Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Perang Cinta Dimulai


__ADS_3

Aku berhadapan dengan Shiori yang mencegahku pergi. Dia tidak mau membiarkanku lolos begitu saja karena aku sudah berhubungan dengan gadis lain. Aku hanya mengundang Hanna dengan game online. Tidak ada adegan ciuman seperti yang kulakukan pada Aurora.


Aurora memang pantas untuk berada di sisiku. Aku berharap hubunganku dengan Aurora lebih erat lagi.


“Rivandy. Apakah kamu selingkuh lagi?" Tanya Shiori mencurigaiku berselingkuh.


“Tidak. Aku hanya menerima ajakan untuk bermain game online. Tidak ada yang lain.” Aku menjelaskan.


“Eh? Padahal, aku mau menciumku lagi,” rayu Shiori ingin mendekatiku.


“Jangan memerasku lagi! Aku mau pulang dulu,” pamitku pulang namun diseret ke tembok dan memojokku di papan tulis.


“Tidak secepat itu, Sayang! Kau tidak boleh pulang dulu sebelum menyalurkan libidoku,” rayu Shiori meremas tubuhku dengan aura cintanya.


“Cari orang lain saja!” Usulku mengelak.


“Aku tidak mau. Hanya kamu yang membuat hatiku luluh. Aku tidak bisa menahannya lagi. Jadi, itadakimasu!” Shiori memojokku dan melancarkan sebuah ciumannya padaku.


Aku mengulangi kejadian ini. Tidak bisa menolaknya lagi. Aku merasakan tubuhku semakin memanas karena dada Shiori menyentuh dadaku. Tidak ada yang tahu penyebab dada Shiori semakin membesar. Pertumbuhan dadanya cukup pesat.


Semoga saja Aurora tidak datang kemari.


Ketika bibir Shiori hampir menyentuh bibirku, ada seorang gadis bersandar di tembok. Dia datang ke kelas dan melihat adegan romantis yang terjadi di kelas. Ia adalah siswi anggota Klub Disiplin, Diana Ravenrought, sekelas dengan Shiori.


“Ara-Ara. Rupanya kamu yang memperkosa Rivandy. Iya kan, Shiori von Zuckerberg?” Sapa Diana bersandar di tembok kelas.


Shiori menoleh pada Diana. Ia merasa terganggu dengan keberadaan Diana. IA ingin sekali menciumku dan memperkosaku. Namun, karena keberadaan gadis lain, ia mengurungkan niat itu dan segera menantang gadis itu.


“Eh? Kau datang kemari untuk mencegah hal itu, kan?” Tanya Shiori mengenai kedatangan Diana.


“Aku sudah menduga hal itu. Aku harus melatih penalaranku lagi.” lontar Diana pada diri sendiri.


“Eh? Apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti,” tanya Shiori bingung dengan ucapan Diana.


Diana mulai menjelaskan tingkah laku Shiori tempo hari. Mata bangsawan menunjukkan kebenaran yang mutlak.


“16 Januari 2026, jam 16:00, aku melihat Rivandy tergeletak di jalanan. Aku juga mengotopsi tubuhnya sekejap dan membawanya ke Klub Disiplin. Aku juga melihat bukti berupa uang ₽ 500 dan buku novel Final Fantasy XV. Lalu, menyimpan bukti itu di belahan dadaku agar mengamankan bukti itu.”


“Aku juga memeriksa tubuhnya itu. Tidak ada bukti mengenai korban pemerkosaan itu. Aku merasa bingung kenapa Aurora hanya mencium Rivandy, bukan merasakan tubuhnya. Maka dari itu, kami menunda penyelidikan untuk sementara waktu.”


“Sebelum pulang, aku melihatnya tidak ada di dalam ranjang itu. Aku tidak mengerti kemana dia. Barang bukti yang ingin diperkuat telah hilang di belahan dadaku. Aku menyimpulkan bahwa dia sudah sembuh dan tidak melapor padaku. ”


“Dengan kata lain, aku masih amatir dalam penalaran umum. Aku harus belajar penalaran umum untuk memecahkan kasus lagi. Aku belum sebanding dengan Sherlock Holmes.”


“Bukan Aurora yang memperkosanya. Kalau Aurora memperkosa Rivandy, sudah pasti Rivandy tergeletak dengan pakaiannya yang berhamburan di lantai bersama Aurora. Kalau itu sudah terjadi, Rivandy sudah menjadi milik Aurora.”


“Kamu yang memerasnya dan menyalurkan libidomu padanya. Terbukti kau melakukan hal yang mesum dan menjijikkan itu. Kamu menciumnya secara paksa ”


“Kau tidak bisa lari lagi, Shiori!” Diana memojokkan Shiori.


Shiori terpojok karena penjelasan dari Diana. Diana mendapatkan kemenangan yang mutlak. .Shiori menunda untuk menciumku dan menghampirinya. Aku nyaman dengan pertengkaran dan memberi kesempatan untuk lari.


“Tidak ada pilihan lain. Aku akan membuatmu membayarnya.” Shiori mulai memegang senjata dari belahan dadanya.


“Kau juga. Karena aku adalah … Midori no Kishi (Green Knight)!” Diana mengeluarkan pedang dan perisai dari belahan dadanya.


“Atas nama Klub Disiplin, aku akan merawat Rivandy dari segala ancaman ‘Gadis Jalanan’ sepertimu.” Diana mengarahkan pedang hijau ke Shiori.


“Aku berencana untuk hamil bersama Rivandy,” gumam Shiori memulai mengambil senapan miliknya dan mengisi beberapa amunisi.


Mereka bersiap untuk menyerang satu sama lain dan berencana untuk merebutku setelah saling menjatuhkan satu sama lain dengan membuang peluru. Mereka tidak peduli dengan kelas yang kosong. Hanya fokus bertarung … karena aku.


Sejak saat itu, … Pertempuran terjadi lagi.


Mereka mulai melancarkan serangan dan tembakan mereka. Diana menahan tembakan senjata dengan perisainya dan menebas Shiori walaupun dia menghindar dengan cepat.  Shiori tidak membiarkan Diana peluang untuk menang dan menjatuhkan Diana agar ia bisa berciuman denganku.


Aku hanya terdiam dan bergegas untuk lari dari mereka berdua. Aku menggunakan “Arctic Warfare : Stealth” untuk menghindari pertarungan. Membiarkan mereka bertarung di kelas adalah ide yang bagus. Selang beberapa saat kemudian, Aku bertemu dengan Aurora yang mengetahui keberadaanku dengan penglihatan melamnya. Jadi, aku mematikan teknik itu dan menghampiri Aurora.


“Rivandy. Kamu dari mana saja?” Tanya Aurora menghampiriku.


“Tidak. Aku hanya jalan-jalan saja,” jawabku singkat.

__ADS_1


“Ayo, Pulang! Aku ingin memasak sesuatu untukmu. Tolong kritik, ya!!” Ajak Aurora mendekati dan memegang tanganku.


“Um.” Aku mengangguk pelan lalu meninggalkan kelas bersama Aurora.


Kami meninggalkan akademi setelah bertemu dengan Akishima dan Sheeran. Evelyn pulang duluan dan melakukan suatu pekerjaan yang penting. Kami meninggalkan para gadis yang sedang bertempur. Alhasil, mereka akan dihukum oleh guru militer Kelas I Saintek C. Kalau ada waktu luang, aku akan bermain LoL bersama Hanna.


[*^*]


Keesokan harinya, jam 07:23, ada seorang gadis berjalan menuju akademi.  Dia membawa ransel anak kecil dengan pakaian akademi. Ia menggunakan belati sebagai senapannya disimpan di saku rok. Dia adalah gadis periang di tengah musim dingin.


Rambut coklat pendek dengan ikat kepala warna merah muda. Warna mata hitam berkilauan dan wajah seperti anak kecil yang dibesarkan oleh keluarga yang baik dan penurut. Ia membawa tongsis yang dipasang di handphonenya sambil merekam dirinya.


“Halo. Aku Rima. Apa kabar?” Sapa Rima dengan senyuman ruangnya.


Sesaat ia merekam dirinya sendiri untuk diupload ke YouTube, ada seorang siswa berangkat ke akademi sendirian. Tidak ada yang tahu siapa yang berada di sampingnya. Ia memang sendirian.


“Lihat! Ada Pangeran Sehun. Apakah kalian suka pada Pangeran Sehun?”.Tanya Rima kepada kamera.


“Dimana?” Tanyanya lagi.


“Aku tidak melihatnya,” jawabnya menoleh sekitar.


Tiba-tiba, ada sebuah kursor warna merah muda yang bergerak menuju ke arahku dan menekan ku yang sebagai tombol. Kemudian, Rima menoleh setelah mendengar suara dari kursor misterius itu.


“Oo. Itu dia.” Dia melihatku setelah respon dari kursor itu


“Ayo kita kesana! Aku ingin sekali bertemu dengannya,” ajak Rima pada kamera dan segera bergegas menuju ke akademi.


Saat itu, aku sedang berjalan sendirian. Aku tidak bersama Aurora. Dia berangkat duluan sambil menciumku dengan romantis. Aku membersihkan apartemenku sebelum pergi ke akademi. Jadi, Aurora segera berangkat dan merencanakan sesuatu di akademi.


Jangan khawatir! Aku tidak akan mati karena sering minum air putih setiap lima menit.


Ketika berjalan di trotoar, aku melihat ada seorang gadis periang yang menghampiriku. Aku tidak terlalu keberatan dengan gadis itu. Dia bukan gadis yang memanfaatkan seseorang.


“Halo, Pangeran! Aku Rima. Aku siswi Kelas I Soshum F. Senang bertemu denganmu,” sapa Rima hangat mengarahkan tongsisnya padaku.


“Um. Rima,” gumamku memanggil nama Rima.


“Wah! Ada salju! Apakah kamu menyukai salju?” Tanya Rima mengarahkanj bola matanya pada kamera.


“Jangan khawatir! Aku akan menghangatkanmu,” lontar Rima ingin memegang tubuhnya dengan genit.


“Tidak perlu. Aku sudah punya air putih.” Aku tidak mau membebankan Rima.


Penolakan itu membuat Rima kecewa. Ia ingin sekali diterima oleh Pangeran Sehun (aku). Namun, aku selalu didekati oleh banyak gadis hanya memutuskan penolakan itu. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


Tiba-tiba, ada seorang gadis berniat menghampiriku. Dia adalah gadis yang akan melakukan hal yang mesum padaku, Sheeran Chezka. Dia menghampiriku dengan hangat dan berniat untuk memelukku lalu menciumku.


“Sayangku! Tidak kusangka kita bertemu lagi. Aku memberikan ini padamu. Soalnya, aku ….” Sheeran menyapaku dengan hangat dan berniat melancarkan serangan mesumnya.


“Eh?! Eh?!!” Sheeran terkejut karena ada gadis lain yang menempel padaku.


“Oi! Kenapa ada gadis yang ada bersamamu?” Sheeran marah kepadaku.


“Oh. Tidak! Ada cewek yang akan mendekatiku. Aku tidak tahu entah apa yang merasukimu,” resah Rima dengan aura iblis dari Sheeran.


Dengan keresahan itu, Rima berbalik badan dan mengarahkan tongsis ke arahnya. Dia merekam dirinya untuk menanyakan sesuatu pada kamera. Aku hanya terdiam sambil minum air putih. Aku hanya menatap mereka dengan malas. Malas meladeni drama mereka.


“Apakah kamu melihat cewek?” Tanya RIma di depan kamera.


“Di belakangmu,” jawabku singkat.


“Dimana dia?” Tanyanya kembali ke kamera.


“Dia dibelakangmu,” jawabku lagi.


“Apa? Aku tidak melihatnya,” jawab Rima menoleh ke samping.


“Sudah kubilang, dia berada di belakangmu,” jelasku panjang lebar.


“Katakan lebih keras!” Pinta RIma pada kamera. Sheeran menghampiri Rima dengan penuh amarah.

__ADS_1


“Dibelakangmu!” Aku menjawab dengan meninggikan nada bicaraku.


“Lebih keras!”


“Di belakangmu!” Aku menepuk dahiku karena Rima membuatku emosi.


Ketika aku menjawab, Rima menoleh kebelakang. Dia melihat ada gadis dengan aura yang sangat marah. Ia merespon, “Itu dia! Dia ada di belakangku!”


Ingin rasanya aku memukulnya. Rasanya pernah melihat adegan ini. Tapi, dimana? Apakah aku pelupa dan tidak mengingat sesuatu? Mungkin ada yang mengetahuinya. Tapi, aku tidak terlalu memikirkan tingkah lakunya.


“Oh. Tidak! Ada cewek pelakor. Dia akan menculik Pangeran Sehun dan membawanya ke ruangan penyiksaan,” resah Rima dengan cemas.


“Pangeran Sehun. Aku butuh bantuanmu. Kita harus menghentikan cewek pelakor itu. Kalau tidak, Pangeran Sehun akan diculik dan diperkosa sampai hamil,” lontar Rima pada kamera.


“Katakan Pelakor jangan mencuri!”


“Semuanya. Katakan bersama!” Rima mengubah fitur kamera depan menjadi kamera 360 derajat.


“Cewek Pelakor, jangan mencuri!”


“Cewek Pelakor, jangan mencuri!”


“Cewek Pelakor, jangan mencuri!”


“Cewek Pelakor, jangan mencuri!”


Sheeran merasa dipermainkan oleh Rima. Mengikuti sandiwara itu adalah hal yang terbodoh yang kulakukan. Karena Rima yang merebutku, Sheeran bertekad untuk menghajar gadis yang memegang tongsis itu.


“Argh! Memangnya aku ini siapa, dasar Anak Jalanan?!” Sheeran membentak Rima.


“Huh! Siapa yang bilang Anak Jalanan, dasar Pelakor?”  Tanya Rima mengoceh ketika menyalakan kameranya.


“Kau yang merebut Suamiku!” Marah Sheeran pada Rima ingin merebutku.


“Halo. Aku Rima. Aku mau nanya. Apakah dia adalah kekasih Pangeran Sehun?” Tanya Rima pada kamera.


“Kalau tidak, Kenapa?” Tanya Rima.


“Hebat!” Puji Rima kepada kamera.


Entah apa yang merasukinya. Aku tidak tahu apa isi otaknya. Ia sama seperti Fillia-Senpai, gadis yang aneh dan menyebalkan. Rasanya, … ingin menggantungnya di tebing jurang.


Sheeran merasa dipermainkan olehnya. Dengan amarahnya yang menggelembung, ia mengepal tangannya. Lalu, mengeluarkan pistol miliknya dan mengarahkan senjata itu pada Rima.


“Aku ingin sekali menembak kepalamu, dasar Perebut Suamiku!” Sheeran mengeluarkan aura kemarahannya karena Rima direbut suaminya.


“Oh tidak! Dia akan menembakku. Apakah kamu tahu benda apa yang aku pakai untuk melawan Cewek Pelakor ini?” Tanyanya pada kamera.


Aku tidak menjawab apapun. Hanya mendengar pertanyaan sambil mengembalikan suhu tubuhku. Aku tidak membiarkan mati kedinginan hanya karena melihat mereka bertarung. Rasanya, aku harus pergi dari sini. Tidak ada yang bisa kulakukan.


“Benar. Senjataku,” jawabnya dengan riang.


“Apakah kamu membuka ranselku?” Tanya Rima menghadap ke kamera.


“Tidak,” jawabku datar dengan pertanyaan itu pergi ke akademi tanpa memikirkan Sheeran.


“Hore! Kalau begitu, katakan Ransel!” Pintanya meskipun tidak ada yang menjawab.


“Katakan lebih keras!” Seru Rima.


“Lebih keras!”


Dengan itu, ransel terbuka otomatis dan mengeluarkan roket milik RIma. Rima senang dengan roket yang ada di tangannya lalu menyetel tongsis miliknya di belahan dadanya karena kedua tangannya digunakan untuk memegang senjata.


“Wah! Ada roket! Apakah roket ini bisa menghancurkan Cewek Pelakor ini?” Tanya kembali RIma pada kamera yang masih menyala.


“...” Tidak ada yang menjawab pertanyaan Rima.


“Bagus! Kita akan habisi Cewek Pelakor itu sekarang juga agar Pangeran Sehun terselamatkan,” ocehnya pada kamera memegang senjatanya.


Sheeran tidak menahan diri lagi. Dia menembak Rima dengan pistolnya. Rima menghindar dan membalas serangan sambil merekam pertarungan dengan fitur video 360°. Sheeran melakukan tembakan lagi. Namun, karena ponsel Rima anti-peluru, peluru itu terpental dan berbalik arah secara sembarangan.

__ADS_1


Mereka saling menyerang satu sama lain untuk merebutkan seorang kekasih. Mereka malah fokus ke pertarungan dan tidak menyadari sesuatu yang cukup dan saling menyalahkan satu sama lain.


Mereka tidak sadar bahwa aku sudah pergi ke akademi terlebih dahulu.


__ADS_2