Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Denis Spyxtria 1,7


__ADS_3

Pembicaraan dimulai dengan serius. Aku dan Detektif Alan bertemu di ruangan yang biasanya aku dirawat untuk ketiga kalinya. Rasanya tidak asing dengan tatapan itu. Dia menatapku dengan serius sambil membicarakan sesuatu yang penting padaku.


“Kau sudah sadar, Nak?”  Tanya Detektif Alan mengenai kondisiku.


Aku mengangguk sebagai tanda iya. Detektif Alan mengelus kepalaku sebagai tanda pujian yang ia lontarkan padaku. Sekarang, tiba waktunya untuk menjelaskan sesuatu padaku.


“Sekarang, aku membicarakan sesuatu yang penting untukmu. Tolong dengarkan aku!” 


Aku hanya terdiam dengan itu. Dalam kondisi yang cukup kabur, aku mati-matian untuk mendengarkan penjelasan dari Detektif Alan mengenai barang bukti yang ku kirimkan di aplikasi Telegram.


“Kemarin, kamu mengirimkan bukti padaku mengenai hal ini. Kemudian, kamu juga melaporkan kejadian ini semalam. Aku tahu kamu orang yang baik. Tapi, kamu harus menyelesaikan akademi terlebih dahulu sebelum kamu mengikuti jejak yang kau raih,” tegur Detektif Alan dengan nada seriusnya.


“Kamu bisa menyelidiki banyak kasus jika kamu mau. Tetapi, ada suatu kejadian yang aneh, sehingga aku menyarankan kamu untuk fokus belajar di akademi. Aku juga menegur Zhukov dan lainnya untuk tidak menceritakan kepada yang lainnya dan memerintahkan pada mereka bahwa jangan ikut campur dengan urusanku.” lanjut Dr. Alan bawah ada yang aneh dengan hasil foto yang kujebretkan.


“Mereka selalu saja melakukan kesalahan yang sama. Heh. Dasar remaja! Seandainya aku tahu dari awal mengenai kasus ini, aku yakin aku tidak perlu terlalu pusing dengan kasus ini,” protes Detektif Alan.menepuk dahinya


Aku terdiam dengan kondisi yang parah dimana Detektif Alan selalu mengoceh tidak jelas. Aku hanya mendengarkan keluhan itu sambil mengelus lukaku yang sudah dialami sebelumnya. Ini sedikit lebih sakit daripada sebelumnya. Tapi, sudahlah! Aku menghabiskan sisa waktuku di rumah sakit selama seminggu.


Sepertinya aku mengulang kejadian yang sama. 


Aku membiarkan diriku menderita lagi. Aku harus meminta maaf pada Aurora nanti, tidak menyadari bahwa Detektif Alan yang sedang bercerita mengenai kejadian yang terjadi di bangunan  itu.


“Bagaimana menurutmu, Rivandy?” Tanya Detektif Alan yang sudah bercerita padahal aku tidak mendengarnya. 


“E … iya. Aku tidak…. tahu dengan itu. Aku belum bisa memutuskan sesuatu," jawabku yang tidak mendengar cerita 


“Begitu, yah!” Detektif Alan bernafas lega dan mulai menyalakan pipa rokoknya.


“Aku akan menyelidikinya lebih lanjut dan melaporkan hal ini kepada Pak Presiden. Dia senang mendengar bukti yang kamu paparkan itu,” jelas Detektif Alan dengan senyumannya yang cukup tua.


Aku hanya menatapnya sambil menghela nafasku. Pikiranku tertuju pada mereka.


“Lalu, bagaimana dengan Denis dan Neesan?” Aku bertanya dengan perasaan yang cemas.


“Mereka akan baik-baik saja. Tenang saja. Mereka bisa keluar dari rumah sakit lusa nanti,”  balasnya sambil menepuk bahuku.


Aku terdiam lagi, merasa melakukan hal yang salah. Aku membiarkan diriku tertembak dengan mudahnya, merasa seperti “Pahlawan Kesiangan”. Wajahku menjadi gelap seketika.


“Detektif. Aku ingin meminta sesuatu padamu.” Aku meminta pada Detektif Alan untuk melakukan sesuatu.


“Bilang saja! Aku akan mengabulkannya,” terima Detektif Alan dengan senang hati. 


“Aku ingin aku …”


[*^*]


29 Oktober 2025, jam 21:00, suasana rumah sakit menjadi sepi. Dokter yang mengambil shift malam bekerja dengan sungguh-sungguh  Begitu juga dengan perawat. Mereka tidak membiarkan pasiennya ditinggalkan begitu saja. Mereka harus merawat pasien itu walaupun sudah larut malam


Jam 21:16, ada seorang pasien yang sedang berjalan sendirian sambil memegang tabung infus agar tetap hidup. Lalu, ia pergi ke sebuah ruangan yang cukup dikenalnya.


Ia membuka pintu ruangan itu dan memasuki ruangan yang cukup gelap itu. Kemudian, pasien itu melihat sebuah pasien yang tertidur di ranjangnya. Pasien yang memegang infus itu mendekati dan melihat kondisi pasien yang sedang tertidur.


“Dia tertidur,” gumamnya sambil memandang pasien yang sedang tertidur manis.


“Aku harap Neesan baik-baik saja,” lanjutku sambil menyentuh wajahnya.


Aku meninggalkannya dan keluar dari ruangannya dengan berjalan pincang sambil memegang tabung infus. Namun, pada saat ingin kembali ke ruanganku, aku terjatuh secara mendadak. Tabung infus itu terputus pada saat aku terjatuh. Kemudian, aku kehilangan keseimbangan dan kesadaranku secara perlahan.


Aku harap aku masih hidup.  


[*^*]


Keesokan harinya, jam 07:42, aku terbangun secara mendadak dan mengira bahwa aku akan mati. Aku tidak menyangka apa yang telah kulakukan. Aku diberitahu oleh perawat untuk tidak melakukan hal itu beberapa saat kemudian. Setelah itu, perawat itu memberikan apel di nakas dan meninggalkan ruanganku.


Suasana menjadi hening. Aku mengambil apel dan segera memakannya, tidak perlu mengupasnya karena lebih menyukai memakannya secara langsung. Setelah menghabiskan apel di tanganku,, aku berbaring kembali dan suasana masih tenang seperti biasanya.


Namun, pada saat ketenangan itu dimulai, ada dua gadis yang tiba-tiba menyerobot ke ranjangku. Kedua gadis itu mengagetkanku. Dengan itu, aku terkejut setengah mati.


“Rivandy!” Seru kedua gadis itu.


Aku terkejut dengan itu dan menyahut, “Aurora. Evelyn. Sedang apa kalian disini?”

__ADS_1


“Syukurlah! Kamu tidak diculik!” Aurora memelukku sambil menangis.


“Aurora! Jangan! Dadamu ….” Teriakku tidak tahan dengan sentuhan Aurora.


“Memangnya kenapa? Aku mengkhawatikanmu, tahu,” Protes Aurora menahan tangisannya.


“Iya, desu. Kamu menghilang seharian, desu. Jadi, aku melapor ke Detektif Alan dan menemukanmu disini, desu,” lanjut Evelyn dengan nada kasihan.


“Sudah kuduga, mereka melakukan seperti yang kubayangkan,” pikirku melihat perilaku Aurora dan Evelyn yang aneh.


“Lalu, apa yang membuat kalian kemari?” Tanyaku menanyakan maksud kedatangan mereka.


“Ini dia, desu. Tugasmu ada banyak sekarang, desu. Kau harus menyelesaikannya semalaman, desu,” balas Evelyn mengeluarkan tugasnya dan menyerahkannya padaku.


“Iya. Aku akan mengerjakannya nanti.” Aku menghela nafas dan terpaksa menyelesaikan tugas akademik.


“Jadi, aku tinggal disini bersamamu,” cetus Aurora tanpa pikir panjang.


“Tidak bisa. Kau harus ke akademi. Lihat jam dindingnya!” Protesku melihat cetusan itu dan memperlihatkan jam dinding ke Aurora.


“Aku tahu. Aku sudah diizinkan untuk menjengukmu.”


“Ayo kita kerjakan bersama, desu!” Ajak Evelyn yang membuatku diam seribu bahasa.


Dengan terpaksa, aku mengerjakan tugas matematika bersama Aurora dan Evelyn. Tidak jarang,  mereka memintaku untuk mengerjakan soal matematika. Kemudian, Aurora membantu mengerjakan biologi tema “Animalia,” sehingga aku bisa mengerjakannya dengan mudah.


Jam 12:23, semua pekerjaan akademi sudah selesai. Aku bisa istirahat sementara mereka bisa menjadi seorang dokter untukku Jadi, mereka memandikanku dan menggosok semua  tubuhku dengan tubuh mereka. Ini cukup geli, tapi aku hanya menerima itu.


Jam 14:56, mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka. Aku mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Sebelum itu, mereka mencium pipiku sebelum pulang. Sheeran akan marah besar dengan itu.


[*^*]


4 November 2025, 15:03, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Aku diberi pesan oleh dokter untuk meminum obat yang sesuai dengan prosedur. Lalu, aku berjalan pulang menuju keluar.


Pada saat aku ingin meninggalkan rumah sakit, aku bertemu dengan seorang siswa yang mengenakan seragamnya. Saat ia menoleh padaku, matanya menjadi berbintang dan seolah-olah merindukanku.


“Ri-chan!” Seru Denis menghampiriku dan memelukku.


“Denis. Sebentar! Jangan ...  peluk sesukamu! Hari ini, aku sedang luang sekarang,” desahku dengan pasrah dipeluk oleh Denis.


“Membaik,” jawabku singkat.


“Ayo! Kita keluar sekarang juga,” ajak Denis menarikku keluar rumah sakit.


Aku menerima uluran tangan itu. Aku merasa Denis sudah menjadi lebih baik. Ia sangat senang. Ia lengket padaku pada saat itu. Semoga saja tidak ada yang memanggil kami LGBT.


Denis sudah sembuh dari PTSD.


[*^*]


Setelah meninggalkan rumah sakit, kami bertemu dengan teman kami yang menunggu kedatangan kami. Mereka adalah Zhukov, Aurora, Evelyn, Akishima, Sheeran, Saphine, dan Hammer


“Rivandy! Aku menunggumu, lho,” panggil Akishima sambil memelukku.


“Aduh! Sesak!” Rintihku tidak tahan dengan dua pelukan.


“Sayang! Aku pikir kamu akan mati,” ucap Sheeran memelukku sambil menangis.


“Rivandy. Syukurlah kamu masih hidup. Aku sudah mengeluarkan peluru itu dari tubuhmu. Kamu bisa memintanya nanti,” jelas Saphine sambil memegang alatnya.


“Rivandy.. Lain kali jangan membuatmu menderita! Aku akan memotretmu jika kamu seperti ini,” canda Zhukov ingin tertawa.


Aku hanya terdiam dengan itu. Hammer memelukku lagi. Sudah 5 orang yang memelukku. Sudahlah! Aku tidak ingin menolaknya lagi. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


Akhirnya, kami berjalan menuju ke apartemen kami masing-masing. Kami menceritakan sesuatu untuk mengisi suasana Moskow yang cerah dengan banyak awan. 


“Rivandy. Minggu depan kita main Poker, yuk!” Ajak Akishima sambil mengeluarkan kartunya.


“Kalau aku kalah lagi, aku tidak mau main,” tolakku sambil mengabaikan ajakan itu.


“Jangan begitu, Sayang! Aku rela kalah untukmu,” bujuk Sheeran sambil menyentuh tubuhku.

__ADS_1


“Aku tidak sabar Rivandy kalah dalam Poker,” canda Zhukov merespon pembicaraan ini.


“Aku akan membantu, Ri-chan!” Tekad Hammer semakin membara.


“Nee! Ri-chan! Nanti kapan-kapan mampir ke rumahku, ya!” Ajak Denis.


“Iya. Aku akan mampir. Lagipula, Bibi Rita mengajakku tanpa paksaan,” lontarku sebagai tanda tidak keberatan.


“Rivandy. Kamu sudah tidak perjaka, ya! Soalnya Cherry sudah melakukan ini padamu. Amu sudah punya videonya,” ujar Zhukov sambil memperlihatkan video ke teman yang lainnya.


“Apa?!” Denis, Akishima, Sheeran, Aurora, dan Evelyn berteriak di depan Zhukov.


“Cherry! Aku tidak akan memaafkanmu!” Teriak Denis dengan penuh amarah.


Sheeran menangis dengan keras sambil merengek, “Tidak! Pangeranku! Aku ingin sekali merasakan keperjakaan Pangeran.”


Aurora malah marah padaku. Mereka membentak, “Rivandy. Kenapa kamu membiarkan keperjakaanmu lepas begitu saja?”


“Iya, desu. Aku ingin merasakannya juga, desu,” rengek Evelyn hampir menangis. 


“Kalian juga ingin merasakannya bukan?” Protesku dalam hati.


“Rivandy. Kamu sudah menjadi pria yang hina sekarang. Kau tidak bisa menikah sekarang.” cetus Akishima dengan tatapan nakalnya. 


“Kau juga, Akishima,” protesku dengan cetusan itu.


“Tapi bohong,” tutur Zhukov tertawa dengan keras.


“Zhukov!” Akishima, Aurora, Evelyn, Denis, dan Sheeran berteriak memanggil Zhukov dan mengepal tangannya untuk siap menghajar.


“Gawat! Lari!” Zhukov lari sekencang mungkin.


Mereka lari mengejar Zhukov untuk memukul kepalanya hingga benjol. Zhukov ingin memperlambat kelajuan lari mereka. Namun, Aurora lebih cepat dari Zhukov. Akhirnya, mereka menggebuk Zhukov dengan ramai.


Saphine malah tertawa. Ia mendesah, “Tidak kusangka menjadi seperti ini."


“Iya, mereka cukup akrab untuk saat ini,” repsonku sambil membaca buku.


“Ri-chan! Nanti buatkan sesuatu buat Perang Memasak nanti,” ajak Hammer dengan semangat.


“Jangan khawatir! Aku akan ikut juga," Saphine ingin ikut.


“Semoga saja masakanmu tidak terlalu buruk,” elak Hammer 


“Kau pikir aku apa?”


“Sudah! Jangan bertengkar! Zhukov babak belur, kok."


Mereka yang marah pada Zhukov sudah kembali menjadi semula.


“Maafkan aku! Aku tidak akan melakukan itu lagi,” sesal Zhukov dengan sangat.


“Inilah azab tapi bohong,” geram Aurora menggembungkan pipinya.


“Kalau kau melakukan itu lagi, aku akan mengirimmu ke rumah sakit,” ancam Denis.


Aku ingin tertawa, namun tidak bisa. Mimpi buruk dan trauma semakin mendekat. Aku tidak bisa begini terus. Tapi, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Kami pulang dengan Zhukov yang benjol 


Kami menghabiskan waktu kami sebelum pulang ke apartemen di restoran. Aku harus membayar tagihan mereka lagi. 


Sial! Uang kartu kreditku langsung habis.


[*^*]


Di mansion, jam 23:56, ada seorang gadis berkepang Perancis sedang memasak dan mencoba untuk merasakan bumbu yang digunakan. Ia mengurung diri di dapur selama 8 jam untuk meningkatkan kemampuannya.


Tak lama kemudian, ada seorang remaja berkacamata sedang menghampiri dapur.dan menyalakan lampu, sehingga gadis itu menoleh ke remaja itu.


“Nona. Ini sudah malam. Aku tahu kamu sedang mengikuti acara itu. Tapi, jangan memaksakan diri, ya!” Pesannya sebelum meninggalkan dapur.


“Satu lagi, Jangan lupa bereskan dapur, ya!” Lanjutnya sebelum menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk dan melanjutkan latihannya.  Ia tersenyum lebar dengan aktivitas itu.


“Sebentar lagi ada acara. Aku akan menangkan ini atau tidak sama sekali.”


__ADS_2