Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Perselisihan Cinta Dekagonal 1,3


__ADS_3

Jam 15:34, Aurora bertarung dengan Aura. Mereka saling mengayunkan senjata mereka. Berlari dengan cepat dan segera menghindari tebasan senjata jarak dekat itu. Tidak jarang mereka melakukan serangan bertubi-tubi untuk mengalahkan lawannya.


Akishima dan Sheeran bertarung dengan Andela, Farah, Dina, dan Wulan. Mereka menarik pelatuknya dan mulai menembak mereka. Mereka saling menembak satu sama lain agar mereka bisa meningkatkan peluang mereka untuk memenangkan pertarungan ini.


Aku dan Evelyn segera berlari menuju tempat yang aman. Kami menghindari pertarungan yang tidak perlu. Aku menjadi beban karena tidak melakukan apapun. Tapi, aku percaya Aurora, Akishima, dan Sheeran akan membiarkan celah untuk melarikan diri.


Namun, sebuah serangan yang tidak dikenal itu menghentikan langkah kami. Sebuah robot dengan tank yang di samping robot itu membuat kami tidak bisa melarikan diri. Kami berusaha untuk mencari celah. Namun, karena itu … kami tidak bisa. Kami harus melawan gadis itu meskipun aku tidak bisa menembak wanita.


"Wah! Ada anak kecil yang mengganggu," ejek seorang gadis yang mengendarai robot.


"Berisik! Aku bukan anak kecil, desu!" Evelyn merasa tersinggung dengan panggilan itu.


"Kita bertemu lagi, Evelyn," lontar Hanna sambil bersiaga.


Evelyn dengan datarnya menjawab, "Kamu siapa, desu?"


"Argh! Masa Anggota Klub Robotik tidak mengenal satu sama lain?" Hanna terpancing emosi.


"Tidak, desu. Aku tidak mengenalmu, desu," jawabnya dengan datar seakan-akan meremehkan lawan.


Hanna merasa dipermainkan oleh anak kecil seperti Evelyn. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Evelyn yang datar. Itu membuatnya ingin mengalahkannya karena Evelyn adalah anggota yang terkuat di Klub Robotik.


"Kami, anggota Militer melakukan pilihan untukmu agar kau bisa melepaskan Rivandy dari tanganmu." Lisa memperingatkan Evelyn untuk melepaskan ku walaupun ia tidak mendengarnya.


"Halo. Aku Rima. Apa kabar? Saat ini, aku sedang naik tank bersama temanku, Lisa," sapa Rima pada kamera sambil merekam kamera 360°.


"Apakah kamu melihat Pangeran Sehun? Dimana?" Tanya Rima merekam dirinya dan mencoba memberitahu pada kamera.


"Argh! Jangan katakan itu lagi! Aku stres mendengar ocehanmu!" Lisa memarahi Rima yang menyebalkan.


"Rasanya aku ingin memukul kepalanya," komentar Hanna melihat Rima yang sengklek.


"Ok. Aku tidak akan segan lagi. Aku peringatkan kamu untuk melepaskan dia. Dia adalah harapan untuk generasi sebelumnya," tegas Lisa dengan tatapan yang tajam.


"Tidak ada pilihan lain, desu. Program C : Super Deformed, desu!"


Evelyn membuat transformasi sendiri dan mengubah dirinya menjadi sebuah robot. Ia juga tidak membuat salinannya karena itu merepotkan. Ia tidak mau dihukum oleh Neesan lagi dan bertekad untuk menghancurkan lawannya.


"Tch! Robot itu lagi," umpat Lisa melihat kejadian yang sama terulang.


"Ayo, desu! 1 robot dan 1 tank tidak ada apa-apa di hadapanku, desu. Itu karena … aku akan melindungi Papa, desu." Evelyn dengan semangat ingin membuatku melarikan diri.


Dengan tantangan itu, Lisa dan Hanna mulai menyerang Evelyn. Rima menyimpan ponsel yang terpasang di tongsis miliknya di belahan dadanya. Dia membuka kancing akademi agar bisa menyimpan ponsel itu. Dia membidik Evelyn dengan misil, sehingga pertarungan dipenuhi dengan misil yang bergerak cepat.


"Jangan khawatir, Rivandy! Aku akan menyelesaikan pertarungan ini sekarang juga. Saranghaeyo," pesan Hanna mengarahkan Finger Heartnya padaku.


Aku membalas dengan Finger Heart dan menonton pertarungan itu. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya menonton misil yang melesat. Aku tidak membantu Evelyn. Evelyn bisa melakukan itu sendiri dan dia harus menghancurkan lawannya yang kuat itu.


Dan aku tidak sadar … bahwa kejadian itu terulang lagi.


[*^*]


Pertarungan Aurora dan Aura semakin membesar. Mereka juga tidak membiarkan musuhnya untuk bergerak cepat. Dia juga tidak mau lawannya menang dan mendapatkan aku. Mereka harus mencari cara untuk mengakhiri pertarungan itu dengan menang atau kalah.


Akishima dan Sheeran sedang berhadapan dengan gadis mesum. Farah, Dina, dan Wulan membantu mereka. Mereka tidak membiarkan lawannya menang dan mendapatkanku. Mereka bertekad agar aku bisa selamat dari jeratan mereka.


Eleva semakin kewalahan meskipun dia menikmati serangan itu. Harus melindungi Zera dari serangan misil itu. Tidak ada pilihan lain. Eleva terpojok. Eleva tidak bisa menerobos pertahanan mereka. Dengan kerjasama tim, mereka tidak bisa ditembus dengan mudah.


Evelyn dan anggota Klub Militer melancarkan misil mereka. Mereka tidak membiarkan diri mereka dihancurkan oleh lawan mereka dan saling melakukan tebasan antar robot. Tank hanya menembak dan meluncurkan misil saja. Tidak ada bantuan yang berarti. Ini seperti Anime Code Geass.

__ADS_1


Aku melihat pertarungan yang sengit dan menghitung peluang kemenangan masing-masing petarung. Peluang Tank selamat hanya 20%. Para Robot hanya 15% karena mereka bertarung secara habis-habisan. Tidak ada peluang yang bisa dihitung. Aku hanya memprediksi Hanna akan menang meskipun dia diprovokasi oleh anakku (Evelyn).


Namun, secara mengejutkan aku diseret seseorang untuk dibawa ke suatu tempat. Mereka berencana untuk memisahkan Aurora dan Evelyn dariku agar aku bisa ditangkap dengan mudah. Mereka tidak membiarkanku untuk lolos kali ini. Mereka akan membuatku merasakan kenikmatan akan cairanku


Aku merasa lemah di hadapan mereka. Mereka dengan seenaknya memojokku di koridor akademi. Aku tidak bisa lari lagi dari mereka. Mereka sudah memenangkan semua ini. Aku ingin sekali menggunakan teknikku. Namun, mereka selalu melekat padaku. Jadi, aku urungkan niat itu.


Sial! Kenapa lagi?


Kenapa aku bertemu dengannya?


Ini sepertinya aku mengubur kuburanku sendiri. Aku akan celaka sekarang.


Seorang gadis yang hampir memperkosaku memojokku ke tembok. Aku tidak bisa menahan semua ini. Aku merasakan bau yang harum dan menyengat. Ini menyebabkan tubuhku memanas di tengah musim dingin. Aku ingin sekali menahan nafas dan membuat diriku terangsang.


"Ara-Ara. Kamu memang anak pintar. Aku pikir kamu melarikan diri. Ternyata tidak. Bolehkah aku membuka pakaianmu?" Tanya Rivera-senpai ingin mencium leherku.


Aku menjawab, "Silahkan! Aku tidak tahan lagi," dengan menahan tangisanku.


Gadis di belakang Rivera-senpai sedang tertawa ketika mereka. Ia mengoceh,"Ayo! Rivera! Aku akan mendukungmu!"


"Rivera-chan! Tolong pelan-pelan! Aku juga ingin merasakannya," lanjut Furumi mendukung Rivera-senpai.


Rasanya aku ingin menangis. Aku ingin sekali mengakhiri hidupku dengan tubuh yang dilumuri oleh cairan para gadis itu. Lebih baik aku menjadi milik Neesan daripada Rivera-senpai. Dia pantas mengambil semuanya. Aku terpaksa melakukan ini. Aku bukan pria belang. Aku hanya kedinginan. Jadi, ini bisa digunakan untuk menghangatkan tubuhku.


Namun, ada sekelompok gadis yang mengepung anggora Klub Saintek. Gadis berkulit hitam dan gadis yang ku kenal. Mereka menyodorkan senjata miliknya dan segera melepaskanku dari mereka. Rivera-senpai merasa terganggu. Jadi, Zaza dan Furumi yang akan mengurus mereka.


"Kita belum terlambat. Kita masih bisa menyelamatkan pangeran," tunjuk Elaviana padaku yang hampir dicium.


"Iya. Janda Durjana itu ingin melahapnya duluan," sambung Karmila menatap Rivera-senpai dengan jijik.


'Ara-Ara. Ada yang ingin melahap Rivandy? Padahal, aku ingin menciumnya terlebih dahulu,"  sapa Shiori dengan teknik Ara-Ara.


"Eh? Aku terkejut. Aku rasa ada yang aneh pada kalian," balas Rivera-senpai menoleh pada Shiori.


"Lawan aku! Aku akan meladenimu," tantang Shiori memegang senjata miliknya.


"Sesama Oneesan Ara-Ara harus beradu dengan jantan.x


Akhirnya, Rivera-Senpai melawan Shiori satu persatu. Furumi dan Zaza berhadapan langsung dengan Elaviana dan Karmila. Mereka memulai pertarungan mereka dan menggunakan teknik mereka masing- untuk satu tujuan yang pasti.


Dengan celah yang ada, Bella menyelinap di tengah pertempuran itu dan menghampiriku yang sedang ingin diperkosa oleh Rivera-senpai. Dia membawaku dan meninggalkan pertempuran. Sementara itu, pertarungan Shiori dan Rivera semakin berlanjut. Shiori merasa kewalahan karena Rivera terlalu kuat. Namun, ada strategi yang mengecoh Rivera-senpai.


"Kau tidak bisa mengalahkanku. Punyaku lebih besar daripada punyamu," cemooh Rivera meremehkan Shiori.


"Benarkah?" Tanya Shori tersenyum licik.


Secara mendadak, Shiori menghilang. Rivera tidak terkejut dan membuat dirinya lengah. Rivera juga sudah mengetahui kekuatan Shiori. Dengan IQ sebesar 160, ia bisa mengetahui semua itu dan segera melakukan Rencana B. Ia bangkit dari berdirinya dan membereskan kekacauan itu.


Maka dari itu, dia menyuruh Zaza dan Furumi untuk membantunya dan menghancurkan pion bidak dari Chelsea. Dengan kehebatan mengenai sains, Elaviana dan Karmila mengaku kalah dengan mudah. Mereka tidak punya peluang untuk mengalahkan lawan. Mereka sudah kalah dengan mudah.


Kalau mereka kembali, mereka dimarahi lagi oleh Chelsea.


[*^*]


Setelah Bella membawaku ke tempat yang aman, Shiori sudah tiba di belakang Bella. Ia mengecoh Rivera-senpai dengan kekuatan duplikasi miliknya. Dengan itu, Shiori bisa melancarkan serangan mesumnya padaku yang ingin sekali diperkosa.


"Oi! Sadarlah, Onii-chan!" Bella berusaha menyadarkanku meskipun mustahil.


"Bella. Lihatlah dia! Dia ingin dicium. Kesadarannya sudah tidak ada. Dia ingin sekali diperkosa," balas Shiori melihat psikologiku.

__ADS_1


"Shiori. Kalau kau merayunya, aku akan memukulmu," ancam Bella dengan kepalan tangannya.


"Anone. Bella. Sebenarnya, kelemahan Rivandy adalah …." Shiori membisik di telinga Bella.


Mendengar bisikan itu, Bella mengambil ponselnya dan merekam video. Ia dengan semangat berseru, "Ayo! Shiori! Rayu dia supaya dia mendesah sepuasnya," dengan aura iblis yang melekat pada Bella.


Shiori memahami perintah anak kecil seperti Bella. Dia juga senang hati jika aku ingin melampiaskan hasratku padanya. Shiori ingin sekali mendapatkanku. Aku ingin Aurora berada di sampingku. Tapi, tidak ada pilihan lain. Aku akan menjadi milik Shiori.


Namun, ada sebuah teriakan yang mencegah mereka melakukan hal yang buruk padamu. Bella merekam kemenangannya dan melihatku dieksploitasi. Shiori ingin menyantap masakan yang ada di cairanku. Ia harap cairanku lebih lezat.


"Hentikan!" Sebuah suara yang menghentikan aktivitas kejahatan itu.


Bella dan Shiori menoleh. Mereka tercengang dengan Kotori yang telah dihajar. Mereka memanggil, "Kotori?"


"Bella. Shiori. Jangan memperkosanya! Kau tidak tahu apa yang ia derita selama ini," tegur Kotori tidak membiarkan Shiori dan Bella membuatku menderita.


"Apa? Kenapa kamu tidak membantu kami?"


"Kamu lebih memihak pada Aurora dan Evelyn. Apakah kamu mengkhianati kami?" Tanya Shiori meragukan Kotori.


"Dengarkan aku! Kembalikan dia pada Aurora dan Evelyn! Kalau tidak, akan terjadi hal yang lebih buruk!* Kotori menyuruh mereka untuk melepaskanku.


"Tidak mau. Aku ingin melihat kelemahannya. Dia selalu memanggilku Shiva. Tidak akan ku maafkan," tolak Bella karena egonya.


"Bella benar. Aku tidak akan membiarkannya lolos. Setidaknya, sekali untuk menikmati semua cairannya. Kalau sudah, aku akan membuangnya," lanjut Shiori dengan tatapan mata mesumnya.


"Kalau kau melakukan itu, kau akan menyesal," tegur Kotori amarahnya semakin menggelegar.


"Eh? Aku mencium aroma pengkhianat disini. Aku tidak percaya kamu mengkhianati kami," oceh Shiori semakin tidak percaya pada Kotori.


"Kalau aku tidak ada, Valhalla akan memperalatmu," oceh Kotori mengenai Valhalla.


"Masa bodoh dengan Valhalla. Aku sudah semakin dekat dengan pembalasanku. Aku ingin balas dendam kepada Onii-chan," cela Bella dengan tujuannya selama ini.


"Tidak! Jangan lakukan itu! Aku mohon! Dengarkan a…." Kotori merasakan getaran di tubuhnya, sehingga Kotori terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi.


Mereka terkejut dengan Kotori yang melemah itu. Mereka memanggil, "Kotori!"


Mereka mengabaikanku dan berhadapan dengan Kotori. Mereka mengecek tubuh Kotori dan menyadarkannya. Kotori sudah siuman. Namun, belum bisa berdiri. Tak lama kemudian, Rivera-senpai mengambil tubuhku yang ingin diperkosa dan segera menyombongkan diri di hadapan Bella dan Shiori


"Ara-Ara. Dia sudah ada di tanganku," sahut Rivera sudah menangkapku.


"Kau. Dasar licik! Kau memanfaatkan pertengkaran kami dan kau mengambilnya dengan seenaknya." Bella memarahi Rivera-senpai.


Rivera-senpai merespon, "Kau pikir aku bodoh? Aku membiarkan diriku lengah dan menculiknya sesaat. Lalu, aku menghabisi yang akan menghalangiku dan segera mencarimu. Kebetulan, aku mengetahui semua jalur koridor. Jadi, aku tidak khawatir," dengan memegang kepalaku dengan dadanya.


Bella dan Shiori semakin marah dengan


hasutan Rivera-senpai. Mereka malah membuat keadaan semakin memburuk. Malah jatuh dalam jebakan mereka sendiri. Dengan tingkah egois mereka, mereka membuatku berada di tangan musuh. Dengan itu, Shiori dan Bella bertekad untuk mengambil kembali barang yang direbut.


Kotori menghentikan aksi kedua gadis itu. Ia memberi tahu pada mereka pada pesan yang lebih penting daripada sebelumnya. Lawan mereka bukan sembarang. Ia adalah senior.


"Hati-hati! Dia terlalu kuat untuk dikalahkan. Kalian tidak bisa mengalahkannya," pesan Kotori pada kedua gadis itu.


"Jangan khawatir Kotori!" Balas Bella dengan tatapan serius.


"Aku akan menghadapinya," lanjut Shiori mulai beraksi kembali.


"Kami tidak akan kalah dengan senior itu!"

__ADS_1


__ADS_2