Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
[Shiori von Zuckerberg] 1,2


__ADS_3

Permainan berakhir. Tidak ada yang menyadari bahwa mereka akan ditembak. Tidak ada yang tahu bahwa ia akan dihabisi; oleh para pemberontakan itu. Yang pasti mereka akan tahu siapa yang menyelesaikan permainan tersebut. Penyebabnya adalah Shiori menyelesaikan permainan.


Shiori, Bella, dan siswi itu dianggap menjadi pahlawan karena mereka menyelesaikan misi mereka dengan mudah. Sedangkan lawan di ronde dua, yakni Kelas I Saintek E, menghormati Shiori karena jika bukan tanpanya, mereka akan dikeluarkan dengan tembakan di tubuh mereka.


Pertandingan Kelas I Saintek A dengan Kelas I Soshum F berjalan lancar. Seorang sniper yang menggunakan AWM miliknya mengenai 2 orang dalam sekali tembakan. Bella dan Shiori terkesima dengan pertandingan itu. Sedangkan kelas lawan mengalami kesulitan karena lawannya sudah dihabisi oleh sniper itu dengan entengnya.


Tim lainnya sedang mencari sandera dan membawanya ke tempat yang aman. Sementara mereka mencari sandera, sniper tersebut malah pergi sendirian dan membunuh dalang pemberontakan itu. Ini cukup gila untuk seorang remaja. Ia memilih membunuh daripada menyelamatkan sandera.


Saat ia berhadapan dengan bos tersebut, dia bertarung menggunakan pisau sedangkan lawannya menggunakan senapan. Entah darimana ia mempelajari hal itu dan bos tersebut semakin terpojok dengan sniper tersebut dan akhirnya ...


[Pertandingan Selesai]


[Rivandy Lex Melakukan Last Kill Kepada Pemimpin Pemberontakan]


"Melakukan Last Kill?!" Beberapa siswa terkejut dengan notifikasi itu.


"Yang benar saja," cibir siswa yang sedang menonton.


"Tidak ada yang bisa membunuh bos itu dengan pisau," cibir siswa yang sedang memandang sepanjang pertandingan itu.


"Kyaa! Pangeran Rivandy memang keren," puji siswi yang sedang menonton.


"Bukan main! Gila sekali! Segera dapatkan dia!" Puji siswi yang berasal dari Indonesia.


Bella yang melihat keributan itu tidak percaya dengan kekuatan Rivandy. Dia sangat kuat. Saking kuatnya, dia bisa membunuh bos itu dengan mudah.


"Bagaimana … Onii-chan melakukan itu? Tidak ada yang mempelajari teknik pisau." Bella panik melihat pertandingan berakhir dengan mudah.


"Kalau begitu, kita mendapatkan lawan yang seimbang," sahut Shiori yang menatap Bella.


"Ayo, kita ke tempat kita. Mereka sudah menunggu kita," ajak Shiori.


Bella hanya menuruti ajakan itu. Ia harus memikirkan cara untuk menghajar sniper itu. Dengan hanya bermodalkan, pistol Desert Eagle, dia harus mendekatinya secara terdiam dan akan menembaknya saat berada di jarak efektif.


Bella dan Shiori pergi menuju tempat militer mereka untuk bergabung dengan siswa dan siswi lain untuk mendiskusikan sesuatu. Mereka akan membuat formasi untuk menghadapi lawan. Setelah berdiskusi beberapa lama, bel berbunyi untuk pulang. Mereka yang sudah lelah dengan itu segera pulang dan menuju ke apartemen.


Sementara itu, guru yang memimpin militernya memutuskan untuk mengangkatnya sebagai kelas andalan untuk ronde final. mereka akan bertanding keesokan harinya dan Rivandy akan menjadi lawan yang berat bagi lawannya.


[*^*]


Keesokan harinya, jam 08:56, pertandingan dimulai dengan konsep Three Kingdom, tiga kerajaan harus merebut Fortress yang berada di tengah untuk memenangkan pertandingan.


[Misi Hari Ini : Kalahkan Kelas I Saintek A dan Kelas I Soshum C!]


[Cara Memenangkan Pertarungan  : Rebut Fortress dalam Waktu 45 Menit!]


Bella, Shiori, dan lainnya sedang bergerak untuk menuju ke Fortress. Shiori yang sedang memegang senjatanya merenungkan dirinya sebelum menyerbu Fortress.


Bella pun bertanya, "Ada apa, Shiori?" Dengan keheranan.


"Tidak apa-apa. Aku cuman berpikir saja," jawabnya.


"Semoga sukses, Shiori. Kita akan berpisah. Aku akan merebut sisi kiri dan kamu akan merebut di sisi kanan sesuai prosedur dari guru kita," jelas Bella merinci rencana guru.


Shiori hanya mengangguk dengan rencana itu dan bersedia untuk pertarungan final. Ia akan membayangkan bagaimana ia bertemu dengan Rivandy dan berhadapan dengannya.


Perebutan Fortress dimulai. Tidak ada yang tinggal di sana. Mereka bebas menyerang dan bertahan.


Shiori dan lainnya bersembunyi di bayang-bayang untuk memeriksa sekitar. Begitu juga kelas lainnya.

__ADS_1


Misi dijalankan dengan lancar. Sebagian dari mereka, termasuk Bella dan Shiori, bergegas untuk mencari tahu Fortress yang mana lawan tempati. Bella menyelidiki Kelas I Soshum C, sedangkan Shiori menyelidiki Kelas I Saintek A.


Shiori beserta pemain lainnya sudah sampai di tempat lawan berada. Mereka mempersiapkan formasi mereka untuk menyerang. Sedangkan lawannya sedang beristirahat.


[*^*]


"Rivandy! Kamu harus menyimpan tenagaku dulu. Kamu sudah terlalu banyak bekerja. Biar aku yang membantumu," omel gadis twintail di hadapanku.


"Hm. Benar juga. Tapi, mereka memberiku tugas yang besar yang harus ditangani sendiri," jawabku dengan datar.


"Jika kamu berhadapan dengan gadis. Aku tidak akan membantumu," rengek Aurora.


"Aurora. Bersiaplah! Kita akan diserang!" Seruku.menyiapkan senjataku


"Heh? Padahal aku ingin bersantai saja," keluh Aurora dengan memegang senjata.


Pertarungan dimulai dengan bom asap di sekitar. Aurora dan aku sedang menyelidiki siapa musuh yang akan menyerang kita. Aku yang sudah menggunakan analisaku untuk menghitung musuh segera menunduk dan melihat siapa yang selanjutnya.


Sebelum itu terjadi, aku bertemu dengan seorang gadis yang menggunakan senapan Perang Dunia 2 berlari cepat untuk menghampiri kawasan kami. Aku memilih tidak untuk menembaknya karena aku tidak akan menembak gadis. Aurora yang melihatku tidak menarik pelatuknya memutuskan untuk menyerang gadis itu.


Aurora bergerak cepat dan melakukan tembakan dengan Koch UMP miliknya. Ia menembaknya secara membabi buta. Gadis itu membalasnya dengan sebuah tembakan yang keras. Aurora bisa menghindar dengan gerakan gesitnya.


Aku melakukan tembakan pada target lainnya. Mereka tidak sadar bahwa ada tembakan yang menghampiri mereka. Yang lainnya sedang bertempur dengan senjata mereka. Sudah banyak tembakan yang mereka lancarkan untuk mengenai lawannya.


Tak lama kemudian, jumlah musuh semakin berkurang karena aku sudah menggunakan "Arctic Warfare : Stealth!" & "Arctic Warfare : Incognito!" Aku berbaur dengan mereka dan melakukan pembunuhan secara diam-diam.


Aku yang sudah melakukan tembakan itu segera untuk melarikan diri karena mereka tahu jumlahnya semakin berkurang, mereka akan mencurigaiku. Aku sudah menjauh dari mereka terheran dengan itu. Aku tidak habis pikir bertemu dengan gadis yang sama. Ciri-ciri gadis itu mirip sekali dengan gadis yang melawan Aurora.


Bukankah dia sedang bertarung dengan Aurora? Kenapa?


Aku yang berpikir itu segera menyimpan senjata itu dan memilih untuk tidak menyerang gadis itu. Aurora dan Evelyn sudah tahu bahwa aku tidak akan menembak wanita.


Aku berjalan untuk mencari tempatku untuk duduk. Setelah duduk, aku menjawab, "Aku tidak akan menyerang wanita dalam kondisi apapun," sambil mengelas pisauku.


"Bukankah pisau itu … ?" Pikir Shiori bertanya pada diri sendiri.


"Bukan. Ini hanya pisau dapur yang sudah ditempa menjadi pisau militer. Tapi, aku menggunakannya untuk memotong sesuatu, misalnya tali, ranting, atau semacamnya," jelasku yang sedang mengelas pisauku.


Gadis itu tertawa kecil dengan ucapanku itu. Ia tidak habis pikir bahwa pisau yang digunakan itu adalah pisau dapur. Ia menjawab, "Kamu pantas menjadi 'Ace Spyxtria' Tahun Kelima, Rivandy,"


"Jangan samakan aku dengan Cherry-neesan!" Cocorku kepada gadis itu.


"Cherry-neesan?" Tanya Shiori mendekatiku yang sedang mengelas pisauku.


"Bukankah Cherry Spyxtria itu kepala sekolah?" Tanya Shiori dengan ketenangannya.


"Iya sih. Cuman. Aku tidak habis pikir Cherry-neesan itu adalah kepala sekolah yang baru berusia 21 tahun," jelasku mengenai Cherry-neesan.


Gadis itu semakin mendekatiku. Ia berujar, "Kalau begitu, kamu akan disini untuk sementara? Sedangkan pertarungan sedang berlangsung, lho." sambil duduk di sampingku.


"Aku tidak bisa menembak wanita dalam kondisi apapun. Karena itu, Aurora dan Evelyn harus menemaniku untuk menangani masalah seperti ini,” jawabku memandang pertarungan yang sedang berlangsung.


Shiori yang mendengar jawaban itu merasa ingin tertawa. Ia menyahut, “Jadi, kamu tidak bisa menembak wanita? Kamu tidak akan punya pacar jika kamu tidak bisa menembaknya,” sambil sedikit merayuku.


“Hah?! Bukan itu yang aku maksud,” cekalku dengan rayuan itu.


“Aku akan ditertawakan oleh semua orang hanya karena itu,” lanjutku membereskan penjelasanku.


“Lalu, bagaimana denganmu? Bukankah kamu bertarung dengan Aurora?”

__ADS_1


“Aurora? Oo. Soal itu. Aku punya kemampuan penggandaan diri. Satu bertarung dengan Aurora dan satunya ada disini,”


“Self-replication? Boleh juga.  Kau tahu, aku ….” Aku membeberkan rencanaku kepada Shiori.


Setelah mengobrol cukup lama, kami berniat untuk memisahkan diri. Sebelum itu, aku mendapatkan notifikasi yang berada di hadapanku.


[Misi Gagal]


[Waktu Habis! Tidak Ada yang Merebut Fortress.]


[Rivandy Lex


 Kelas I Saintek A


 Preview Final Score : A-


 Catatan : Tidak Ada Catatan]


Aku tidak terlalu peduli dengan itu. Namun, mereka sangat peduli dengan kegagalan itu. Ini lebih baik daripada kekalahan.


Semua pemain keluar dari arena. Aurora dan Evelyn menghampiriku sambil ngomel di hadapanku sambil menggoyangkan bahuku. Tidak sampai disitu, siswa dan siswi kelasku langsung mengomeliku dengan ucapan tajam mereka.


Aku tidak bisa tahan dengan omelan satu kelas itu, sehingga aku ingin muntah. Setelah mereka mengomel, mereka berhenti dan menghela nafas mereka karena hasil pertandingannya seri, bukan kalah.


Akhirnya, pelajaran militer berakhir. Semuanya mengambil tasnya dan pulang. Aku, Aurora, dan Evelyn membereskan senjata dan segera pulang. Kami pulang tanpa ada percakapan sekalipun.


Ini lebih baik daripada kekalahan.


[*^*]


Jam pelajaran militer berakhir, Bella dan Shiori membereskan senjata mereka. Setelah itu, mereka berjalan pulang menuju gerbang akademi. Bella ingin tahu apa yang Shiori lakukan.


Bella yang bersama Shiori mulai membuka pembicaraannya. Ia bertanya, “Shiori. apa yang kamu kerjakan sampai hasil pertandingannya jadi seri?”


“Kamu berhadapan dengan Onii-chan itu?” Lanjut Bella melirik ke Shiori.


“Rivandy? Tentang itu, Aku sudah tahu kelemahannya,”


“Apa kelemahannya?” Bella menjadi semangat dengan cepat.


“Rahasia,” jawab Shiori singkat.


“Ayolah! Aku ingin informasi tentangnya. Apa kelemahannya? Lagipula, tidak mungkin kamu menghindari pertarungan itu,” oceh Bella panjang lebar.


Shiori mengeluarkan senyuman manisnya. Ia merespon, “Aku sudah bilang itu rahasia. Kalau mau tahu, tanyakan saja padanya! Lalu, dia memanggilmu Shiva,” membeberkan nama panggilan Bella dari Rivandy.


“Argh! Aku tidak mau mendengar itu lagi,” desisnya dengan perasaan malas menyerangnya.


Karena Bella sedang mutung, mereka menghentikan pembicaraan.


[*^*]


Setelah mereka tiba di apartemen, Bella mengucapkan selamat tinggal kepada Shiori. Shiori membalas ucapan itu sebelum menuju ke ruangan miliknya. Shiori mengurus apartemen di Moskow selama sebulan untuk kewajiban yang harus ia penuhi.


Ia membuka pintu dan memasuki ruangannya. Setelah memasuki ruangan pribadinya, terdapat alat penyiksaan yang ada di hadapannya. Shiori memasuki alat penyiksaan itu dan memulai. Alat penyiksaan yang menyiksa Shiori adalah Iron Maiden.


Berbagai teriakan dan tangisan membanjiri perasaan Shiori. Iron Maiden otomatis yang dibuat olehnya digunakan untuk menghancurkan perasaan Shiori yang cukup menderita itu.


Setelah penyiksaan itu, Shiori keluar dan tergeletak di lantai sambil menangis.

__ADS_1


Maaf, Bella. Aku tidak bisa terus bersamamu. Lass mich alleine!


__ADS_2