Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Akishima Renji 1,5


__ADS_3

27 September 2025, jam 10:23, aku segera mencari Akishima di koridor. Aku berlari di koridor pada saat istirahat pertama. Aku merasakan hal yang aneh terjadi. Kasus pertama yang membingungkan. Kasus dua yang merepotkan.


Jika saja aku tidak melakukan kesalahan pada saat itu, ini tidak akan terjadi.


“Akishima, kau dimana?” Pikirku segera berlari di koridor yang sepi.


“Kau tidak mungkin di sini. Kau pasti melarikan diri,” lanjutku


“Kalau begitu, …,”


“Arctic Warfare : Observation!”


Aku membuka mataku dan melihat garis dengan warna yang berbeda. Aku memfokuskan pikiran dan menargetkan titik dan garis yang membentuk Akishima. Namun, percuma saja. Tidak ada bidang yang sesuai dari penglihatanku.


Aku terus berlari sambil mencari titik yang sesuai. Namun, pada saat itu, aku tidak menyadari aku menabrak pagar pembatas, sehingga terjatuh dari ketinggian 2 lantai.


Aku terjatuh dengan posisi tengkurap yang kemudian menjadi posisi terlentang karena aku membalikkan badanku.


Tiba-tiba, seseorang menolongku dengan cara meletakkan bantal empuk yang besar menuju ke tempatku akan mendarat. Sesat kemudian, aku  menghempaskan diri di bantal itu dan melihat seseorang yang bersembunyi di balik tembok.


“Ada apa, Zhukov?” Aku menoleh ke Zhukov yang sedang bersembunyi dengan santai.


“Tidak. Aku hanya bersembunyi saja,” jawab Zhukov memunculkan diri.


Aku berdiri dari tidurku dan segera menghampiri Zhukov. Aku bertanya, “Apa kau melihat Akishima?”


Zhukov hanya menaikkan bahunya. Ia tidak tahu dimana Akishima berada. Aku bertanya lagi, “Kenapa kamu bersembunyi?”


Zhukov melirik di sekitar sambil menggenggam senjatanya.  Tidak lupa ia menggunakan teropong canggihnya untuk melihat seseorang yang mencarinya.


“Rivandy. Aku ingin menjawab pertanyaanmu. Hanya saja, aku harus pergi. Sampai jumpa,” pamit Zhukov sambil memanjat tembok akademi.


“Zhukov tunggu!” Aku berteriak agar Zhukov menoleh padaku.


Zhukov tidak peduli apa yang aku teriak. Ia fokus untuk menaiki atap dan meloncat menuju ke atap lainnya. Aku hanya terdiam dan segera mencari Akishima di akademi.


Namun, Akishima tidak ada di akademi.


Aku memutuskan untuk mencari sesuatu untuk keluar dari sini. Aku bergerak menuju ke gerbang akademi. Aku sudah menyampaikan pesan kepada Aurora dan Evelyn agar mereka mengatakan kepada Pak Stephan bahwa aku membantu Detektif Alan untuk memecahkan kasus.


Setelah sampai di gerbang, aku meminta izin kepada petugas gerbang akademi untuk membuka gerbangnya. Namun, petugas itu menolakku. Aku harus mengeluarkan surat izin kepada petugas itu.


Tak lama kemudian, handphone milik petugas itu berdering. Petugas itu mengambil handphone dan segera menerima telepon dari Pak Stephan.


“Ada apa Stephan?” Tanya Petugas itu to the point.


“Petugas, aku sudah membuat surat kepada Rivandy Lex untuk tidak mengikuti pelajaran. Ia membantu Detektif Alan untuk memecahkan kasus. Nina Alpenliebe akan menuju ke gerbang dan memberikan surat izin kepadamu. Bagaimana?” Pesan Pak Stephan dengan santai.


“Oke. Aku akan membuka pintu untuknya,” respon petugas itu mengalah.


“Baiklah, kalau begitu aku akan mematikan teleponnya.” Pak Stephan mematikan teleponnya.


“Nak! Kau boleh keluar. Asalkan kau harus memecahkan kasus itu, Ok?” Petugas itu membuka pintu gerbang dan membiarkanku keluar.


“Iya, Pak. Aku akan memecahkan kasus,” tekadku segera berlari meninggalkan akademi.


Petugas itu menutup gerbang setelah aku pergi dari akademi tanpa menyapa sekalipun. Aku berfokus lari meskipun aku tidak terlalu ahli dalam lari.


[*^*]


Jam 10:52, di apartemen Akishima, Akishima masih berbaring di kamar mandi. Ia tidak bisa keluar rumah dalam kondisinya. Ia mencoba untuk berdiri meskipun tenaganya yang sedikit berkurang. Ketika ia menuju ke dapur yang gelap, ia melihat kulkas yang cukup gelap untuk mata Akishima. Ia membuka kulkas yang ada di sampingnya.


“Sudah habis,” gumamnya dalam hati melihat kulkas yang kosong.


Setelah menutup pintu lemari es, ia segera menuju ke kamarnya dan segera berbaring di ranjang dengan tubuhnya yang hina dan penuh kutukan.


Ia mengharapkan tubuhnya digunakan untuk melakukan penetrasi kepada siapapun.


“Aku harap aku akan dihancurkan."

__ADS_1


“Aku tidak membutuhkan Luffy, Naruto dan lainnya,”


“Aku hanya mengharapkan aku menjadi budak di ruangan gelap."


[*^*]


Aku berlari menuju ke trotoar. Aku tidak memperdulikan cibiran dari penduduk yang sedang duduk di cafe. Aku mencari titik, garis, dan bidang. Aku mencari semua gang yang ada .Gang yang gelap dan sepi menjadi tempat yang aku lihat terakhir kalinya.


Aku menggunakan teknik “Arctic Warfare : Costum Arc 1” untuk mengganti seragamku menjadi seragam pekerja kantoran agar aku tidak diincar. Aku menggunakan teknik itu setelah aku meninggalkan akademi.


Teknik “Arctic Warfare : Observation” dapat mencari keberadaan seseorang dengan mudah.  Dengan garis dan bidang yang ada di mataku, aku bisa menemukannya dengan mudah.


Batas Radius yang diperoleh dari teknik ini adalah 1-2 km. Jika target dalam radius 3 km, aku harus keliling untuk mencari keberadaan target tersebut. Tidak mudah menemukan target yang di luar radius.


Aku bisa menemukan dari beberapa saat yang lalu. Hanya saja, teknik ini harus menguras otakku. Aku sudah melihat Akishima di kamar mandi wanita. Dia lari ke akademi dengan menerobos pembatas dan menuju gang yang sepi dan gelap.


Maka dari itu, aku mencari semua gang untuk menemukannya. Aku segera memeriksa gang dan menghindari orang lain. Aku tidak terlalu ingin berurusan dengan orang lain. Preman atau gelandangan. Mereka akan merepotkanku jika aku mencari Akishima.


Sial! Aku tidak bisa menemukannya.


Banyak gang di Moskow.


Hanya 1 tempat yang bisa kutemukan.


Namun, sudah 100 gang yang ku cari. Akishima tidak ada.


Apakah aku harus mencari di tempat yang lain?


Kalau begini, aku tidak bisa menemukannya.


Kalau begitu, … aku akan mencobanya.


“Arctic Warfare : Observation!”


Aku menyetel teknikku dengan radius 10 km agar aku bisa mencari Akishima dengan cepat. Aku cemas jika ia tidak bisa ditemukan. Aku tidak menyadari dengan hal itu.


Jika digunakan dengan berlebihan, aku akan mengalami kebutaan.


Tidak ada pilihan lain. Karena mencapai batasnya, aku mematikan teknikku dan secara tidak sengaja aku menabrak diri di tembok dan menghadapkan kepalaku di tembok sambil memperjelas kesadaranku.


Aku menghela nafas dengan kasar sambil menyentuh tembok.  Aku merasa ingin muntah dalam gang yang kotor dan penuh coretan.


“Sial! Aku tidak bisa bernafas. Mataku selalu melihat garis dan bidang yang tidak beraturan,” pikirku sambil menutup mataku.


Aku memutuskan untuk istirahat saja. Aku tidak mau kehilangan mataku karena aku menebus kesalahanku.


Maka dari itu, aku memutuskan untuk keluar dari gang dan menuju ke jalanan yang ramai dengan mobil.


Aku memutuskan untuk memanggil taksi walaupun isi kreditku hanya sekitar ₽ 800. Taksi pun terpanggil juga. Aku memasuki taksi seperti orang buta. Dan mengatakan kepada sopir untuk mengarahkan taksinya kepadaku.


Aku harap isi baterai di handphone ku masih ada.


Jam 11:23, aku bersandar di kursi sambil menutup mataku. Sopir taksi menganggapku seperti orang buta. Namun, aku masih bisa melihat sopir itu dengan jelas tanpa melihat garis dan lainnya.


Setelah sampai di apartemenku, aku menggunakan aplikasi Uber untuk melakukan pembayaran dan segera menuju ke apartemenku untuk istirahat.


[*^*]


Jam 10:34, Zhukov sedang meloncat ke atap bangunan. Ia sedang dikejar oleh sekelompok yang tidak diketahui. Ia berlari sambil melakukan tembakan kepada orang misterius itu.


Zhukov melakukan loncatan dan memanjat tembok agar ia tidak bisa ditembak oleh orang misterius itu. Mereka yang melihat Zhukov tidak bisa berbuat apapun selain menangkapnya dengan manual. Mereka tidak bisa melakukan tembakan karena akan menimbulkan keributan.


“Sial! Dia terlalu lincah,” umpat orang yang berseragam hitam itu.


“Kita tidak bisa melakukan tembakan jika begini terus,” lanjut orang lainnya.


Mereka berlari di atas atap dan segera menyusul Zhukov dengan sepatu gravitasi. Zhukov yang sedang memanjat memutuskan untuk turun ke bawah dan mendarat di gang yang kotor dan sempit.


Orang yang mencari Zhukov tidak bisa menemukannya karena mereka terjebak dalam apartemen dan mencegah orang kantoran mengetahui keberadaan mereka.

__ADS_1


Tak lama kemudian, orang itu yang merupakan kelompok segera menyalakan walkie talkie miliknya dan menyambungkan kepada anggota yang lainnya.


“Tuan! Kami tidak bisa menemukannya. Kami kehilangan kontak dengannya. Sudah 4 orang yang dibunuh olehnya,” lapor anggota itu melalui telepon.


“Cari dia! Dia sudah berurusan dengan Ketua!”


[*^*]


Jam 10:23, di perpustakaan kerumunan di perpustakaan sudah dibubarkan oleh petugas perpustakaan. Detektif Alan segera membawa korban itu ke kantor polisi dengan bantuan asistennya.


Kasus kedua ditangani olehku karena aku yang paling mengetahui apa yang terjadi pada Akishima. Aurora dan Evelyn kembali ke kelas dan melaporkan kepada Pak Stephan untuk memberitahu kepadanya bahwa aku tidak mengikuti pelajaran militer karena aku membantu Detektif Alan dan asistennya.


Asisten detektif membuat surat kepada Cherry-neesan agar aku bisa menyelesaikan kasus yang kubuat.


Cherry-neesan menerima itu dan akan memberikan tugas padaku pada saat yang tepat. Setelah pemberitahuan itu, asisten itu mengundurkan diri dan segera meninggalkan akademi bersama Detektif Alan.


“Dasar Rivandy! Dia selalu mencampuri urusan orang lain,” gumam Cherry-neesan.


“Aku akan menghukumnya pada saat yang tepat,” lanjutnya sambil mengerjakan tugasnya sebagai kepala sekolah.


[*^*]


Jam 13:12, aku tertidur di depan pintuku. Aku tidak menyadari bahwa aku menemukan titik yang ada di sekitarku. Aku memasuki apartemenku dan segera mencuci mataku agar mata kembali normal.


Setelah itu, aku menuju ke dapur dan memakan beberapa makanan secara cepat agar tenagaku pulih. Kemudian, aku istirahat sejenak untuk mencari Akishima.


Aku akan istirahat dan akan mencobanya nanti.


Aku mengganti menjadi seragam akademi dan mengenakan pakaian kemeja hitam dengan celana panjang lalu menatap ke cermin dan melihat bekas darah yang ada di kelopak mataku.


Karena itu, aku memutuskan mengenakan Insto yang ada di kotak nakas dan segera mengenakannya. Aku diberi obat tetes mata dari Bella karena ia melihat mataku yang tidak sehat akibat hukuman Poker.


Ilustrasi Insto



Setelah mengenakan Insto, aku segera menuju tempat tidur sebentar dan menunggu sore hari untuk mencari Akishima. Aku melihat seisi apartemen secara sejenak dan bernostalgia sebentar. Aku merenungkan sesuatu dari saat yang menimpa kehidupaku.


Apa yang kulakukan?


Aku memikirkan apa yang harus diucapkan kepada Akishima setelah aku bertemu dengannya. Aku mencoba memutarkan otakku untuk merangkai kata yang tepat untuk menyelesaikan masalah.


Satu kata dapat mengubah kehidupan seseorang ~ Rivandy Lex


Setelah merangkai kata, aku merasakan ada sebuah pandangan yang ada di hadapanku. Aku melihat sebuah benda hitam yang tidak beraturan. Aku mengira bahwa ada coretan di dinding.


Entah bagaimana bisa ada sebuah bentuk yang tidak beraturan menempel di tembok. Aku segera menyelidiki.benda yang menempel itu. Namun, aku tidak bisa menyentuhnya. Aku hanya bisa melihat benda itu.


Tidak ada pilihan lain aku menggunakan teknik untuk mengetahui benda yang menempel itu.


Semua teknik yang kugunakan untuk mencari informasi itu tidak membuahkan hasil. Tidak ada pilihan lain. Aku mengeluarkan teknik yang digunakan pada saat aku mencari Akishima di gang.


“Inikan?” Mataku berkerut dengan benda itu.


Ternyata benda itu bukan benda sembarangan.


Benda itu? Jangan-jangan?


Ternyata yang kucari ada di depan mataku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Ternyata itu adalah Akishima. Aku segera mencari titik dan koordinat yang ada di hadapanku.


Benda hitam itu muncul di tembok karena aku masih menggunakan teknik itu secara berlebihan. Aku melihat banyak garis dan bidang yang sedang menyatu. Aku mencari dan terus mencari garis yang membentuk tubuh Akishima.


Tak lama kemudian, aku melihat Akishima yang sedang tertidur di ranjangnya sambil menahan laparnya. Aku juga melihat barang yang berserakan di lantai. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Akishima, sehingga ia selalu mengunjungi apartemenku.


Setelah melihat apa yang terjadi pada Akishima, aku segera keluar dari apartemen dan membuka pintuku. Setelah itu, aku bergerak cepat dan menuju ke apartemen miliknya.


Setelah sampai di apartemennya, aku minum terlebih dahulu untuk berjaga-jaga. Setelah minum air putih yang selalu ku bawa, aku segera memencet tombol apartemen untuk memanggil Akishima.


Semoga saja dia mendengar ini.

__ADS_1


__ADS_2