Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
[Eleva]


__ADS_3

4 September 2025, jam 04:59, ada seseorang yang tertidur itu yang berusaha dibangun oleh Alarm. Alarm berbunyi dengan keras untuk membangunkan orang itu. Orang yang terbangun itu langsung melemparkan alarm ke tembok. Alarm yang rusak itu sudah tidak bisa tertolong lagi lantaran ada material alarm yang retak.


Orang yang terbangun dengan kerusakan alarm itu segera untuk menuju ke kamar mandi dengan perasaan yang kesal. Ia mengambil handuk dan segera untuk mandi.


Rambut bergelombang perak yang panjang sambil bermata coklat moccacino. Tinggi dan berat badan berada yang terkecil dari pemuda pada umumnya. Ia meninggalkan seorang gadis yang sedang terganggu tidurnya.


Ada seorang gadis yang terbangun dari tidurnya karena mendengar keributan itu. Rambut Indigo panjang terurai dengan mulainya terdapat belahan dadanya. Ia membuka mata Indigo dan langsung mengucek matanya sembari berdiri dari tempat tidurnya. Gadis itu tidur di samping orang yang merusak alarm itu.


Dia menyadarkan pikirannya dan segera mengambil handuk untuk menyusul orang itu.


"Eleva. Kamu merusak alarm lagi?" Tanya gadis itu sedang di samping Eleva sambil mengguyurkan tubuhnya dengan air.


"Tidak. Aku tidak menghancurkannya," jawab orang itu berbohong.


"Jangan berbohong! Aku sudah mendengar kebohongan itu sebelumnya," keluh gadis sedang mengeramas rambut indigonya.


"Andela. Kau pasti gila. Aku tidak melihat kehancuran pada alarm itu," cela Eleva yang masih menggosok giginya dengan tubuhnya yang pendek.


"Setiap hari, alarm selalu retak. Lebih baik, aku menggunakan handphone-ku yang tahan banting itu," saran Andela sambil menggunakan sabunnya.


"Tch! Lakukan sesukamu!" Eleva yang sudah menggosok gigi segera pergi dari kamar mandi.


"Hmph! Dasar anak nakal!" Andela menggembungkan pipinya sebagai tanda kekesalannya.


Eleva dan Andela yang sudah mandi memutuskan untuk mengenakan seragam akademinya. Mereka terlihat akrab. Saking akrabnya mereka selalu mandi bersama dan tidur bersama. Banyak orang lain yang melihatnya sebagai suami istri.


"Andela, mana parfumnya?" Tanya Eleva yang sudah berseragam akademi mencari parfumnya.


"Itu. Di dekat nakas tempat tidurmu," jawab Andela singkat sambil mengenakan bra warna navy itu menunjuk nakas di tempat tidurnya


Eleva yang sedang melihat itu segera bergerak menuju parfumnya. Ia mengambil parfumnya dan mengarahkannya kepada pakaiannya. Kemudian, ia mengambil tasnya yang sudah disiapkan.


"Aku menunggumu di luar. Sampai jum …," pamit Eleva segera meninggalkan Andela yang sedang ganti baju terpotong.


"Tidak boleh! Kamu tidak boleh lari! Jika kamu lari, kamu akan membuat keributan," larang Andela langsung menggunakan borgol miliknya untuk menahan Eleva.


"Oi! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"  Eleva panik dengan tangannya diborgol.


"Tidak boleh! Kamu harus menungguku sampai aku siap," desak Andela tidak membiarkan Eleva pergi sendirian.


"Tidak mau! Aku tidak mau melihatmu ganti baju, tahu!" Seru Eleva menolak permintaan Andela.


"Jangan-jangan kamu mau aku, yah? Baiklah, aku akan melepaskan semua pakaianku malam ini dan tidur denganmu," canda Andela sambil tersenyum nakal.


"Hentikan guyonan itu, dasar mesum!"  Pinta Eleva blak-blakkan.


"Aku selalu melihatmu tidak berpakaian setiap hari," lanjutnya memalingkan pandangannya.


Andela tertawa mendengar itu dan membalas, "Kamu juga sama saja."


[*^*]


Mereka keluar dari apartemen yang mereka tinggal bersama. Mereka berasal dari Amerika Serikat Negara Bagian Timur. Mereka terpilih sebagai siswa yang akan menyelamatkan dunia oleh Pemerintahan Amerika Serikat.


Eleva tidak terlalu ingin menjadi pahlawan. Dia hanya menemani Andela yang mudah kesepian itu. Eleva juga membenci pemerintahan karena ada suatu alasan yang jelas yang pernah menimpanya.


Eleva berjalan dengan pelukan dari Andela. Andela berjalan dengan riang gembira.


“Eleva. Ayo sarapan disana!” Ajak Andela menunjuk restoran disana.


“Terserah,” jawabnya singkat

__ADS_1


Mereka singgah di restoran terlebih dahulu agar mereka bisa melanjutkan perjalanan merek ake akademi. Mereka memasuki restoran mereka dan duduk di bangku dekat jendela. Tak lama kemudian, pelayan dengan pakaian rapi menghampiri Eleva dan Andela.


“Selamat, datang ada yang bisa dibantu?” Tanya pelayan itu dengan ramah.


“Saya ingin memesan sesuatu.” jawab Andela dengan nada sopan.


“Kalau begitu, mau pesan apa?” Tanya pelayan itu bersiap untuk menuliskan pesanan.


“Pelmeni dua porsi,” pesan Andela sambil menunjuk pesanan yang tertera di atas kertas laminating..


“Ayam goreng crispy,” pesan Eleva sambil menatap jendela.


Andela tertawa dengan tingkah Eleva. Ia menjawab, “Ya ampun! Tidak ada ayam goreng di Rusia,”


Eleva yang melihat tawa Andela langsung memerah. Ia memesan,“Kalau begitu, aku pesan Beef Stroganoff,” sambil menahan malunya.


Pelayan itu menulis pesanannya setelah Andela dan Eleva menyebutkan pesanan yang akan mereka pesan.


Dia pamit, “Mohon ditunggu sebentar! Pesanannya akan disajikan dalam 20 menit lagi,” sambil bergerak menuju ke meja pemesanan. Eleva dan Andela menunggu pesanan mereka. Eleva memandang kota Moskow dari dalam restoran sementara, Andela sedang bermain Instagram di layar handphone miliknya.


Ilustrasi Handphone Andela dan Rivandy



“Eleva,” panggil Andela sangat bergairah.


“Apa?” Sahut Eleva dengan nada pelan.


“Coba lihat ini!” Andela memperlihatkan video yang bagus untuk Eleva.


Eleva menoleh ke Andela dengan dinginnya.  Ia melihat adegan yang sangat panas dan menyenangkan. Eleva harus menahan rasa malunya karena Andela terus menyerangnya dengan candaan dewasa itu.


“Vi-Video apa itu? Matikan cepat!” Seru Eleva kembali memerah.


“Tch!” Eleva kesal dan menghapus video itu.


“Heh? Kenapa dihapus? Itu menyenangkan, lho,” keluh Andela melihat videonya dihapus.


“Menyenangkan gundulmu! Kalau ada orang yang merayumu, aku tidak akan menolongmu,” bentak Eleva.


“Videoku masih banyak. Mau nonton bareng?” Ajak Andela ingin mengajak Eleva untuk menonton video yang sudah disimpan di handphone Andela.


“Tch! Lebih baik, aku menunggu pesananku saja,” keluh Eleva menunggu pesanannya sambil menatap jendela.


Setelah menunggu 20 menit, pesanan Eleva dan Andela telah tiba. Mereka makan dengan pesanan mereka. Tidak jarang Andela memberi suapan kepada Eleva. Eleva terpaksa menerima suapan itu.


Setelah sarapan di restoran, mereka membayar ₽ 930 sebelum mereka meninggalkan restoran. Eleva dan Andela segera berangkat ke akademi sebelum bel akademi berbunyi pada jam 08;00


[*^*]


Jam pelajaran pertama selesai. Eleva yang sekelas dan berdekatan dengan Andela di Kelas I Soshum B,


“Eleva, Andela,” panggil Andika saat aku berduaan dengan Andela.


“Apa?” Panggil Eleva dengan tatapan sinisnya.


“Romantisnya! Apa dia pacarmu?” Tanya Andika sambil bersiul.


“Hah?! Apa yang kau bicarakan?” Cela Eleva mendengar guyonan Andika.


“Pacar?! Andika, apa itu pacar?” Tanya Andela dengan nada polosnya.

__ADS_1


Andika tertawa dengan kepolosan Andela. Ia menjawab, “Masa kamu tidak tahu pacar? Bagaimana coba,”


“Pergi dari sini! Mengganggu saja,” usir Eleva mulai kesal dengan Andika.


“Aku iri denganmu yang sudah pacar ini. Aku masih jomblo.” Andika ingin menangis karena ia ingin punya pacar.


“Sudah kubilang aku dan Andela hanya teman kecil saja,” jelas Eleva yang Andika kira mereka itu sedang berpacaran.


”Aku dengar ada seorang pangeran yang sudah memikat 50 gadis. lho,” gosip Andika dengan senyuman nakalnya


“Aku tidak peduli” Seru Eleva mendengar gosip itu.


“Andika. Siapa pangeran itu? Apakah kekuatan pangeran itu setara dengan 50-100 gadis? Berapa lama kekuatan pangeran itu? 2 jam? 3 jam? Atau 5 jam?” Tanya Andela mendengar gosip Andika.


“Waduh! Dia sangat kuat, lho. Kalau tidak salah namanya Pangeran …,” ucapan Andika terpotong karena ia tidak tahu nama pengeran itu.


“Rivandy Lex. Kelas I Saintek A,” potong Eleva dengan tatapan datarnya.


“Itu dia! Aku akan menyelidikinya,” pamit Andika segera menyelidiki kondisi Rivandy.


“Tch! Mengganggu saja,”


“Andela. Aku mau ke perpustakaan dulu. Sampai jum ... ,” pamit Eleva berniat pergi ke perpustakaan


“Tidak boleh. Temani aku dulu!” Rengek Andela


“Hah?! Kenapa kamu tidak pergi sendiri sana?!” Tanya Eleva menanggapi rengekan Andela itu.


“Tidak mau! Aku mau sama kamu,” rengek Andela memeluk Eleva


“Hentikan! Mereka akan berprasangka buruk dan menganggap kami pacaran,” suruh Eleva untuk menghentikan rengekan itu.


Mereka terjatuh karena berat badan Andela cukup berat untuk menjatuhkan Eleva. Eleva yang terjatuh ke belakang menyentuh dua gunung milik Andela. Andela yang melihat Eleva yang menyentuh mutiaranya tersenyum nakal karena Eleva ingin melakukan itu.


Siswa dan siswi di kelas Eleva melihat Eleva dan Andela sedang terjatuh di kelas. Berbagai macam ekspresi yang mereka lontarkan. Tertawa kecil, saling mencibir, dan merasa jijik menghias kelas Eleva. Eleva yang malu dengan tatapan itu, segera membawa Andela ke kantin dan segera memenuhi hasrat Andela dengan cepat.


[*^*]


Jam pelajaran pulang telah tiba, Eleva dan Andela mengemasi barang mereka dan berjalan menuju ke gerbang. Andika sedang menyelidiki apa yang Rivandy lakukan. Ia melihat Rivandy selang mutung karena perbuatan kedua gadis yang membuatnya terlambat ke akademi.


Di tengah perjalanan mereka, Andela membuka obrolannya. Ia berkata, “Hei, Eleva. Apa kamu susu ini? Aku meremasnya untukmu, nih,””menyodorkan kaleng susunya


“Tidak usah. Aku tidak terlalu ingin susu,” tolak Eleva dengan sodoran itu.


“Ayolah! Jangan seperti itu!”


Eleva yang menghela nafasnya segera menerima susu itu. Ia pun menerimanya dengan cepat. Setelah itu, dia mengomentari, “Rasanya seperti melon."


“Aku memang hebat. Nanti, aku akan membuat susu untukmu setiap hari,” canda Andela.


“Tidak usah! Aku ingin susu di supermarket aja,” ujar Eleva dengan cuek.


Eleva dan Andela segera berjalan sampai menaiki Metro Moskow dengan bayaran sebesar ₽ 200. Mereka turun dari bus dan segera menuju ke apartemen mereka setelah bus yang mereka tumpangi menuju ke apartemen mereka.


Eleva melupakan sesuatu yang sangat penting setelah mereka memasuki ruangan mereka. Mereka lupa membeli makanan dari supermarket sebelum pulang ke apartemen. Begitu juga dengan Andela. Mereka memilih untuk membeli makanan karena mereka tidak tahu memasak.


Akhirnya mereka ganti baju secara bersamaan dan menuju ke supermarket dengan  saling bergandengan tangan. Eleva yang sedang bergandengan tangan itu terlihat malu karena ia dilirik oleh warga Moskow.


“Enaknya! Seandainya aku punya pasangan yang romantis itu,”


“Aku yang sudah 50 tahun sedih melihat ini,”

__ADS_1


“Gadis itu cantik sekali. Aku ingin sekali berpasangan dengannya.”


Eleva terpaksa mempercepat langkahnya untuk menghindari cibiran itu. Setelah membeli makanan di supermarket, mereka kembali ke apartemen mereka.


__ADS_2