Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Musim Dingin Moskow : Perang Dingin 1,2


__ADS_3

"Kau adalah … kalau tidak salah, … kau satu berhubungan sesuatu dengan Rivandy. Aku benarkan?" Tanya Aurora dengan tatapan sinisnya.


Rin merasakan aura yang mengerikan dari Aurora. Aurora berpikir Rin akan berpeluang untuk merebut Rivandy dari Aurora. Padahal, sudah banyak gadis yang akan merebut Rivandy karena mereka merasakan cinta yang kuat. Bahkan, Sheeran juga memiliki perasaan seperti itu.


"Aku ingin bertanya. Apa kamu teman Rivandy juga?” tanya Rin dengan polos.


"Tidak tahu,” jawab Aurora membohongi Rin karena kebenciannya.


“Lalu, kamu mau apa?” Lanjut Aurora dengan tatapan sinisnya.


“Mau merebut Rivandy dariku?” Duganya memperlihatkan bukti kepada Rin.


“Itukan … ” Rin terkejut melihat Aurora memegang sesuatu.


“Pakaian dalammu. Iya kan?” Tanya Aurora dengan ucapan seriusnya.


“Iya. Aku lupa mengambilnya. Makanya, setelah aku diperkosa, aku tidak melihat pakaian dalam di dalam pakaianku,” jelas Rin memegang rok miliknya.


“Huh? Kamu tidak berbohong, iya kan?” Tanya Aurora ragu pada Rin.


“Aku tidak berbohong. Aku ingin Rivandy berada di sampingku. Dia sudah memperlakukanku dengan baik. Dia juga membantuku mencari apartemen. Tidak ada yang lain. Kalau kamu bilang aku berhubungan intim dengannya, aku tidak melakukannya. Aku hanya … memeluknya dan merawatnya. Dia terluka parah,” jelas Rin tidak akan berbohong.


Aurora mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Rin tidak berbohong. Aurora berharap Rin tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti Anggota Klub Pangeran.


“Lakukan sesukamu!” Aurora mengalah dan mengembalikan pakaian dalam milik Rin.


“Aku tidak ingin berseteru dengan gadis hina sepertimu,” lanjut Aurora memalingkan wajahnya dari Rin dan segera tertuju pada Evelyn.


Rin terdiam dengan ancaman Aurora dan mengambil pakaian dalamnya berlalu ke rumah sakit untuk menjengukku. Ia bergerak secara diam-diam untuk menghilangkan keberadaannya agar tidak ketahuan.


Aurora dan Evelyn menatap laptop Evelyn dengan teliti. Evelyn menggunakan sistem Python3 atau CSS. Dia mengetik laptopnya dengan cepat agar bisa mendapatkan suatu informasi yang diinginkan.


Namun, ketika Evelyn mengaktifkan semua yang ia ketik, ia mencoba memanggil robotnya. Tidak ada panggilan yang berarti.


“Gawat, desu! Aku tidak bisa memanggil Master Grade Gundam, desu. Selain itu, musuh yang berada di rumah sakit itu sudah berada di tangga, desu,” jelas Evelyn melihat properti yang berada di dalam laptop miliknya.


“Aku akan segera ke sana. Kalau ada sesuatu, panggil aku!” Aurora segera pergi meninggalkan Evelyn dan mulai bergerak.


Aurora memanjat dinding rumah sakit lalu mencari ruangan dan mencari keberadaan musuh. Evelyn bersembunyi dari bawah mobil dan melakukan sesuatu untuk membuat rencana Evelyn sebenarnya. Ia memasukan suatu chip ke mobil dan diaktifkan untuk mentransformasikan menjadi sesuatu.


“Program C : Super Deformed, desu!”


[*^*]


Pertarungan Kotori dan Lisa masih berlanjut Mereka melakukan tembakan dan tebasan. Shiori dan Bella tidak diketahui keberadaanya. Kotori hanya membuat getaran agar tembakan peluru Lisa tidak mengenai tubuhnya.


“Electro Dubstep : Colorblind!”


Getaran itu membuat Kotori tidak mengenai lukanya. Bisa dikatakan dapat menghindar serangan Lisa dengan mudah. Kotori membalas serangan lagi. Namun, ketika serangan itu berlangsung, ada sekelompok gadis Klub Pangeran membidik pertarungan itu dan melakukan tembakan secara beruntun setelah menerima perintah dari ketua korps.


“Tembak!”


Kotori dan Lisa menghindari tembakan dan bersembunyi. Kotori menari di tengah tembakan peluru sementara Lisa bersembunyi di tembok.


“Cari mereka! Sisanya, ikut aku! Kita harus menemukan Pangeran sekarang juga,” tekad ketua korps itu.


Mereka melancarkan serangan dan kerusakan kepada kedua gadis itu. Lisa bersembunyi dan membalas tembakan. Kotori hanya bisa maju ke depan dan menghentikan pergerakan yang dilakukan oleh anggota Klub Pangeran lainnya.


Jika Kotori bisa menemukan Rivandy dan menolongnya dari serbuan para gadis. Ia berniat akan menyerahkannya kepada Shiori dan Bella setelah membawaku ke tempat yang aman.


“Aku tidak akan membiarkan mereka seenaknya,”


[*^*]


Akishima dan Sheeran sedang berlari menuju ruangan pasien. Mereka mencari nomor ruangan untuk penderita hipotermia. Mereka berlari lebih cepat sebelum ada yang mengambil Rivandy dari mereka.


“Sial! Dia dimana?” Keluh Akishima mencari nomor pasien.


“Jangan khawatir! Sepertinya dia tidak jauh dari sini," lanjut Sheeran melirik sekitar lorong rumah sakit.


"Kalau Rivandy tertangkap oleh Klub Pangeran, dia akan berada dalam bahaya," jelas Akishima mengenai suasana di rumah sakit.


"Aku harap aku bisa berhubungan kasur dengannya," harap Sheeran hampir menangis.

__ADS_1


"Jangan cengeng kamu! Rivandy akan baik-baik saja," tegur Akishima dengan aura cerewetnya.


"Kau benar. Kita harus membawanya dan kawin lari dengannya," respon Sheeran dengan mata cinta.


Mereka hampir sampai di ruangan itu, mencoba untuk masuk ke sana. Akishima dan Sheeran cukup senang menemukan ruangan yang mereka inginkan.


“Yatta! Kita sudah sampai!” Seru Akishima menemukan sesuatu.


“Iya. Kita harus masuk ke dalam dan ….” Ucapan Sheeran terhenti oleh sebuah aksi.


“Berlindung!”Akishima mendorong Sheeran ke kiri.


“Eh? Apa yang ….”


Sebuah tembakan yang bertubi-tubi melesat menuju kedua gadis itu. Mereka selamat berkat Akishima mendorong Sheeran ke kiri, sehingga peluru itu tidak mengenai mereka.


“Apa yang terjadi?” Tanya Sheeran bangun kembali.


"Sial! Kita diserang. Kita tidak bisa bergerak maju kalau seperti ini," jelas Akishima memandang sekitar.


“Lalu, apa yang kita lakukan?” Tanya Sheeran


“Kalau begitu, ...” Akishima mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu.


Mereka menunjukkan diri kepada anggota Klub Pangeran yang siap menyerang mereka. Akishima dan Sheeran mengenakan gelang mereka yang digunakan untuk melakukan suatu transformasi. Transformasi itu adalah ...


“Power Ranger : Berubah!”


Mereka mengganti seragam mereka menjadi seragam Power Ranger. Seragam mereka terhempas ke lantai beserta pakaian dalam. Terlihat ada Power Ranger Coklat dan Power Ranger Violet sedang berhadapan dengan anggota Klub Pangeran.


“Kyaa! Ke mana pakaianku?” Tanya Sheeran memeluk tubuhnya.


“Tidak usah peduli dengan pakaian. Kita serang mereka!” Serang Akishima dengan cepat menghampiri lawan.


“Aku tidak mau pakai pakaian ini! Ini sama saja aku tidak pakai baju,” protes Sheeran memarahi Akishima.


“Kalau Rivandy melihat ini, .... maka aku akan pakai yang ini selamanya,” oceh Sheeran memikirkan hal yang mesum ketika Rivandy berada di samping Sheeran.


“Power Ranger : Chidori Fire!”


Tembakan Akishima mengenai 3 anggota. Sheeran maju ke depan dan mengurangi anggota mereka. Sheeran melakukan sliding dan menembak di bawah ************ mereka, berharap tidak melihat ****** ***** gadis itu. Ia ingin sekali bertanya pada Rivandy pakaian dalam apa yang ia sukai, sehingga Sheeran mengenakannya sekarang tanpa rasa malu apapun.


Anggota Klub Pangeran memisahkan diri terlebih dahulu sebelum melakukan pengepungan. Namun, percuma saja. Dengan kerja sama Power Ranger itu, mereka bisa mengurangi anggota sebanyak 56%. Anggota yang masih memiliki tenaga segera melancarkan serangan mereka.


Mereka aedang menangani musuhnya dengan penuh perhitungan. Akishima tidak sadar bahwa seragam akademi miliknya itu tertinggal di lantai. Ia tidak peduli seragam miliknya yang terbengkalai.


“Aku akan mengalahkan mereka semua. Aku tidak peduli seragamku diambil. Aku hanya ingin Rivandy baik-baik saja,” tekad Akishima.


[*^*]


Pertarungan Eleva dengan 3 gadis sedang berlangsung. Eleva sedang memegang pisaunya untuk memotong pertahanan mereka. Namun, tekad dan cinta Stephany, Aria, dan Milia tidak bisa dijebol.


“Sial! Kenapa mereka tidak bisa dikalahkan begitu saja?” Umpat Eleva melihat pertahanan mereka.


Milia merespon, "Kau tidak akan bisa mengalahkan kami," dengan sombong.


"Kau bukanlah apa-apa bagi suamiku. Kau hanyalah seorang sampah,” lanjut Arai sambil tertawa.


"Hmph! Ocehlah sesuka kalian! Aku akan menghabisi kalian kalau mau,” tantang Eleva dengan wajah yang menyeramkan.


“Rasakan ini!"


"Rebellion : Boateng Slayer!"


Eleva menyerang dan merusak pertahanan yang dibuat oleh ketiga gadis itu. Dia mencari celah dengan menembus pertahanan mereka. Namun, mereka masih bisa bertahan. Dengan prediksi yang tepat, Eleva tidak bisa mengalahkan mereka.


"Aria. Kita kalahkan dia sekarang juga,"


"Baiklah!" Terima mereka.


“Fortress Girl :Aim Shot!”


Mereka menembakan peluru dengan jitu dan mengenai tubuh Eleva. Eleva terkena tembakan masih tidak peduli dengan luka yang diterima, sama seperti Tyndramere pada permainan League of Legends

__ADS_1


Mereka berulang kali menembakkan peluru itu melesat ke tubuh Eleva. Namun, Eleva menangkis beberapa peluru dengan mudah dan membiarkan peluru itu mengenai tubuhnya. Lebih bagus lagi jika peluru itu mengenai jantung Eleva.


“Sial! Kenapa dia tidak tumbang saja?” Umpat Aria terus menembak.


“Siapa dia sebenarnya?” Protes Stephany melihat Eleva tertembak dengan sadis.


“Oi! Aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya. Aku adalah seorang psikopat yang akan membunuh kalian semua. Bersiaplah untuk mati, STFU!” Jawabnya dengan nada psikopatnya.


“Marilah kalian, Tidak Berguna!” Teriak Elsva untuk menakuti mereka.


Eleva melancarkan serangan yang cepat sehingga ketiga gadis itu tidak dapat berbuat apapun. Mereka hanya menerima takdir mereka, berharap mereka akan bertemu denganku di angkasa.


Namun, ketika Eleva mendekati perisai. Ada sebuah peluru yang melesat dengan cepat. Dengan itu, Eleva terkena tembakan yang cukup keras. Kali ini, dia terdiam kaku dan tersungkur di lantai dengan keras.


Ketiga gadis itu sekarang aman. Mereka tidak menjadi sasaran empuk dari sikap psikopat Eleva. Saat yang bersamaan, ada seorang gadis yang memegang senjata Perang Dunia 2 (Lee-Enfield) menghampiri mereka. Dia dengan senyumannya membuat mereka lebih baik.


“Kalian tidak apa-apa?” Tanya seorang gadis itu menghampiri ketiga gadis itu.


“Um. Terima kasih,” jawab Stephany mengangguk pelan.


“Anu. Kamu siapa?” Tanya Milia kepada gadis itu.


Shiori dengan mudahnya menjawab, “Aku adalah gadis yang akan menjadi suami Rivandy. Tunggu saja,” meninggalkan mereka sambil membawa Eleva pulang meninggalkan rumah sakit.


Mereka malah kebingungan dengan deklarasi dari gadis itu. Apakah mereka memiliki saingan lagi? Mereka berharap dengan kemenangan mereka dan Rivandy akan menjadi milik mereka.


[*^*]


Karmila dan Elaviana sedang berjalan dengan santai dan penuh riang. Mereka berpikiran tidak ada yang bisa menghalangi mereka semua. Mereka akan mengunjungi ke ruangan pasien dan menyerahkannya kepada Ketua Klub Pangeran, Chelsea Arslan.


Namun, harapan itu pudar ketika mereka menemukan lawan yang sepadan dengan mereka. Mereka menemukan lawan yang cocok bagi mereka. Mereka bertemu dengan seorang Heroin yang akan menjadi pacar Rivandy. Ia adalah Aurora Sentinel.


Mereka bertemu dan saling berhadapan. Bertatapan muka dan segera mencari cara untuk melewati mayat Aurora. Aurora bersikeras untuk tidak membiarkan mereka lewat dengan alasan apapun. Mereka berencana untuk membuat Aurora menyingkir.


Namun, Aurora bertekad menghalangi jalan mereka. Alhasil, mereka kembali bertempur. Aurora dengan lincahnya memberi sasaran pada titik yang lemah kepada kedua gadis berkulit hitam. Mereka melemparkan tombaknya kepada Aurora. Namun, Aurora tidak bisa terkena serangan itu dan melakukan tembakan dengan Koch UMP.


Dengan itu, Aurora meloncat ke atas dan melakukan salto lalu menembak mereka dari belakang. Dengan tembakan dari belakang, Karmila dan Elaviana tertembak dari belakang dan tersungkur dengan mudah.


“Misi selesai.” gumamnya minum air putih.


“Aku akan menyelamatkanmu, Rivandy Pacarku,” lanjutnya dengan mata cintanya.


[*^*]


Farah dan Dina keluar dari ruangan itu dan mencari suatu informasi yang berguna. Mereka memanfaatkan kekacauan yang dibuat oleh anggota Klub Pangeran yang lainnya. Mereka memasuki ke setiap ruangan dan membaur dengan dokter lainnya.


Dokter membutuhkan bantuan mereka untuk mengambil barang yang bisa digunakan untuk operasi penyakit Hipotermia. Dengan itu, mereka melaksanakannya, mencari barang dan menemukannya di tengah konflik yang terjadi.


Tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan Pangeran dan menghangatkannya dengan pelayanan spesial.


[*^*]


Sementara itu, di luar ruangan rumah sakit, Evelyn masih mengetik di laptopnya. Ia sudah menambahkan chip di parkiran untuk melakukan suatu rencananya. Gadis itu menekan lagi dan menekan keyboard. Setelah beberapa saat, ada sebuah tombol yang muncul di monitor.


[Gundam Army System]


[Action in 15 Second Remaining ….]


[Action Gundam Army!]


[{Yes} or {No}]


Evelyn tersenyum sedikit dengan layar laptop di depan matanya. Ia bertekad untuk menghilangkan semua saingannya dan melakukan sesuatu untuk menghancurkan rumah sakit Evelyn tertawa kecil dengan rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang.


Ia juga sudah memprediksi bahwa Rivandy tidak bisa menjalankan aktivitas dengan normal. Dia akan membuatnya jadi milik Evelyn seorang. Ia juga ingin mengajaknya ke London dan Liverpool setelah 3 tahun kemudian.


Ia mengumpulkan pasukan Gundam dengan tingkat SG. Lalu, memperlakukan rumah sakit sebagai arena catur. Ia melihat ada celah yang cukup menarik perhatian dari mata yang imut.


Butuh persiapan yang cukup matang untuk menghadapi persaingan yang cukup ketat.


“Sudah saatnya untuk mengumpulkan Pasukan Gundam, desu,”


“Waktunya berkhianat, desu!”

__ADS_1


__ADS_2