
"Rivandy. Kenapa kamu melakukan hal itu?" Tanya Cherry-neesan melihatku yang terdiam.
Aku menjawab, "Aku … tidak akan … membiarkan … kalian … mati … dengan sia … sia," dengan menahan luka yang ada di tubuhku.
"Kenapa kamu selalu ikut campur, Rivandy?" Teriak Denis sambil menahan air matanya.
"Aku ... memberi pesan … kepada kalian … untuk ... tidak … bertengkar. Saphine … juga ... berkata … seperti … itu," jawabku sambil memuntahkan darahku ke lantai dan terkapar di lantai.
"Selain … itu, kalian … harus … bekerja sama. Aku … memberi pesan ... kepada kalian … dari Bibi Rita. Dia menyayangi kalian … meskipun kalian … membenci. Jadi, itu … keputusan kalian," pesanku sebelum aku kehilangan kesadaranku dan pandangan mataku menjadi gelap.
Mendengar itu, Denis dan Cherry-neesan merasa bersalah karena mereka selalu saling membenci. Mereka tidak menyadari bahwa ini akan lebih buruk daripada sebelumnya. Karena sebuah pertengkaran, membuat menjadi lebih buruk dan menimbulkan korban.
Mereka menahan air mata mereka sebagai tanda penyesalan karena membiarkanku menghadapi penderitaan lebih lanjut. Tembakan Akishima, serangan dari 4 pelaku human trafficking, dan tembakan seorang bos secara beruntun.
"Sudah cukup! Kalian membuatku kesal. Sekarang aku akan menghabisi kalian semua!" Geram bos itu langsung mengarahkan senapannya ke arah Denis dan Dr. Cherry.
Denis dan Dr. Cherry langsung berpegangan tangan dan segera menghindari dengan yang cepat itu. Tembakan yang memiliki kecepatan 200 Mach melesat dengan cepat. Namun, tidak dapat mengenai mereka. Mereka bisa menghindari tembakan itu.
"Apa?! Harusnya kalian mati disini," gerutu bisa itu melihat mereka yang bisa bergerak lagi.
Mereka berpegangan tangan mereka dan melepaskannya, berdiri tegak dengan luka yang mereka alami pada saat peluru 2000 Mach telah menusuk tubuh mereka. Semakin cepat peluru itu melesat, kerusakan yang dirasakan semakin besar. Namun, mereka tidak peduli lagi dengan hal itu.
“Denis. Kita akan menghadapinya bersama,” ajak Dr. Cherry sambil menahan luka dengan tangannya.
“Iya, Cherry. Kita akan menghajar orang itu bersama,” lanjut Denis membuang Steyr AUG dan mengambil M-9 Bayonet miliknya.
Boa yang melihat mereka yang bangkit itu segera berseru, “Aku akan menghabisi kalian semua! Rasakan ini!”
Bos itu mengeluarkan tembakan yang sangat cepat. Denis dan Dr. Cherry menghindar dengan langkah kaki yang berat. Kemudian, mereka melakukan serangan dan tebasan untuk mengakhiri nyawa bos itu. Karena tubuh bos itu yang gemuk, tembakan dan tebasan itu tiada gunanya.
Saphine mengambil kesempatan untuk mengambil tubuhku dan segera membawaku ke tempat yang aman. Dia membaringkanku dengan prosedur dokter dan segera menjalankan operasi pengeluaran peluru. Dia juga membuat penyembuhan pada tulang apendikular yang retak akibat peluru 2000 Mach.
“Aduh! Rivandy! Kamu selalu saja terluka. Aku akan mengobatimu dan tidak membiarkanmu terluka parah,” tekad Saphine sambil mengeluarkan peluru dari tubuhku dan segera menghentikan pendarahan di tubuhku.
Denis dan Dr. Cherry mendekati bos itu dan segera melancarkan melakukan tembakan secara beruntun dan tebasan berkali-kali. Lalu, mereka tidak membiarkan bos itu melakukan tembakan. Alhasil, mereka harus menjauh dari serangan peluru itu.
“Sial! Kalau begini terus, aku tidak bisa mengalahkannya,” umpat Denis sambil menahan lukanya.
[*^*]
Pertarungan semakin berlanjut, Yudha, Hammer, dan Zhukov bersembunyi di balik pertahanan mereka sambil menyerang balik. Eleva sedang bertarung dan melakukan serangan agresifnya kepada gangster itu.
Eleva menggunakan pisau miliknya untuk menusuk gangster itu. Tapi, ada daya gangster itu selalu menghindari serangan Eleva dan tidak mau menyerang. Mereka menunggu Eleva kehabisan tenaganya, baru mereka menyerang Eleva dengan kekuatan penuh.
“Sial! Kenapa mereka selalu saja menghalangiku?” Umpatnya terengah-engah.
“Setidaknya, biarkan aku menyerang mereka."
“Tidak ada pilihan lain. Aku akan menggunakan itu."
Eleva mulai menyerang mereka dengan kemampuannya. Ia melakukan teknik yang sama untuk mengecoh para gangster itu sebagai pengalihan. Mereka menghindari Eleva dan akan menyerangnya pada saat ia mengalami kelelahan karena Eleva baru berumur 13 tahun, sementara para gangster itu sudah mencapai 23 tahun.
__ADS_1
Pada saat yang tepat, Eleva melemparkan pisaunya dengan cepat. Pisau yang melesat itu segera menusuk gangster itu. Namun, gangster itu menghindari dengan mudah Pisau itu melesat melewati gangster itu dan segera mengejek Eleva yang dikira payah itu
“Ha. Teknik yang sama. Kau tidak bisa menyerang kami,” ejek gangster itu dengan sombong.
“Begitu? Hum. Omae wa mou Shindeiru,” ucapnya dengan senyuman psikopatnya.
Pisau yang ia lemparkan itu berbalik arah dan melesat ke leher gangster itu, sehingga kepala gangster itu terpotong dengan mudah.
“Nani? Ba-Bagaimana bisa?” Tanya gangster yang melihat rekannya buntung akibat tebasan pisau Eleva.
“Rebellion : Kangaroo Marx Slash!”
Tebasan itu membuat para gangster itu ketakutan setengah mati. Mereka melihat kematian gangster itu dengan kepalanya terpotong hanya karena sebuah pisau. Gangster yang selamat memilih mundur untuk keselamatan mereka. Namun, Eleva mulai mengeluarkan suaranya.
“Aku tidak akan membiarkanmu untuk lari, dasar bodoh!” Eleva mengeluarkan aura pembunuhnya.
“Rebellion : Cheetah Claws!”
Eleva menggunakan pisau untuk menusuk punggung gangster yang tersisa dan segera membunuh mereka. Eleva menusuk mereka berkali-kali sebelum berpindah ke tempat yang lain. Setelah pembunuhan itu, Eleva mengambil Cold Steel Recon miliknya dan segera mendukung yang lainnya.
Eleva meninggalkan mereka yang tewas dan segera membantu Zhukov dan lainnya. Lalu, mereka akan membantu Denis untuk mengalahkan bos menteri itu.
[*^*]
Baku tembak mulai berlanjut, Zhukov dan lainnya sedang bertahan. Mereka belum memiliki granat untuk memberi peluang untuk menang. Para gangster melakukan tembakan terus menerus. Namun, mereka tidak pernah kehabisan peluru. Mereka masih bisa karena mereka memiliki stok peluru di dalam baju mereka..
“Zhukov. Kamu punya ide tidak?” Tanya Hammer sambil menarik kembali senjatanya.
“Tunggu Eleva! Kalau sudah, kita akan menyerbu mereka bersama-sama,” pinta Zhukov sambil mengambil pistolnya dan berlindung.
Pada saat yang sama, Eleva kembali ke barisan dan menunggu kesempatan untuk menyerang. Ia bersembunyi dari gerombolan mereka sambil memberi isyarat dengan cara membanting benda tajam ke lantai, sehingga Zhukov bisa mendengar benda tajam yang terjatuh itu.
“Rasakan ini! Rebellion : Assault Strike!”
Eleva bergerak dengan cepat dan membunuh para gangster itu yang sedang lengah dalam pertarungan jarak dekat. Para gangster terkejut dengan penusukan itu. Mereka tercerai berai akibat penusukan itu. Itu memberikan isyarat kepada Zhukov dan lainnya untuk menyerang gangster itu dengan teknik Blitzkrieg.
Zhukov dan lainnya maju dengan amunisi senapan yang tersisa. Yudha dan Hammer mematikan sistem pertahanan mereka dan menyusup para gangster yang tercerai berai itu. Kemudian, Eleva dan Zhukov berkumpul kembali dan segera melawan perkumpulan itu.
Mereka yang bercerai berai segera menghabisi lawan yang berkumpul itu, mengepung sekumpulan remaja yang memegang senjata mereka. Namun, sudah terlambat. Eleva yang agresif segera bergerak cepat dan segera menghabisi lawan yang mengepungnya.
“Rebellion : Cheetah Claws!”
Dengan tebasan yang kuat itu, para gangster tidak bisa berbuat apapun. Zhukov bersembunyi di pertahanan Hammer yang menggunakan teknik “Shielder : Level 3” sementara Hammer dan Yudha menggunakan pistol mereka untuk membalas tembakan disaat mereka sedang bersembunyi.
Eleva menebas dan menusuk tubuh gangster itu, sehingga mereka tidak bisa berbuat apapun kepadanya. Ia semakin lama semakin serius. Ia menghabisi lawannya dengan teknik miliknya. Dengan teknik itu, para gangster memilih untuk menyerah.
Pada saat ingin menyerah, mereka ditembak seseorang dari belakang. Para gangster yang tertembak satu persatu. Ketua gangster yang terpuruk akibat serangan Eleva itu membunuh dirinya dengan sebilah pisau yang di tebas melalui kepalanya.
Pada saat gangster sudah disapu bersih, para polisi profesional segera menangkap mereka dan memborgol tangan mereka. Kemudian, mereka akan diobati sebelum dijebloskan ke penjara untuk diberi keterangan lebih lanjut.
“Aku berterima kasih pada kalian. Kalian memang orang yang baik,” puji Detektif Alan kepada 3 remaja.
__ADS_1
“Ha! Tidak seberapa. Aku pergi dulu, Urusanku sudah selesai. Sampai jumpa,” pamit Eleva sambil meninggalkan mereka yang sedang berkumpul itu.
Mereka dengan hangat memberi selamat jalan kepada Eleva karena hari sudah malam. Mereka segera menyatukan kekuatan dan segera menuju tempat Denis dan Dr. Cherry.
[*^*]
Jam 20:12, Denis dan Dr. Cherry sedang mendekati bos menteri itu. Ia menarik pelatuk dan peluru 2000 Mach untuk mengenai mereka. Dr. Cherry mundur sebentar sementara Denis maju ke depan dan menusuk dengan teriakan yang cukup keras.
Namun, masih belum. Bos menteri itu menembak Denis dengan rokok pistolnya. Denis yang terkena serangan itu tidak peduli dengan peluru yang melesat dari rokok dan menusuk dadanya dengan keras. Kemudian, Dr. Cherry menarik pelatuk dan peluru yang dikeluarkannya mengenai bos itu.
“Argh!” Bos itu berteriak dengan tusukan di dadanya dan tembakan di lengan kanannya.
Teriakan itu terdengar dengan cepat, sehingga suara itu terngiang-ngiang di semua ruangan markas itu. Zhukov bersama rekan lainnya segera menuju ke sumber suara tembakan itu.
Bos itu semakin lama semakin marah. Ia dengan darahnya yang bercucuran di sekujur tubuhnya Dr. Cherry maupun Denis menusuk bos itu dengan keras. Ia mengayunkan senapannya kepada Denis, sehingga Denis terhempas ke kiri karena sudah tidak mampu lagi untuk menusuk bos itu.
“Aku akan menghabisi kalian semua!” Tekadnya sambil melakukan tembakan beruntun ke Dr. Cherry.
Dr. Cherry yang sudah menahan lukanya sedari tadi tidak bisa menahannya lagi. Ia mencoba untuk tersungkur di tanah. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba untuk menghindar. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Ia sudah dalam kondisi maksimalnya.
“Sial! Aku tidak bisa bergerak lagi. Mungkin ini sudah diambang batas maksimal,” gumamnya sambil menutup matanya.
“Maafkan aku. Mungkin aku akan mati disini. Dengan kematianku ini, aku akan digantikan oleh seseorang. Setidaknya, aku berharap Rivandy mati juga. Aku bisa bersama dengannya di alam baka sana. Selamat tinggal, Denis.” Dr. Cherry mengharapkan kematiannya.
Sebelum tembakan itu terjadi, sebuah peluru melesat dan mengembuskan selongsong peluru, sehingga peluru itu terjatuh ke bawah. Bos itu terkejut dengan peluru 2000 Mach yang terjatuh ke lantai. Alhasil, bos itu tidak bisa menembak lagi.
“Apa? Kenapa bisa?” Tanya bos itu tidak bisa menembak Dr. Cherry karena kehabisan pelurunya.
Terlihat ada Zhukov yang sedang membidik bersama dengan Detektif Alan dan lainnya yang berdiri. Para polisi profesional mengarahkan senapan mereka kepada bos menteri itu. Bos itu semakin geram dengan situasi itu.
“Kau sudah kalah, Pak Menteri. Kau ditahan dengan tuduhan penyandera, dan pembunuhan,” cetus Detektif Alan di hadapan bos itu.
“Apa?! Tidak mungkin! Seharusnya, aku sudah membunuhnya tadi!” teriak bos itu tidak terima dengan kekalahannya.
“Kau tidak bisa menembak sekarang, Pak!” Lanjut Zhukov sambil membidik bos itu.
Dengan itu, bos itu ditahan oleh polisi profesional dan dijebloskan ke penjara kelas kakap. Bos itu mencoba melawan. Namun, apa daya. Dengan luka yang cukup parah itu, tidak memungkinkannya untuk melarikan diri. Senjatanya disita oleh polisi dan segera dibawa ke badan investigasi.
Dengan kemenangan itu, Dr. Cherry terkapar di lantai dengan kesadaran yang mulai sirna. Denis juga demikian. Hanya saja, dia sudah kehilangan kesadaran setelah terhempas oleh bos itu. Aku sudah diobati oleh Saphine segera melapor pada Detektif Alan untuk memberitahu korban yang sudah diobati.
Alhasil, aku, Denis, dan Dr. Cherry dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intense. Zhukov, Yudha, dan Hammer segera pamit dari Detektif Alan dan pulang larut malam.
Detektif Alan.menginap di rumah sakit dan menungguku siluman untuk menjelaskan sesuatu yang penting.
[*^*}
Keesokan harinya, jam 12:02, di ruanganku. Aku terbangun dari tidurku sambil melihat luka yang sama. Aku bernostalgia dengan pemandangan itu sebanyak 3 kali. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti aku selamat di rumah sakit.
Pada saat itu, ada detektif yang bertemu denganku. Dia menghampiriku dan menatapku dengan rasa hormatnya.
Beberapa saat kemudian, Pembicaraan pun akan segera dimulai.
__ADS_1