Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Saphine Vera 1,5


__ADS_3

21 Oktober 2025, jam 15:45, operasi penjengukan dimulai. Aku berjalan menuju ke apartemen Saphine sambil berjalan. Zhukov dan Andika mengikutiku secara bersembunyi. Mereka tidak ingin menunjukkan diri mereka karena mereka tahu bahwa mereka harus melakukan itu secara bersembunyi.


Zhukov dan Andika berfokus untuk menatap layar laptop Zhukov untuk melacak handphone milik Saphine. Mereka juga melihat identitas yang cukup memusingkan kepala mereka. Ia juga melacak sosok yang akan melakukan hal yang jahat kepada Saphine.


Selain itu, mereka mencari identitas setidaknya, foto, video, dan informasi mengenainya Namun, sudah banyak informasi yang mereka cari dari ratusan juta foto yang diunggah di dunia maya.


Andika membawa laptop ASUS ROG miliknya dan segera mencari informasi bersama Zhukov. Mereka akan bergerak jika aku sudah menghilang dari pandangan mereka.


Aku berjalan seperti biasanya di tengah sambil mencari alamat. Aku mencoba membuka aplikasi Google Maps untuk mencari alamat Saphine yang tertera pada buku Campbel-nya Setelah itu, aku sudah menemukannya, Setelah mencari informasi itu, aku segera pergi menuju alamatnya untuk mencari Saphine.


Zhukov dan Andika menggali informasi secara bergantian. Zhukov menggali informasi, sementara Andika sedang berpatroli untuk melindungi Zhukov. Setelah 10 menit berlalu, mereka berganti peran untuk meningkatkan kemampuan kekompakan mereka dalam menjalankan misi.


“Rivandy. Tolong jawab aku! Aku masih mencari informasi dari segala penjuru tempat. Jika, diperkecil kemungkinan itu, aku mendapatkan kemungkinan sebesar 8 miliar kemungkinan. Aku mencobanya cek satu persatu. Namun, aku masih belum menemukan informasi itu. Andika akan membantuku untuk meretas seluruh informasi itu.” jelas Zhukov dengan headphone yang berada di kepalanya untuk menghubungiku melakui laptopnya.


“Aku masih mencari apartemen Saphine. Luas Kota Moskow berada dalam 2.511 km, sementara apartemen Saphine seluas 12 m . Jika dihitung rasionya, maka hasilnya adalah 12 : 2.511.000. Dan kalau disederhanakan lebih lanjut, maka hasilnya adalah 1 : 209.250.” jelasku dengan penuh perhitungan melalui Walkie Talkie yang diberikan oleh Zhukov.


“4,778% Peluang yang sedikit,” gumam Zhukov.


“Hebat! Bagaimana kamu bisa menghitung matematika serumit itu?! Kalau aku disuruh hitung oleh Bu Minerva melalui papan tulis, aku tidak akan mau. Hasilnya, berbagai tembakan Ak-47 yang mendarat di sudut kelas,” canda Andika sambil tertawa.


“Kau memang tidak waras, Andika,” lirik Zhukov mendengar gurauan itu dan masih melihat menatap layar komputer.


Aku segera berjalan menuju ke apartemen milik Saphine yang tertera di catatan buku miliknya. Aku melihat apartemen yang tidak terlalu besar dan memiliki pondasi bangunan yang cukup kuno.


Terlihat sebuah tiang dari gaya Yunani Kuno dan bangunan apartemen yang mewah bersama karangan bunga yang dibeli dari pasar bunga. Aku melihat seorang pengurus apartemen yang sedang merangkai bunga.


Aku bertanya kepada pengurus apartemen dan segera memperlihat kan alamat itu kepada pengurus itu. Dia dengan ramah menyarankanku untuk pergi bersama mereka. Ketika aku sampai di apartemen aku berterima kasih kepada dan segera memasuki kamar dengan mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban. Aku mengetuk pintu untuk kedua kalinya. Tidak bisa. Tidak ada respon di antara mereka. Aku berusaha untuk mengetuk pintu dengan keras sembari menyapa, “Halo? Apa ada orang di dalam? Saphine! Bukalah! Aku mengembalikan buku milikmu,”


Tidak ada jawaban. Aku melapor kepada Zhukov dan mengatakan bahwa tidak ada respon dari apartemen itu. Zhukov sibuk dengan pencarian informasinya. Andika juga begitu. Aku merasa diabaikan.


Tidak ada pilihan lain. Aku mendobrak pintu sekeras mungkin dan tidak ada yang bereaksi. Pintu masih tertutup dengan rapi. Aku mencoba mendobrak dengan keras. Namun, tidak berhasil.


Tidak ada pilihan lain. Aku menggunakan teknik yang baru.


“Arctic Warfare : Translucent!”


Aku berlari dengan cepat dan menembus pintu dengan mudah. Aku melihat trik yang amatiran bagiku.


Pantas saja. Mereka memasang lem untuk membuat dobrakan itu tidak berguna. Lalu, mereka membuat air yang melelehkan lem secara mekanik dan mereka memasang lem lagi saat mekanik berikutnya.


Apa yang dipikirkan oleh Saphine itu?


Kenapa ia melakukan itu?


Pasti ia memiliki tujuan tertentu untuk melakukan hal itu. Aku juga bertanya kepada pengurus itu dan ia menjawab, “Aku tidak mengenalnya,” dengan santai.


Permainan macam apa ini?

__ADS_1


Apakah aku salah alamat? Tidak.


Mungkin dia tidak terlalu kenal dengan Saphine. Ia baru mendengar nama itu. Aku bingung apa yang Saphine lakukan..


Tapi, jika saja ini bukan apartemen Saphine ini apartemen siapa?


Aku akan menyelidikinya kalau begini terus.


Aku memasuki apartemen itu dan melihat banyak barang yang cukup berantakan. Banyak alkohol dan foto gadis nakal yang sedang tidak berpakaian. Aku melihat dari segala penjuru Ia hanya memakan makanan cepat saji. Lalu, kamar ranjang penuh dengan bau klorin, sehingga muncul keanehan yang terasa terjadi.


Aku berpikiran bahwa apartemen ini bukan seperti apartemen seorang gadis. Aku melihat banyak keanehan disini. Aku juga melihat kaca yang pecah dan melihat TV serta PlayStation 5 yang berantakan aku mengambil stick dari PS 5 dan mengingat pernah memainkannya bersama Bella, Shiori, dan Kotori.


Saphine bukan orang yang seperti ini. Aku sangat bingung apa yang Saphine lakukan. Aku tidak menyangka bahwa aku melihat apartemen yang sangat buruk. Aku berpikiran bahwa bukan Saphine yang tinggal, melainkan orang lain.


Aku menggali informasi mengenai Saphine. Aku menemukan banyak buku album dan banyak kaset video yang bertebaran. Kemudian, aku melihat video satu persatu dan melihat banyak gadis yang menjadi korban human trafficking.


Pada saat memutar video, tidak kusangka aku melihat Saphine sedang menjadi korban pelecehan. Saphine bukan seperti yang kubayangkan. Aku melihatnya dari sudut pandangku. Inilah realita. Realita dari Saphine sebenarnya. Ia sama seperti Akishima.


Aku memutuskan untuk mengajak Zhukov dan Andika untuk menyelidiki kamar ini. Aku juga berpesan kepada mereka untuk membawa laptop mereka dan jangan sampai ketahuan. Aku sudah mengecek identitas dan alamatnya.


Sudah kuputuskan. Aku dan Andika segera menuju ke apartemen Saphine dengan alamat yang sudah ditulis di notepad dari handphoneku. Andika mengawasiku dari belakang, sehingga aku merasa nyaman. Dia mengawasiku dan tidak membiarkan mereka menghalangiku.


Zhukov segera menetap di apartemen pelaku human trafficking itu. Ia membuka laptop dan segera menyambungkan koneksinya dengan komputer pelaku. Setelah itu, ia melihat semuanya. Ia menyalin bukti human trafficking itu.


Ia melihat transaksi dari seluruh penjuru. Transaksi yang terbanyak adalah di Amerika Serikat, China, Brazil, Argentina, dan Indonesia. Ia memotret hasil transaksi itu dan segera mengambil bukti yang ada di apartemen itu, mengambil beberapa sampel dari data itu.


“Kena kau, Joe!”


“Kau mungkin melakukan hal yang jahat kepada Saphine. Bukan aku yang akan membawamu ke neraka. Tapi, Pangeran Kegelapan yang akan membawamu ke Jahanam.”


[*^*]


Jam 17:48, Saphine sedang direkam dan melakukan aksi mesumnya kepada keempat siswa itu. Joe sedang bersenang-senang dengan tubuh Saphine yang sedang kecanduan akan cairan. Romano dan Parrel sedang melakukan ciuman. Ray yang sudah menjalani ronde yang besar itu memilih untuk istirahat.


Joe tertawa dengan aksi Saphine itu dan mencetus ,“Bagaimana dengan keadaanmu saat ini, Anak Jalanan?”


“Aku baik-baik saja. Aku ingin tambah ronde lagi,” jawab Saphine ingin tambah.


“Ingin tambah, ya?” Lirik Joe dengan senyuman jahatnya.


“Romano, Parrel. Giliran kalian. Aku harus mengisi stanimanku dengan vitamin C," suruh Ray.


“Baiklah,” jawab mereka tanpa pikir panjang.


Mereka langsung melancarkan aksi mereka untuk membuat Saphine merasa lebih baik lagi. Mereka bermain dengannya di ranjang. Saphine semakin membaik. ia terus menerus menerima perintah mereka.


Saphine yang patuh itu segera merayu balik dan permainan semakin memanas. Saphine segera melancarkan aksinya dan diperlakukan dengan buruk oleh mereka. Alhasil, Romano dan Parrel melakukan hal yang akan menimpanya sebelum itu.


Setelah ronde itu berlanjut, Ray dan Joe kembali beraksi. Mereka melancarkan serangan mereka dengan stamina mereka dengan cepat. Mereka membuat Saphine meminum pil kuat agar Saphine bisa bermain dengan ronde yang cukup lama.

__ADS_1


Setelah itu, tubuh bereaksi dan membuat Saphine semakin kecanduan. Mereka yang melihat itu sangat bersemangat dan menjalankan aksinya untuk membuat Saphine semakin agresif dan melupakan segalanya.


Joe yang tertawa dengan permainan yang lebih sengit berseru, “Ada apa? Kau ingin lagi? Kalau begitu, kau akan minum 4 pil secara berkala dan rasakan sensasinya sampai pagi!”


“Aku ingin sekali membuatmu merasa lebih enak dari sebelumnya,” lanjut Ray.


“Kau jangan kecewakan kami, Anak Malam!” Seru Parrel dengan tatapan sandinya


“Ayo! Mendesah lebih keras agar kau akan bersama kami,” suruh Romano menyentuh tubuh Saphine yang semakin hina itu.


“Di tengah teriakan itu, Saphine semakin liar dengan permainan yang semakin sengit. Ia menggerakan tubuhnya dengan cepat. Dari luarnya tampak senang sekali dengan permainan itu. Namun, dalam hatinya, ia menderita karena ia tidak bisa menghentikan kecanduan itu.


“Tidak!”


“Tidak mau!”


“Aku sudah gila.”


“Hentikan! Aku tidak mau berhubungan dengan kalian lagi,”


“Aku tidak tahan lagi.”


“Aku tidak bisa menahan ini.”


“Kalau begini terus, aku akan mati.”


“Siapa saja tolong hapuskan aku dari dunia ini!”


“Mama! Maafkan aku! Aku tidak bisa melanjutkan hidupku dengan tubuh yang hina ini. Aku akan menjemputmu.”


Di tengah permainan itu, permainan yang sangat sengit itu, Joe dan lainnya akan mengeluarkan cairan panas mereka membuat Saphine untuk menjulurkan lidahnya saat cairan itu memasuki tubuhnya.


Ia tidak bisa melihat. Pandangannya semakin kabur dengan guncangan tubuhnya yang semakin cepat. Saphine mencoba untuk bertahan lama. Namun, mereka harus menguras tenaganya agar ia bisa menikmati saat-saat terakhirnya.


Sebelum hal itu terjadi, ada sebuah panggilan seseorang yang sedang menghampiri aksi itu..Dia mengenal Saphine dengan baik. Ia melihat kejadian itu dengan seksama. Ia berpura-pura tidak tahu apapun. Ia hanya mengembalikan buku yang dipinjam oleh orang itu.


“Saphine. Aku kesini untuk mengembalikan bukumu,” panggil seseorang yang memegang buku milik Saphine.


Tatapan Saphine terbuka dengan lebar melihat ada seseorang yang berhadapan dengannya. Ia bertatapan tajam dengan keempat siswa itu.


“Rivandy?!” Teriak Saphine terkejut dengan aku di hadapannya.


Tidak hanya Saphine, Joe, Romano, Ray, dan Parrel mengalih pandangan kepadaku. Mereka tidak tahu bahwa ada yang ikut campur. Mereka menghentikan aktivitas itu lalu menghampiriku sambil mengancamku.


“Kau siapa?! Kenapa kamu ada disini?!” Bentak Joe mengepal kerah bajuku.


“Aku seharusnya bertanya,” celaku dengan bentakan itu.


“Apa maksudmu melakukan hal itu?” Aku menatap Joe dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2