Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Aurora Sentinel 1,5


__ADS_3

Jam 19:56, malam Moskow yang membuat udara dingin itu semakin merajalela. Penduduk Moskow yang bekerja kantoran segera mengistirahatkan tubuhnya karena mereka bekerja terlalu keras dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan dari atasan mereka. 


Aku sedang naik taksi bersamaan sopir. Aku menghela nafas sambil berbicara sebentar dengan sopir itu. Sopir itu agak galak dengan penumpangnya. Namun, ia bukan orang yang buruk dan menyeramkan. Aku sudah terbiasa dengan budaya Rusia semenjak aku memahami Russia Beyond. 


Russia Beyond adalah sebuah website yang memberikan sebuah informasi kepada pembaca mengenai Rusia dalam bidang budaya, militer, discovery, dan lain sebagainya, Ada dua bahasa yang bisa digunakan. Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. 


Aku sudah terlalu terbiasa dengan Bahasa Inggris, jadi aku memilih Bahasa Inggris. Aku tidak terlalu mengerti dengan bahasa Indonesia. Jadi, aku menggunakan itu untuk mencari budaya mengenai Rusia lebih lanjut.


Di tengah obrolan itu, ada seseorang yang memanggil di ponselku. Aku meminta izin pada sopiri untuk merespon panggilan. Sopir itu mengerti dan segera melanjutkan perjalanannya.


Aku segera mengambil ponselku dan menahan luka yang kuterima. Aku melihat pemanggilan di aplikasi Zoom untuk memasuki ruangan itu. Aku segera merespon dengan cepat dan segera bertemu dengan seseorang yang berada di monitor handphoneku. Tak lupa aku menggunakan sistem Hologram agar lebih mudah. 


Sheeran : “Sayangku!”


Rivandy : “Oo. Sheeran. Ada apa?”


Sheeran : “Nanti besok, aku akan mengunjungi apartemenmu, ya! Soalnya, aku sedang luang nih. Aku sudah melakukan banyak pekerjaan hanya untukmu.”


Rivandy : “Tidak boleh!”


Sheeran : “Eh? Kenapa Suamiku?”


Rivandy : “Aku harus mengerjakan tugasku. Tugasku sangat menumpuk.”


Sheeran : “Kalau begitu, aku akan membantumu. Sebagai istri idaman, aku akan memuaskanmu.”


Rivandy : “Iya. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku.”


Sheeran : “Oh iya. Tadi, si Janda (Akishima) memberitahu padaku bahwa ada yang sesuatu terjadi pada Aurora. Kenapa?”


Rivandy : “Itu … aku … aku tidak tahu. Tapi, aku sedang naik taksi sekarang,”


Sheeran : “Aurora marah padamu. Dia bilang kamu selingkuh dengan gadis lain. Apakah kamu masih tidak puas dengan layananku?”


Rivandy : “Tidak. Dia yang menggodaku dengan mengambil buku novel milikku dan dia menciumku dengan liar. Alhasil, aku tidak bisa bergerak untuk sementara waktu. Aku harus mengeluarkan semua tenagaku untuk bergerak.”


Sheeran : “Apa?! Kenapa kamu diperlakukan seperti itu?”


Sheeran : “Apakah kamu ingin menghamili gadis lain?!”


Rivandy : “Bukan itu! Aku tidak berniat melakukan hal itu!”


Sheeran : “Kalau kamu mau, hamili saja aku! Kamu tanggung jawab yah!”


Rivandy : “Setidaknya tunggu 3 tahun dulu atau Neesan akan mengusirmu.”


Sheeran : “Kalau aku tidak bisa menahan libidoku, aku harus bagaimana?”


Rivandy : “Belajar rumah tangga dulu! Aku mau tutup lagi.”


Sheeran : “Ok. Aku mencintaimu, Suamiku.”


Aku menutup aplikasi Zoom dan segera mematikan handphone milikku. Namun, aplikasi Zoom memberitahuku dengan sebuah panggilan untuk menyeretku menuju ke suatu rapat


“Siapa lagi?” Gumamku yang sedang membuka aplikasi dan mengurung niatku untuk menyimpan ponselku.


Rivandy : “Apalagi Sheeran?”


Saphine : “Halo. Rivandy!”


Rivandy : “Saphine. Ada apa?”


Denis : “Ri-chan!”


Hammer : “Ri-chan!”


Rivandy : “Kalian. Ada apa?”


Hammer : “Besok aku perlu bantuanmu. Aku ingin kamu berkunjung. Bu Ennie ingin memberikanmu hadiah.”


Zhukov : “Rivandy. Aku sudah melihat kemampuan memasakmu. Aku menawarkan pekerjaan untukmu di cafe. Karena teknik memasakmu seperti seorang profesional, para pelanggan akan berbondong-bondong.”

__ADS_1


Rivandy : “Maaf. Aku tidak bisa. Aku harus mengulurkan waktu dulu.”


Denis : “Aku akan melindungimu dari Cherry Sialan itu. Dia selalu mengambil keperawananmu. Bahkan, ia selalu tidur di ranjang bersamamu.”


Rivandy : “Jangan katakan itu lagi! Neesan sudah melakukan itu semua untukku.”


Saphine : “Dasar Kochou-Sensei! Dia menjadikanmu sebagai adiknya sendiri.”


Rivandy : “Lalu, apa yang membuat panggilan ini lagi?”


Zhukov : “Ri-chan! Ayo bekerja di cafeku!”


Rivandy : “Menjijikan! Aku menolak!”


Saphine : “Besok kamu ada waktu luang? Aku mau kamu menjagaku dari serangan pria belang.”


Rivandy : “Lain kali kamu harus belajar menggunakan Shotgun milikmu itu.”


Hammer : “Ri-chan. Bu Ennie memberikanmu tugas rumah tangga.”


Rivandy : “Apakah aku harus membersihkan semua Kota Moskow?”


Denis : “Ayo! Main! Aku akan mengajak Eleva dan lainnya. Kita akan mengacaukan mansion Cherry!”


Rivandy : “Hentikan! Kalau Neesan tahu, dia akan menghukum kita semua.”


Rivandy: “Neesan akan menyebarkan video mesumku ke kalian semua.”


Zhukov : “Oh iya. Aku ingin tahu. Ada apa dengan Aurora?”


Rivandy : “Ceritanya panjang. Aku harus menuliskan di MS Word dan akan membagikan kepada kalian.”


Saphine : “Apakah dia punya gejala tertentu?”


Rivandy : “Kalau aku memikirkan sesuatu, aku merasa … Aurora  membenciku akhir-akhir ini. Dia … merasa dikhianati dan tidak percaya padaku. Aku mencoba untuk menjelaskan sesuatu. Tapi, percuma saja.”


Saphine : “Hmm. Aku pernah melihat ini sebelumnya. Coba lanjutkan!”


Rivandy : “Aku merasa … Aurora mengingat kejadian yang membuatnya trauma. Aku membuatnya mengingat masa lalu. Bukan seperti PTSD. Karena ia mengingat masa lalu, kepribadiannya berubah drastis. Hanya itu yang aku sampaikan.”


Saphine : “Gejalanya sendiri adalah kecemasan, depresi, Suasana hati yang berubah setiap waktu, depersonalisasi, derealisasi, gangguan tidur, memiliki keinginan bunuh diri, dan halusinasi.”


Saphine : “Pengobatannya, adalah terapi kognitif perilaku, terapi keluarga, dan obat anti depresan. Aku sarankan kamu menggunakan ketiga-tiganya untuk berjaga-jaga.”


Rivandy : “Oh. Begitu. Aku akan memikirkan sesuatu.”


Zhukov : “Kenapa kamu tidak pulang? Kamu sedang bercinta dengan siapa?”


Rivandy : “Tidak ada. Neesan masih sibuk. Dia akan memanggilku kalau ada luang.”


Denis : “Jangan panggil dia! Dia akan memerasmu.”


Rivandy : “Kamu mau kita ditangkap lagi?”


Hammer : “Oi! Ri-chan! Kamu masih kedinginan?”


Rivandy : “Masih. Ini masih musim dingin.”


Rivandy : “Sekali lagi. Aku terima kasih pada kalian. Aku segera menutup telepon ini untuk menjelaskan sesuatu pada Aurora.”


Saphine : “Semangat! Aku akan menunggumu besok di apartemenmu!”


Zhukov : “Padahal, gajinya tinggi, lho,”


Denis : “Eleva akan kecewa dengan ini.”


Hammer : “Bu Ennie juga.”


Aku menekan tombol [Leave] untuk menutup pesan. Aku juga melakukan mute agar aku tidak dipanggil lagi. Aku sudah bosan dipanggil oleh mereka. Aku ingin menahan bateraiku.


“Maaf menunggu lama," ucapku kepada sopir itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa,” respon sopir itu sedang fokus ke jalan.


Aku mengobrol sedikit dengan sopir itu. Aku juga merahasiakan ini pada sopir itu bahwa aku adalah siswa akademi. Aku tidak ingin mengejutkannya. Soalnya, dia belum mengetahui lebih lanjut mengenai akademi itu. 


Aku mencari topik yang bagus untuk generasi tua sepertinya. Aku tidak tahu mengenai topik yang pas. Aku tidak terlalu bisa mengatakan tentang politik, kriminal, dan lainnya. Aku hanya berfokus dengan sebuah topik yang pas. Itu adalah masalah akademi mengenai romansa.


Namun pada saat aku ingin mengobrol lebih jauh, sebuah masalah akan terjadi lagi.


Ban taksi bocor lagi. Ban depan yang terkena sebuah bongkahan es yang berbentuk jarum mengenai ban taksi. Dengan peristiwa itu, sopir itu menghentikan bus miliknya dan menepi. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada taksi ini.


“Apa yang terjadi?” Tanyaku melihat suhu udara semakin dingin lagi.


“Ban bocor lagi. Aku sudah menggantinya yang baru. Mungkin … sampai sini aku mengantarmu. Aku harus mengurusi ban lagi.” jawab sopir itu memang berpengalaman.


“Tapi, bagaimana dengan Uber-nya?” Tanyaku mengutak-atik ponselku.


“Lupakan Uber! Kau tidak bisa membayarku karena kejadian ini,” usul sopir itu keluar dari mobilnya. 


Aku tidak mau berjalan sendirian ditengah suhu dingin ini lagi. Entah kenapa musim dingin Moskow semakin dingin pada bulan Januari. Padahal, aku selalu mengecek cuaca Moskow. Tapi, sama saja. Prediksi meleset lagi. 


Dengan berat hati, aku pamit kepada sopir itu dan memberikan tip kepadanya dengan menyimpan uang di kursi.  Aku segera berjalan walaupun terpaksa. Aku tidak mau berjalan sendirian lagi meskipun keadaan memaksaku.


Akishima dan Sheeran melarangku untuk berjalan sendirian di tengah suhu dingin yang ekstrim. Mereka cemas kalau aku masuk rumah sakit lagi. Aku akan menyakiti hati Sheeran lagi.


Aku berjalan dengan langkah kaki yang berat. Aku memaksa diri untuk berjalan lagi meskipun aku tidak bisa memesan taksi lagi. Jika aku melakukannya, aku akan mati terlebih dahulu sebelum taksi datang


Aku berjalan dengan langkah yang cukup berat dalam melancarkan sesuatu. Aku menahan diri agar aku tidak terjatuh lagi seperti sebelumnya. Jika aku terjatuh, tidak ada yang bisa menolongku.


Akishima dan Sheeran tidak ada di sampingku. Aku hanya berjalan sendirian di tengah neraka yang cukup dingin. Ini belum seberapa di Winterfell dalam film Game of Throne (cerita perang 7 kerajaan). Aku tidak bisa bertahan hidup lagi. 


Aku merasakan kematian dekat denganku. Aku merasakan Azrael akan membunuhku dengan sabitnya. Aku hanya memikirkan kotatsu yang kugunakan di tengah musim dingin. Ini cukup menghangatkan. Karena kotatsu, aku merasakan kemalasan dalam diriku.


Aku mengalami hal yang sama pada paman itu. Aku tidak terlalu mengingatkannya lagi setelah dia menjalankan misi PBB.


Tidak! Bukan saatnya aku memikirkan itu! Aku memikirkan nasib Aurora yang aku sakiti. Aku merasa tidak nyaman kalau aku menyakiti wanita. Bukan soal itu! Ini lebih menuju ke psikologi, Aku tidak ingin menyakiti wanita. Aku merasa bersalah kalau aku menyakiti wanita.


Sudah cukup aku menyakiti seseorang! Aku juga tidak mengerti dengan dunia ini. Entah kenapa banyak gadis yang mengejarku karena aku tampan seperti pangeran atau semacamnya. Aku juga tidak tahu pemikiran wanita itu seperti apa.


Pemikiran wanita lebih sulit daripada sebuah soal yang sulit di matematika ~ Rivandy Lex.


Aku berjalan menahan cuaca dingin. Luka tembak yang kudapat dari Aurora membuatku tidak ingin bergerak lagi. Aku merasakan tekanan yang cukup berat dalam tubuhku. Aku merasakan suhu tubuhku akan menurun seperti sebelumnya. Saat aku pulang bersama Sheeran.


Nafsu birahi Shiori, tembakan Aurora, dan cuaca dingin di Moskow memberi peluang kematianku meningkat. Aku merasa tenagaku semakin terkuras habis. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan dari semua ini.


Aku tidak yakin apakah aku bisa hidup lebih lama dengan penderitaan yang selalu menghampiriku. Aku selalu menjadi seorang yang sial dalam menghadapi sesuatu. Aku tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena penderitaan berupa suhu tubuhku menurun membuatku percepatannya semakin menurun.


Dengan penderitaan yang terus-menerus terjadi padaku, aku ingin sekali meninggalkan dunia ini. Azrael selalu mengawasiku dari jauh apakah aku pantas untuk mati atau tidak. Ini adalah peluang 50:50. Iya atau tidak sama sekali.


Aku melakukan ini semua untuk memperbaiki Aurora.


Aurora menungguku di apartemen dan bersiap untuk menyerangku. Tapi, aku bertekad untuk segera bergerak untuk sampai di apartemenku dan segera menjelaskan sesuatu untuk Aurora.


Aku tidak mau Aurora menderita hanya karena aku mengingat semua itu. Aku melakukan kesalahan yang besar. Maka dari itu, aku harus menebusnya atau tidak sama sekali. Aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa melalui ini semua. Aku tidak boleh membiarkan Aurora melakukan hal yang buruk pada orang lain.


Jam 20:13, aku masih berjalan dan berjalan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku yang akan mengidap penyakit hipotermia itu lagi. Aku merasa sedikit muak pada suatu realita. Dia dengan seenaknya melakukan seperti seorang Borjuis. 


Setelah aku berjalan cukup lama, aku merasakan sesuatu yang membuatku cukup memberi harapan. Aku mencoba suatu cara agar aku bisa melakukan teknik yang bisa kugunakan untuk sampai di tempat tujuan kami.


Tapi, tidak ada pilihan lagi.


Tidak ada. Yang bisa kulakukan untuk berjalan dengan suhu dingin dan suhu tubuhku mencapai 5%. Radar yang sedang bersembunyi dari sebuah tempat hanya untuk mencari sesuatu. Namun, percuma saja. Aku tidak bisa bergantung pada penyataan itu lagi. 


Aku segera sampai di apartemen Aurora apapun resikonya. Aku melihat sebuah gang yang ku kenal disini. Aku melihat Akishima yang menjauh dariku. Aku tidak pernah melakukan itu semua. 


Tidak ada pilihan lain, Aku segera menyelesaikan ini sebuah dan memberikan informasi kepada Aurora. Aurora berada dalam kondisi tidak stabil sendirian di tengah. Begitu juga denganku. Aku malah ingin mati karena aku sudah berjalan selama 10 menit lamanya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Akhirnya, aku sampai di apartemen Aurora. Aku tidak menyangka aku bisa bertahan di musim dingin yang cukup dingin itu. Aku tidak habis pikir bagaimana caranya agar aku bisa segera menuju ke apartemen Aurora. Aku dengan langkah kakiku segera berjalan menuju ke apartemen Aurora. Aku melupakan suhu dinginku ingin menyamar jadi manusia. Tapi, aku tidak bisa melakukan.


Aku mencoba yang lainnya. Aku mencoba sesuatu agar aku bisa masuk ke apartemen Aurora. Aku menahan suhu tubuhku yang semakin dingin itu untuk membuatku terkapar dengan mudah. Aku melihatnya terlebih dahulu mengenai kondisinya. 


Rupanya, Aurora masih menghancurkan furniture miliknya. Ia dengan kepribadian psikopatnya segera melampiaskan kemarahannya kepada barang yang tidak bersalah itu. Aku mencoba untuk melakukan tekad yang lebih baik daripada sebelumnya. Aku menunggu sesuatu dan mengumpulkan keberanian agar aku bisa berhadapan dengan seorang monster seperti Aurora. Dan .... keberanian sudah terkumpul.

__ADS_1


Saatnya beraksi!


Jangan khawatir, Aurora! Aku akan menebus kesalahanku.


__ADS_2