
21 Oktober 2025, jam 07:13, aku berjalan ke akademi bersama keempat gadis yang merantaiku. Mereka mengawasiku aga aku tidak kabur. Setelah pulang akademi, Mereka menyerahkan rantainya kepada Akishima, sehingga ia bisa melancarkan rencana jahatnya.
Ia memaksaku untuk tidur di pangkuannya dan menonton Anime dan Cartoon Network di apartemennya pada larut malam. Aku tidak bisa menahan itu karena Akishima selalu meraba tubuhku secara tidak sengaja. Hasilnya, aku tidak bisa tidur.
Keesokan harinya, aku mencoba untuk mandi sebelum melepaskan rantai ini. Aku melepaskan rantai dan mandi secara bersembunyi. Namun, Akishima mengejutkanku dan memelukku dari belakang. Aku terpaksa dengan itu dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Sial! Hukumannya belum berakhir.
Di pertigaan trotoar, kami menemukan Zhukov yang sedang sendirian. Kami menyapa Zhukov. Namun, Zhukov tidak menyapa kami dan sedang sibuk menelpon seseorang.
Akishima yang melihat Zhukov segera bertanya, “Ada apa, Zhukov?”
“Sial! Aku berusaha untuk menelpon Saphine, tapi ia tidak mengangkatnya,” jawab Zhukov mematikan handphonenya.
“Apakah ia terjadi sesuatu yang sangat mengerikan?” Tanya Akishima mendekati Zhukov.
“Sepertinya, tidak ada yang beres padanya,” duga Zhukov sambil mencari informasi mengenai Saphine.
“Kalau begitu, kita harus menjenguknya, desu,” usul Evelyn sambil memegang rantai.
“Tidak bisa,” tolak Zhukov tanpa pikir panjang
“Eh, kenapa?” Tanya Sheeran terkejut.
Zhukov menghela nafas di tengah kepanikan ini. Ia menjelaskan, “Pertama, kita tidak tahu alamatnya ada dimana. Kedua, aku segera mencari informasi mengenai alamat tentan6nya. Dan ketiga, kita tidak boleh menjenguknya sekarang, kelas akademi akan segera dimulai.”
“Oh, kalau begitu, kita harus belajar dulu dan segera menjenguknya. Bagaimana?”
“Iya. Kau benar, Akishima. Namun, kita harus mencari informasi mengenai alamatnya. Ini membutuhkan waktu sekitar 2 hari untuk menemukannya,” pikir Zhukov dengan pose seperti detektif.
“Yosh! Kalau begitu, Detektif Conan : Berubah!”
Akishima melakukan transformasi dan seragam dan pakaian detektifnya bergantian, sehingga Akishima menjadi detektif. Kini, Akishima menjadi Detektif Conan.
“Kalau begitu, kita berangkat dulu,” pamit Aurora tidak ada hati meninggalkan Akishima yang siap mencari kasus.
“Kita akan mencari lain kali,” lanjut Sheeran sambil merantaiku dan menciumku.
“Eh?!”
"Tunggu. Apa yang kalian lakukan?" Seru Akishima melihat kami semua meninggalkannya.
"Oi! Gadis Mesum! Kembalikan seragamku!" Teriak Akishima sambil menghampiri Sheeran.
"Tidak mau!" Sheeran menolak dan sedang memegang seragam Akishima dengan erat.
Kami sampai di akademi sambil berbicara sedikit sebelum kembali ke kelas kami masing-masing.
Sebelum itu, Denis dan Hammer bertemu dan kami. Mereka memelukku dengan erat di tengah rantai ini membuatku sesak nafas. Aku terpaksa dengan pelukan itu dan membiarkan mereka memelukku dengan erat. Kemudian, mereka pamit lagi dan menuju ke kelas mereka sebelum pelajaran militer dimulai lagi.
Kami kembali ke kelas dengan rantai yang dipegang oleh Aurora dan Evelyn. Aku pasrah mengikuti mereka.
[*^*]
Jam 05:45, Saphine tidur di pangkuan Joe dan lainnya. Mereka tidur sambil meraba sesuatu yang kenyal. Kemudian, mereka mengeluarkan hawa panas mereka untuk menggoda Saphine.
__ADS_1
5 menit kemudian, Joe terbangun terlebih dahulu dan segera belajar di akademi. Parrel dan Ray bangun sambil mandi Romano masih tertidur sambil memeluk Saphine.
Setelah itu, Joe mandi dan segera mengenakan seragamnya. Parrel dan Ray mandi secara bersama. Romano terbangun dan memainkan tubuh Saphine, sehingga ia terbangun dari tidurnya.
Saphine terbangun dan segera menyelimutinya. Ia melihat mereka yang sudah mengenakan seragam mereka. Ia segera menuju ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri untuk ke akademi dengan perasaan cemasnya..
“Tunggu! Kau tidak boleh ke akademi!” Larang Joe menghadang Saphine menuju ke kamar mandi.
“Eh?!” Saphine merasa terkejut dengan itu.
“Kenapa aku tidak boleh ke akademi?” Tanya Saphine yang dihadang oleh mereka berdua.
“Kau tetap disini saja.” jawab Romano dengan wajahnya yang sangat jelek.
“Kami sudah meretas handphone-mu agar kamu tidak bisa melakukan panggilan apapun,” lanjut Ray sudah mengutak-atik handphone milik Saphine.
“Hei. Kami belum selesai denganmu,” jawab Parrel sambil membuat isyarat.
“Sebelum itu, sarapan dulu,” cetus Rey sambil mendekati Saphine.
“Hentikan! Jangan apa-apakan aku!” Saphine mundur dari mereka, namun tidak bisa karena tubuhnya masih lemas.
Mereka tertawa seperti iblis dan melancarkan aksinya, “Waktunya makan!”
“Tidak! Hentikan! jangan!”
“Tidak!” Teriakan Saphine menggema di seluruh apartemen.
Walaupun teriakan yang keras itu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Tak lama kemudian, mereka membuka pintu dapur yang sedang terkunci dan melihat Saphine yang sedang diikat di leher dengan berpose nakal dan banyak cairan. Ia taat kepada tuan mereka dan tidak akan melanggar aturan. Mereka berempat segera menuju Saphine dan memulai berpesan.
“Kau tetap disini, ya!” Pesan Joe menghadap ke Saphine.
“Jangan kemana-mana! Aku akan bermain denganmu pulang akademi nanti,” lanjut Romano sambil merayu Saphine.
“Um,” respon Saphine menerima pesan itu dan sedang melahap cairan di tubuhnya.
“Baguslah kalau begitu. Kita akan membawamu dan menjualmu di pasar malam,” cetus Parrel sambil menjilat mutiara Saphine.
“Parrel. Ayolah! Kita akan terlambat, nih,” tegur Ray sambil meninggalkan Parrel.
“Sabar. Aku akan kesana,” sahut Parrel menyusul mereka.
Mereka meninggalkan Saphine di dapur yang sedang diikat dan di dekatnya ada cairan yang cukup untuk makan siang. Saphine ingin sekali melahap cairan itu. Namun, tidak bisa. Ia tidak bisa bergerak sedikitpun karena selalu menjulurkan lidahnya.
Suasana menjadi sepi setelah bunyi pintu tertutup. Ruangan yang gelap dengan gorden menghalangi sinar matahari membuat seisi ruangan apartemen tidak terlihat, walaupun tidak segelap apartemen Akishima.
Saphine yang sedang terdiam dengan tubuhnya yang hina dan penuh dengan cairan yangbanyak. Ia merasa saat ini seperti kemarin Ia mengingat kejadian yang buruk menimpanya.
Ia mengingatnya dengan mata kosong. Ia juga mengingat bahwa guncangan itu telah mengubah nasibnya menjadi lebih buruk. Ia juga membayangkan bahwa betapa lemahnya dirinya saat itu.
Ia memiliki senjata Shotgun di kamarnya, namun senapan itu diambil oleh mereka dan tidak bisa melawan dengan hanya kekuatan dokternya.
Aku ingin jadi dokter. Namun, tidak bisa karena aku kecanduan ****. ~ Saphine Vera.
__ADS_1
Ia terus terdiam dan menyalahkan dirinya. ia yang sedang terikat tidak akan melakukan apapun dan menunggu mereka untuk memulai permainan selanjutnya.
Ia menyukai permainan nakal itu Ia mau bermain dengan ronde yang diinginkan. Ia ingin sekali melakukan permainan itu dengan banyak orang.
Namun, ia tidak bisa. Perasaan sedihnya dan perasaan depresi mulai menyerangnya. Depresi itu telah menghampirinya selama hidupnya.
Ia ingin menangis dengan ingatan itu. Namun, rasa sedihnya tertahankan oleh rasa nikmatnya suatu hubungan tadi malam. Ia ingin sekali melakukannya. Saking nikmatnya, ia rela menjual dirinya dengan harga yang murah.
Namun, ia mengingat seorang pangeran yang ada di pikirannya. Ia mengingat pangeran yang menolongnya saat ia jatuh pingsan karena ia mendapat rangsangan yang sangat kuat, sehingga ia tidak bisa menahan itu dan segera mengambil cairannya.
Ia berharap bertemu denganku dan segera meluapkan hasratnya.
Aku akan mencarimu, Rivandy Lex
[*^*]
Jam 10:12, aku bertemu dengan Andika dan Zhukov untuk melakukan pencarian. Kami sedang melakukan diskusi kali ini. Aku sudah terbebas dari rantai mereka dan siap mendengarkan diskusi ini.
Minuman jus lemon dan moccacino sudah berada di atas meja. Kami menyeruput minuman itu sebelum mereka memulai pembicaraan mereka. Sebelumnya, Akishima dan Aurora ingin membantu. Tapi, Zhukov melarang mereka dan memutuskan untuk mengajak aku dan Andika saja.
Denis dan Hammer sedang mengurus sesuatu yang penting seperti dokumen atau yang lainnya. Sheeran menolak karena ada urusan dengan seseorang yang penting.
Akhirnya, diskusi dimulai. Zhukov menyalakan laptopnya dan segera membuka situs web rahasianya. Aku dan Andika hanya terdiam dengan itu. Setelah itu, Zhukov memulai presentasi dengan PowerPoint Office 365.
“Baiklah. Aku sudah mencari identitas yang dilakukan oleh mereka kemarin malam. Mereka menetap di suatu apartemen dan membuat korban tertekan dengan kemunculan mereka. Sebelumnya mereka melancarkan aksi mereka.”
“Tapi, aku belum bisa mencari alamat Saphine. Kota Moskow memiliki luas sebesar 2.511 km dan membutuhkan pencarian selama 3 jam lamanya. Mereka sudah menyadap sinyal dan memanipulasi agar tidak bisa dilacak,” jelas Zhukov.
Aku dan Andika menyimak dengan penuh konsentrasi.
“Aku sudah mencari beberapa kemungkinan. Namun, sangat banyak disini. Aku harus menghitung kemungkinan yang ada. Aku melihat 1 dari 288! dari hasil laptopku. Namun, aku belum tahu siapa yang tega melakukan tu.”
“Wah! Pantas! Kirain Saphine lagi alpa coba,” komentar Andika mendengarkan penjelasan itu.
Aku hanya terdiam dengan itu. Aku memikirkan sesuatu. Aku mengingat aku meminjam buku Saphine yang tebal tu. Buku itu tertulis namanya dan alamat serta nomor apartemennya Aku ingat betul apa yang terjadi, sehingga menimbulkan pertanyaan di sekitar otakku.
Aku harus mengembalikan buku Saphine dengan judul “Campbel” jilid 6. Sama seperti Aurora. Aku ingin membeli buku itu di Amazon. Namun, aku kekurangan uang dan mengurungkan niatku.
"Rivandy. Apa kau mengerti dengan presentasi yang telah kusampaikan?" Tanya Zhukov sambil melihatku melamun.
"Waduh! Pangeran kok melamun?" Sindir Andika tanpa pikir panjang.
Aku hanya mengangguk saja dan segera menyelesaikan diskusi ini. Aku lupa mengembalikan buku milik Saphine dan segera menyelesaikan ini sekarang jiga,.
Setelah diskusi, kami membubarkan diri dari tongkorongan dan segera bergerak di kelas kami masing-masing.
Zhukov segera menuju ke Kelas I Saintek C, Andika menuju ke Kelas I Saintek B dan aku kembali ke Kelas I Saintek A untuk memulai pelajaran militer kami.
Jam 10:30, kami memasuki kelas dan segera di bimbing oleh guru militer kami masing-masing dan segera melatih diri dengan keras supaya kemampuanku meningkat dengan pesat.
Aurora dan Evelyn bingung apa yang aku lakukan. Namun, ini lah yang harus aku lakukan. Aku memberi izin kepada Pak Stephan untuk belajar menggunakan pisau. Pak Stephan menyetujui hal itu dan kami segera melatih diri dan saling melakukan serangan kmi masing-masing.
Setelah jam pelajaran berakhir, jam 15:00, aku, Zhukov dan Andika berkumpul untuk menjalankan misi pencarian Saphine. Aku sudah membuat petunjuk agar alamat semakin jelas.
Mereka melihat alamat itu dan melakukan rencana yang cukup cerdik untuk menghadapi situasi yang genting.
__ADS_1
Aku harap rencana ini berhasil dan membuat Saphine terbebas dari jeratan seseorang yang berhati busuk.