Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Makanan : Babak Penyisihan


__ADS_3

17 November 2025, jam 07:54, para siswa dan siswi singgah di akademi untuk menonton Lomba memasak yang akan diadakan sebentar lagi. Mereka yang sudah duduk rapi di kursi panggung segera menunggu kedatangan peserta babak penyisihan.


Para murid yang sudah memasuki ke akademi akan diarahkan oleh Klub Disiplin untuk segera menuju ke aula. Sedangkan peserta lomba yang lolos ke tahap segera berkumpul di ruang tunggu untuk menunggu kesempatan mereka sebelum mulai.


Mereka termasuk aku sudah siap untuk mengikuti lomba ini. Aku sudah mengemas barang termasuk alat dan bahan masakan memandang sekitar dengan sekilas sambil membuat suatu rencana.


Aku melihat ada gadis yang bertengkar dengan hebatnya. Aku tidak terlalu peduli dengan perselisihan itu, hanya fokus dengan persiapanku. Aku selalu didekati oleh para gadis, sehingga aku terpaksa menerima itu.


Jam 08:00, di aula acara yang sudah disiapkan oleh anggota Klub Memasak, Fillia-Senpai muncul di hadapan penonton dan akan memulai acara ini. Dia dengan microphone headphone sudah bersiap untuk memulai acara ini.


“Test 1 2 3. Ok sudah bagus. Sekarang,” gumamnya sambil mengecek suaranya yang tersambung di speaker.


“Halo semuanya! Apa kabar kalian?” Dengan sapaan itu membuat penonton berteriak histeris dengan acara yang dinantikan ini.


“Tidak terasa hari ini sudah mulai dingin. Beruntunglah kalian karena aku memberikan sup hangat secara gratis kepada semua penonton yang akan dibagikan pada jam 10 pagi.” Pengumuman itu membuat para siswa dan siswi ingin merasakan kehangatan.


“Sekarang, aku akan memperkenalkan kalian untuk juri pada babak penyisihan ini  Mereka yang lapar akan menilai masakan dari peserta yang akan tampil hari ini.”


“Sambutlah pada tiga idiot yang akan tampil di acara ini!”


"Reyhan Naim, Rian Fadillah, dan Jaka Iwan!" Ketiga orang idiot itu langsung dimunculkan.


“Halo semuanya! Aku Rian,” sapa Rian memegang mic.


“Aku iwan,” jawabnya.


“Reyhan Naim,” jawabnya singkat dengan tersenyum kecut.


“Sate sate sate. Sekarang  kalian langsung saja kita akan memulai acara ini karena ….” Fillia-Senpai melangsungkan acaranya.


Di tengah meriahnya penonton itu, tiga idiot itu langsung memulai percakapan mereka. Mereka berdiskusi mengenai kedatangan mereka.


“Entah kenapa aku malah tersesat disini,” gerutu Rei.


“Tidak apa-apa. Yang penting dapat makanan gratis,” cekal Rei dengan penuh percaya diri.


“Asalkan bukan nasi bungkus,” lanjut Iwan.


“Berisik! Jika bukan kelakuan kalian, kita tidak akan tersesat di kota yang dingin ini. Entah dimana kita ini. Aku tidak bermaksud untuk tersesat bersama kalian,” gerutu Rei.


“Rian sedang apa kita disini? Apa yang membuat kita disini?” Tanya Iwan berbisik ke Rian.


“Oh iya. Aku lupa. Kita menggunakan peta Dora untuk mencari tanaman untuk menyembuhkan Yuina. Kami pergi menunggang kuda dan mengikuti peta Dora. Tapi, tak lama kemudian kami menuju kota yang cukup dingin. Aku tidak tahu itu nama kota itu. Terpaksa kami menginap di hotel dengan kartu kredit Rei.”


“Tapi, karena hari semakin dingin, kita istirahat di sebuah hotel. Lalu, ada cewek cantik tapi sengklek menawarkan kami untuk makan sepuasnya. Dia cewek yang baik, dan tidak sombong. Dia mengajak kami untuk ke akademi dan menceritakan cerita sampai kami tertidur sambil berjalan.”


“Setelah itu, kami mau pergi. Tapi, hari yang semakin dingin membuat kami menunda perjalanan. Si cewek cantik itu membantu kami dengan syarat menjadi juri sebuah lomba. Kami pun menyetujuinya dan kami menginap di apartemennya selama 3 hari.”


“Yah … asalkan kita bisa menilai masakan mereka. Nah itu yang membuat kami kesini,” cerita Rian panjang lebar.


“Kita seperti seorang kritikus yang profesional,” lanjut Iwan tiba-tiba menjadi juri handal.


“Rasanya aku ingin memukulmu,” pikir Rei yang sudah siap memukul Rian.


“Tidak kusangka aku tersesat di tempat ini,” lanjut Rei menghela nafasnya.


“Yosh! Sekarang, para peserta sudah hadir semua. Silahkan untuk memasuki arena sekarang juga!”


Para peserta akademi mulai menampakkan batang hidungnya. Mereka bergerak menuju ke arena yang sudah dilengkapi oleh dapur setiap angkatan. Setelah itu, mereka sudah membawa bahan makanan mereka sebelum acara dimulai untuk menghemat waktu mereka.

__ADS_1


Mulai dari peringkat 1 sampai 20. Aku mulai menunjukkan diri untuk menunjukkan kemampuanku.


“Sate sate sate.Sekarang aku akan membaca peraturan untuk peserta.*


“Pertama, kalian akan menghidangkan masakan kalian kepada juri .Kedua, kalian hanya memiliki waktu satu jam untuk menghidangkan masakan kalian. Yang terlambat otomatis akan gugur. Dan terakhir, jika aku melihat kecurangan kalian, kalian akan didiskualifikasi dan tidak boleh mengikuti lomba tahun depan.”


“Penilaian ini sama seperti sebelumnya. Hanya saja, kalian tidak terlalu berharap untuk bisa lolos.”


“Siapa cepat, ia dapat. Teman hari ini adalah …masakan Asia.”


:”Sekarang, waktu dimulai dari … sekarang!” Fillia-Senpai menyetel timer untuk menandakan dimulainya acara.


“Mereka yang sudah bersiap untuk bergegas menuju ke dapur mereka untuk menyiapkan masakan mereka Mereka mengambil bahan untuk meracik bahan makanan mereka. ”


“Peserta dari peringkat 2 segera mengambil bahannya dan memotong dengan pisau. Dia mengambil tahu yang cukup basah dan segera mencuci tahunya.”


“Aku melihat persaingan yang ketat semenjak pertandingan dimulai. Mereka dengan agresifnya mencari bahan makanan dan mulai beraksi."


“Mereka yang memotong bawang merah, bawang putih, cabe, jahe, dan lainnya. Kemudian, mereka mengutak-atik bahan utama mereka sesuai dengan imajinasi mereka.”


“Whoah! Aku melihat ada peserta yang terjatuh bersama dengan alat panci. Dia segera bangkit dari jatuhnya dan segera melanjutkan membuat sesuatu. Ia membuka bahan makanan dan segera menyiapkan minyaknya untuk mengukus bahan makanannya.”


“Kemudian, ada seorang gadis yang sedang memotong sayuran dan daging dengan semangatnya yang membara. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tajam dan segera melancarkan serangan mereka untuk menjatuhkan satu sama lain.”


“Aku mendengar sebuah teriakan dari Klub Pangeran untuk mendukung Pangeran. Aku ingin tahu apa yang Pangeran sajikan untuk ketiga idiot yang menjadi juri..Aku juga ingin mencicipinya dan mencoba sensasi yang sangat menggoda selera.”


“Aku ingin tahu siapa yang menyelesaikan ini terlebih dahulu .Sudah 19 menit berlalu, namun semangat mereka semakin membara. Tinggal 41 menit lagi. Yang terlambat akan didiskualifikasi.”


Dengan lomba yang berlangsung cepat, membuat para penonton semakin bersorak. Mereka memprediksi siapa yang mendapatkan peringkat pertama. Kandidat yang akan adalah Anivesta Bella, Nina Alpenliebe, dan Elaviana Frimala.


Di tengah meriahnya kompetisi itu, para juri menunggu hidangan yang peserta sajikan. Mereka melirik seorang peserta yang diminati oleh banyak kaum Hawa. Rian pun mulai berkomentar dengan otak yang idiot.


“Rei. Aku melihat ada peserta yang ganteng itu. Dia sangat elegan dan menawan,” komentar Rian mendengarku yang sedang memotong tahu beberapa bagian.


“Aku harap kalian tidak menyukai sesama jenis.” harap Rei dengan tatapan lesu.


“Jangan khawatir! Ada banyak cewek cantik disini." Rian menenangkan Rei yang lesu itu.


“Ada Loli (Bella) ada Oneesan dan ada yang Bangsawan (Claveriska) juga,” komentar Rian sambil menunjuk seorang gadis yang manis.


“Wah! Ada cewek berkulit hitam. Dia bisa menjadi istri yang baik tuh,” komentar Rian sambil menunjuk Elaviana.


“Iyuk! Aku tidak ingin mendekatinya.” respon Iwan dengan perasaan jijik.


“Aku mau yang cewek yang sedang mengaduk kari,” seloroh Rian melihat Saphine.


“Wah! Seksi banget tuh! Aku ingin sekali menjadi pacarnya,” harap Iwan sambil berfantasi.


“Oi! Kalian lupa dengan Kina dan Lina, kan?” Rei mengingatkan mereka yang idiot.


“Tidak apa-apa. Yang penting kami tidak akan selingkuh,” respon Rian memandang Reyhan.


“Iya. Aku ingin mendapatkan harem sekarang juga,” lanjut Iwan.


“Aku harap impian mereka takkan terwujud,” gumam Rei sambil menatap aktivitas para peserta.


[*^*]


Aku yang sudah menyajikan bahan makanan yang telah kusiapkan untuk menjadikan kepada juri. Aku tidak terlalu mengenal mereka. Yang pasti mereka bukan dari sini. Dilihat dari tingkah laku mereka, mereka berasal dari Indonesia. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk lidah mereka. Aku harap mereka menyukainya.

__ADS_1


Tinggal 39 menit lagi, Aku tidak boleh terlambat.


Aku menunggu air yang mendidih yang tercampur dengan bumbu. Aku menyalakan kompor dan memasukkan minyak. Setelah minyak itu matang. aku mencicipi apakah rasanya pas. Hmm. Kurasa tidak. Aku perlu menambahkan beberapa bahan lagi agar bisa menyamakan lidah mereka.


Bella mengatakan padaku bahwa Orang Indonesia menyukai makanan yang pedas. Mulai dari rendang, bakso dan lainnya. Dengan nasehat itu, aku bisa menjalankan aksiku.


Masakan yang aku sajikan adalah sesuatu yang hangat. Aku sudah menyiapkan untuk diriku sendiri. Aku juga tidak keberatan menyajikannya kepada Senpai. Aku tidak terlalu berharap dengan pujiannya.


Aku segera mengambil daging yang telah dimasak dan segera menguras minyak dalam daging itu.


Namun, sebuah suara terdengar di telingaku.


“Rivandy, ayo kalahkan mereka!” Seru Aurora mendukungku.


“Kalau kamu kalah, aku akan menginap di apartemenmu, desu,” ancam Evelyn dengan wajah lolitanya.


Aku menjawab, “Terima kasih atas dukungan kalian. Aku harap kalian tidak menggangguku,” dengan wajah datarnya.


Setelah merespon dukungan mereka, aku segera menyiapkan beberapa bahan terakhir dan segera mencampurkannya ke dalam panci. Aku juga berniat menjadikan kuah menjadi saus untuk daging yang matang itu.


Aku mendengar dukungan dari anggota Klub Pangeran. Aku tidak terlalu ingin mendengarnya. Aku hanya fokus dengan apa yang aku siapkan. Aku tidak terlalu ingin menang. Aku terpaksa menjalankan kompetisi ini demi harga diri.


Aku sudah memasukan kentang, daging sapi, bakso ikan, rumput laut, dan 油揚げ 豆腐 (aburaage tofu) (tahu goreng), dan bahan lainnya. Sosis sudah kumasukkan. Apa yang kurang? Aku tidak tahu apa yang kurang. Yang pasti aku harus memikirkan sebelum waktu habis.


Namun, saat menyiapkan daging yang matang itu, aku melihat seseorang yang menyelesaikan masakannya.


“Oo! Ada yang menyelesaikan dalam 30 menit. Disaat orang lain yang sedang menyiapkan hidangannya, dia sudah menyelesaikannya dengan mudah.”


“Zhukov Rekovic dengan sushinya.”


“Apakah dia mendapatkan poin yang besar kali ini?”


“Kita saksikan saja.”


Zhukov menghidangkan sushi yang sedikit rumit kepada ketiga juri yang idiot itu. Zhukov menikmatinya dengan senyumannya. Rei berharap Zhukov tidak memasukan sesuatu yang aneh seperti sandal jepit atau yang lainnya.


“Wah! Sushi!” Rian mengambil dengan sembrono dan langsung memakannya.


“Ini makanan kesukaan kami,” lanjut Iwan sambil menyantap sushi sampai habis.


“Anu. Kamu memasukkan apa sampai membuat enak begini?” Tanya Rei yang sedang memakan sushi.


“Aku masukkan daging ikan yang matang, wortel, timun, dan bahan lainnya. Lalu, aku menyatukannya dan menggulung dan memotongnya. Aku sudah menyiapkan air putih. Jadi, silahkan diminum!” Ajak Zhukov dengan sopan.


“Yosha! Masakanmu sangat enak. Aku tidak pernah memakan sushi sebelumnya,” puji Rian sambil menangis.


“Hei! Kamu. Bolehkah kau ikut dengan kami? Masakanmu sangat luar biasa,” ajak Iwan mendekati Zhukov.


“Tidak. Tidak. Aku sedang belajar. Nanti saja,” tolaknya seperti para gadis di Indonesia.


Dengan tolakan itu, membuat Rian dan Iwan menjadi murung  Zhukov tertawa kecil melihat tingkah laku mereka yang idiot itu. Dengan respon idiot mereka, membuat Rei mulai beraksi dan mengucapkan sesuatu.


“Kami akan menilainya dengan adil. Tunggu saja, ya!” Ucap Rei dengan tersenyum kecutnya.


Zhukov kembali ke ruang tunggu dan segera menunggu hasilnya. Ia memandang suasana arena yang semakin ramai. Ia juga senang bertemu dengan orang idiot. Zhukov tersenyum kecil kepada Rei yang malang itu.


Ketiga juri itu langsung menilai masakan Zhukov. Mereka menghitung berdasarkan perhitungan mereka yang abal-abal. Rian dan Iwan memakan sushi sambil menilai masakannya. Rei hanya menilai yang menurut pikirannya.


Pada saat itu, Fillia-Senpai melihat skor Zhukov di layar panggung dan berseru, “Wow! Nilainya sudah keluar! Nilai peserta ketujuh, Zhukov Rekovic sudah diumumkan.”

__ADS_1


"Nilainya adalah 26+20+20 sama dengan 66.”


"Ini cukup. Tapi, aku tidak tahu apa yang mereka sajikan.“


__ADS_2