Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-hari : Konflik dengan Klub Pangeran & Klub Militer 1,3


__ADS_3

Jam 07:34, sebuah batalyon yang dikirimkan oleh ketua untuk menghalau jalan. Biasanya sebuah batalyon berjumlah 700 orang. Namun, karena 1 orang Akademi Militer Spyxtria sama dengan 100 tentara di dunia, maka ada 7 orang dalam satu batalyon.


Lisa dan batalyon yang dikirim itu sedang mendiskusikan arah jalan yang ditempuh oleh Kotori. Mereka membuka peta koridor akademi dan terlihat ada isi peta yang cukup membingungkan bagi orang awam. Setelah diskusi selesai, mereka membubarkan diri.


Ada seorang siswa berseragam militer yang menghampiri Lisa setelah diskusi itu berjalan.


“Lapor, Nona! Saya, anggota Batalyon Omega akan menemani anda untuk menjalankan misi,” lapor siswa sambil menghormati Lisa.


“Sebutkan nama dan kelasmu!” Pinta Lisa sambil berdiri tegak.


“Baik! Nama Takeda Hideyoshi dari Kelas I Saintek C,” jawab Takeda.


“Baiklah, Takeda. Apa kemampuanmu?” Tanya Lisa dengan tatapan militernya.


“Kemampuanku adalah seorang pengintai level menengah. Lalu, aku menggunakan Ak-47  untuk menjalankan misi ini,” jawab Takeda dengan memperlihatkan senapannya.


{Ak-47 (Asiimov)}



“Asiimov, yah?”


“Baik! Temani aku dan pastikan kamu berguna!” Perintah Lisa berlari di koridor mencari Kotori.


“Baik, Nona,” terima Takeda mengikuti langkah Lisa.


Perbincangan pun berakhir.


[*^*]


Kotori yang membawa tubuhku segera membawa ke suatu tempat. Ia yang dikejar oleh Aurora dalam mode Langit Malam Hitam terus bergerak ke depan. Kotori memanggil temannya melalui headphone karena ia tidak bisa menggunakan handphonenya. Kedua tangannya berada di genggaman tubuhku yang kaku.


“Hello?!” Panggil Kotori melalui headphone yang sudah tersambung.


“Bella, Shiori, kalian dimana?” Tanya Kotori mengenai keberadaan temannya.


“Aku sudah membereskan speaker milikmu. Kau akan sedikit terlambat,”  jawab Bella sambil membereskan speaker dan alat DJ milik Kotori.


“Aku berada di sisimu. Kotori. Jadi, teruslah berlari! Aku akan menghabisi wanita itu,” lanjut Shiori yang berada di taman akademi.


“Baik. Tapi, aku harus kemana?” Tanya Kotori sambil menghindari tembakan Aurora.


“Bawa dia ke titik pertemuan kita. Aku segera kesana setelah membereskan ini,” jawab Bella menyusutkan speaker Kotori.


“Roger!” Mereka menerima perintah Bella secara bersamaan.


Mereka menjalankan misi dan menuju ke titik pertemuan mereka, yakni ruangan Klub PMR.


[*^*]


Kendaraan satu meter itu sedang dikejar oleh anggota Klub Pangeran. Anggota Klub Pangeran sedang mengejar sambil melakukan tembakan, walaupun tidak tepat sasaran. Karena jumlah mereka cukup banyak, kendaraan tersebut dapat dilumpuhkan.


“Sial! Mereka tidak ada habisnya. Bagaimana ini, Zhukov?”


“Denis, dua … tidak tiga meter, sekarang!” Pinta Zhukov sambil membidik dengan senjatanya.


“Baiklah!” Denia mengaktifkan pembesaran kendaraan menjadi 3 meter.


“Hammer dan Evelyn, awasi bagian depan! Mereka mungkin akan mengepung kita,”


“Siap!” Hammer segera berdiri dan mengawasi bagian depan.


“Siap, desu!” Evelyn keluar dari kendaraan dan segera menggunakan senjatanya untuk menyerang.


“Kalau saja kita tidak tersesat, ini tidak akan terjadi,” keluh Akishima dengan kejadian sebelumnya.


“Akishima, jangan mengeluh! Kita harus menyelamatkannya sebelum hal buruk terjadi,” cekal Zhukov melakukan tembakan jitu untuk mengenai dada anggota Klub Pangeran.


Anggota Klub Pangeran yang berkisaran 40 orang sedang mengejar kendaraan itu, meskipun kendaraan itu sedikit lebih cepat daripada manusia. Tidak jarang mereka mengepung kendaraan itu dan melakukan tembakan bertubi-tubi agar kendaraan itu berhenti.

__ADS_1


Tak lama kemudian, di sebuah koridor searah, ada sebuah pemberhentian yang akan menghentikan kendaraan itu. Pertahanan itu merupakan yang lebih kuat dari sebelumnya. Tinggi dari pertahanan itu mencapai hampir 4 meter dan ¾ dari tinggi koridor akademi dengan tinggi 5,3 meter.


“Fortress Girl : Wall-E!”


Pertahanan itu membuat Denis menghentikan kendaraan itu. Tidak mungkin kendaraan itu bisa menembus pertahanan yang cukup kokoh itu. Ketiga gadis - Stephany, Aria, dan Millia - mengarahkan senjata bazooka mereka dan melakukan tembakan ke kendaraan tersebut.


Alhasil, kendaraan tersebut telah hancur lebur, sehingga orang yang di dalamnya terpaksa keluar dari kendaraan yang sudah rusak itu. Hammer dan Evelyn tidak sempat melakukan tembakan karena mereka tidak bisa menghancurkan pertahanan itu.


Akishima yang masih mengenakan seragam Power Ranger bangkit dan mencocor, “Hei, Janda! Bisakah kamu tidak menghalangi jalan?” Dengan emosinya yang meluap.


“Itu dia! Mereka tidak bisa kabur. Tembak!” Seru gadis anggota Klub Pangeran dan memerintahkan untuk menembak.


Para gadis melakukan tembakan bersamaan agar lawan mereka tidak bisa berkutik lagi.


“Shielder : Level 3!”


Hammer mengeluarkan perisainya dan segera melindungi teman yang lainnya.  Evelyn dan Denis segera melakukan tembakan ke belakang. Namun, percuma saja. Akishima dan Zhukov melakukan serangan baliknya.


“Kita dikepung. Tidak ada cara lain selain bertahan,” usul Zhukov sambil melihat celah yang di depannya.


“Kalau ada Aurora, dia akan membantai semuanya,” harap Akishima saat Aurora ada di samping mereka.


“Menyerahlah, dasar ikut campur! Kau sudah membuat Rivandy berada di tangan musuh,” titah Aria dengan menggunakan megaphone.


“Tidak mau! Kau tidak boleh mengambil Ri-chan, dasar Janda!” Ejek Denis dengan menjulurkan lidahnya.


"Iya, betul! Aku tidak mau menyerah dengan janda," lanjut Hammer sambil mengejek Stephany.


"Argh! Aku sudah muak dengan ejekan kalian. Rasakan ini!" Geram Millia dengan ejekan itu.


"Fortress Girl : Light Bazooka!"


Sebuah peluru bazooka melesat dengan hitungan mundur. Denis dan Hammer mencoba untuk menembak peluru bazooka itu. Namun, tidak berhasil. Peluru Bazooka terus menuju ke bawah.


Evelyn yang sedang berdiri pada saat kondisi mendesak berjalan menuju Denis dan Hammer yang sedang menembak dengan cukup keras. Ia sedikit murung dan gelap pada wajahnya. Ia menaikkan wajahnya dan segera beraksi.


"Minggir, desu! Sekarang, ini saatnya aku beraksi, desu," tekad Evelyn sambil memegang senapan M134 minigunnya


"Aku akan menghancurkan peluru itu, desu," tekad Evelyn membidik dan


"Program B : One Point, desu!"


Evelyn melakukan tembakan pada satu titik yang cepat. Peluru 7.62×51mm NATO bergerak dengan kecepatan 853 m/s menuju ke peluru bazooka itu, sehingga peluru bazooka mengalami tekanan yang tinggi dan menimbulkan ledakan yang dahsyat.


Denis dan Hammer yang mengambil kesempatan itu segera menoleh ke arah teman yang lain. Denis menyuruh, “Semuanya! Loncat kesini!”  Mereka pun segera meloncat ke jendela dan terjatuh di taman tanaman yang sedikit empuk.


Akishima dan Zhukov mendarat dengan mulus. Denis dan Hammer terjatuh dari tanah sambil berguling dan Evelyn menggunakan parasut dan terjun dengan selamat.


Zhukov yang sedang berdiri menghampiri mereka berdua. Dia memanggil, "Denis, Hammer. Kalian tidak apa-apa?” sambil membangunkan mereka dengan tangan.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Hammer dibantu oleh Zhukov.


Namun, pada saat mereka berdiri, terdengar seorang gadis yang sedang berseru, “Itu mereka! Kejar!” Membuat anggota Klub Pangeran menuju ke jendela dan melakukan tembakan secara bersamaan.


Zhukov dan lainnya berlari mundur ke taman untuk bersembunyi dan menghindari tembakan itu. Mereka yang melihat musuh kabur segera turun dari jendela yang sudah dipecahkan oleh Denis dan Hammer.


Stephany, Aria, dan Millia merombak pertahanan mereka dan segera mengejar musuh bersama kawanan yang lainnya.


[*^*]


Jam 07:35, di koridor akademi yang berada 600 meter dari ruangan Klub PMR, Kotori yang memegang tubuhku yang penuh luka sedang dikejar oleh Aurora. Aurora dengan mode Langit Malam Hitam mengejar Kotori dengan kecepatan 55 km/ jam.


“Sial! Tenagaku sudah melemah untuk lari. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk melawannya,” pikir Kotori terus memandang ke depan.


“Aku butuh sesuatu untuk menghentikan langkahnya,” lanjutnya.


Tak lama kemudian, langkah Kotori terhenti dengan sebuah pertahanan dengan sebuah batalyon yang elit, Batalyon Omega. Dua orang menggunakan P90 Asiimov, seorang menggunakan 1 AWP Asiimov, dan sisanya, termasuk Takeda Hideyoshi menggunakan Ak-47 Asiimov.


“Itu dia!”

__ADS_1


“Tembak!”


Tembakan dari senapan Asiimov diluncurkan. Kotori yang melihat tembakan itu segera melakukan tekniknya.


“Electro Dubstep : Opposite Side!”


Kotori melakukan tekniknya yang membuat tembakan menuju Kotori berbalik menuju batalyon it. Mereka bersembunyi dari tembakan itu dan segera melakukan serangan yang lainnya.


Lisa dan Takeda bersiap untuk melakukan tembakan. Mereka membidik Kotori yang berhenti melangkah. Namun, saat Kotori melakukan tekniknya, peluru itu berbalik dan segera melesat menuju Takeda dan Lisa. Mereka yang melakukan tembakan harus bersembunyi di balik tembok, sehingga menimbulkan suara yang berisik.


Suara yang berisik itulah yang memancing Aurora untuk bergerak cepat dan mendekati kedua tentara itu. Lalu, ia melakukan tembakan dengan cepat, sehingga Lisa dan Takeda memilih mundur dari pada terkena tembakan itu.


“Tch! Kenapa aku harus berhadapan dengannya?” Keluh Lisa saat berhadapan dengan Aurora sambil mengisi pelurunya.


“Nona! Apakah kamu mengenalnya?” Tanya Takeda yang sudah berhadapan dengan Lisa.


“Iya. Menurut Ketua Klub, dia adalah seorang target yang tidak bisa diremehkan. Dengan pendengaran yang melebihi 39.999 Hz, dia bisa melacak musuh yang berjalan pelan dan merangkak. Ia juga bisa memprediksi peluru dengan baik, sehingga kita tidak bisa mengalahkannya dengan peluru. Hanya laser yang bisa mengalahkannya,” jelas Lisa mengenai kemampuan Aurora yang sudah didiskusikan oleh Ketua kemarin.


“Oo, begitu. Jadi, apa nama teknik itu?”  Tanya Takeda dengan menggerakkan mulutnya.


“Itu adalah teknik mode Langit Malam Hitam,” jawab Lisa dengan tulisan.


“Rencananya, begini …,”


{*^*}


Aurora yang mencari dengan pendengarannya yang melebihi kemampuan manusia segera mendengar suara yang bising dari sana. Ia bergerak cepat dan segera menuju ke arah Batalyon Omega yang sedang bertarung dengan Kotori.


Kotori terpojok karena banyak peluru yang cepat segera melukainya .Ia pun memulai tekniknya yang baru untuk keluar dari kondisi yang mendesaknya.


“Electro Dubstep : On My Own : Play!”


Ia mengamankan tubuhku dengan menyusut tubuhku menjadi sekecil kristal dan diamankan ke bra yang kecil. Ia menari ketika tembakan itu menuju ke arahnya. Tembakan itu selalu meleset dan Kotori bisa menangkis serangan itu dan menyerangnya seperti bumerang. Satu tumbang. Kotori melakukan hal yang sama.


Naasnya, Kotori harus berhadapan dengan Aurora  Kotori ditendang oleh Aurora ke depan, sehingga 6 serdadu harus menghindar dari hempasan Kotori ke fepan. Aurora berjalan cepat dan melakukan tembakan untuk memojok Kotori.


Pertarungan antara Kotori dan Aurora dimulai.


[*^*]


Lisa dan Takeda keluar dari persembunyian dan melakukan sesuatu untuk melemahkan Aurora. Namun, terdengar suara yang cukup pelan, sehingga Lisa terdorong dari samping. Kemudian, peluru yang cepat itu mengenai dada Takeda. Alhasil, Takeda terjatuh dan mengeluarkan darah.


“Takeda. Apa kau baik-baik saja?” Tanya Lisa sambil memeriksa kondisi Takeda.


Lisa menyadari bahwa tembakan itu berasal dari seorang MVP.  Ia melihat peluru dengan kecepatan 744 m/s sedang menuju ke arah dadanya. Ia melihat arah tembakan itu dan melihat Shiori yang sedang membidik.


“Hampir saja,” gumamnya.


Lisa segera melepaskan tembakan menuju Shiori. Namun, ia berhenti melakukannya. Ia terbujur kaku. Darahnya keluar dari pinggulnya. Lisa menahan rasa sakit dari pinggulnya yang terluka itu. Ia menuju ke tembok agar tetap berdiri.


Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang menghampirinya. Gadis lolita dengan rambut orange berjalan mendekati dua orang yang terluka itu.


“Aku disini,” desis Bella sambil memainkan pistolnya.


“Ternyata kau dalang dari semua ini!” Bentak Lisa sambil menahan lukanya.


“Iya. Seharusnya kamu harus berdiam diri sementara aku akan melindungi Kotori,” pamit Bella sambil berjalan meninggalkan Lisa.


“Jangan main-main denganku! Kau pikir kau berbicara dengan siapa, hah?” Lisa mengarahkan pistolnya kepada Bella.


“Huft. Maaf saja. Aku sudah berteman dengan seorang MVP. Jadi, aku tidak perlu khawatir,” respon Bella dengan ocehan itu.


“Kalau bisa, aku akan membunuhmu sekarang juga,” ancamnya sambil mengeluarkan pistol miliknya.


“Kita lihat siapa yang tertembak."


“Yang tertembak, artinya mati,” lanjut Lisa sambil menyodorkan senjatanya.


“Aku tidak takut dengan itu. Kita lihat siapa yang akan kalah,” respon Bella tidak takut dengan ancaman itu.

__ADS_1


Duet ini akan memanas. Siapa yang menang?


__ADS_2