
30 Januari 2026, jam 15:12, aku, Aurora, dan Evelyn pulang bersama. Kami sudah menyelesaikan tugas yang memberatkan kami. Evelyn tertolong dengan bantuan kami. Alhasil, tugas Evelyn diterima oleh guru yang bersangkutan.
Kami bebas dari tugas yang memberatkan dan istirahat sejenak. Aku juga agak lega karena tugas itu tidak berat bagiku, kecuali esai yang Neesan tugaskan. Ini membuatku ingin berhubungan ranjang dengannya karena saking lelahnya.
Kami menjadi keluarga yang harmonis dimana aku berperan sebagai ayah Evelyn dan Aurora berperan sebagai ibu Evelyn. Sebenarnya, Nina ingin menjadi ibu Evelyn. Tapi, dia lebih suka membuat anak. Jadi, diserahkan kembali ke Aurora.
"Mama. Papa," panggil Evelyn.
"Ada apa, Evelyn?" Tanya Aurora.
"Aku mau gendong, desu," minta Evelyn
"Kalau kamu dapat B, aku tidak akan gendong," amcamku dengan peran ayah.
"Eh? Mama. Papa jahat, desu," rengek Evelyn melihat kejahatanku.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu dapat nilai A, Mama akan mengelusmu. Jangan bilang Papa jahat ya!"
"Kalau kamu dapat A, aku akan menggendongmu seperti Tuan Putri." Aku pasrah.
"Thanks, Papa, desu. Aku akan menunggu, desu," terima Evelyn.
Kondisi kami sedang bahagia. Evelyn dan Aurora saling mengeluskan pipi mereka. Aku hanya menyimak dari jauh, sehingga membuat Aurora ingin menciumku. Aku membuat suasana menjadi harmonis dan romantis. Evelyn tidak mengeluh sedikitpun. Ia hanya menikmatinya.
Namun, kebahagiaan itu hanya sebentar.
Kebahagiaan itu terhenti dengan sebuah mobil mewah melaju searah dengan kami. Kemudian, mobil itu berhenti dan menepi ke kanan. Kami menghentikan langkah kami karena ada mobil yang menghalangi jalan trotoar. Tak lama kemudian, jendela mobil terbuka dan terlihat seorang wanita yang penuh dengan pakaian rapi dan dipenuhi dengan perhiasan.
Entah kenapa perasaanku semakin tidak enak pada wanita itu. Dia seperti pada ingatanku sebelumnya. Dia adalah seorang yang membuat Evelyn berwajah gelap dan dingin. Ini membuatku tidak nyaman pada sosok wanita itu.
"Evelyn. Kamu harus pulang sekarang! Banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan," ujar wanita itu menatap Evelyn dengan dingin.
Evelyn menerimanya dengan paksaan dan dorongan. Ia menjawab, "Iya, desu. Aku akan pulang, desu."
Kami terkejut dengan sosok wanita itu. Evelyn diantar ke rumah dengan paksaan. Aku merasakan hal yang buruk terjadi pada Evelyn. Evelyn bergerak meninggalkan kami dan menaiki mobil itu.
Aku ingin mencegahnya dan mengantarnya pulang. Namun, tidak bisa. Evelyn melangkah menjauh dariku. Aurora juga melakukan hal yang sama. Namun, tidak bisa. Dia semakin menjauh dan mendekati wanita itu. Wanita itu tidak menatap kami. Hanya menatap ke depan.
Dia tidak mengatakan sepatah kata apapun, selamat tinggal maupun sampai ketemu besok. Sebuah pertanyaan besar mengenai Evelyn terkuak. Kenapa? Siapa? Bagaimana? Dan kemana?
Aku tidak terlalu ingin memikirkan pertanyaan itu. Aurora juga. Hanya terdiam dengan kepergian Evelyn ke suatu tempat yang tidak diketahui. Evelyn memasuki mobil lalu wanita itu memerintahkan untuk menjalankan mobilnya. Mereka meninggalkan kami yang terdiam kebingungan karena Evelyn dipaksa pulang. Kami merasa Evelyn cukup bermasalah dengan wanita itu.
Tidak ada pilihan lain.
Kami memilih pulang dan mencari cara untuk melupakan Evelyn yang dibawa oleh wanita itu. Aku tidak mengerti lagi dengan mereka. Tatapan itu pernah berada di memori ku. Tapi, itu dimana? Aku tidak peduli dengan ingatan itu . Ingatan itu membuatku jatuh dalam jurang yang cukup curam.
Setelah sampai di apartemen, aku dan Aurora masuk ke apartemen masing-masing dan menjalani aktivitas kami seperti biasanya. Kami istirahat di apartemen kami untuk melupakan kejadian tersebut.
[*^*]
2 Februari 2026, jam 06:45, aku sudah menyiapkan semua kebutuhanku untuk belajar di akademi. Alat penghangat tubuh sudah disiapkan biar aku tidak dicium Sheeran lagi. Kalau Sheeran tahu aku menggunakan alat penghangat tubuh, dia akan merobek pakaianku secara paksa dan membuat Sheeran menjadi liar dan mesum.
Semuanya sudah siap. Aku bergegas keluar dari apartemen dan ada dua gadis yang sudah siap untuk menunggu. Entah kenapa mereka sangat antusias dengan hari yang seperti ini. Sepertinya, mereka sudah siap untukku.
"Kamu lambat! Aku sudah menunggu 1 jam di luar, kamu belum datang," tuduh Akishima padaku.
"Kebetulan kamu datang lebih pagi daripada sebelumnya," pujiku pada Akishima yang sedang semangat.
"Rivandy. Ayo! Kita harus berangkat sebelum kita terlambat," lanjut Aurora yang sedang membuat sesuatu.
Aku mengangguk pelan. Aku menghampiri mereka dan berangkat secara bersama-sama. Kami segera meninggalkan apartemen kami dan menuju ke akademi. Kami tidak mengetahui keberadaan Evelyn karena kami mengingat kejadian yang terjadi.
__ADS_1
Kami mencoba untuk melupakannya. Menjalani aktivitas kami seperti semula. Aku ingin bertanya mengenai Evelyn. Namun, tidak bisa. Tidak ada Evelyn. Jadi, aku mengurungkan niat itu.
Di rTengah perjalanan, kami bertemu dengan Sheeran. Dia memelukku seperti kekasih suami istri dan mencium leherku. Ketika menyentuh tubuhku, ia kesal dengan alat penghangat tubuh. Karena itu, ia berniat untuk merobek seragamku dan menghancurkan alat penghangat tubuhku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku mencoba melindungi diri.
"Huh? Sudah kubilang, kalau masih kedinginan, ciuman aku! Kamu pikir aku murahan apa?" Sheeran memarahiku karena tidak mengandalkan tubuh Sheeran.
"Iya. Kamu memang murahan. Soalnya, kamu menjual dirimu pada orang lain," balas Akishima mengejek Sheeran.
"Aku tidak tanya kepadamu!" Cocor Sheeran pada Akishima.
"Aku tidak mengatakan apapun," Cela Akishima memulai perkelahian.
"Terkutuklah kau! Aku akan membawamu ke pasar malam sekarang juga!" Sheeran mulai menoleh ke Akishima dan berbalik mengejek.
"Jangan harap! Aku yang akan mengantarkanmu kepada Ugly Bastard biar kamu menjadi Saki Yoshida dan bunuh diri," ejek Akishima menyamakan Saki Yoshida dengan Sheeran.
"Aku akan menjualmu pada kakek-kakek biar kamu menangis seharian," tekad Sheeran terprovokasi dengan Akishima.
Di tengah pertengkaran, Aurora menghampiriku dan menyodorkan tangannya padaku agar aku bisa berdiri. Aku memperbaiki dan menyalakan kembali alat penghangat tubuh dan memperbaiki seragam akademiku.
"Ayo. Rivandy. Kita harus ke akademi. Kita harus bertemu dengan Evelyn," ajak Aurora untuk membuatku berdiri.
"Umu." Aku mengangguk dengan pelan dan segera berjalan bersama Aurora.
"Akishima. Sheeran. Aku akan meninggalkan kalian."
"Apa?!" Seru mereka berdua.
"Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau Rivandy meninggalkanku begitu saja," sahut Akishima mencoba untuk menyusul Aurora.
"Sayangku! Aku akan menciummu! Tubuhku hangat," ungkap Sheeran dengan mata cintanya.
[*^*]
Kami ke kantin tanpa Evelyn dan memesan makanan dari Britania Raya. Sebenarnya, tidak berniat sih, hanya saja, … aku ingin Aurora menyukainya. Ketika kami ingin duduk untuk makan. Ada seorang gadis yang menghampiri kamu. Dia dengan Samyang miliknya segera menyapaku. Aurora hanya terdiam dengan gadis itu. Dia akan menghajarnya jika macam-macam.
Hanna.
"Rivandy! Bolehkah aku duduk disini? Soalnya, aku kalah main Dota 2," sapa Hanna mengeluh dengan kekalahan yang ia peroleh.
Ia memperlihatkan sesuatu padaku. Aku melihat status permainan dalam Dota 2 dan melihat permainan Hanna yang cukup payah karena permainan ini mirip seperti permainan amatiran. Tidak ada yang bisa ku perbaiki. Hanya gaya permainan yang perlu diperbaiki.
"Kamu bermain seperti Archon," sindirku melihat status permainan di Dota 2.
"Kamu jahat. Divine sepertimu selalu menyombongkan diri!" Hanna menggembungkan pipinya karena kesal.
"Sebenarnya, Andika dan Yudha membeli akun Divine dan memberikannya padaku," gumamku menghela nafas.
Aurora tidak mengerti apa yang aku dan Hanna bicarakan. Kami duduk di kursi yang bersebelahan. Aurora masih mencurigai gadis itu. Ada kemungkinan dia akan merebutku darinya. Hanna malah lupa dengan apa yang terjadi pada selanjutnya. Ia harap itu hanya sekedar teman bermain game online.
"Argh! Bukan itu. Ini membahas Evelyn. Kenapa malah ke Dota 2?" Hanna mematikan Smartphone miliknya.
"Evelyn?" Tanya Aurora mendengar nama Evelyn.
"Tadi pagi, aku mendapatkan pesan mengenai ini. Aku coba menerjemahkannya. Tapi, ini agak rumit. Ini seperti simbol pramuka saja," keluh Hanna memperlihatkan kode kepada kami.
Aku melihat kode itu secara bersamaan dan merasakan ada yang aneh. Aurora melihat tulisan yang aneh dengan isi kode ini
"Bagaimana? Apakah kalian bisa memecahkannya?"
__ADS_1
"Tidak. Ini seperti simbol Enigma yang digunakan dalam Perang Dunia Kedua. Namun, aku sudah memecahkannya."
"Apa itu?"
"Rahasia. Kamu tidak boleh tahu," larang Aurora
"Eh?! Kamu jahat. Kalau begitu, kamu tidak bisa menjalin hubungan dengan suamimu nantinya," sindir Hanna melihat Aurora yang curiga.
"Jangan ikut campur! Aku sedang …." Wajah Aurora memerah dan berusaha mencocor Hanna.
"Aurora. Ada stroberi untukmu," lontarku menyuapi Aurora dengan stroberi.
Aurora menerima suapan itu dan menggigitnya dengan perlahan. Sepertinya, aku harus menjinakkannya dengan stroberi. Dia harus belajar berhubungan dengan gadis lainnya. Aku sudah selesai menerjemahkannya. Hanya satu masalahnya. Untuk apa pesan ini? Kenapa Enigma?
Aku menjawab, "Sepertinya, Evelyn mendapatkan situasi terburuk. Ini dibuat 2 bulan yang lalu. Aku juga tidak mengerti dengan pesan ini untuk apa," jelasku mengenai pemecahan kode Enigma.
"Eh? Itu malah mengingatkanku pada Hero Enigma. Hero Support yang selalu mengambil creep," keluh Hanna mengenai Hero Enigma.
"Kamu bisa menonton video Dota Divine atau video lainnya. Kamu akan tahu item buildnya seperti apa," saranku mengenai pembelajaran video YouTube.
"Aku bisa mengalahkan Enigma hanya menggunakan Shadow Shaman. Meski lemah, dengan momentum dan penggunaan skill yang tepat, aku bisa membunuhnya sendirian," jelasku mengenai permainan Dota 2.
"Yosh! Selesai. Sekarang, aku ingin tanya. Ada yang kamu ketahui dari Evelyn?" Tanyanya sambil mengetik di Google Docs.
"Tidak banyak. Mengenai kesehariannya, dia selalu bergantung padaku. Dia selalu mengabaikan tugas meskipun dapat menyelesaikannya. Masih banyak lagi yang.harus diungkapkan. Tapi, tidak semuanya," jawabku dengan panjang lebar.
"Oh. Begitu. Kalau begitu, aku akan menyelidiki kasus ini. Aku ingin tahu siapa yang membuat Evelyn untuk ke sini. Aku sudah melihat semua identitas mengenainya. Namun, butuh waktu yang sebentar lagi untuk mengidentifikasi identitas wanita itu," jelas Hanna.
"Sebenarnya, kamu itu Klub Robotik atau Klub Programmer?" Tanyaku dalam hati mendengar penjelasan Hanna.
"Jadi, bagaimana? Apakah kita bisa membuat tim untuk bekerja sama?" Tanya Hanna mengenai kondisiku.
Aku menerimanya dengan lapang dada. Namun, Aurora belum menyetujui dengan niat gadis itu. Dia masih tidak percaya dengan keberadaan Hanna. Ia bisa menganggap Hanna akan menjadi impostor dan segera memperkosaku.
Aku masih berpikiran positif. Ingin mengizinkan Aurora agar aku bisa berhubungan baik dengan gadis lain walaupun tidak semua orang. Aku agak cemas dengan harem itu membuat Aurora ingin membunuhku.
"Pulang sekolah. Kita tidak perlu mencari keberadaanya. Paling besok dia sudah bisa kembali ke akademi. Kita bisa menanyakan sesuatu padanya. Kamu bisa melakukannya sesuatu padanya nanti,* jawab Aurora dengan cerdik.
Aku tidak mengerti. Kenapa Aurora menjadi lebih cerdik daripada sebelumnya? Ia merasa sudah seperti Sherlock Holmes.
"Nanti besok, jam 10:00, datang ke kelasku sebelum ke kantin dulu," usulku pada Hanna yang sedang menghabiskan makanannya.
Setelah makan di kantin, kami berpisah. Hanna pulang ke kelas dan mengecek sesuatu yang penting. Kami berpisah dan kembali ke kelas untuk mendapatkan pelajaran militer kami.
[*^*]
Di kelas, kelas langsung dimulai. Kami duduk dan melihat ada kursi kosong untuk Evelyn. Pak Stephan masuk ke kelas dan memberitahukan sesuatu yang penting mengenai kondisi Evelyn yang tidak masuk sekolah. Aurora dan Nina sedang berbincang mengenai siapa yang akan mengincarku selanjutnya.
"Selamat siang. Aku mendapatkan telepon dari seseorang bahwa Evelyn tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini. Jadi, besok. Dia akan mengikuti pelajaran militer," sapa Pak Stephan segera membuat absen dan Evelyn tidak masuk.
Benar saja. Evelyn akan masuk besok. Aku jadi bisa menanyakan Evelyn mengenai latar belakangnya. ini sedikit tidak sopan. Namun, tidak ada pilihan lain. Aku harus mengetahui siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Evelyn.
Pelajaran militer dilanjutkan. Ini seperti terjadi pada sebelumnya. Aku merasakan tidak ada Evelyn membuat suasana menjadi kosong meskipun Aurora sudah di sisiku.
Aku menjalankan pelajaran seperti biasanya dan berharap bisa membuat Evelyn menjadi seperti semula. Aurora cukup perhatian pada teman terbaiknya, Evelyn. Evelyn sudah banyak membantu Aurora. Jadi, saatnya kita membalas kebaikannya! Kami ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Evelyn
Waktu yang terus berjalan mengakhiri pelajaran militer. Aku dan Aurora segera menunggu kedatangan Evelyn pada akademi ini. Aku berharap kami mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan.
Kami pulang bersama dan memilih untuk menunggu Evelyn besok. Kami ingin mengajukan pertanyaan mengenainya. Kami jalan berdua dan tidak ada yang mengganggu. Tidak ada ajakan dari teman yang lainya. Mereka sibuk dengan tugas mereka. Untung saja aku dan Aurora menyelesaikannya lebih dahulu meskipun tugas akan diberikan besok. Jadi, kita akan mengerjakannya di rumah jika tidak sempat.
Kami berjalan di tengah musim dingin di Kota Moskow. Ini mengingatkan pada sesuatu. Kami merasakan keheningan dalam salju yang turun. Kami merasakan hal yang sangat buruk. Apakah ini yang namanya kehilangan?
__ADS_1
Kami tidak tahu. Kami akan menanyakan Evelyn mengenai identitas diri dan lainnya.
Saatnya, beraksi! Aku dan Aurora akan menolong Evelyn.