebih harum,” cetusku mengeramas rambut Akishima dan segera membersihkannya.


Akishima terkejut dalam hatinya. Ia merasakan ada yang tidak beres padaku. Ia melihatku yang mengeramas rambut yang panjang dan merepotkan. Aku dengan perhatian pada seorang kakak segera menyemprotkan rambutnya dengan air. Kemudian, aku merapikannya sedikit.


Setelah mengeramas rambut Akishima, Memeluknya dan melayaninya. Aku mengangkat keluar dari kamar mandi. Aku membawanya ke kamar dan mengenakan baju untuknya. Aku memilih baju untuknya dan segera menganakan pakaian untuknya. 


Setelah berpakaian, Akishima mencocorku. Ia mengucapkan,“Chotto matte! Ada yang aneh yang terjadi padamu.Ada apa denganmu, orang asing?!”


“Eh? Habisnya, Neesan memintaku untuk melayanimu. Karena kamu ,” jawabku penuh perhatian dengan mata sayu dan penuh aura kasih sayang meskipun tanpa senyuman sekali pun.


“Nee-Neesan? Apa yang kau pikirkan? Aku Akishima, bukan Neesan,” cela Akishima tidak mau dipanggil kakak perempuan.


“Kemarin, kamu menghampiriku dan merayuku. Lalu, kamu mengajakku ke apartemenmu dan bermain sepanjang malam. Kamu juga menyuruhku memanggil Neesan kemarin malam. Jadi, aku menuruti perkataanmu tadi malam,” jelasku mengenai kejadian malam.


“Eh? Ranjang? Tunggu dulu. Jangan-Jangan ...”


Akishima sadar apa yang terjadi. Karena penyiksaan video dewasa dari Andela membuat Akishima berubah menjadi Oneesan Ara Ara. Dia juga tidak sadar dengan perbuatannya. Teringat dengan kejadian kemarin malam. Karena itu, membuat Akishima merasa sedih dan ingin menangis.


“Tidak! Jangan panggil aku Neesan! Aku Akishima," sahut Akishima sambil menangis. 


"Neesan. Kenapa kamu menangis? Kalau begitu, kamu boleh meminum cairanku. Itu membuat Neesan senang," responku dengan perasaan malu memperbolehkan Akishima.


"Jangan katakan itu lagi! Aku tidak mau dengar itu lagi," lontar Akishima merasa bersalah karena sifat Oneesan Ara Ara yang merasukinya.


"Ada apa, Akishima?" Tanya Sheeran yang sudah mengenakan handuknya.


"Begini, …." Akishima membisikkan sesuatu pada Sheeran.


"Apa?! Rivandy menganggap kita kakaknya?!" Sheeran terkejut dengan bisikan Akishima.


"Padahal, dia suamiku. Tapi, dia mengambil cairanku," balas Sheeran dengan perasaan bahagia karena sudah berhubungan ranjang denganku.


Aku dengan perhatian segera memeluk Sheeran dan membujuk, "Neesan! Jangan menangis! Aku disini untukmu," dengan pelukan yang hangat.

__ADS_1


"Aku suamimu, bukan kakakmu," cetus Sheeran sedang menangis mencoba membujukku untuk memanggilnya istriku.


Sheeran dan Akishima berusaha menyadarkanku. Tapi, tidak bisa karena mereka telah merayuku dan memperkosaku sampai pagi.


__ADS_2