Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-hari : Pertengkaran


__ADS_3

24 September 2025, jam 07:01, Evelyn berjalan dengan cukup riang gembira di tengah penduduk Moskow yang cukup stres karena pekerjaan. Evelyn yang berada dalam kondisi prima segera bertemu denganku dan Aurora.


Ketika ia melihat sosok kedua orang itu, Evelyn segera melambaikan tangan kepada kami sambil mengucapkan selamat pagi. Namun, ia terkejut dengan sebuah percikan listrik yang ada dalam tatapan mereka.


Evelyn yang tidak terlalu mengetahui apa yang terjadi segera bertanya, “Kalian kenapa, desu?”


“Evelyn, jangan kau berteman dengannya! Dia berselingkuh denganmu,” pinta Aurora dengan tatapan dinginnya.


“Dia hanya merawatku. Kau yang tidak pernah mengunjungiku kemarin,” cekalku dengan meluapkan amarahku.


“Alasan kamu! Selama ini dia lebih penting daripada aku? Aku selalu memberikan perhatian padamu,” ceramah Aurora karena tidak terima dengan obrolan itu.


“Perhatian?! Aku selalu sial dan harus memuaskan hasratmu. Jadi, berhenti berkata kamu memberikan perhatian padaku!” Aku mencekal dan menatapnya dengan penuh emosi.


“Eh??” Evelyn bingung dengan kami yang sedang bertengkar.


“Apa yang terjadi, desu? Aku tidak mengerti, desu,” desah Evelyn sambil berjalan bersamaku dan Aurora.


Kami pun berjalan dengan penuh pertengkaran. Sebelum memasuki gerbang, Sheeran yang melihatku yang sedang bertengkar dengan Aurora segera menghampiriku dengan langkah kakinya yang cukup cepat.


“Sayangku!” Panggil Sheeran sambil memelukku dengan kasih sayang.


“Hoi! Mesum! Kau tidak boleh berdekatan dengannya. Dia sudah berselingkuh denganmu,” larang Aurora sambil melepaskan pelukan Sheeran.


“Apa?! Selingkuh?! Tidak mungkin! Dengan siapa aku diselingkuhi?” Sheeran terkejut dengan itu.


“Kau jangan termakan omongan itu, Sheeran! Dia hanya berbohong.” Aku memberitahu kepada Sheeran mengenai kebohongan Aurora.


“Apa?! Aku tidak bohong! Aku melihatmu tidur dengan gadis lain,” jelas Aurora tanpa pikir panjang.


“Kamu hanya halusinasi saja, dasar bodoh!” Aku membalas penjelasan itu dengan perkataan yang tajam.


Di tengah pertengkaran itu, Akishima menghampiri Evelyn dan Sheeran. Ia berjalan menuju ke gerbang dan berjalan dengan kecepatan tinggi.


“Yahoo! apa yang terjadi di sini?” Sapa Akishima kepada Evelyn dan Sheeran.


“Aa. Mereka bertengkar, desu,” jawab Evelyn dengan singkat.


“Kalau Rivandy selingkuh, untuk apa aku hidup?” Sheeran putus asa dengan kenyataan itu.


“Apa?! Rivandy selingkuh?” Akishima terkejut dengan pernyataan itu.


“Suaramu terlalu besar,” bisik Sheeran untuk membuat Akishima diam.


Aku dan Aurora menoleh kepada Akishima dengan sesaat. Lalu, kami saling berhadapan dan mengeluarkan kata pedas kami. Sesaat kemudian, Akishima menghampiri orang yang sedang bertengkar itu.


Ketika Akishima sudah berada di hadapan kami yang sedang bertengkar, ia menyalakan terompet dan membuat kami terdiam. Setelah aku dan Aurora terdiam, Akishima memutuskan, “Sekarang, ceritakan kejadian kalian sampai kalian bertengkar begini!”


“Tidak mau. Kau terlalu mencampuri urusan kami.” Aurora menolak perintah Akishima.


“Aku tidak akan cerita,” tolakku sambil menatap Akishima dengan lesu.


“Ayolah! Aku ingin tahu ceritanya. Siapa tahu aku bisa menyelesaikannya,” sanggah Akishima dengan penuh percaya diri.


“Lebih baik kau harus pergi ke laut.” Aurora menyuruhku untuk pergi ke laut.


“Seharusnya kau yang melakukan itu,” lontarku dengan suruhan itu.


“Tunggu! Kalian pergi kemana? Tunggu aku!” Akishima meneriaki ku dan Aurora sambil menyusul


Sheeran dan Evelyn hanya terdiam dengan perilaku Akishima. Mereka tidak tahu alasan aku dan Aurora bertengkar secara mendadak. Dengan terpaksa, Evelyn menemaniku dan Aurora yang sedang bertengkar di kelas.


Sheeran hanya menunggu kesempatan untuk menghilangkan situasi yang sedang memanas itu. Ia juga mencari tahu siapa yang berselingkuh dengannya.


{*^*]


Jam 10:01, jam pelajaran militer telah selesai. Pak Stephan mengistirahatkan siswa dan siswi. Aku dan Aurora masih bertengkar dan beradu mulut. Evelyn mengajak kami ke suatu tempat. Namun, aku dan Aurora tetap menolak. Evelyn tidak menyerah. Ia menyeretku dan Aurora menuju ke tempat diskusi.


Aku dan Aurora hanya pasrah dengan tekanan anak kecil itu. Lagipula, aku dan Aurora tidak mau berdebat dengan anak kecil. Itu sedikit lebih merepotkan.


Ternyata, Evelyn membawa kami ke Kelas I Saintek C untuk diberi diskusi untuk menyelesaikan penyelesaian itu. aku dan Aurora saling memalingkan wajah kami seolah-olah kami tidak percaya pada diri kami masing-masing.

__ADS_1


Zhukov dan Akishima menjadi penengah pada pertengkaran itu. Mereka mencari cara agar kami tidak bertengkar lagi


Zhukov mulai berbicara, "Jadi, apa yang membuat kalian bertengkar?"


"Rivandy. Dia berselingkuh denganku. Padahal, kau milikku seorang," tuduh Aurora karena aku berselingkuh.


"Apa yang kau ucapkan? Aku belum pernah berhubungan akrab denganmu. Kau selalu memperlakukanku seperti alat," cekalku dengan kejadian sebelumnya.


"Lagipula, sejak kapan aku berpacaran denganmu? Tidak ada," lanjutku sambil mengeluarkan perkataan yang cukup tajam.


"Seperti masalah ini seperti hubungan suami istri saja," gumam Zhukov mendengar keluhan dariku dan Aurora.


"Aurora. Kamu sudah mendapatkan buktinya belum? Aku ingin tahu siapa gadis yang selingkuh," putus Zhukov mengenai masalah itu.


“Aku punya buktinya.” jawab Aurora dengan tekadnya yang bulat.


“Sekarang bukti ini menjadi bukti sebenarnya dia berselingkuh denganku,” tekad Aurora pengeluaran barang buktinya bahwa aku bersalah.


“Hah?! Kau yang terus memperalatku, sehingga masalah ini terjadi,” ucapku yang sedang berselisih dengan Aurora.


“Apa?! Aku hanya meminta bantuan kepadamu. Kamu saja yang berpikiran negatif,” cekal Aurora berdebat denganku.


“Pakaian dalam?” Zhukov dan Akishima melihat ****** ***** itu dan merabanya sedikit.


“Apa ini? Ini menjijikkan,” keluh Akishima melihat dan meraba pakaian dalam.


“Tunggu. Ini punya siapa?” Tanya Zhukov pada dirinya sendiri.


“Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya,” jelasku sambil melihat pakaian dalam warna pink itu.


“Bohong! Kau pasti melihatnya, kan?” Tuduh Aurora menyudutkanku.


“Tidak! Aku tidak pernah selingkuh. Dia sudah berangkat dari kemarin pagi,” jelasku sambil membalas perdebatan Aurora.


“Pagi kapan? Pagi ini? lalu, kamu sudah berhubungan intim dengannya? Kau pasti menikmatinya, kan?” desak Aurora untuk menjatuhkanku.


“Aku tidak melakukan itu walaupun aku akan mati,” lontarku.


“Sudah! Kalian jangan ribut! Kalian akan membuat masalah menjadi memburuk,” tegas Zhukov sambil menghentikan pertengkaran itu.


“Iya, kau benar, Zhukov.” Aku menghela nafas dengan pelan.


“Maaf atas keagresifan ini.” Aurora membungkukkan sedikit badannya dengan menyesal.


Kami berdiskusi agar hubungan kami menjadi membaik. Namun, aku dan Aurora tidak akan saling memaafkan karena perilaku yang kami lakukan tidak bisa dimaafkan. Aurora tidak memaafkanku karena aku didekati para gadis dengan mudah. Aku juga tidak akan memaafkannya karena ia selalu mempermainkanku saat main Poker.


Pertengkaran semakin meningkat dengan aura listrik yang menyengat.


Akishima dan Zhukov berencana untuk menyelesaikan pertikaian ini. Namun, percuma saja. Evelyn tidak banyak membantu karena tekananku dan Aurora yang semakin meningkat. Ini sedikit mengganggu suasana kelas. Mereka tidak terlalu peduli, kecuali salah satu dari mereka adalah anggota Klub Pangeran.


Tidak ada pilihan lain untuk memberi waktu mereka untuk merenung.


Akhirnya, kami kembali ke kelas dengan memalingkan wajah kami sambil menatap sedikit dengan mengeluarkan aura percikan listrik. Evelyn memandu mereka agar mereka tidak melakukan pertarungan yang sia-sia.


Kelas militer dimulai kembali tanpa ada komunikasi dengan Aurora.


[*^*]


Jam 15:23, aku dan Aurora pulang secara bersamaan. Kami berjalan menuju ke apartemen kami masing-masing. Evelyn sudah pulang terlebih dahulu karena ia akan dijemput seseorang. Seseorang yang cukup penting.


Aku dan Aurora melangkahkan kaki secara bersamaan. Setelah itu, kami merenungkan apa yang terjadi pada kami. Entah kenapa pertengkaran ini menjadi membesar hanya karena masalah sepele. Kami hanya mengungkit masalah yang lalu, sehingga membuat hubungan menjadi memburuk.


Aurora sudah termenung itu membuka suara. Ia menghentikan langkahnya sebelum berbicara. Aku yang menoleh pada Aurora segera menghentikan langkah sejauh 3 langkah. Kesunyian itu mulai terasa. Ini bukan seperti sebelumnya. Agak sedikit dramatis.


Aurora mulai mengaku, “Rivandy. Aku ingin … mengatakan sesuatu padamu,” sambil menahan wajahnya yang memerah itu.


Aku mendengar curahan itu segera membalas, “Apa itu?”


Suasana yang cukup menegangkan. Kami tidak berjalan sedikit pun. Aku hanya menatap ke depan, sementara Aurora menatap ke bawah.


Ia memulai menyesal dan mendesah, “Ma-maafkan … aku! Aku … tidak bermaksud … untuk bertengkar padamu. Aku … hanya cemas dengan kondisimu. Habisnya, kamu selalu didekati oleh gadis lainnya. Jadi, aku … berjanji untuk menjagamu agar tidak terjadi lagi,”

__ADS_1


“Lalu, maafkan aku dengan sikap egoisku. Kamu pasti membenciku dengan sikapku. Jadi, …." Ucapan Aurora terhenti.


“Tidak perlu meminta maaf. Aku merasa lega dengan pengakuanmu. Aku juga minta maaf karena aku terlalu banyak mengeluh. Aku juga tidak terlalu terbiasa. Aku selalu menganggap kamu sebagai pengganggu. Aku … juga minta maaf."


“Bolehkah kita ulang dari awal lagi? Aku tidak mau bertengkar denganmu lagi,” desah Aurora sambil memegang tubuhku.


“Baiklah, aku terima dengan itu.” Aku menerima itu dan mengajak Aurora untuk berjalan.


Di tengah perjalanan. aku menawar, “Sebelum pulang, aku membeli barang belanjaanku. Kamu boleh traktir denganku,” sambil menoleh kepada Aurora.


“Baiklah. Aku ingin bermain Poker denganmu,” ajak Aurora sambil berjalan denganku.


“Jangan yang itu! Aku akan kalah,” cekalku tidak ingin bermain Poker


“Tidak apa. Aku bisa mengajarimu, kok,” desak Aurora dengan rayuannya.


Kami berbicara seperti biasanya dan berjalan menuju ke apartemen kami masing-masing.


[*^*]


Keesokan harinya, jam 07:11, aku dan Akishima berjalan menuju akademi. Aku tidak melihat Evelyn dan Sheeran yang biasanya menyerangku dengan rayuan mereka. Aurora sudah mengirim pesan kepadaku melalui aplikasi Telegram bahwa ia tidak akan hadir karena dia terlalu sering begadang di apartemenku sehingga ia demam dan berbaring di kamarnya.


“Hei, Rivandy. Apa kamu tahu?” Tanya Akishima memulai pembicaraan


“Tidak,” jawabku dengan singkat.


“Bagaimana hubunganmu dengan Aurora? Apakah kamu bertengkar dengannya?” Tanya Akishima mengenai pertengkaranku dengan Aurora kemarin.


“Tidak. Aku sudah berbaikan dengannya,”


“Syukurlah! Jika tidak, akademi akan hancur,” canda Akishima dengan guyonannya.


“Tidak ada yang seperti itu,” desisku mendengar Guyonan dari Akishima.


“Lalu, apa yang kalian lakukan setelahnya?” Tanya Akishima lagi.


“Dia mengajakku main Poker lagi. Lalu, aku kalah 10 kali tanpa kemenangan,” jawabku dengan sedikit murung.


“Kasihan! Kau pasti diperbudak lagi,” sindir Akishima sambil sedikit menyenggol dadaku.


Aku menghela nafas dan mengeluh, “Tidak ada pilihan lain. Aku memang payah dalam permainan Poker,” dengan pandanganku ke bawah.


Akishima tertawa kecil dengan sifat murungku. Ia merayuku, “Selain itu, bagaimana kamu menghabiskan waktu bersamanya? Tinggal di apartemen bersama? Mandi bersama? Atau tidur bersama?” Seperti seorang janda.


“Tidak! Aku tidak melakukannya. Aku juga tidak melakukan pada gadis yang sudah kehilangan keperawanannya,” cekalku dengan rayuan itu.


“Lagipula, Aurora berpesan padaku untuk tidak terlalu akrab dengan gadis yang janda itu,” lanjutku sambil berpaling dari Akishima.


Langkah Akishima terhenti secara tiba-tiba. AKu menghentikan langkahku yang menuju ke akademi .Sesaat kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak kusangka. Aku terlalu bingung dengan tindakan Akishima tersebut.


“Akishima?” Panggilku melihat langkah kaki Akishima terhenti.


Ia melancarkan sebuah tamparan yang cepat. Tamparan itu melesat menuju ke pipi kananku. Aku yang terkena tamparan yang keras itu hanya terdiam lesu. Aku merasakan tamparan itu, sehingga aku merasakan suatu elemen yang melekat pada Akishima.


Tidak sampai disitu, ia mengeluarkan suara yang cukup keras untuk berteriak padaku. Suara itu merupakan suatu perasaan yang tidak aneh.


“Rivandy bodoh! Aku membencimu!” Teriaknya yang menggema di kepalaku.


Setelah meneriaki ku, Akishima berlari dengan sepatu akademi sambil menahan tangisannya menuju ke akademi. Aku hanya terdiam dengan hal itu. Tamparannya masih terasa pada pipiku.


Ada apa dengan Akishima?


Apa aku melakukan kesalahan padanya?


Aku tidak pernah mengetahui sesuatu pada Akishima.


Dia memang wanita yang aneh.


Setelah aku berpikiran sesuatu yang salah, aku berjalan ke akademi sendirian. Setelah sampai di akademi, aku berjalan menuju ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Evelyn dan Aurora tidak masuk sekolah.


Jadi, aku harus mengikuti pelajaran ini sendirian bersama dengan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2