
29 Maret 2026, jam 13:24, aku sudah diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran setelah di skorsing selama 2 minggu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada akademi saat aku tidak ada. Aku tidak yakin akademi akan kembali seperti semula.
Akishima dan Aurora sudah berusaha keras untuk merawatku. Mereka mengambil peluru yang bersarang di tubuhku pada saat seorang anak kecil menghajarku dan membuatku ingin menangis keras.
Aku merasa ketakutan saat itu. Dia membenciku dan mengharapkan aku mati. Dengan kejadian itu, aku tidak bisa melupakannya. Aku sangat takut kalau itu terjadi secara berulang kali. Aku tidak mau meninggalkan kamarku sampai mereka mendatangiku.
Hasilnya, … mereka berhasil. Mereka berhasil membuatku menjadi lebih baik lagi.
Jam 15:23, mereka mendatangiku karena sudah mengerjakan tugas mereka di apartemen. Mereka menyodorkan tugas yang mereka kerjakan padaku, sehingga mau tidak mau aku harus mengerjakan tugas itu. Aku tidak mau ketinggalan pelajaran lagi.
Jam 16:24, mereka mengajakku mandi di kamar mandi. Lalu, menggosokan tubuhku dengan kasih sayang mereka. Aku merasakan tubuh mereka yang imut dan kental itu. Mereka sangat menikmati dan memelukku dengan hangat.
Aurora tidak ketinggalan juga. Dia mengizinkanku untuk meremas dadanya. Padahal, aku tidak terlalu menginginkannya. Aku memilih memeluknya dan itu berlangsung 10 menit.
Setelah mandi, mereka membawaku ke kamarku dan kami mengenakan pakaian kami. Akishima mengenakan pakaian dalamnya lalu pakaian kemejanya. Aku memilih untuk mengenakan kimono yang diberikan oleh Akishima. Ini membuatku lebih tenang karena bunga Sakura menenangkanku.
Tak lama kemudian, mereka keluar sebentar dan aku menitipkan sesuatu pada mereka. Aku tidak bisa keluar rumah karena merasa belum menjadi lebih baik. Kalau aku ingin keluar, mereka harus menemaniku.
Ini cukup bijak. Mereka melakukan itu semua untukku. Mereka tidak mau membiarkanku terbengkalai sama sekali. Mereka sangat menikmati aktivitas yang sebenarnya tidak diinginkan. Mereka … selalu berada di sampingku.
Selain Aurora dan Akishima, tidak ada yang datang kepadaku. Sheeran tidak akan mendekatiku. Saphine, dan Zhukov memilih menunggu kedatanganku di akademi keesokan harinya. Denis dan Hammer menungguku. Mereka akan memberiku kejutan pada saat yang tepat.
Jam 17:02, mereka kembali ke apartemenku. Akishima sudah membeli kumpulan manga. Aurora membeli makanan di restoran agar bisa makan bersama-sama. Aku hanya menerima itu dan menjalankannya bersama mereka.
Semua kegelapanku pudar seketika karena dengan uluran tangan mereka yang membawaku kemari. Mereka juga membersihkan dan bertingkah seperti seorang kekasih. Berkat terapi kekasih dari Aurora, aku melupakan masa laluku.
Itu sudah cukup untuk membuatku ingin menjalani kehidupan normal dan melupakan semua masa laluku
[*^*]
Jam 19:23, aku merasa lelah karena aku sudah melewati waktu yang panjang. Aku merasakan aroma Sakura menghantuiku. Aurora dan Akishima memelukku dan membuatku merasakan dada mereka yang empuk itu.
“Aurora. Akishima. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian,” tanyaku dengan menahan perasaanku.
“Apa itu?” Tanya Akishima memelukku.
Aku menjawab, “Aku mohon. Jangan tinggalkan aku! Aku takut … kalian meninggalkanku. Jadi, ….”
“Sudahlah! Jangan takut! Besok, aku akan menjagamu. Kalau kamu masih takut, aku akan melindungimu dari mereka. Ok?” Aurora meyakinkanku.
"Tapi, aku … ragu. Aku tidak yakin kalian melakukan sejauh ini padaku. Aku sangat takut. Aku …." Aku ragu karena mereka melakukan sejauh ini.
“Jangan berkata seperti itu lagi! Aku akan memuaskanmu lagi." Akishima membuatku diam dan mengelus pangkuanku.
“Um. Kalau mau melanjutkan, pelan-pelan saja!” Aku sangat malu karena ingin ronde lagi.
Mereka mematuhinya. Mereka menidurkanku dan membuatku lebih nyaman. Dengan tambahan ronde yang pelan, membuatku ingin merasakan yang cukup baik. Mereka melampiaskan hasrat mereka padaku secara pelan meskipun mereka masih perawan.
Sudah cukup. Aku ingin tidur bersama mereka malam ini juga.
[*^*]
Keesokan harinya, jam 07:21, kami tiba di akademi. Kami bertiga segera menuju ke lorong untuk mencari kelas Saintek. Para siswa dan siswi merasa was-was ketika aku berjalan dengan kedua heroinku. Mereka takut kalau aku akan membunuh mereka semua. Padahal, aku hanya ingin membunuh bangsawan saja.
Banyak pikiran mereka yang negatif mengenai tentangku. Mereka melihatku dan bergosip satu sama lain. Tidak yakin dengan apa yang mereka hadapi. Kenapa mereka melakukan ini padaku? Mereka sangat trauma dan ingin menghajarku. Sama seperti sebelumnya.
Pemandangan ini membuatku tidak nyaman. Dengan sikap mereka, aku ingin lari dan tidak akan kembali lagi. Namun, kedua heroinku memegang tanganku agar aku tidak bisa lari.
Di sebuah perempatan lorong akademi, Akishima meninggalkanku dan Aurora. Dia akan kembali lagi menuju ke tempat yang seharusnya. Aurora menawarkanku agar menggunakan borgol. Aku menerimanya dan masuk ke Kelas I Saintek A.
Tidak ada perubahan yang terjadi di sana. Nina tidak masuk sekolah karena sakit. Siswa/i kelas lainnya mengabaikanku dan segera beraktivitas seperti biasanya. Aku memang tidak terlalu peduli. Aku hanya suasana akademi kembali seperti semula.
Aurora duduk di sebelahku dan memperlakukanku seperti anak kecil. Aku menerimanya. Aku memang terlahir menderita seperti ini. Bukan berarti aku akan mati. Aurora tidak akan membiarkanku mati. Ini tergantung pada situasi yang ada.
Ini yang namanya ketakutan.
[*^*]
Setelah pelajaran pertama berakhir, aku dibawa oleh Klub Disiplin untuk mengecek sesuatu. Aurora hanya terdiam dan terpaksa meninggalkanku. Ini memang perintah dari Nina. Mau tidak mau Aurora menerimanya. Aku dibawa oleh pengawalan dari Diana dan Sinta. Mereka akan mengecek dan mewawancaraiku mengenai identitasku sebelumnya.
Kalau mereka tahu identitasku lebih lanjut, aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. Sepertinya, aku kehilangan harapanku.
Setelah sampai di ruangan Klub Disiplin, aku duduk berhadapan dengan kedua gadis itu. Mereka menanyakan sesuatu padaku. Aku hanya terdiam seperti orang yang tidak bersalah. Mereka sepertinya menyalahkanku atas semua ini.
"Nee. Rivandy! Bisakah bantu aku mengerjakan matematika?! Aku tidak bisa. Shiori sangat pelit," tanya Sinta menyodorkan tugas Turunan Tingkat Tinggi padaku.
__ADS_1
"Sinta. Kita sedang tidak main-main dulu. Ini pertanyaan serius. Kau harus diam terlebih dahulu!"
"Maafkan aku," sesal Sinta tertunduk lesu.
"Baiklah. Aku menanyakan sesuatu padamu. Tapi, kau tidak boleh berbohong, Rivandy! Pastikan kamu menjawab dengan jujur!" Diana memastikan jika menanyakan sesuatu, aku tidak akan membohongi Diana.
Aku hanya tertunduk lesu. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan. Apakah dia melakukan hal yang sama denganku?
"Pertanyaan pertama! Apakah kau tahu siapa Manshery Elizabeth V? Lalu, apa hubunganmu dengannya? Nama margamu sama dengannya," tanya Diana dengan tatapan yang tajam.
Aku hanya terdiam dengan pertanyaan itu. Wawancara ini cukup ketat. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk mendengarkan bahasan ini. Ini sangat rahasia. Diana tidak akan membiarkan seseorang menguping pembahasan ini. Ini sudah disetujui oleh Kepala Sekolah sendiri.
Diana menunggu jawaban dariku. Sudah beberapa menit waktu terbuang. Ini membuatnya sedikit memburuk. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang terlalu kompleks. Diana kesal dengan keputusasaan yang kuakukan.
"Tolong jawab pertanyaanku! Aku sudah muak menunggu jawaban darimu. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu, sehingga kamu dibenci oleh kelompok bangsawan itu." Diana merasa putus asa karena aku tidak menjawab pertanyaan apapun.
"Baiklah! Kalau itu maumu. Kita kembali lagi ke pertanyaan kedua." Diana membiarkanku untuk untuk tidak menjawab pertanyaan itu.
"Pertanyaan kedua. Apa tujuanmu datang kesini? Bukankah tujuanmu sama seperti murid sebelumnya? Aku sudah melihat berkas tentangmu dan murid satunya lagi. Sepertinya, esai itu, sangat palsu. Esai itu terkesan manipulatif. Aku sudah mengetahui semuanya," tanya Diana seakan-akan mengancamku.
Aku sama sekali tidak menjawab. Dengan tatapan seperti seorang interogator, ini membuatku ingin bunuh diri dengan digantung di leher. Diana menghela nafas dan menganggapku tidak bicara. Dia mengeluarkan pertanyaan terakhir.
"Pertanyaan terakhir! Apakah kamu mengenal Regen Rigeltria?! Atau Rival Elizabeth V? Siswa yang direkrut oleh seorang CEO dari Enchanted Geniuses. Aku tidak tahu alasannya seperti apa. Seharusnya, iblis seperti dia tidak diperbolehkan untuk mendapatkan takdir seperti itu," tanya Diana dengan nada yang pedas.
Aku masih tidak bisa menjawab. Aku tidak mengerti apa yang Diana katakan. Aku semakin kebingungan dengan sikap Diana seperti seorang interogator. Ini sudah membuatku ingin mundur dan melarikan diri darinya.
Diana kehilangan akalnya. Dia tidak bisa memilih pertanyaan yang lebih baik lagi.
"Nee. Rivandy. Aku mau nanya," lontar Sinta mengajukan pertanyaan padaku.
"Eh?!" Aku menoleh ke Sinta.
"Bagaimana keadaanmu?! Apakah kamu masih ketakutan? Zera sangat khawatir padamu. Aku ingin memberikan buket bunga padamu. Aku harap kamu baik-baik saja," tanya Sinta memberikan buket bunganya padaku.
"Hentikan! Jangan buket bunga lagi! Aku tidak mau mati! Kalian datang untuk membunuhku, kan?!" Lontar balikku menjauh dari Sinta.
"Tidak apa-apa! Aku sudah menghitungnya. Ini sudah ganjil. Aku harap kamu menerimanya," bujuk Sinta membuatku lebih tenang.
Aku tidak ketakutan lagi. ingin sekali menerima buket dari Sinta. Diana terdiam dengan dramatis itu
"Kenapa kamu melakukan hal seperti itu? Padahal, membunuh itu tidak boleh, lho," tanya Sinta menegurku.
Diana mendapatkan jawaban dariku. Dia sudah mendapatkan informasi yang cukup penting pada saat itu. Jadi, dia segera menggali informasi lebih dalam lagi untuk menulis laporan khususnya.
"Ehem. Dua minggu yang lalu, aku berada di pengadilan. Aku melihat ada yang ikut campur. Orang itu menjelaskan mengenai Kouchou-Sensei tidak melindungimu, tujuan Kouchou-Sensei, masa lalumu, potensimu terhadap Perang Dunia Ketiga, dan semua pertanyaan itu."
"Jadi, apa kau tahu hubungan Zhukov denganmu? Lalu, kenapa Kouchou-Sensei membuat keputusan yang seharusnya ia tidak lakukan? Mereka akan menghadapi lawan yang tidak seharusnya,” tanya Diana.
Aku tidak mengerti Diana melakukan sejauh itu padaku. Ia membuat tusukan yang tajam tersimpan di dalam jantungku. Aku harap Sekkekkyu-chan (Sel Darah Merah) memberikan oksigen padaku dan Kesshouban-chan (Platelet-chan/Trombosit) mengobati luka di jantungku.
“Aku tidak tahu. Aku … Neesan … aku tidak bisa menjawabnya,” jawabku menahan semuanya.
“Ada apa, Rivandy? Kau sepertinya tidak sehat? Apakah aku harus melayanimu?” Tanya Diana mendekatiku.
“Hentikan! Aku tidak mau lagi!” Aku menolak Diana dengan tatapan yang ketakutan itu.
“Kalau kau memberontak, kau tidak akan sembuh,” tegas Diana memegang seragam akademi dan mengibas ke tubuhnya.
Aku semakin takut dengan ajakan Diana. Diana berencana untuk membuatku merasakan hubungan ranjang dengannya. Namun, Sinta mengelak dari Diana dan menjauhkanku darinya.
“Tidak boleh! Kamu tidak boleh melakukan seperti itu. Habisnya, kalau kamu seperti itu, kamu tidak akan mengetahui perasaannya, Diana,” tegur Sinta sambil memelukku.
Dengan larangan dari Sinta itu, Diana terhenti. Aku dipeluk dari Sinta dan merasakan kehangatan dari dalam dadanya. Dadanya menyentuh kepalaku, dan aku tidak bisa berkata apapun lagi.
“Kalau begitu, … kita sudahi saja pertemuan ini,” pamit Diana meninggalkan Sinta yang memelukku.
Sinta menghela nafasnya. Melihat Diana yang kembali ke ruangan informasi siswa/i akademi. Aku terdiam dengan sebuah pelukan dari Sinta. Tubuh yang halus, lembut, serta sikap baik dan ramah mengajakku pergi dari sebuah tekanan.
“Sudah pergi. Saatnya, kembali ke kelas!” Sinta mengajakku keluar dari kelas.
Aku hanya mengikuti perintahnya dan meninggalkan ruangan Klub Disiplin. Kami menuju ke kantin untuk memesan makanan. Setelah itu, Sinta mengantarku sampai ke kelas lalu menitipkan pada Aurora.
Setelah itu, bel berbunyi dengan keras dan kami segera mengikuti pelajaran akademi.
Aurora akan membantuku.
__ADS_1
[*^*]
Sepulang sekolah, jam 15:03, Akishima, Denis, dan Saphine menghampiriku. Mereka mengajakku pulang sekaligus menjadi pengawalku. Zhukov dan Hammer masih mengerjakan tugas mereka di akademi. Jadi, mereka harus menyelesaikan dulu.
Aku tidak mengikuti Klub Saintek terlebih dahulu karena masalah keamanan. Mereka mengajakku pulang dan tidak boleh ada yang menyakitiku lagi.
Setelah sampai di apartemen, Denis segera pulang karena ia takut dimarahi Bibi Rita lagi. Entah berapa kali Denis sudah dimarahi olehnya karena selalu keluyuran entah kemana walaupun ia bekerja sampingan di sebuah cafe. Mungkin Zhukov yang menyebabkan semua ini.
Dia mengajak Denis ke sebuah tempat sampai jam 18:30.
Tinggal Aurora, Akishima, dan Saphine di berada apartemenku. Saphine memutuskan untuk menginap beberapa hari karena ia takut hidup sendirian. Lagipula, ini momen yang pas untuk mengobatiku.
Aku dirawat oleh mereka bertiga. Aku merasa tidak keberatan dengan itu. Ini lebih baik karena Saphine menginap di apartemenku. Aku merasa lebih nyaman sekarang. Dengan dua dokter psikologi, aku bisa disembuhkan dengan cepat.
Mereka menemaiku pada saat aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun. Ini lebih baik daripada tidak ada seorang pun. Mereka selalu berada di sampingku.
Jam 18:02, mereka mengajakku mandi. Saphine tidak keberatan memperlihatkan tubuhnya yang hina kepadaku. Akishima dan Saphine sudah tidak perawan lagi. Mereka tidak sengaja menyerahkannya pada orang yang tidak bertanggung jawab.
Hanya Aurora yang perawan. Meskipun dia berhubungan ranjang padaku beberapa kali, dia masih perawan. Entah permainan apa yang ia lakukan, sehingga ia masih perawan. Aku sama sekali tidak percaya dengan kejadian seperti itu.
Kalau mereka melakukannya, aku harap mereka mengerti dan melakukannya dengan perlahan.
Saphine sudah membawa beberapa pakaiannya. Ia tidak akan khawatir lagi dengan pakaian yang tidak ada. Aurora dan Akishima berada di dekat apartemenku. Mereka tidak cemas lagi dengan sesuatu, sehingga kami bisa menjalankan aktivitas keseharian meskipun aku masih merasa bersalah.
Itu adalah ... aku kehilangan Evelyn.
Aku membuatnya menghilang. Jadi, aku tidak bisa tenang lagi. Bangsawan sialan itu masih melakukan rencana untuk memenggal kepalaku.
Kebencian dan kecemasanku masih melekat. Jadi, mereka tidak bisa santai saja.
[*^*}
31 Maret 2026, jam 05:00, aku terbangun dengan ketiga gadis yang tidak mengenakan pakaian apapun. Aku mengerti mereka melakukan sejauh itu. Bahkan, mereka melakukan hal yang mesum padaku.
Aku merasakan bau tubuh merek yang harum. Bau Sakura, Anggrek Biru, dan Lavender memenuhi ruanganku. Bau itu juga menghasutku agar aku melepaskan semua penderitaan itu.
Namun, bau ini tidak cukup untuk melepaskan semua jarum yang tertusuk di tubuhku. Platelet-chan sudah kelelahan dengan semua penderitaan itu. Bahkan, Sekkekkyu-chan berusaha keras agar aku tetap hidup.
Gadis yang tertidur di ranjangku tidak membiarkanku bangun dan terus melayaniku. Aku masih mengingat berapa kali aku diperkosa. Aku takut kalau aku kecanduan dan menyalurkannya kepada gadis yang lain.
Aku takut kalau mereka meninggalkanku dan aku … sendirian di dalam kegelapan itu.
Tak lama kemudian, mereka bangun dari tempat tidur dan mengajakku mandi. Saphine mengenakan handuknya terlebih dahulu sebelum memasang air panas. Aku tidak keberatan. Lagipula, aku sama seperti mereka. Aku memang murahan. Namun, mereka tidak mau membiarkanku menderita lagi.
Setelah mandi, Saphine segera masak agar ia terlihat seperti istri idaman untukku. Aurora dan Akishima malah menggembungkan pipinya karena mereka sangat iri dengan sosok istri idaman itu. Jadi, kami segera makan bersama dan keluar dari akademi.
Mereka seperti seorang istri yang harus menunda kehamilan mereka.
[*^*]
Setelah sampai di akademi pada jam 07:13, kami bergerak di lorong dan segera menuju ke kelas masing-masing. Kami harus mengikuti pelajaran secepat mungkin agar kami tidak mendapatkan masalah.
Namun, ada seorang sekelompok gadis yang berjumlah 20 orang segera menghampiri kami. Kami tidak bisa lewat. Mereka terus mengepung kami agar mereka merebutku. Aku sangat takut dengan keberadaan mereka. Mereka bisa saja memperlakukanku sama seperti Bella.
Dia datang kemari, memberiku sejumlah luka padaku dan berharap aku tidak akan hidup. Dengan itu, aku mengalirkan air mata kepada Akishima dengan derasnya.
Ada tiga gadis yang sedang menghampiri kami. Salah seorang menarik perisai mereka dan kedua gadis itu melindunginya. Dia mengatakan sesuatu melalui megaphone miliknya.
“Kami dari Klub Pangeran yang tersisa, mengatakan menjauhlah dari Pangeran Rivandy! Kalian tidak boleh mendekatnya lagi!" Seseorang itu mengucapkan ancaman pada kami.
"Huh?! Kenapa aku harus mematuhi perintah kalian?!" Tanya Aurora mulai mengancam Klub Pangeran.
"Karena kalan membuat korban lebih banyak lagi! Jika kalian tidak mematuhi perintah kami, kami akan menghabisi kalian semua!" Klub Pangeran mengarahkan semua senjata mereka kepada kami.
"Aku akan mengeksekusi Pangeran ini agar dia dapat hidup renang."
Kami terpojok karena tidak ada celah untuk bisa keluar dari sini. Tidak bisa keluar dari sini. Karena itu, kami tidak akan bisa kemana-mana.
Aku tidak mengerti kenapa keadaan semakin memburuk itu. Aku tidak mengerti apa tujuan mereka. Dengan sosok itu, mereka membuatku ketakutan yang hebat.
Namun, ada 3 remaja yang sedang menghampiri keributan itu. Mereka sudah sampai pada sebuah pengepungan itu. Mereka menghampiriku dan menjagaku dari mereka yang akan mengeksekusiku.
Remaja berambut gelombang itu menoleh ke Aurora dan mengatakan sesuatu padanya. Ia memberi perintah untuk keluar.
"Oi! Omae! Bawa pergi sini! Aku akan mengatasi mereka semua. Serahkan Rivandy padaku!"
__ADS_1
Spinx dan Zera sudah dalam formasi yang sigap. Eleva memberikan perintah pada Aurora.
Akan terjadi pertempuran yang cukup besar. Pertempuran menentukan hidup atau mati