
Di sebuah kegelapan, terdapat sebuah mimpi buruk yang akan menghantui seorang gadis. Ia selalu menangis di hadapan mayat itu sambil melakukan penetrasi Ia yang sudah tidak memiliki harapan untuk hidup jika mayat itu tidak bisa dihidupkan lagi.
“Aku mohon! Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati!” Gadis itu meluapkan tangisannya.
Mayat itu semakin kedinginan, sehingga tidak dapat ditolong lagi. Dia terdiam kaku dengan suhu tubuhnya yang mencapai -20 derajat Celcius. Gadis itu semakin tidak memiliki harapan lagi untuk hidup. Jika, dia tidak bisa hidup lagi, maka mimpi buruk akan terjadi lagi pada gadis itu.
“Jangan mati! Jangan mati! Jangan mati!”
“Aku mohon! Aku minta maaf. Aku … aku …. aku membuatmu menderita,”
“Jangan lagi! Tidak! Tidak!”
“Tidak!”
“Rivandy!” Sheeran terbangun dari ranjangnya.
Ia terkejut dengan penglihatannya ia melihat mimpi buruk yang menghantuinya tempo hari. Kamarnya yang sudah tersusun rapi dan penyesalan yang ia buat mengenai remaja itu. Dia ingin sekali mengucurkan air matanya karena merasa kehilangan seseorang yang ia cintai.
“Ternyata ini hanya mimpi saja,” gumamnya tertunduk di ranjang sambil menangis kecil.
Sheeran menatap ke jendela dengan cemasnya. Dengan musim dinginnya ia mengingat pengalaman yang pahit pada saat melakukan perjalanan bersama Pangeran. Tak lama kemudian, ada seorang wanita yang menghampiri Sheeran. Dia dengan cemasnya melihat kondisi Sheeran di ranjang sembari melihat pemandangan kota Moskow pada musim dingin.
“Sheeran. Kamu sudah bangun, yah?” Tanya wanita gemuk itu berniat memeluk Sheeran.
“Iya,” jawab Sheeran dengan suram.
“Syukurlah kamu selamat! Aku kira aku kehilanganmu,” resah Bibi Anita pada Sheeran.
“Lupakan itu!” Sheeran menolak pelukan Bibi Anita.
“Aku tidak peduli aku hidup atau tidak. Aku tidak ingin mendengarnya lagi,” keluh Sheeran menutup telinganya.
Dengan iba Bibi Anita mengatakan sesuatu. Ia membeberkan, “Tidak apa-apa. Rivandy sudah sembuh, kok. Aku dan Rin sudah merawatnya. Sekarang, dia pergi belanja,” jelas Bibi Anita mengenai kondisiku.
“Benarkan?” Sheeran ragu dengan respon itu.
“Iya. Dia baik-baik saja.” jawab Bibi Anita menguatkan pernyataan itu.
“Rivandy bodoh! Kenapa dia keluar sekarang? Dia akan mati kalau begini,” umpat Sheeran menahan tangisannya yang semakin membesar.
“Tidak apa-apa. Dia sudah bersama RIn sekarang,” jelas Bibi Anita tanpa ragu sedikitpun.
Sheeran lega dengan kondisi Pangeran Rivandy. Namun, ia masih bersalah atas perlakuannya pada suaminya tersebut. Ia memarahinya, menamparnya, dan mengancamnya untuk membuangnya ke hamparan salju. Ia juga ingin tahu bagaimana ia bisa kesini.
“Ini tanggal berapa?” Tanya Sheeran.
“Rabu, 31 Desember 2025. Ini baru jam 07:34,” jelas Bibi Anita dengan cekatan.
“Lalu, bagaimana aku bisa kesini?” Tanya Sheeran.
“Begini ceritanya.” Bibi Anita mulai menceritakan kejadian Sheeran dan aku.
Bibi Anita menjelaskan mengenai kejadian itu. Sheeran hanya menyimaknya dengan tatapan yang penuh konsentrasi. Ia mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi lalu semua itu untuk mendengarkan kondisi Pangeran.
“Jadi, pengembara itu menemukan kami dan membawa kami ke Moskow. Lalu, aku diistirahatkan di sini. Pengembara itu kenal dengan Bibi lalu Bibi dan RIn yang merawat kami?” Tanya Sheeran sambil memikirkan sesuatu.
“Iya, kamu selamat sekarang. Kalau tidak, kamu akan mati membeku bersamanya. Kamu seperti istri saja,” gombal Bibi Anita menahan tawanya dengan tangannya.
“Jangan katakan itu!” Sheeran malu mendengar gombalan itu.
Setelah mendengar cerita itu, Sheeran menjadi lebih mengerti dari cerita Bibi Anita. Ia merasakan sesuatu yang menyakiti hatinya. Ia juga membuat Pangeran menderita lebih keras. Lebih keras daripada es duri.
__ADS_1
Rasanya aku ingin menangis. Aku membuatnya menderita dengan musim dingin ~ Sheeran Chezka.
[*^*]
Jam 08:23, Sheeran hanya berbaring di ranjang sambil melihat aktivitas di luar rumah. Ia melihat ada anak-anak yang sedang menunggu Ded Moroz (Sinterklas Rusia) dan Snegurochka (Gadis Salju) datang ke Moskow untuk merayakan Tahun Baru 2026. Para penduduk menghias rumahnya dengan lampu yang berkelap-kelip.
Pada saat itu, seseorang memasuki ke kamar Sheeran sambil membawa sesuatu yang hangat kepadanya. Dia dengan seriusnya memberikan sesuatu pada Sheeran yang sedang berbaring di ranjangnya. Ia dengan perhatiannya memanggil nama Sheeran dengan pelan meskipun tubuhnya cukup lemah.
“Sheeran,” panggilku menghampiri Sheeran.
Sheeran menjawab, “Iya,” tanpa menoleh.
“Ini. Sup hangat untukmu. Aku membuatnya khusus untukmu,” sodorku memberikan sup hangat kepada Sheeran.
Sheeran hanya menerimanya dengan rasa bersalah. Ia ingin sekali meminta maaf karena memarahiku dan membuatku menderita karena musim dingin.
“Rivandy. Aku ....”
“Setelah makan, pergi mandi! Aku akan menunggumu di luar sambil membaca Final Fantasy XV. Kita akan ke Kremlin sekarang,” pesanku kepada Sheeran dan berniat untuk meninggalkannya sendiri.
Sheeran hanya mengangguk pelan dengan mangkuk sup hangat yang di tangannya. Aku meninggalkannya karena melakukan pekerjaan yang harus kulakukan. Sheeran menanggapi perintah itu dan segera memakan sup secara perlahan.
Setelah memakan sup itu, ia segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Kremlin bersama suaminya. Ia juga agak keberatan dengan sikapku itu. Aku memberi perhatian pada Sheeran dan mengajaknya kencan pada akhir tahun itu.
Jam 09:23, Sheeran sudah mengenakan sarung tangan merah muda, rok pendek, dan jas musim dinginnya. Aku melihatnya segera memberi perhatian dan berpaling dari kumpulan tulisan yang menandakan suatu kejadian di Final Fantasy XV.
“Maaf menunggu lama,” panggil Sheeran dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa. Aku senang kamu datang kemari,” sahutku menutup buku.
“Ayo! Kita pergi! Kremlin menunggu kedatangan kita,” ajakku berjalan meninggalkan apartemen Sheeran.
[*^*]
Jam 10:17, aku dan Sheeran sudah sampai di Kremlin. Kami melihat salju yang turun itu cukup indah. Dia yang sedang murung itu melihat pemandangan yang cukup fantastis yang hanya bisa dilihat sekali seumur hidupnya.
Jadi, Sheeran memegang tanganku dan memelukku dengan dadanya yang baru tumbuh Ia tidak membiarkan aku melepaskan pelukannya. Ia merasa cemas dan tidak ingin meninggalkanku.
Kami memasuki Kremlin dan mengelilingi daerah itu. Kawasan itu merupakan sebuah kawasan yang sistem pemerintahan utama Negara Rusia. Semua orang bisa mengunjunginya.
Aku dan Sheeran mengunjungi dan melihat suasana Kremlin. Bahkan, kami melakukan swafoto dengan foto yang romantis. Dia juga meminta kami berswafoto dengan tindakan yang mesum. Aku sudah terbiasa dengan itu. Setidaknya ini lebih baik daripada kejadian sebelumnya.
Setelah mengelilingi Kremlin, aku mengajaknya ke Teater Bolshoi dan melihat tarian balet dan segera melihat momen yang tak terlupakan itu. Sheeran dengan romantisnya berpegangan tangan padaku dan percaya padaku. Namun, ia masih ragu dengan perasaannya sendiri.
Jam 15:24, kami makan siang dengan romantis di restoran bintang 4. Dia duduk di sebelahku dan memastikan tidak ada yang membuatku kedinginan. Aku sudah menggunakan alat penghangat tubuh yang dibuat oleh Rin. Jadi, aku tidak akan kedinginan untuk hari terakhir ini.
Jam 16:24, ia mengajakku ke tempat yang menarik wisata. Karena ia adalah penganut Kristen Ortodoks, dia mengajakku ke Santo Basil. Dia berdoa dengan penuh konsentrasi dan berharap mereka baik-baik saja. Penduduk desa yang akan menjadi Desa Dargavs yang kedua.
Setelah berdoa, dia mengajakku ke suatu tempat dan tak lama kemudian, malam pun tiba. Dia menjadi lebih baik. Kami menjadi lebih romantis. Kami mengelilingi kota Moskow dan mencari sesuatu untuk melakukan hal yang romantis. Itu karena … Sheeran adalah istri tercintaku.
Kalau Sheeran mengirimkan foto mesum ke Akishima dan Aurora, mereka akan marah lagi dan segera memulangkanku kepada mereka.
Jam 20:01, kami sedang duduk romantis di Taman Cahaya (Park Sveta) sambil melihat anak-anak yang sedang bersukacita dengan kedatangan Ded Moroz dan Snegurochka. Sheeran bahagia dengan malam akhir tahun 2025.
Salju turun membuatnya terharu. Banyak remaja dan orang dewasa yang menikmati malam sambil berkumpul bersama. Sheeran memegang tanganku dan berusaha menahan perasaan. Sudah saatnya dia menyatakan perasaannya padaku.
“Suamiku,” panggil Sheeran menatap anak-anak.
“Kenapa Sheeran?” Tanyaku memegang tangan Sheeran.
“Sebenarnya, aku sudah tidak perawan lagi. Aku … menyerahkan kesucianku untuk menyelamatkanmu. Alat penghangat tubuh itu sangat tidak bisa diandalkan. Aku juga tidak bisa menyalakan api unggun. Padahal, aku dulunya anggota Scout,” jelas Sheeran pura-pura tersenyum kecil.
__ADS_1
“Aku bukan gadis perawan lagi. Aku adalah … gadis yang cabul. Aku sudah memeriksa tubuhku. Hasilnya, memang benar. Aku melihat darah perawanku di pahaku. Aku takut kalau aku akan hamil,” curhatnya memeriksa sesuatu.
“Tidak! Aku masih belum ingin hamil. Aku ingin lulus akademi terlebih dahulu sebelum hamil. Habisnya kakakmu melarang gadis yang hamil untuk melanjutkan akademi. Ia juga mengeluarkan secara paksa. Aku juga tidak mau hamil terlebih dahulu sebelum lulus nanti."
“Suatu hari nanti, aku akan melahirkan anak yang lucu dan anak di sana adalah anak kita. Kita menjadi keluarga yang bahagia di bawah naungan PBB. Dia adalah seorang anak yang sangat baik dan lugu,” tunjuk Sheeran pada anak-anak yang sedang bermain dengan Ded Moroz.
Aku mendengar curhatan Sheeran dengan prihatin. Dia mengatakan sejauh itu untuk menyatakan sesuatu padaku. Ia mendapatkan sosok yang lebih cocok. Lebih cocok kalau Sheeran menjadi istriku. Maka dari itu, Sheeran mengatakan sesuatu dari lubuk hatinya.
“Rivandy. Aku minta maaf. Aku memarahimu. Aku juga membuatmu kedinginan. Padahal, kamu mengidap penyakit hipotermia. Aku sudah mendengarnya dari kakakmu. Dia memang perhatian padamu.”
“Aku tidak mau bersama orang lain. Kau sudah mengerti semua latar belakangku. Hanya kamu yang mengerti. Tidak ada yang mengerti perasaanku. Mereka hanyalah orang yang egois dan memenuhi tujuan mereka. Aku senang kamu ada di sampingku.”
“Maka dari itu, aku … mencintaimu, Rivandy.” Sheeran mulai menembakku.
Aku semakin tidak mengerti. Sheeran luluh pada hatiku, tidak memikirkan gadis lain yang mencintaiku. Ia tidak peduli dengan saingannya yang semakin lama semakin ketat. Maka dari itu, aku mengatakannya dengan serius.
“Sheeran,” panggilku.
“Aku ….” Aku mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“iya,” sahut Sheeran dengan antusias
“Aku mengantuk. Bisakah kamu mengantarku ke hotel?” Tanyaku menguap dan menahannya dengan tanganku.
Sheeran merasa diberi harapan palsu. Ia pikir aku menerima perasaan cinta itu. Ternyata salah. Tapi, meskipun begitu, Sheeran sudah bahagia sekarang. ia menjadi gadis yang mesum seperti biasanya.
“Kalau suamiku bilang begitu, aku akan mengantarkanmu ke hotel dan bermalam bersamamu,” jawabnya dengan tatapan mesumnya.
“Oh iya. Kamu tidak boleh tidur sampai jam 3 pagi karena kita belum selesai melakukan hal yang romantis,” lanjut dengan aura menyiksanya
“Eh? Tidak mau. Aku sudah lelah,” rengekku karena lelah.
“Aku tidak boleh melakukan banyak aktivitas karena ini musim dingin. Jadi, ….” Aku mencoba untuk menaikkan egoku.
“Jangan khawatir! Aku akan menghangatkanmu dengan tubuhku yang cabul ini,” potong Sheeran dengan tawaran mesumnya.
“Hentikan! Kalau aku kecanduan, siapa yang tanggung jawab?” Tanyaku menolak tawaran mesum itu.
“Tentu saja aku. Aku akan bertanggung jawab, kok,” jawab Sheeran dengan aura cabulnya.
“Kita akan disini sementara waktu. Kita akan kembali ke apartemenmu dan melakukan hal yang romantis. Bagaimana?” Usulku untuk mengisi kekosongan.
“Apapun untuk suamiku, aku lakukan,” terima Sheeran dengan enteng.
Kami memutuskan untuk menetap di Taman Cahaya itu. Dengan romantisnya melakukan aktivitas untuk mengisi malam Tahun Baru. Kami dengan isengnya mencium dan meraba tubuh kami masing-masing. Aku harap dia tidak merekam aktivitas itu. Sekali lagi, ini untuk menaikkan suhu tubuhku. Tidak ada maksud lain.
Semoga Sheeran tidak melakukan sesuatu yang membuat gadis lain iri padanya.
Jam 23:56, pidato Presiden Rusia, mengumumkan sesuatu yang penting sebelum tahun baru. Kami menontonnya di ponsel milik Sheeran dan menunggu kembang api. Ketika kembang api meledak di langit Moskow, aku berhadapan dengan Sheeran dan mengucapkan sesuatu untuk membuatnya luluh.
“Sheeran. Selamat Tahun Baru 2026,” ucapku lembut.
Dengan momen yang bersamaan, Sheeran menjadi semakin ingin menangis. Memandang wajahku yang sedang serius namun lembut. Dengan hatinya yang semakin sayang, ia melontarkan kasih sayang di setiap katanya.
“С Новым годом, дорогая. (Selamat Tahun Baru, Sayang.)” gumam Sheeran dengan senyuman indahnya.
Kami meninggalkan Park Sveta dan berlalu kembali ke apartemen. Kami melakukan hal yang romantis lainnya, seperti berjalan bersama dan semacamnya. Kami saling berpelukan agar hubungan kami menjadi erat. Lebih erat daripada sahabat.
Kami tiba di apartemen lalu Sheeran memperkenalkanku pada tamu sebagai suami. Aku tidak keberatan dan malah menikmati momen itu. Kami berkumpul pada tamu dan segera menikmati Tahun Baru dengan berkumpul bersama dengan tamu yang sudah diundang oleh Bibi Anita.
Momen Tahun Baru yang indah dan menawan.
__ADS_1