Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-hari : Spinx, Spinz, Claveriska, Aura


__ADS_3

19 September 2025, jam 12:48, Rivandy-dono  meninggalkan kamar mandi pria yang sudah mereka bersihkan. Siswa berambut bergelombang perak yang panjang sambil bermata coklat moccacino mengoceh tidak jelas dan mengamuk karena Rivandy-dono tidak sengaja menembaknya.


Aku dan Zera memilih untuk kembali ke kelas mereka. Spinx kembali ke Kelas I Soshum B dan melapor kepada guru sejarah untuk memberitahu mengenai ketidakhadirannya. Setelah itu, ia kembali duduk dan mengikuti pelajaran sambil menunggu kesempatan untuk memberitahu kepada Nona Claveriska mengenai surat cinta.


Jam 15:00, pelajaran sejarah berakhir. semua siswa dan siswi bergegas pulang. Tapi, tidak denganku . Aku melapor terlebih dahulu kepada Nona Claveriska sebelum pulang.


“Nona Claveriska. aku sudah memberikan surat itu kepada Rivandy-dono. Aku izin bertanya, apa isi surat itu?” Tanyaku di hadapan Nona Claveriska.


“Ra-ha-sia,” jawabnya dengan rayuannya sambil berjalan meninggalkan kelas.


“Ayolah! Aku ingin tahu isi surat itu,” desakku sambil mengikutinya.


“Tidak boleh. Kamu akan tahu nanti,” larang Nona Claveriska karena


Aku terpaksa diam dengan jawaban itu.


Aku sedikit menduga bahwa Nona Claveriska akan melamar Rivandy-dono. Soalnya, surat itu diberi hiasan istimewa kepadanya. Lalu, aku mendengar kabar darinya yang melakukan Shokugeki dengan Rivandy-dono. Sebab itulah, dia berusaha keras dan tidak tidur karena selalu berada dalam dapur.


Tidak heran bahan makanan selalu habis dalam waktu cepat.


[*^*]


Keesokan harinya, jam 05:00, aku terbangun oleh alarm dengan komposer Gabriel Faure dengan karya Requiem yang beraliran MIsa pada tahun 1890. Aku terbangun dari ranjang yang mewah dengan layaknya seperti seorang bangsawan.


Aku langsung bergegas turun dari mansion dan segera menuju ke pelatihanku. Setelah tiba di pelatihan, Aku memasuki ruangan pelatihan yang luas. Aku mengambil alat virtual di meja pelatihan dan memasangnya di kepalaku.


Setelah menyala, aku berkata, “Link! Start!”


Sebuah cahaya muncul di area sekitar dan berperan sebagai pembatas agar orang lain tidak terluka. Aku sudah memasuki dunia abad pertengahan dan melakukan latihan untuk menjadi lebih kuat. Aku masuk dalam arena pertarungan dan berhadapan dengan lawan yang ada di depanku.


Aku berhadapan dengan musuh dengan level yang cukup tinggi. Musuh yang mengenakan armor merah dan menggunakan senjata gada berduri untuk menghajarku. Aku dengan cepat menebas dengan teknik yang dipelajari sebelumnya.


“Estoc Sword : Epic Straight Slash!”


Musuh yang terkena tebasan ku terjatuh di lantai dan memudar karena HP yang dimilikinya sudah habis. Aku yang memenangkan pertandingan itu memutuskan untuk melakukan pertandingan yang lainnya.


Pertarungan demi pertarungan aku sudah kalahkan dengan cepat dan usaha cukup keras. Aku yang sedang berada dalam kondisi yang masih bertenaga segera melakukan pertarungan itu. Sebelum itu, aku memikirkan sebuah nama yang ada di kepalaku.


“Deutch Paladin!”


“Shiori von Zuckerberg!”


Aku menyebut nama itu dengan sedikit tertegun. Mereka mengalahkanku dengan mudahnya.


Aku yang sudah menyebutkan nama itu segera melakukan pertandingan dengan level Insane atau Expert. Pertandingan yang belum aku selesaikan sampai saat ini. Aku selalu kalah dalam tingkatan yang seperti itu.


Benar saja. Aku kalah lagi.


Sebelum melanjutkan pertandingan ulang, ada seseorang yang mematikan alat virtualnya. Virtual yang mati membuatku melepas alat virtual dan melihat kakakku yang sedang berada di hadapanku.


“Spinz-niichan! Apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil protes dengan kematian alat virtual.


“Ayo, sarapan! Setelah itu, kamu mandi dengan Aura. Kita akan keluar kota 2 jam lagi,” ajaknya sambil beranjak meninggalkan ruang pelatihan.


“Oh, begitu,” desahku sambil menghela nafas.


“Eh?! Mandi dengan Aura-neechan?! Kenapa?!” Aku terkejut dengan ucapan itu.


“Cepatlah,  Nona Claveriska menunggumu,” pamitnya segera beranjak keluar.


“Aku mengerti, Spinz-niichan,” jawabku sambil mengejar langkahnya.


Akhirnya, aku mengikuti Spinz-niichan untuk keluar dari pelatihan. Tidak kusangka, pelatihanku menyebabkan matahari terbit. Taman mansion yang indah dan rerumputan yang segar berpijak di mansion. Aku dan Spinz-niichan segera menuju ke ruang makan.


[*^*]


Pada saat makan daging dengan sayur di ruang makan yang mewah, Nona Claveriska mulai berbicara, “Spinx, setelah ini, kita mandi bersama, yuk!” Mengajakku mandi.

__ADS_1


“Eh?! Tidak boleh! Aku yang mengajaknya duluan,” larang Aura.


“Heh?! Kamu tidak suka?” Rayu Nona Claveriska.


“Bukan itu, aku hanya …,” ucap Aura-neechan terpotong.


“Hanya apa?” Potong Spinz-niichan sambil memotong daging.


“Hanya … Argh! Jangan seperti itu, Spinz!” Cekal Aura-neechan berhadapan dengan Spinz-niichan.


“Kalau Nona Claveriska berkata seperti itu, aku tidak keberatan.” responku sambil mengunyah makanan.


“Yeah! Aku menang,” ledek Nona Claveriska dengan penuh kemenangan.


“Lain kali, aku akan merayunya,” lirih Aura-neechan.


Setelah itu, aku bergerak mengikutinya untuk mandi di kamar mandi. Sebenarnya aku tidak keberatan dengan mandi bersamanya. Ini memang perintah nona yang mutlak. Aku sudah terbiasa dengan keseharian ini sebelumnya. Jadi, aku tidak punya sesuatu pada orang dewasa pada umumnya.


Setelah mandi dan berpakaian, kami bergegas menuju keluar kota untuk menikmati hutan setelah keseharian akademi yang cukup melelahkan itu.


Setelah sampai di hutan dengan perjalanan 3 jam lamanya, kami turun dari mobil dan segera menuju ke villa. Disana, kami membereskan ruangan sebentar dan segera menuju ke ruang tengah untuk berkumpul.


“Hai, semuanya! Ayo mancing!” Ajak Nona Claveriska yang sudah menyiapkan alat pancingnya.


“Siapa takut?” Spinz-niichan tersenyum kecil.


“Aku tidak akan kalah,” tekadku untuk tidak kalah.


“Jika aku menang, Spinx menjadi milikku,” tekad Aura-neechan tidak akan kalah.


“Jangan samakan aku dengan hadiah!”Aku menegur Aura-neechan yang selalu tertarik padaku.


Akhirnya, kami segera menuju ke sungai untuk mencari ikan.


Aku harap tidak tersesat.


“Argh! Sial! Aku sudah berjalan sejam, tapi tidak ada sungai di sini,” keluhku karena lelah berjalan.


“Oops! Maaf! Aku lupa. ini kan hutan. Kita kesini bukan untuk memancing,”  ucap Nona Claveriska cengengesan.


“Percuma aku mengikutimu,” keluh Aura-neechan.


“Yah sudah! Kita kembali saja,” putus Spinz-niichan untuk kembali.


Kami pun kembali menuju ke villa. Namun, kami melupakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang membuat kami tidak bisa kembali. Itu adalah arah.


Karena itu, jam 16:57, kami tersesat dan tidak bisa kembali lagi. Kami sudah berjalan menuju ke villa, tapi kami tersesat.


“Kita berjalan lewat mana?”


“Aku tidak tahu. Ini sudah sore lagi,”


“Tidak! Kita tersesat!” Jeritku karena putus asa.


“Jangan khawatir! Aku disini untukmu,” desah Aura-neechan sambil memelukku.


“Tenang saja, aku punya GPS di handphone ku kok,” harap Spinz-niichan segera mengambil handphonenya.


“Oh, tidak! Bateraiku habis,” lanjutnya sambil melihat monitor handphonenya yang sudah mati.


“Tidak! Aku lupa sesuatu. Aku lupa membawa GPS-ku,”


“Apa? Kita akan disini selamanya?” Jeritku berpikiran negatif.


“Tenang saja! Kalau kita tersesat disini, kita akan hidup disini. Lalu, kita akan membuat anak  dan hidup bahagia selamanya,” rayu Aura-neechan mengenai masa depan.


“Tidak mau! Kita`kan bersaudara,” tolakku dengan rayuan itu.

__ADS_1


Aura-neechan tertawa dengan kecemasanku itu. Ia menjawab, “Jangan begitu! Tidak peduli kalau kita bersaudara atau bukan. Yang pasti kita bisa melakukannya seperti pasangan suami istri.”


“Ayah akan mengusirmu jika kamu melakukan itu,” sindir Spinz-niichan menghampiri Aura-neechan.


“Aku hanya bercanda, kok,” cela Aura-neechan mengenai sindiran itu.


“Sudah! Jangan bertengkar! Sekarang kita harus menunggu disini saja,” pinta Nona Claveriska sambil mengambil ranting pohon.


“Aku akan mengikutimu, Nona,” tekadku membantunya mengumpulkan ranting pohon yang jatuh.


Kami mengumpulkan untuk membuat api unggun. Kami juga membuat sesuatu agar hewan buas tidak mendekat. Tak lama kemudian, hari sudah mulai gelap. Spinz-niichan membawa korek api dan segera menyalakan api unggun.


Aku dan Aura-neechan mendekat untuk menghangatkan diri.


Aku harap Aura-neechan tidak berbuat macam-macam. Apalagi, ia menggunakan alkohol untuk meluapkan nafsu birahinya. Aku akan kecanduan dengan nafsu seperti itu.


Klan Sentinel membuat peraturan khusus untuk wanita yang berdarah Sentinel. Mereka tidak boleh meminum alkohol dengan alasan apapun. Ini disebabkan karena ada kejadian yang tidak boleh diceritakan yang membuat akibat yang mengerikan.


Nona Claveriska yang sudah menyiapkan perkemahan itu segera memanggil kami untuk membagikan makanannya. Aku dan Spinz-niichan segera mengambil makanan itu dan segera menghabiskan makanan itu. Aura memilih tidak untuk makan karena ia harus diet untuk kesehatannya.


Setelah makan malam di perkemahan darurat karena tersesat, kami menatap api unggun dengan cukup lama karena tidak bisa melakukan apapun yang bisa mencairkan suasana.


Tiada pembicaraan yang bisa kami lontarkan. Ini hanya sebuah keheningan yang tidak biasanya. Padahal, Nona Claveriska banyak bicara. Namun, ia hanya terdiam lesu menatap sebuah api unggun.


Aku yang kasihan kepadanya segera menghampirinya dan mulai mengatakan sesuatu padanya.


“Nona, ada apa?” Tanyaku sambil menatapnya.


“Tidak ada. Aku hanya … yah begitulah,” jawabnya menatapku dan kembali memandang api unggun.


Aku yang tidak menyadari sesuatu itu harus memutar otak untuk mengatakan sesuatu yang penting.


“Nona, kamu tahu. Aku sedikit lebih lemah dari sebelumnya.” Aku mulai mencurahkan apa yang aku rasakan.


“Eh?! Tapi, aku dengar kamu berlatih,” sanggah Nona Claveriska.


“Oh. Kamu mendengarnya dari Spinz-niichan,” lirihku menatap api unggun.


Pada saat aku menatap api unggun dengan lama, aku mendapatkan sentuhan yang halus. Sentuhan itu membuatku terdiam. Nona Claveriska  berbaring di pangkuanku. Ini cukup mengejutkan. Baru kali ini dia berada di pangkuanku.


“Nona?”


“Aku hanya lelah. Biarkan begini saja,” jawabnya berbohong.


“Baiklah,” jawabku dengan singkat.


{*^*}


Jam 22:12, kedua kakakku tertidur dengan pulas. Aku tertidur dengan pangkuan Nona Claveriska yang sedang lelah itu. Aku baru ingat  Gadis yang berenergi akan lelah pada waktunya. Aku memutuskan untuk tidur, Namun, aku tidak bisa. Mataku memberontak. Dengan terpaksa, aku berjaga malam untuk kitu.


Tak lama kemudian, aku melihat sesuatu. Aku melihat secercah cahaya yang berada di hadapanku. Sesaat kemudian, ada sekelompok orang yang menghampiri kami sambil membawaku ke suatu tempat. Aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan.


Aku harap bukan sesuatu yang jahat dan mengenaskan.


[*^*]


Keesokan harinya, aku terbangun di ranjang mewahku. Matahari terbit dari timur. Aku berpikir bahwa itu hanya mimpi saja..Ada seorang pelayang yang separuh baya menghampiriku.


Dia menceritakan kejadiannya mengenai apa yang terjadi. Bagaimana aku bisa kesini? Jawabannya, mereka menemukan titik di monitor mereka menyadari bahwa kami tidak pulang setelah hari mulai gelap. Setelah menemukan kami, kami dibawa ke villa dan dipulangkan ke mansion 5 menit setelahnya.


Alasan mereka bisa menemukan kami adalah ada GPS yang menyala di dalam ranselku. GPS itu menyala terus dan para pencari dapat mencarinya dengan mudah.


Aduh! Betapa bodohnya aku! Aku malah panik ketika aku tersesat. Aku lupa aku punya GPS di ranselku.


Aku membuat mereka seperti ini.


Tapi, aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. Ketika aku tersesat, aku memangku Nona Claveriska yang sedang tertidur manis.  Aku juga tidak menyadari apa yang Aura-neechan katakan. Sepertinya, ia mengatakannya dengan serius, bukan guyonan receh.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Yang pasti, aku harus melakukan sesuatu.


__ADS_2