Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Awal dari Rasa Suka


__ADS_3

21 Januari 2026, jam 7:15, di dalam perjalanan di akademi, ada sekumpulan siswa dan siswi berjalan di tengah musim dingin. Mereka tidak lagi membiarkanku mati sekarat lagi. Mereka melakukan hal yang aneh agar aku tetap hangat. 


Sebelum berangkat ke akademi, Akishima dan gadis lainnya sedang berkumpul di pintu apartemenku untuk melakukan rencana yang dilakukan untuk membuatku tetap hangat. 


“Yosh! Kita sudah berkumpul disini untuk mendengarkan rencanaku,” umum Akishima dengan penuh percaya diri.


“Akishima. Kamu memiliki rencana apa, desu?” Tanya Evelyn mengangkat tangannya.


“Kali ini, kita akan … menghangatkan Rivandy agar dia tidak mati.” tekad Akishima.


“Sou! Aku Kita akan melakukan rencana untuk membuat Rivandy bertahan hidup.”


“Itu adalah … kalian harus mencium Rivandy agar dia tetap hangat. Siapa yang membuat Rivandy terangsang, dialah yang menang. Kalau kamu mengajak Rivandy ke ranjang, kalian tidak bisa memenangkan permainan ini. Kalau dia yang mengajakmu ke ranjang,.bersiaplah untuk menjadi istri Rivandy!. Itu adalah Perang Ciuman!” Jelas Akishima dengan antusias dan mata berkaca-kaca.


“Permainan, yah?” Gumam Sheeran dengan senyuman jahatnya.


“Aku akan membuat Rivandy menjadi suamiku. Lalu, dia akan meminum cairanku dan aku tidak akan membiarkannya direbut oleh gadis lain,” pikir Sheeran dengan kotor.


“Jika aku membuatnya terangsang dan dia semakin liar dan ingin mengajak gadis lain ke ranjang.  Bagaimana penilaiannya?” Tanya Aurora penasaran.


“Iya. gadis itu akan menang,” jawab Akishima tanpa pikir panjang.


“Kalau begitu, aku akan menghajar gadis itu dan membunuhnya.” tekad Aurora dengan enteng sambil membawa kapak miliknya.


“Dasar psikopat!” Komentar Akishima mendengar aura psikopat dari Aurora.


“Akishima. Kalau aku mencium ala artis Nekopoi, apakah dia akan menjual tubuhnya, desu?” Tanya Evelyn mengangkat tangannya.


“Kyaa! Nekopoi! Aku tidak tahu. Yang pasti … kalau dia tidak terkendali, kita akan kalah,” jawab Akishima dengan kode tidak jelas.


“Yosh! Kita akan bersaing. Kalau kalah, kalian jangan menangis!” Akishima mengejek saingannya.


“Siapa takut?!” Sheeran merasa ditantang.


“Aku akan membawanya ke Liverpool, desu,” tekad Evelyn bersungguh-sungguh.


“Aku akan menjadikannya Pangeran lalu aku akan minum alkohol dan melepaskan keperawananku bersama Pangeran.” beber Aurora sambil membawa alkohol.


“Tolonglah! Jangan lakukan kecurangan! Aku akan memberimu kartu merah,” komentar Akishima dalam hati.


Jam 07:17, mereka menunggu momen yang ditunggu-tunggu. Menungguku agar bisa dicium oleh keempat gadis itu. Ketika aku merasakan suhu tubuhku menurun, mereka segera berkumpul dan melakukan sesuatu yang penting.


“Jan! Ken! Pon!” Para gadis melakukan suit gunting batu kertas.


Akishima menggunakan batu untuk memenangkan suit itu. Lawannya menggunakan gunting, sehingga Akishima bisa memenangkan Jankenpon dengan mudah. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam permainan itu. 


“Aku menang!” Akishima menyodorkan batu yang ada di tangannya sebagai kemenangan.


“Sial! Aku kalah!” Umpat Sheeran karena kekalahannya.


“Aku akan membalasmu,” lanjut Aurora.


“Apa yang kalian lakukan?” Tanyaku menahan cuaca dingin.


Akishima menghampiriku lalu memelukku terlebih dahulu dan mencium leherku. Aku dicium di leher merasakan ketegangan di sekujur tubuhku. Dengan ciuman di leher, suhu tubuhku menjadi normal.


Aurora, Evelyn dan Sheeran merasa dicurangi. Mereka akan menciumku di bibir agar suhu tubuhku memanas. Akishima mencium leherku dengan romantis, lalu dia meremas punggungku.


“Akishima! Dame!” Aku mendesah karena ciuman Akishima di leherku.


Desahan itu tidak bisa memberontak lagi. Aku Akishima sangat berpengalaman sebagai seorang wanita. Meskipun kehilangan keperawanan, ia menjadi lebih terlatih lagi. Akishima sudah berlatih 4 bulan agar bisa memuaskan hasratnya. Ia menonton 10 video Nekopoi dalam sehari agar aku tidak bisa berselingkuh dengan gadis lain.


“Apa?! Bukankah itu curang?!” Sheeran memprotes Akishima tidak terima.


“Ciuman itu membuat Rivandy mendesah,” lanjut Aurora melihat responku.


“Kalau begini terus, dia akan menjual tubuhnya, desu,” lanjut Evelyn.


Akishima menjulurkan lidahnya. Ia mendapatkan kemenangan dengan mutlak. Aurora, Evelyn, dan Sheeran diremehkan karena mereka tidak bisa mengalahkan Akishima dalam Jankenpon. Akishima takkan terkalahkan.


Ia mengejek, “Dengan latihan 2 tahun bukan 3 hari (2Y3D), aku menjadi tak terkalahkan!”


“Aku tidak akan menyerah! Aku akan merayu suamiku agar dia terangsang!” Tekad Sheeran berubah menjadi Goku.


“Ayo! Kita harus berangkat sekarang juga!” Ajak Aurora segera berjalan menuju ke akademi. 

__ADS_1


“Aku akan meninggalkan kalian, desu,” lanjut Evelyn 


“Hei! Tunggu aku!” Akishima menyusul Aurora dan Evelyn.


Akishima menyeretku agar aku tidak dirayu oleh Sheeran. Sheeran mencoba untuk mengejar kami. Mereka melanjutkan permainan itu meskipun Akishima mendominasi permainan dengan kemenangan beruntun.


[*^*]


Pada jam 08:12, di kelas Saintek A, pelajaran militer masih berlangsung. Kami mendengarkan penjelasan dari Pak Stephen mengenai penggunaan dan strategi militer. Setelah jam menunjukkan pukul 09:45, ia mengumumkan sesuatu pada siswa mengenai tugas mereka.


“Ok. Kalian semua! Aku mengecek siapa yang sudah mengerjakan tugas hari ini. ” umum Pak Stephan kepada para siswa dan siswi itu.


“Ok. Kita lihat!” Pak Stephan memperlihatkan sesuatu melalui hologram.


“Hanya tiga. Yang pertama. Nina, Aurora, dan Rivandy!” Pak Stephan menyebutkan namanya.


[Siswa dan Siswi yang Mengumpulkan Tugas]


[1. Nina Alpebliebe


 2. Aurora Sentinel


 3. Rivandy Lex]


Siswa dan siswi kelasku terkejut dengan hasil di dalam list yang berada di tangan Pak Stephan. Mereka agak kecewa pada sebuah pengumuman di depan kelas.


“Pak. Kenapa kamu tidak memberitahu kami tentang tugas itu?” Tanya salah satu siswa yang merasa janggal dengan Pak Stephan.


“Iya. Tugas yang mana, Pak? Aku tidak melihat Anda menyuruh kami mengumpulkan tugas,” lanjut siswa itu. 


“Oh itu. Sebenarnya, mereka mengumpulkan tugas yang ingin ku berikan pada kalian. Mereka memang siswa yang teladan.” jawab Pak Stephan sambil memuji nama yang ia sebut.


“Aku ingin sekali memberikan tugas ini kepada kalian. Tapi, tadi pagi, Nina, Aurora, dan Rivandy mengumpulkan tugas mereka. Aku berencana untuk memberikan tugas militer itu pada semua murid. Tapi, karena mereka sudah selesai, ya sudahlah!” Jelas Pak Stephan merasa pasrah.


“Tugasnya seperti apa, Pak?” Tanya salah satu siswa yang antusias.


Pak Stephan mengirimkan sesuatu pada siswa dan siswi itu. Mereka melihat tugas yang diberikan melalui Grup Telegram. Mereka membuka folder itu dan terkejut dengan tugas militer yang membebankan. Itu adalah observasi senapan, soal simulasi strategi lawan, dan perhitungan tebasan dan tembakan.


“Eh?! Kenapa banyak sekali?!” Keluh siswa dan siswi kelasku terbebani dengan tugas yang banyak. 


“Pak, tolong kurangi, Pak!” Siswa di depan Pak Stephan terbebani dengan tugas.


“Ini terlalu banyak!” Lanjut siswa yang lainnya.


“Tidak boleh! Tapi, kalian bisa menanyakan pada yang sudah selesai mengerjakan tugas.” saran Pak Stephan menunjuk siswa teladan.


“Aku permisi dulu. Aku harus memeriksa tugas siswa teladan itu. Tugasnya harus dikumpulkan paling lambat hari Jumat jam 08:00,” pamit Pak Stephan meninggalkan kelas dengan cepat.


Setelah Pak Stephan meninggalkan kelas, mereka langsung menggerombol ke Nina, aku, dan Aurora. Evelyn menculikku dan Aurora dan meninggalkan kelas agar tidak menjadi target siswa yang lain. Setelah aman, Evelyn memarahi kami karena kami menyembunyikan sesuatu. 


“Kalian curang, desu! Aku pikir kalian ke toilet dulu, desu.” protes Evelyn kepada kami.


“Apakah kamu marah pada kami?” Tanya Aurora pura-pura polos.


“Tentu saja iya, desu. Kalian pura-pura ke kamar mandi lalu kalian memberikan tugas pada Pak Stephan, desu,” jelas Evelyn tiba-tiba menjadi detektif.


“Kamu juga tidak mengajakku untuk mengerjakan tugas bersama Pangeran dan membiarkanku mengerjakannya sendiri, desu,” lanjut Evelyn dengan pikiran negatif.


“Kamu juga malah mengikuti perintah Aurora, desu.” tegur Evelyn menunjuk padaku.


“Tidak ada pilihan lain. Dia selalu menginap di apartemenku. Jadi, dia mengikutiku mengerjakan tugas sampai pagi,” jelasku mengenai penjelasan kemarin.


“Setelah itu, kami mandi bersama-sama dan aku kembali ke apartemenku untuk mengambil beberapa barang dan Akishima mengumpulkan kita,” jelas Aurora.


“Kalau begitu, bantu aku, desu!” Evelyn merengek memperlihatkan tugasnya pada kami.


"Rivandy. Kamu juga harus membantuku atau aku akan membawamu ke hotel, desu,“ ancam Evelyn akan memesan hotel di ponselnya.


“Iya. Aku akan membantumu.” Aku pasrah mendengar rengekan dari Evelyn.


“Ok. Yang pertama, aku akan mencari buku di perpustakaan, lalu kalian yang mengerjakan tugasku, desu. Kemudian, Rivandy. Kamu ...” Evelyn menjelaskan rencana untuk mengerjakan tugasnya.


“Eh?” 


“Kalian berada dimana, desu? Jangan tinggalkan aku, desu!” Evelyn berteriak karena aku dan Aurora tidak ada. 

__ADS_1


Aku diseret Aurora untuk menghindari Evelyn. Aurora memegang tanganku dan membawaku ke tempat yang aman. Kami bertemu dengan Nina istirahat di lorong akademi.


“Rivandy. Aurora.” Sapa Nina dan kami membalasnya.


“Apakah kalian memiliki waktu tidur yang cukup?” Tanya Nina sambil menyapa kami.


“Tidak. Tapi, dengan usapan wajah dengan air, kantung mataku langsung menghilang,” jawab Aurora.


“Aku juga. Aku merasa aku ingin tidur. Entah kenapa … aku ingin diseret ke ranjang dan para gadis itu menikmatinya,” jawabku pipiku memerah.


“Oh. Iya. Aku ingin sekali meminta maaf padamu. Tapi, aku ingin melakukan sesuatu agar kamu merasa lebih baik."


“Aku menghargai tawaranmu. Tapi, tidak. Terima kasih.”


“Tenang saja. Aku dan Nina akan melayanimu … dengan baik.” Aurora memenangkanku dan mengelus pipiku.


“Kalau bisa, aku akan menginap di apartemen," lanjut Nina menghampiriku.


Tawaran itu cukup membantuku. Aurora dan Nina membantuku dengan senang hati. Aku jmembuat mereka lengket padaku. jadi, aku lega jika mereka berada di sampingku.


Namun, ketika Nina dan Aurora mengajakku ke kantin, ada sekelompok siswa yang menghampiri kami. Mereka dengan cemasnya mengucurkan air matanya karena merasa terbebani dengan tugas yang diberikan oleh Pak Stephan.


“Nina. Rivandy. Tolong aku!” Siswa pendek itu memohonku.


“Tugasnya banyak sekali!” Lanjut siswa berambut biru.


“Aku tidak tahan lagi!” Keluh siswa berkacamata.


“Tenangkan pikiranmu dulu!” Saran Nina memenangkan mereka.


Mereka memeluk Nina dengan erat. Aku dan Aurora terdiam dengan perilaku mereka. Entah kenapa mereka begitu menyebalkan. Aku ingat mereka menyalin catatanku yang sudah kuberikan melalui aplikasi Telegram.


“Nina. Tugasnya banyak sekali. Kamu tahu semua tugas itu? Aku tidak,” keluh siswa berkacamata.


“Bantu kami untuk mengerjakan tugas kami!” Siswa berambut biru menunjukkan tugas kepada Nina.


“Pak Stephan memberikan beban yang berat kepada kami,” lanjut siswa pendek itu.


“Saito. Marco. Trekko. Jangan menangis! Ayo kita kerjakan bersama-sama,” ajak Nina kepada ketiga siswa itu.


Ketiga siswa itu merasakan kebaikan dari Nina. Mereka selalu bergantung pada Nina mengenai tugas mereka. Meskipun begitu, Nina tetap menerimanya. Aku sudah pasti menolaknya dengan mentah-mentah karena mereka terus memaksaku. Tapi, tidak ada pilihan lain.


“Nina sangat baik!” Siswa berambut biru (Saito) memuji Nina.


“Nina memang istri idaman,”  lanjut siswa berkacamata (Marco).


“Nina Maji Tenshi!” Puji siswa pendek (Trekko) berkaca-kaca.


“Rivandy. Kamu juga harus membantu kami. Kami membutuhkanmu,” suruh siswa pendek itu.


Namun, mereka tidak melihat kamii. Mereka sibuk dengan Nina dan mengabaikan pasangan di samping Nina. Dengan tidak ada keberadaanku, mereka langsung mengutukku dengan kemarahan mereka.


“Sial! Rivandy dan Aurora tidak ada!” Umpat Saito tidak melihatku.


“Cari mereka!” Pinta Marco mencariku dan Aurora.


“Terkutuklah kau, Pangeran Matematika! Aku akan memberimu tugas matematika sekarang juga!” Trekko mengutukku seperti pekerja kantoran di Rusia.


Mereka mencari kami yang kabur dari cengkraman mereka. Aurora mengajakku pergi ke taman dan meloloskan diri dari jeratan Saito, Marco, dan Trekko. Kami kasihan pada Nina yang sering membantu para siswanya. Entah kenapa aku ingin menjauhi mereka selamanya.


Di taman akademi, kami bersembunyi di pohon akademi dan berdekatan. Aku berada di dekat pohon akademi dan Aurora berada di depanku. Kami Berada di pohon pada musim dingin.


Waktunya Aurora melancarkan aksinya!


Aurora menempelkan bibirnya padaku. Aku tidak memberontak dan merasakan kenikmatan di setiap ciuman itu. Ini berbeda dengan ciuman Akishima dan Sheeran. Apakah ini namanya ciuman dari Klan Sentinel? Rasanya sangat harum. Bahkan, lebih harum daripada parfum.


Tidak ada pilihan lain. Aku membalas ciuman itu dan merasakan sensasi romantis itu. Tubuhku semakin memanas dan ingin sekali memberontak di dalam pikiranku.


Namun, semua itu percuma. Pelukan dan ciuman Aurora lebih melekat dan membuatku ingin merusak diri. Dengan darah dari keluarga Sentinel, aku merasakan kehangatan dari tubuhnya.


Ingin sekali meremas tubuh Aurora yang halus dan putih itu. Namun, aku ingin memilih mengurungkan niat itu.


Perlu 3 tahun agar bisa menjalani kehidupan yang lebih serius. Masa dari itu, aku harus setia dengan Aurora.


Aku merasa ... Aurora lebih cocok untuk menjadi Istriku.

__ADS_1


__ADS_2