Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Kamar Ganti Wanita 1,2


__ADS_3

Situasi yang sangat mencengangkan menghantui kami berempat. Kami ditemukan oleh sekelompok gadis yang melihatku dirayu oleh Shiori dan bertengkar dengan Bella. Kotori hanya terdiam kaku.


Aku tidak bisa berkata apapun ketika tatapan gadis yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang menghantuiku. Kalau mereka semua adalah Aurora yang bermata cinta, aku akan berteriak sekencang mungkin .


Aku ingin berteriak, namun aku harus memberanikan diri untuk tidak melakukannya. Itu akan memancing keributan.


“Hei, semuanya! Ada Pangeran Rivandy yang sedang melakukan hal yang mesum,” panggil gadis yang melihatku.


Semua gadis yang sedang mengganti baju segera menghampiri sumber suara. Bahkan, gadis yang sedang mandi memilih untuk segera menuju ke ruang penyimpanan daripada meneruskan mandi mereka.


Alhasil, kami tidak bisa keluar dari sini. Semua gadis yang ada di kamar ganti memenuhi ruang penyimpanan. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi karena Bella menutup mataku dengan handuknya.


Akhirnya Kotori melakukan sesuatu. Ia menyuruh, “Mina, berpegangan! Aku akan mengeluarkan kalian semua,” membuat kami terfokus dengan perintah Kotori dan melepaskan paket itu.


“Electro Dubstep : Unstoppable!”


“Teminite : Unstoppable : Play!”


Kotori mengenakan headphone miliknya dan memasangnya ke handphone miliknya sambil menyalakan lagu di aplikasi Spotify. Lalu, ia dipegang oleh kami dan segera mengeluarkan kami dari sini dengan kemampuan supernatural.


Ilustrasi Headphone Kotori



Para gadis yang melihat kami tidak menyadari bahwa Kotori memiliki kekuatan supernatural yang tidak dapat diteliti oleh peneliti manapun. Para peneliti takkan bisa mengetahui kekuatan supernatural dari Kotori.


Setelah keluar dari ruangan penyimpanan, kami terjatuh di lantai karena lantai licin. Aku dan Shiori terjatuh secara bersamaan. Bella menindih tubuhku dan Kotori terjatuh secara terlentang.


Aku merintih, “Aduh! Bella. Kau menindihku,” sambil menahan rasa sakit di punggungku.


“Seharusnya kau mendapatkan yang itu,” oceh Bella membalas kecerobohan dan kelemahanku.


“Tidak ada waktunya untuk berkelahi. Sekarang kita harus lari sebelum .... Whoa!” Kotori bangun dari lantai yang licin dan terpeleset, sehingga ia tidak bangkit lagi.


“Apa yang harus kita lakukan?”


“KIta akan melawan mereka,” usul Shiori bangun dari jatuhnya dan segera mengambil senapannya di belahan dadanya.


“Lain kali, kau harus menyimpannya dengan benar,” lirih Bella dengan ruang penyimpanan senjata milik Shiori yang aneh.


Aku segera membangkitkan diri. Namun, Bela masih menindihku, sehingga aku mencocor, “Bella! Cepat menyingkir dariku! Aku harus berdiri sekarang juga!”


Bella menolak, “Tidak mau! Aku tidak akan membiarkanmu berdiri.”


“Habisnya, kau melihat tubuhku yang mungil ini,” jawabnya.


“Bella, Rivandy. Berhenti bertengkar! Kita harus bekerja sama agar bisa keluar dari sini,” tegur Kotori bangkit dan berdiri di lantai basah.


“Kau benar. Kita tidak boleh bertengkar.” Aku pasrah dengan teguran itu.


“Aku juga,” lanjut Bella.

__ADS_1


Aku dan Bella berdiri dari lantai basah dan segera lari dari segerombolan Shiori dan Kotori menahan mereka agar kami bisa keluar dari situasi yang buruk itu. Namun, para gadis itu mengeluarkan senapan mereka dan melakukan tembakan kepada gadis MVP agar ia tidak bisa membalas serangan mereka.


Akhirnya, kami harus lari dari kejaran mereka karena mereka terlalu banyak Kami mencoba untuk keluar dari ruang ganti itu. Namun, para gadis yang belum berseragam telah menghalangi jalan kami.


“Tch! mereka seperti zombie saja dalam game Resident Evil,” kesal Kotori sambil lari bersama kami.


“Sepertinya kamu hobi bermain PS5,” komentar Shiori dengan keluhan Kotori.


Aku yang sedang dikejar oleh banyak gadis berkomentar, "Mereka bukan zombie. Mereka mengejarku."


"Kalian, jangan berkomentar! Kita sudah berhadapan dengan banyak gadis di sini," ujar Bella melakukan tembakan yang jitu dengan Desert Eagle-nya.


Aku yang dikejar segera mencari cara untuk bebas. Namun, aku selalu saja dikejar oleh banyak gadis itu. Mereka tidak mengenakan pakaian mereka, sehingga libido mereka meningkat pesat.


Aku yang berlari di kamar ganti wanita memilih untuk melakukan teknik milikku agar mereka tidak bisa menemukanku.


Aku menggunakan teknik "Arctic Warfare : Stealth" untuk menghilangkan diri. Kemampuan ini memang berguna ketika ada suatu kondisi yang darurat. Ketika kita sedang bersembunyi, kita bisa menggunakan teknik itu agar kamu tidak ketahuan oleh orang lain.


Namun, jika aku menggunakan teknik ini kepada Aurora yang menggunakan Langit Malam Hitam (Black Night Sky), itu tidak akan efektif. Ia bisa mendeteksi langkah kakiku dan segera mengejarnya.


Pandanganku menjadi gelap dan segera mencari suara Kotori. Aku berjalan untukmu keluar dari sini. Aku dengan percaya diri bisa keluar dan membuka pintu tanpa ketahuan. Soalnya, aku malah mengenai sesuatu yang empuk. Tempat yang empuk itu membuatku menghentikan langkahku.


"Empuknya! Aku tidak bisa hidup tanpa itu."


Aku tidak terlalu ingin melepaskan teknikku dan melihat apa yang empuk itu.


Tempat empuk itu membuatku nyaman dan mengeluarkan suara yang sangat indah. Suara itu seperti suara desahan yang terdengar sampai di kamar ganti.


Saat aku mendengar suara itu, aku merasa curiga dengan suara itu. Aku merasa cemas dengan tempat yang empuk itu.


Begitu aku menonaktifkan kemampuanku, aku melihat diriku yang sedang dipeluk oleh kakak kelas yang sedang ganti baju. Aku tidak bisa berbuat apapun lagi. Tempat yang empuk itu selalu menghasutku untuk menikmatinya,


"Anu, Dek! Kamu sedang apa? Kamu mau susuku?" Tanya siswi Kelas III yang sedang memelukku.


"Tidak! Aku tidak mau. Lepaskan aku!" Tolakku sambil melepaskan pelukan itu.


Gadis itu tertawa kecil. Ia meraba tubuhnya dan menghasut, "Minumlah, sayang! Aku sudah putus dengan pacarku. Jadi, kau boleh meminum semuanya," sambil tersenyum nakal.


Aku yang tidak bisa menolak hasutan itu segera mengikuti perintah dari siswi yang mesum itu. Sebelum aku melancarkan aksiku, ada piring hitam yang melesat dan menghempaskan gadis itu ke loker.


"Electro Dubstep : Colorblind!"


Aku yang melihat gadis itu terhempas segera memperjelas kesadaranku dan menoleh arah serangan itu. Serangan itu dilancarkan oleh Kotori. Ia menghampiriku dan membawaku pergi.


Kotori membentak, "Apa yang kau lakukan, Anak Bayi? Kau hampir terhasut oleh gadis nakal itu," sambil membawaku pergi.


Aku yang sedang dipegang oleh Kotori hanya terdiam saja. Aku hanya menerima teguran itu. Pada saat pengejaran itu berlangsung, aku bertanya, "Kotori. Dimana Bella dan Shiori?"


"Mereka akan membuatmu jalan keluar. Jangan khawatir!"


Setelah jawaban itu, aku terdiam lagi. Aku sedang berpikir nama gadis itu karena tidak sempat bertanya kepadanya. Namun, bukan itu yang kupikirkan. Aku hanya memikirkan bagaimana bisa keluar dari sini.

__ADS_1


Pengejaran itu masih berlanjut. Bella dan Shiori melakukan tembakan mereka untuk memberikan kerusakan pada gadis itu. Setelah sampai di pintu kamar ganti, mereka melakukan tembakan dan segera melindungi pintu itu dari mereka. Mereka tidak ingin keluar sendirian. Mereka harus menungguku dan Kotori.


[*^*]


Masih kamar ganti wanita. Kotori dan aku sedang melarikan diri. Tidak peduli dengan lantai basah. Kami tetap berlari. Kami berfokus untuk tidak tertangkap basah dengan gadis yang ingin memakanku.


Mereka ingin melakukan itu sampai puas.


Tak lama kemudian, kami terkepung oleh gadis dengan mata cinta. Mereka mengerumuni kami dengan cepat. Kotori berusaha untuk menjauhkanku dari mereka. Namun, gagal. Aku direbut dari belakang.


"Rivandy! Tidak!" Teriak Kotori sambil merebutku kembali.


Namun, jumlah mereka tidak bisa dikalahkan. Mereka mengambilku dan bersiap untuk menyerahkan tubuh mereka padaku.


Sebelum itu, ada sebuah tembakan yang melesat pada tubuh gadis itu, sehingga ia terkena bius. Kotori yang melihat itu segera melawan dan memberi peluang untukku. Aku berusaha melepaskan diri dan segera meraih tangan Kotori dan segera langsung menuju pintu keluar. Bella dan Shiori melakukan tembakan, agar kami bisa keluar dengan selamat.


Setelah bersatu, kami membuka pintu dan membuat pintu itu terbuka. Kami keluar dengan tergesa-gesa dan tidak menyadari bahwa ada seorang gadis yang ada di hadapan kami.


Dia adalah Diana Ravenrought, siswi yang anggun.


"Ara. Kamu darimana saja, Pangeran Mesum?" Tanya Diana sambil memberi julukan yang aneh padaku.


Aku berusaha untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, mulutku dibekap oleh Bella dan ia menjawab, "Kami mengantarnya menuju keluar kamar ganti dan membantunya. Iya kan, Shiori?" Sambil melontarkan senyumannya pada Shiori.


Shiori melanjutkan, "Iya. Aku sudah melakukan beberapa penetrasi padanya di ruang penyimpanan, sehingga aku ingin merasakannya lagi," sambil menyentuh tubuhnya dengan nakal.


"Tunggu, apa yang kau katakan?! Lagipula, kenapa kamu hanya mengenakan pakaian mini?" Cocor Bella melihat Shiori hanya mengenakan pakaian dalam.


"Aku akan menjelaskannya. Pada saat itu, aku …," cerita Kotori terhenti.


"Kalian tidak perlu menjelaskannya. Aku akan menjelaskan hai ini kepada kepala sekolah," beber Diana berjalan menjauhi kami dengan santai


Sebelum Diana meninggalkan kami, ia membeberkan, "Satu lagi. Kalian harus menuju ke ruangan kepala sekolah mengenai kekacauan ini. Dan Rivandy, aku akan memberikan alkohol kepada Sinta agar kau mengalami trauma untuk kedua kalinya," membuatku tidak nyaman dengan perkataannya itu.


Dengan terpaksa, aku, Bella, Shiori, dan Kotori menghadap ke Cherry-neesan untuk menjelaskan kekacauan yang ada di kamar ganti wanita. Dia juga memberitahu padaku bahwa potongan 55% sudah dilunasi olehnya dengan kartu Visa Platinum miliknya. Isi kartu itu bernilai sebesar $8.342.472. Tidak heran gajinya besar karena memiliki tanggung jawab yang besar juga.


Aku bernafas lega dengan itu. Perbuatan Akishima di museum itu cukup keterlaluan. Manajer itu mengenal Cherry-neesan dengan baik, ia mengancamku untuk memotong uang saku bulanan ku sebesar 55% untuk mengganti kerusakan itu. Namun, Cherry-neeaan sudah melunasi biaya kerusakan itu, sehingga aku tidak perlu cemas dengan potongan itu.


Akhirnya, sebagai hukuman untuk kekacauan itu, kami terpaksa dipulangkan lebih awal. Cherry-neesan mengambil tas kami secara langsung dan memberikannya kepada kami. Lalu, kami meninggalkan akademi dengan lega. Ini sedikit mencengangkan. Ini lebih baik daripada hukuman sebelumnya.


Jika mereka mengetahui aku yang sedang dikelilingi oleh gadis lain, akademi ini akan menjadi medan "Perang Cinta" atau "Perang Heroin" untuk merebutku.


Sebelum pulang di apartemen kami masing-masing, kami membuat rencana besok untuk bermain di apartemen mana. Setelah memutuskan untuk voting, kami akan mengunjungi apartemen Bella. Jika Shiori bertemu dengan Aurora, akan terjadi perang di apartemen.


Sudahlah! Aku tidak mau berpikir lagi.


Setelah itu, kami pulang menuju apartemen masing-masing. Setelah sampai di apartemen, aku beristirahat sebentar dan mencari sesuatu untuk mengisi waktu luang.


Setelah mengisi waktu luang, aku memutuskan untuk tidur di ranjang. Aku berbaring di kamar tidur dan menatap kota Moskow yang cerah itu.


Cuaca indah dan permai pada menjelang siang.

__ADS_1


__ADS_2