Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
[Sima Rinko] 1,2


__ADS_3

Aku dan Rin berhadapan di ranjang. Kami satu sama lain agar Rin tidak bisa lari dariku. Aku berusaha untuk menenangkannya agar aku bisa memberikan makanan yang dimasak kepada Rin. Rin menerimanya dengan senang hati mengingat aku bukan orang jahat.


Rin mencicipi masakan itu dengan perlahan. Saat makanan itu memasuki ke mulutnya,  ia merasakan keenakan masakan yang dibuat olehku. Masakan itu merupakan perpaduan antara daging sapi dengan sayur. Selain itu, makanan itu dibuat secara sederhana dan enak.


“Enaknya,” puji Rin dengan masakan itu.


Di saat Rin menyantap makanannya, aku bergegas menuju ke ruangan jemuran untuk menyetrika pakaian Rin agar Rin bisa mengenakannya.


“Aku ingin menyetrika pakaianmu. Makanlah sepuasnya!” Pesanku sebelum meninggalkan Rin.


“Oh iya. Aku Rivandy, mohon kerjasamanya,” lanjutku segera menuju ke ruang jemuran.


“Iya. Rivandy,” sahut Rin sambil menahan air matanya.


Setelah menyantap masakanku, Rin menatap suasana Kota Moskow yang panas. Ia merasa bahwa ia baru diselamatkan, meskipun terlambat. Keperawanan Rin sudah hilang sejak lama oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Jadi, ia sering jadi sasaran pria belang.


[*^*]


Pada saat aku menyetrika pakaian, Rin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ku pinjam. Pandanganku tidak seperti pada lelaki sebelumnya yang biasanya malu  atau mesum dengan pandangan itu. Pandanganku hanya tertuju pada wajah Rin, bukan tubuhnya yang diselimuti dengan handuk.


Aku memberikan pakaian Rin yang telah aku lepaskan pada saat di gang tadi. Sesampainya di apartemenku, aku mencuci pakaian yang penuh dengan aroma yang busuk itu. Kemudian, aku memandikan Rin sambil menggosok badannya. Setelah itu, aku mengenakan pakaianku kepada Rin sambil menidurkannya di ranjangku.


“Rin, pakailah! Aku sudah menyetrikanya,”


“Aku ingin ganti baju dulu. Jadi, …, ” lanjutku sambil mengambil pakaian di lemari untuk ganti baju di kamar mandi.


Rin tidak terima. Ia memotong, “Tidak mau. Aku ingin kamu disini. Aku takut aku sendirian,” sambil merengek memegang pangkuanku.


Aku menghela nafas dengan genggaman tangan Rin itu. Rin yang masih mengenakan handuk tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Ia tidak mau kejadian yang ia alami terulang kembali.


“Kalau begitu, kita akan ganti baju bersama karena aku ingin belanja terlebih dahulu,” responku dengan perasaan pasrah.


Akhirnya aku dan Rin ganti baju secara bersamaan. Aku tidak melakukan apapun yang membuat Rin terancam seperti yang dilakukan sebelumnya. Setelah berganti pakaian, aku dan Rin keluar dari apartemenku dan berjalan menuju ke supermarket.


[*^*]


Setelah berjalan ke supermarket, kami memasuki ke supermarket dan membeli barang belanjaan sambil mencari keperluan lainnya.


Saat Rin menemukan coklat di rak dimana kami lewat, Rin terkagum dengan coklat itu. Dia segera mengambil coklat itu dan menoleh kepadaku dengan gestur anak kecil.


“Anu. Rivandy. Bolehkah aku membeli coklat?” Tanya Rin dengan raut wajah malunya.


“Kamu boleh membelinya. Aku traktir,” jawabku menerima rengekan itu sekaligus mentraktirnya.


Rin senang karena aku mentraktirnya. Ia berbisik, “Yatta! Terima kasih, Rivandy,” sambil memelukku.


Aku menerima pelukan itu dengan sesaat. Lalu, kami melepas pelukan itu dan berjalan menuju ke toko sembako. Aku membeli barang secukupnya, Rin membantuku dengan senyuman seorang introvertnya. Aku ingin membalas senyuman itu. Hanya saja, aku tidak bisa melakukannya.


Setelah membeli barang sembakonya. aku mengajak Rin untuk membeli beberapa pakaian untuknya agar ia bisa mengenakan pakaian yang lain.


Setelah aku menghabiskan uangku sebesar ₽ 1.900, aku dan Rin memutuskan untuk pulang ke apartemenku. Rin juga sepemikiran.

__ADS_1


Setelah sampai di apartemenku dengan taksi, aku membayar sopir itu melalui aplikasi Uber, Rin membantuku membawa barang belanjaan. Aku sedikit tertolong dengan itu.


[*^*]


Jam 21:34, aku yang sedang membaca buku sementara Rin dengan handuk kimono tanpa mengenakan pakaian dalam melihat berita dari TASS bahwa  terjadi kasus pembunuhan preman di sebuah gang. Tidak diketahui siapa pembunuhnya. Yang pasti pembunuh itu menggunakan pisau dapur.


Rin terkejut dengan berita itu. Ia melihat preman yang memperkosanya terbunuh dengan tusukan yang parah. Aku hanya cuek dengan berita itu. Banyak yang mengira bahwa tahun 2025, kota Moskow menjadi kota yang aman. Namun, itu hanya kekuatan media yang memanipulasi kejadian itu.


Rin yang sedang menahan perasaannya terdiam dengan berita itu. Ia ingin sekali membicarakan sesuatu padaku. Dengan suara dan desahannya yang lembut, aku dapat mendengar desahan itu sambil fokus membaca buku pelajaran.


“Rivandy, aku ingin mengobrol serius denganmu,” desah Rin sambil mematikan Tv dengan raut wajah serius.


Aku menutup buku dan mendekati Rin secara intim. Aku bertanya,  “Apa itu?” Menoleh kepada Rin.


Rin mendekatiku sambil memelukku. Ia meminta, “Aku mau cari apartemen besok pagi. Aku ingin sekali tinggal denganmu. Tapi, aku tidak bisa karena aku wanita yang hina,” sambil memejamkan matanya.


Aku yang mendengar curhatan itu malah menjawab, “Iya. Aku akan mencari apartemen untukmu. Tidurlah!” Berpesan kepada Rin untuk tidur.


Rin hanya mengangguk dan menidurkanku di ranjang. Aku menggunakan posisi tidur terlentang sementara Rin memelukku dari kiri. Aku terpaksa tidur bersamanya karena ia tidak mendapatkan kasih sayang.


Ini pertama kali Rin mendapatkan kasih sayangnya.


[*^*]


Keesokan harinya, aku terbangun jam 05:23. Matahari terbit di musim panas Moskow. Belum banyak aktivitas yang dikerjakan oleh penduduk di sana. Aku terbangun dengan gadis yang sengaja membuka handuk kimononya.


Terlihat tubuh yang penuh bekas luka dan bercak darah karena suatu insiden yang menimpanya sejak kecil. Tubuh itu … merupakan alat yang digunakan untuk menyalurkan hasrat orang yang tidak bertanggung jawab dan seenaknya saja.


Aku mengingat kejadian trauma itu sejak aku membunuh sekumpulan preman itu. Ini terus berulang pada beberapa tahun yang lalu. Aku … tidak ingin mengingatnya lagi.


Aku membangunannya untuk mempersiapkan diri mencari apartemen untuknya. Rin terbangun tanpa mempedulikan situasi yang ia buat. Aku dan Rin mandi bersama. Kemudian, kami mengenakan pakaian di ruangan yang sama.


Setelah Rin menyiapkan ransel miliknya, kami berangkat dari apartemenku dan menuju ke tempat yang acak. Berbagai apartemen yang ada di Moskow bukan pilihan yang tepat Rin.


Kami mencari dan terus mencari apartemen yang cocok untuknya. Jam 10:20, kami menemukan apartemen yang bagus untuknya walaupun usang dan tua. Tapi, rapi. Apartemen itu sangat berdekatan dengan toko bunga yang ku beli sebulan yang lalu.


Toko Bunga Bibi Anita.


Kami menghampiri Bibi Anita yang sedang merawat bunga hiasnya. Kami melihat banyak bunga yang sehat untuk dijual kepada pembelinya. Saat kami melihat Bibi Anita, aku mendekati bibi itu dan menyapanya.


“Bibi,” sahutku sambil melambaikan tanganku dengan pelan.


“Kyaa! Pangeranku!” Jerit Bibi Anita menghampiri sambil memelukku dengan erat.


“Tunggu sebentar! Apa yang kau lakukan?” Aku menggerutu dengan pelukan yang keras itu.


“Rivandy,” panggil Rin menjauhiku.


“Kamu diserang oleh bibi genit itu. Aku menyesal menaruh kepercayaan ini kepadamu,” sesal Rin hilang dari pandanganku.


“Rin, kamu mau kemana? Bibi, lepaskan pelukan itu, kau hampir membuatnya pergi,” keluhku sambil melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


“Pelanggan?” Pikir Bibi Anita melepaskan pelukanku.


Bibi Anita yang melihat ada sosok yang sedang bersembunyi langsung menggunakan teknik ninja miliknya untuk menghampiri pelanggan. Ia sudah berada di hadapan Rin yang sedang bersembunyi itu.


Ia menyapa, “Selamat datang! Ada yang bisa dibantu, Nona Manis?” Dengan sikap ramah dan tamah kepada Rin.


Rin panik dengan sapaan itu. Ia menyahut, ”A-aku … mau …,” terpotong oleh ucapan Bibi Anita yang cukup cekatan.


“Jangan malu-malu! Aku tidak akan menggigitmu,” canda Bibi Anita dengan kemampuan keramahannya.


“Rivandy, tolong aku! Aku diserang bibi genit,”


Aku hanya menepuk dahi dan menghela nafas dengan kejadian itu.


[*^*]


“Oo. Begitu. Kamu ingin mencari apartemen?” Tanya Bibi Anita dengan gestur genitnya.


“Masuklah! Aku akan memperlihatkan apartemen kepadamu,” ajak Bibi Anita membawaku dan Rin menuju ke ruangan apartemennya.


Aku dan Rin hanya mengikuti langkah Bibi Anita yang sedang menuju ke apartemen yang akan ditinggali oleh Rin, Kami menaiki tangga yang cukup tua dan usang itu. Bibi Anita sudah terbiasa dengan itu.


Setelah sampai di apartemen nomor 012, Bibi Anita membuka apartemennya dan memperlihatkan . Aku dan Rin yang hanya terdiam segera masuk ke dalam.


“Ini akan menjadi apartemenmu sekarang,”


“Ada dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan ruang depan. Yah … ini sedikit tua menurutmu. Kamu akan terbiasa nantinya,” jelas Anita sambil mengelilingi ruangan.


“Mengenai harga, kamu bisa membayar sebesar ₽ 10.000 untuk sebulan. Jadi, .... ”


“Ini uangnya. Untuk 5 bulan ke depan,” Rin langsung mengeluarkan uangnya.


“Baiklah.” Bibi Anita langsung mengambil uangnya dan memberikan diskon kepada Rin.


“Selamat berbisnis denganmu,” sambungnya dengan perasaan yang berbunga-bunga.


Rin pasrah dengan tindakan Bibi Anita yang materialistis. Begitu juga denganku. Tapi, aku agak lega dengan itu. Rin sudah mendapatkan tempat tinggalnya sekarang. Aku jadi, tidak khawatir lagi dengannya, Mungkin aku bisa mengunjunginya sekali seminggu.


Rin mulai membereskan barangnya. Aku membantunya karena aku agak khawatir dengannya. Bibi Anita tersenyum kecil dengan kami yang sangat akrab itu. Ia juga menyarankanku untuk tinggal bersamanya. Tapi, aku menolak dengan alasan ingin menghargai paman itu..


Aku terlalu cepat akrab dengannya karena kami adalah orang yang sama. Kami merupakan sepasang dua introvert yang intim. Sebelum membereskan barang kami, Rin dengan iseng memelukku dari belakang karena ia sangat nyaman dengannya. Aku hanya menerima pelukan itu.


Setelah membereskan barang Rin, aku dan Rin makan bersama dengan Bibi Anita di ruangannya. Lalu, aku mengobrol sedikit dengannya mengenai kedatangannya ke Moskow. Benar saja dia akan menjadi siswi di Akademi Militer Spyxtria tahun ini. Aku berharap bisa bersekolah dengannya.


Jam 13:18, aku mengucapkan selamat tinggal kepada Rin untuk kembali ke apartemenku. Bibi Anita mengucapkan selamat tinggal kepadaku dan memberikan bunga hiasnya kepadaku untuk dibawa ke rumah


Aku menerimanya dengan terpaksa. Lagipula, ini akan merugikan Bibi Anita. Tapi, sudahlah!


Setelah aku pergi, Rin membersihkan apartemennya sebelum istirahat. Ia merapikan kamarnya seperti seorang istri idaman. Setelah selesai, ia berbaring di kursinya sambil menatap Kota Moskow yang sedang siang itu.


Tiba-tiba, ia pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu. Ia muntah di wastafel di kamar mandi. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya dengan cemas.

__ADS_1


Apakah aku hamil?


__ADS_2