
18 September 2025, jam 10:00, Kelas I Saintek F, Zera tertidur di kelas pada saat pelajaran selesai. Suasana yang sepi. Para siswa dan siswi keluar dari kelas dan segera berkeliaran di akademi.
Pada saat Zera tertidur pulas, ada seorang siswi memasuki ke kelas Zera dan membawa keju impor untuk membangunkan orang yang sedang tertidur. Nina Alpenliebe.
Dengan bau yang menyengat itu, Zera tidak bisa fokus dalam mimpinya dan segera terbangun secara perlahan.
Zera yang sudah terbangun segera menoleh ke Nina dengan kesadaran penuh. Ia membentak, “Apa yang kau lakukan?”
“Ini untuk membangunkanmu,” ujar Nina sambil memperlihatkan keju impornya kepada Zera.
“Ayo, kita ke kantin,” ajak Nina untuk keluar dari kelas.
“Tidak. Aku malas.” tolak Zera sambil menundukkan kepalanya.
“Ayolah! Berapa kali kamu harus seperti itu? Sinta dan Diana sedang menunggumu,” oceh Nina cemas dengan keadaan Sinta dan Diana.
Zera hanya terdiam dengan ocehan itu. Ia merasa bahwa Nina akan melakukan hal yang aneh kepadanya. Misalnya, bergandengan tangan, memanggil temannya untuk mengangkat Zera ke suatu tempat, dan hal lainnya.
“Aku mengalah,” desah Zera sambil beranjak keluar..
“Eh?!” Nina terkejut dengan tingkah Zera.
“Kamu mau keluar?” Tanya Zera sambil tersenyum kecil.
“Eh?!” Nina terkejut dengan tingkah Zera.
“Aku tinggalkan nih."
“Tunggu, Zera! Jangan tinggalkan aku!”
[*^*]
Zera dan Nina segera menuju ke kantin. Mereka berjalan dengan penuh aura romantis mereka. Para lelaki sangat iri kepada orang yang berjalan bersama Nina dengan akrab. Berbagai cibiran yang menyertai mereka.
“Orang itu sangat beruntung jika Nina berada di sampingnya,” cibir siswa dari Kelas I Soshum E
“Kecantikannya seperti Tuan Putri,” cibir siswa yang mengenakan topi.
“Tidak kusangka dia memang populer seperti Pangeran Rivandy,” cibir siswa berbadan kurus.
“Aku harap mereka hidup bersama,” lanjut siswa dari Kelas I Soshum E
Nina tidak terlalu fokus dengan cibiran itu. Ia hanya berfokus dengan Zera yang sedang mengantuk itu.
[*^*]
Sesampainya di kantin mereka bertemu dengan Sinta dan Diana yang sedang duduk di kantin. Mereka melihat ada sepasang kekasih yang berada di depan Sinta dan Diana. Mereka sedang mengobrol dengan akrabnya.
“Sinta, Diana,” panggil NIna yang berada di samping Diana.
“Ara-Ara. Nina. Kamu datang kemari?” Sahut Diana menoleh kepada Nina.
“Tepat sekali. Aku sudah membawa Zera kemari tanpa paksaan,” jawab Nina sambil membawa Zera kemari.
“Syukurlah, Zera! Kamu sudah rajin sekarang? Ayo duduk! Aku akan menyuapimu sekarang juga,” ajak Sinta untuk duduk di sampingnya..
Zera terpaksa menerima itu dan segera duduk di samping Sinta dan Diana. Nina berada di samping Diana dengan postur duduk yang rapi. Andela dan Eleva yang duduk di hadapan mereka hanya terdiam sambil makan.
Andela mulai berbisik, “Hei, Eleva. Apakah kamu melihat 1 pria dengan 3 wanita?” Dengan guyonan yang mesum.
“Apa yang kau katakan?” Tanya Eleva sambil mendesis menoleh ke Andela.
“Lihatlah baik-baik! Orang itu sangat kuat. Dia bisa bermain bersama 3 wanita di ranjang, lho. Lalu, mereka merasa puas dengan permainan itu. Ah! bikin iri saja,” gumam Andela sampai suaranya kedengaran.
__ADS_1
“Berisik! kita sudah di hadapan orang lain, kau tahu,” cocor Eleva dengan guyonan mesum Andela itu.
“Ehem! Eleva, Andela. Kalian berbisik apa?” Tanya Diana sambil menatap mereka.
“Tidak ada apa-apa,”
“Andela Sentinel dan Evela. Kalian dari Los Angeles. bukan?” Tanya Nina sebelum memesan makanan.
“Tunggu sebentar! Kenapa kamu tahu asalku darimana?” Eleva terkejut asalnya sudah diketahui oleh Nina.
“Karena aku mengikuti Klub Disiplin. Jadi, aku harus menghafal semua warga di sekolah ini,” jelas Nina dengan panjang lebar.
“Iya, aku paham. Tuan Putri Nina,” desisnya sambil memanggil Tuan Putri Nina.
Setelah mereka memesan makanan, Zera dan Nina harus menunggu pesanan mereka. Eleva dan Andela sedang memainkan handphone. Andela sedang eksis di akun Instagram miliknya. Sementara Eleva sedang membaca artikel hari ini.
“Andela Sentinel. Kamu sekeluarga dengan Sinta. Terus siapa nama orang tuamu?” Tanya Diana sambil menduga.
“Aku tidak punya orang tua sejak kecil. Jadi, aku harus tinggal di panti asuhan bersama Eleva,” jawab Andela.
“Senasib, yah?” Dugaan Diana sambil minum jus Lemon.
“Jangan khawatir! Kita akan melalui ini bersama. Setelah lulus akademi, kita akan melakukan misi ini bersama,” ungkap Sinta dengan menenangkan anak yatim.
“Aku berharap begitu,” harap Eleva dengan kemungkinan 30%.
“Hoi! Sinta. Rumor yang mengatakan bahwa hanya 30% yang lulus akademi. Sementara, yang lainnya gagal dalam akademi. Kenapa demikian?” Tanya Eleva dengan penasaran.
“Aku tidak tahu, tapi, kita harus memulainya dengan optimis dan bersama,” jawab Sinta dengan penuh kebaikan dan keikhlasan.
“Sebagai Klub Disiplin, aku harus menyelidiki mengenai kemungkinan itu. Jadi, aku harus bertanya kepada senior dan kepala sekolah mengenai ini,” lanjut Nina sambil memperlihatkan data di handphonenya.
“Kalau begitu, kita harus hati-hati biar tidak gagal,” cetus Andela cepat tanggap.
“Kau benar, Andela. Akademi ini sangat misterius. Sekolah pada umumnya bisa lulus dengan persentase yang tinggi. Bahkan ada beberapa sekolah yang menurunkan standar kelulusan demi meningkatkan reputasi. Namun, berbeda dengan akademi ini."
“Kau terlalu memikirkan hal itu. Aku juga merasa tidak beres dengan akademi ini. Ini seperti senjata untuk keadilan. Aku tidak terlalu ingin lulus ”
“Eleva, kamu tidak boleh begitu! Kita mencapai puncak bersama, yakni lulus akademi, walaupun 30%,” elak Sinta tidak membiarkan Eleva berpikiran pesimis.
“Terserah saja!” Eleva makan hotdog sambil duduk secara agresif.
“Zera, jangan tidur! Aku akan menyuapimu,” keluh Sinta sabil menyuapi Zera.
“Tch! Dia seperti anak bayi saja!” Eleva menghina Zera.
“Bukan! Dia punya calon istri yang cantik,” puji Andela melihat gadis keturunan Sentinel seperti
“Terima kasih atas pujiannya,” puji Sinta mendengar pujian dari Andela.
“Aku harap aku punya anak yang baik hati dan tidak sombong,” lanjutnya sambil tersenyum manis.
“Maksudnya kau akan dipoligami dengannya,” desis Eleva membenarkan guyonan itu.
Setelah mereka makan, mereka kembali ke kelas mereka dan mengikuti pelajaran yang mereka ikuti. Sinta dan Diana menuju ke Kelas I Soshum A, Nina menuju ke Kelas I Saintek A, Eleva dan Andela menuju ke Kelas I Sainke B, dan Zera menuju ke Kelas I Saintek F.
[*^*]
Jam 15:12, Zera dan Nina berjalan bersama seperti pasangan suami istri. Siswa yang melihat itu menaruh rasa iri kepada Zera. namun, tidak memuncak seperti Klub Pangeran. Mereka hanya mengharapkan Nina berada di sampingnya.
Nina selalu menaruh perhatiannya kepada Zera sebagai bukti bahwa Zera bukan siswa yang payah. Ia hanya tidak mau mendengar kata “Jangan Menyerah!” karena itu menyakiti Zera.
Setelah mereka tiba di di gerbang, mereka bertemu dengan Sinta, Diana, Eleva dan Andela. Sinta menghampirinya dan memeluknya dari samping. Diana berjalan pelan sambil mencium tangan Zera.
__ADS_1
“Wah! Eleva, lihat! Mereka akan mengajak siswa itu ke hotel. Apakah aku harus ikut dengannya?” Tanya Andela melihat pelukan itu.
“Tidak boleh! Aku akan pulang sekarang jika kau melakukan itu,” tegas Eleva melihat guyonan itu.
“Eh?! Padahal, itu menyenangkan, lho,” cela Andela karena aksi ranjang itu menyenangkan.
“Eleva, Andela. Ayo kita singgah dulu ke supermarket! Aku ingin membeli sesuatu,” ajak Diana sambil berjalan mendekati Andela dan Eleva.
“Oh iya. Aku harus beli air putih biar kulitku tetap bersih dan mengkilap,” lanjut Sinta sambil menyeret Zera.
“Kebetulan aku ingin Coca-Cola,” desah Eleva sambil berjalan pulang.
“Aku ingin membeli paket internet,” sambung Andela segera mendekati Eleva.
“Andela, kau tidak perlu membeli paket internet. Ada WIFI di ruangan kita,” cekal Eleva.
“Maaf, aku lupa,” seloroh Andela cengengesan
“Zera, kamu mau beli apa?” Tanya Nina menoleh ke Zera.
“Tidak ada. Hanya melihat,” jawab Zera singkat.
“Ya sudah. Aku akan membelikan sebuah hadiah spesial untukmu,” oceh Nina berada di samping Zera.
“Aku tidak keberatan,” jawab Zera singkat.
Mereka berjalan menuju ke supermarket. Mereka membeli keperluan mereka untuk menunjang keseharian mereka. Eleva tidak membiarkan Andela untuk berbicara seenaknya. Zera didekati oleh ketiga gadis seolah-olah Zera memiliki harem seperti Pangeran Rivandy.
Setelah membeli perlengkapan mereka, mereka membayarnya dengan seorang kasir berkostum Squidward. Kasir itu mengecek dan menghitung barang belanjaan itu. Coca-Cola, air putih, alat kecantikan, aksesoris tas, dan benda hangat untuk Zera.
“Semuanya, ₽ 1.200. Aku harap tidak ada yang ketinggalan,” ucapnya dengan akting seperti Squidward.
“Anu. Pak Squidward. Bolehkah aku memegang tentakelmu? Rasanya hangat sekali,” tanya Andela sambil menahan nafsu birahinya.
“Ayo pulang!” Eleva memegang tangan Andela dengan erat sambil mengeluarkan uang ₽ 1.200 kepada kasir dan mengambil barang belanjaannya.
“Tunggu, Eleva! Apa yang kamu lakukan?” Tanya Andela ingin menghentikan langkah Eleva tapi percuma.
“Kalian pulang saja! Aku akan mengurus gadis mesum ini,” pamit Eleva menoleh ke mereka berempat sambil membawa Andela yang nakal ke rumahnya.
“Iya,” sahut mereka berempat membiarkan Eleva dan Andela pulang duluan.
Setelah Eleva dan Andela pulang, Nina, Sinta, Zera, dan Diana mengambil barang mereka dan segera pulang ke apartemen mereka.
Sebelum itu, Sinta dan Diana mengatakan kepada Nina dan Zera bahwa mereka akan menginap akhir pekan nanti. Zera menyetujuinya karena ia tidak punya aktivitas lain. Nina juga begitu.
Setelah itu, mereka berpisah dan Zera dan Nina menuju ke apartemen mereka di tengah aktivitas penduduk Moskow yang cukup ramai dengan banyak mobil pribadi pulang ke rumah mereka.
Setelah tiba di apartemen, Nina memberikan sesuatu pada Zera. Zera menerimanya dan berpisah menuju ke apartemen. Namun, ....
“Jangan pergi!” Nina memeluk Zera sebelum menuju ke apartemennya.
“Kenapa?” Tanya Zera.
“Aku ingin menginap di apartemenmu. Aku kesepian dan tidak punya siapa-siapa. Bolehkah?” Tanya Nina hampir menangis.
Zera tidak terlalu mengetahui apa yang Nina rasakan. Ia sepertinya menderita karena ketidakmampuan Zera dalam hal apapun. Dari semua orang yang ada di dunia ini, hanya Nina yang mengetahui kenapa Zera tidak ingin mendengar kata “Jangan menyerah!” itu.
Akhirnya, Zera memperbolehkan Nina dengan syarat harus membuat Zera tertidur dengan cara apapun. Nina menyetujuinya. Akhirnya, mereka masuk ke apartemen mereka dan hidup bersama.
[*^*]
“Lapor, disini, Weiss. Aku sedang berada di Moskow dan menjadi siswi Akademi Militer Spyxtria. Aku sudah menemukan sesuatu yang memenuhi kriteria yang disampaikan oleh Quartet, dan Dragon.”
__ADS_1
“Target terkunci. Tinggal 8 bulan sebelum aku menangkap seseorang itu. Dia adalah seseorang yang tangguh dan penuh penderitaan. Seseorang yang harus dihadapkan oleh Sang Pemimpin Revolusi, Code Dragon. Bertempatan di C++ dan Python 4.”
“Benar sekali. Dia akan menjadi alat untuk meletuskan Perang Dunia Ketiga,”