
26 Januari 2026, jam 07:23, aku dan keempat gadis berjalan bersama untuk menuju ke akademi. Mereka cerewet dalam menjalani kehidupan mereka. Maka dari itu, aku membaca buku kecil atau membuat memo kecil di smartphoneku.
Aurora dan Evelyn menjadi ibu dan anak untuk memainkan permainan mereka. Akishima dan Sheeran dari tadi bertengkar terus tidak ada habisnya. Mereka bertengkar bahwa mereka yang akan menjadi pemenang dalam Perang Cinta. Padahal pemenangnya sudah jelas. Itu adalah Heroin.
Aku mengingat kejadian yang terjadi pada saat itu. Butuh seharian untuk sembuh dari penyakit itu. Bahkan, aku sempat dibawa ke psikologi karena merasakan trauma yang hebat. Namun, sekarang tidak lagi. Itu semua karena Aurora percaya padaku.
Setelah sampai di akademi, Sheeran dan Akishima kembali ke kelas mereka. Mereka mencium pipiku sebelum pergi. Itu membuat Evelyn semakin cemburu dan membuat pernyataan bahwa aku selingkuh lalu dan membuat rumah tangga hancur seketika. Itu membuatku ingin sekali bertanya sesuatu, yaitu … Evelyn.
Aku belum pernah melihat rumahnya. Aku ingin tahu dimana ia tinggal.
Setelah sampai di kelas, aku mutung dan kesal kepada Nina. Sengaja menggembungkan pipiku membuat kesialanku lebih parah lagi. Aku tidak terlalu ingin bertengkar. Aku ingin melupakannya dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Kelas dimulai setelah membantu ketiga siswa yang merepotkan. Asalkan, Aurora membantuku dan aku melakukannya tanpa ada sesuatu dari mereka meskipun ini melelahkan dan memakan waktu.
Pelajaran pertama di hari Senin telah siap. Guru pada pelajaran hari Senin membuatku lebih baik dalam pembelajaran. Aku segera fokus ke papan tulis dan menulis catatan di handphoneku. Aku tidak lupa menulisnya di Google Keeps karena itu lebih penting untuk merangkum semua ringkasan.
Pelajaran berlangsung begitu lambat dan sebentar lagi akan istirahat.
[*^*]
Jam 09:57, pelajaran setelah selesai, aku diajak Aurora, Evelyn, dan Nina untuk ke kantin. Aku hanya menerimanya dan bersiap diri sebelum pergi menuju kantin. Kami keluar kelas secara bersama dan akan melakukan patroli padaku untuk berjaga-jaga.
Namun, ketika kami ingin ke kantin, kami mendengar sebuah pengumuman yang membuat ketiga gadis itu merasa kecewa. Aku merasakan hal yang buruk saat ini. Aku rasa aku mendapatkan hal yang buruk.
“Pengumuman! Bagi siswa yang bernama Rivandy Lex, Kelas I Saintek A, segera menuju ke ruangan kepala sekolah. Diulangi, bagi siswa yang bernama Rivandy Lex, Kelas I Saintek A, segera menuju ke ruangan kepala sekolah.”
“Tidak ada yang boleh menjaganya. Biarkan Drone Akademi yang menjaganya!”
Dengan kecewa, mereka terpaksa membiarkanku untuk ke ruangan kepala sekolah tanpa diganggu. Mereka ingin sekali menemaniku sampai ke ruangan kepala sekolah. Tapi, apa daya. Merusak Drone Akademi akan mendapatkan hukuman yang cukup berat.
Aku berjalan sendirian yang sudah diawasi oleh Drone Akademi. Drone ini cukup kuat untuk menghabisi mata-mata. Untuk meningkatkan keamanan yang cukup ketat, Drone Akademi akan dibutuhkan jika dalam kondisi kritis. Jika tidak kritis, maka Drone ini tidak akan aktif. Drone ini akan aktif jika ada kondisi yang sangat serius.
Aku bergerak menuju ke ruangan kepala sekolah dengan penjagaan Drone Akademi yang dilengkapi dengan peluru pelumpuh. Kalau ada gadis yang mendekatinya, dia akan ditembak.
Setelah sampai di ruangan kepala sekolah, aku segera masuk ke ruangan kepala sekolah. Drone Akademi kembali ke tempat mereka masing-masing. Aku melihat ada seorang kepala sekolah yang sedang menggembungkan pipinya karena suatu alasan.
Aku tidak tahu ada apa dengan Neesan. Apakah dia akan marah padaku atau tidak? Aku berhadapan dengan Neesan yang tidak seperti pada Neesan sebelumnya. Ini berbanding terbalik dengan sebelumnya.
“Neesan. Ada apa? Apakah kamu marah padaku?” Tanyaku kepada Neesan yang sedang duduk seperti CEO terdiam cukup lama.
Neesan terdiam dengan cukup lama. Sepertinya, dia marah padaku. Dia tidak mau berbicara denganku. Komunikasi dengan baik sudah percuma di depan Neesan.
“Neesan. Kalau kamu marah, ceritakan padaku! Aku akan menyelesaikan cerita ini. Agar kamu tidak marah,” bujukku agar Neesan menceritakan masalahnya.
“Tidak! Aku tidak apa-apa,” jawabnya memalingkan wajahnya.
“Ayolah! Neesan! Aku akan menyelesaikan ini. Aku mohon.”
Neesan mengalah karena sudah menganggapku sebagai adik kecil. Dengan sigapnya, dia mengatur nafas dan mengutarakan perasaannya.
Kemudian, ia menjawab, “Rivandy bodoh! Aku membencimu!” Mengubah dirinya menjadi Chibi.
“Neesan! Kamu kenapa? Apakah kamu sakit?” Tanyaku melihat Neesan versi Chibi.
“Tentu saja tidak, Bodoh! Karena kamu, aku tidak bisa tenang selama aku tidur, kamu tahu!" Tuduh Neesan menyalahkanku dengan teknik Chibinya.
“Kenapa?" Tanyaku tidak tahu kenapa Neesan tidak bisa tidur.
“Kamu selingkuh denganku. Iya kan?" Tanya Neesan menuduhku.
“Eh?! Selingkuh?! Aku tidak mengerti apa Neesan katakan,” jawabku tidak mengerti pada Neesan.
“Argh! Kamu tidak paham juga. Baiklah. Aku akan memutarkan video untukmu,” ungkap Neesan berubah menjadi Oneesan Ara-Ara.
Neesan memutarkan video nya untukku. Dia membuat VR Video yang dibeli dari Amazon VR itu bisa menjangkau satu Kota Moskow. VR itu sudah diprogram oleh Neesan untuk mengawasi setiap gerak gerik dari para siswa dan siswi akademi. Intinya, tidak ada yang bisa lari darinya. VR ini hanya untuk Neesan saja. Tidak ada yang lain.
Aku terkejut dengan apa yang kulakukan. Aku memperlakukan Akishima dan Sheeran seperti kakak. Aku juga memeluknya dan mencium lehernya. Aku diperlakukan dengan lembut di ranjang. Aku merasa dicium dan menikmati perasaan itu. Aku merasakan tubuhku memanas mengenai itu.
__ADS_1
Ini seperti menonton video porno.
Pantas saja Neesan marah padaku. Aku melakukan selingkuh padanya. Ini bukan selingkuh suami istri. Tapi, ini selingkuh Oneesan.
“Neesan! Maafkan aku! Aku tidak sengaja membuatmu seperti ini!” Sesalku ingin memeluk Neesan.
“Tidak! Kamu selingkuh lagi. Aku tidak akan memaafkanmu. Kamu selalu diperlakukan seperti itu,” tolak Neesan memarahiku dan tidak ingin dipeluk.
“Habisnya aku .....” Aku berusaha mengutarakan penyesalanku.
“Jangan bicara lagi! Aku akan menghukummu sekarang juga!” Potong Neesan ingin memberikan hukuman padaku.
“Neesan. Apakah tidak berhubungan ranjang lagi?” Tanyaku sambil menggosokkan tubuhku dengan malu.
“Tidak! Aku tidak ingin menguras tenagamu yang besar. Aku akan melakukan itu lain kali. Tapi, dengan cara yang berbeda,” jawab Neesan berjalan menuju ke rak buku dan mencari sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang Neesan katakan. Ia serius mengumpulkan banyak bahan untuk dikumpulkan. Ia tidak ingin aku berselingkuh Oneesan padanya. Itu membuatnya kesal. Oleh karena itu, dia melakukan sesuatu agar aku tidak mengulangi hal yang sama.
Sepertinya, aku mendapatkan sesuatu yang buruk.
“Ini tugasmu. Kamu harus membuat esai 1000 kata per jam mengenai Oneesan Ara Ara. Hal yang kamu ketahui dari otakmu. Aku harap kamu tidak mengecewakanku. Tidak boleh istirahat sampai kamu selesai mengerjakannya." Neesan menyodorkan selembar portofolio padaku.
“Ini buku referensinya. Kamu bisa mencari referensi dari sini.” lanjutnya menerima buku yang banyak dan asing karena berasal dari bahasa yang berbeda.
"Neesan. Tapi, ini terlalu berlebihan. Aku ingin ke kantin segera."
"Tidak ada keluhan. Kau tidak boleh keluar dari sini sampai kelas sudah selesai. Kamu mengerti?" Neesan bantah keluhanku.
"Aku akan memasak sesuatu untukmu. Kamu akan menikmatinya. Lalu, aku akan membuat surat izin untukmu agar kamu tidak cemas mengenai pelajaranmu. Jadi, nikmati tugasnya? Aku akan menunggumu, Rivandy Sayang!" Gombal Neesan dengan senyuman Oneesan MiLF Ara Ara.
"Tidak perlu!" Aku masih mengingat bahwa masakan Neesan membuatku mendesah.
"Aku akan mengerjakan ini dengan cepat." Aku menulis esai dengan referensi yang cukup banyak.
Neesan kembali ke pekerjaannya dan segera menyelesaikan tugas PBB-nya. Aku segera membuat esai mengenai onee-san Ara Ara dan segera menulis 1000 kata dalam sejam. Awalnya, aku dengan sepenuh hati segera mengerjakannya. Aku dengan cepat segera menyelesaikan esai itu dengan mudah.
Namun, begitu aku mengumpulkan esaiku pada Neesan. Neesan malah merobeknya dan memperlakukan esaiku seperti tempat sampah. Aku terdiam karena Neesan menolak esaiku mentah-mentah.
Aku ditolak oleh Neesan. Aku kembali ke meja kerjaku dan membuat pembukaan yang cukup sederhana. Aku juga menghabiskan sejam hanya untuk menulis esai agar aku bisa kembali ke kelas. Aku tidak ingin Aurora menungguku lebih lama lagi.
Jam 11:12, aku menyelesaikan esaiku yang kedua. Aku menyodorkan pada Neesan yang sudah selesai mengerjakan tugas administrasi miliknya itu. Aku memberikan dengan sopan dan Neesan membacanya. Dia membaca dengan cepat dan memahami isinya. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk memeriksa esai yang cukup cepat dan intensif.
Namun, kertas portofolio dirobek lagi. Neesan mengomentari,"Referensi esaimu terlalu murahan." Dengan komentar itu, membuatku ingin mengerjakan esai lagi.
Aku merasakan ada yang gejolak di dalam pikiranku. Aku mengerjakan esai itu lagi dan lagi. Aku mengambil bolpoinku dan segera menulis lagi dan lagi. Namun, aku tidak pernah merasakan hal yang membuatku lelah. Aku tidak mengerti kenapa Neesan selalu menolak esai yang telah kubuat. Aku tidak tahu kalau Neesan itu sangat profesionalisme dalam penulisan esai.
Entah kenapa aku semakin lelah dan tidak ingin mengerjakan esai ini. Aku tidak mengerti kenapa tubuhku merasakan sensasi yang cukup melelahkan. Kalau aku telah mengumpulkan, maka aku harus membuat yang baru lagi.
Apa-apaan itu? Aku tidak bisa begini terus. Aku harus menyelesaikan semua esai ini sebelum pulang sekolah. Aku tidak mau Aurora meninggalkanku di akademi. Aku tidak boleh dipenjara oleh esai. Tapi, aku juga masih jernih, belum memikirkan hal lain yang membuat sesuatu yang cukup aneh pada Neesan.
Begitu, selesai mengerjakan esaiku, aku beranjak dari kursi dan segera memberikan esai itu pada Neesan. Aku sudah memperbaiki semua kesalahanku meskipun aku tidak sadar apa yang telah yang kulakukan.
Ini sudah percobaan ke 9 dalam pembuatan esai. Aku sudah tidak bisa lagi menuliskan esai dan ingin segera tidur. Neesan menerimanya. Dia senang sekali dengan isi esaiku. Tidak ada kesalahan yang terjadi pada esaiku. Jika orang lain menyelesaikan 1000 kata sejam, aku menyelesaikan 1000 kata dalam 30 menit
Sebagai hadiahnya, dia memberikan kue yang lezat padaku. Aku menerimanya tanpa pikir panjang. Aku juga sudah lapar dari tadi. Aku juga tidak bisa menahan laparku lagi. Tidak ada pilihan lain. Aku memakan dengan pelan dan memakannya lalu keluar dari sini.
Tapi, aku tidak sadar. Aku masuk dalam jebakan Neesan lagi. Dengan itu, kejadian pun terulang lagi.
Betapa bodohnya aku!
[*^*]
Jam 19:12, aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan tubuhku melemah karena cairanku berada di tubuhku. Aku mencium bau cairan Neesan yang keluar. Dia juga sudah mempersiapkan sesuatu untuk membuatku kecanduan. Aku melupakan sesuatu dan segera beranjak dari ranjang walaupun aku tidak mengenakan pakaian apapun.
"Gawat! Esainya!"
Aku pergi dari tempat ini dan segera menulis esaiku. Aku harus menulisnya dan keluar dari sini. Namun, Neesan terbangun memberitahuku bahwa aku sudah mengerjakan esaiku untuk keluar dari sini. Aku tidak tahu ini jam berapa. Tapi, aku harus keluar dari sini. Aurora telah menungguku di luar akademi.
__ADS_1
"Tidak perlu. Sekarang kamu sudah selesai," jawab Neesan sudah memegang esaiku di tangannya.
"Oh begitu?" Aku bernafas lega
Aku tidak sadar bahwa aku sudah mengerjakan esaiku. Aku juga membuat diriku mendesah dan membuat Neesan menikmati cairanku. Aku rasa … aku ingin tambah lagi.
"Mendekatlah! Aku akan membuatmu lebih baik," pinta Neesan untuk mendekat.
Aku menerimanya dan merasakan bau yang enak pada tubuh Neesan. Aku mendekati Neesan dan memelukku sambil mencium leherku. Tubuh Neesan dipenuhi dengan cairanku. Aku merasakan kasih sayang dari Neesan. Ini berbeda dari orang lain.
"Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu dirayu dan didekati oleh gadis lain. Aku tidak mau kamu diperalat oleh gadis lain. Kalau mau, kamu boleh mengajakku ke ranjang. Kamu selalu diajak ke restoran bintang 5. Jangan khawatir! Kalau aku hamil, aku akan membuat surat nikah untukmu. Jadi, aku akan membuatmu berada di sisimu." Neesan memelukku seperti ingatan dan memoriku.
"Baik, Neesan. Aku akan menerimanya." Aku merasakan tubuh Neesan yang harum dengan cairanku.
Aku tidur bersama Neesan di ranjang merasakan kenyamanan yang tidak pernah kurasakan. Neesan sangat peduli denganku. Aku merasakan bau yang enak pada tubuh Neesan. Aku juga ingin menyentuhnya. Namun. Aku tidak bisa. Aku ingin sekali momen ini berlaku sampai selamanya. Aku .... ingin sekali lagi. Aku mau Neesan lagi.
Malam yang cukup melelahkan dan dramatis.
[*^*]
27 Januari 2026, jam 10:02, jam pelajaran akademi telah berakhir. Aku berbaring di meja sambil menahan tidurku. Aku sedikit lelah karena Neesan tidak akan membiarkanmu tidur. Aku juga merasakan tidak fokus dalam kondisiku saat ini. Aku ingin tidur saja.
Aku diajak lagi oleh ketiga gadis. Namun, aku menolaknya karena terlalu lelah akibat berhubungan ranjang dengan Neesan dan mengerjakan esai yang melelahkan itu. Jadi, mereka ke kantin tanpa keberadaanku. Mereka membiarkanku istirahat karena Nina beranggapan aku menyelesaikan tugas esai. Tugas esai dari Neesan hanya didapat dari orang tertentu saja.
Misalnya, Chelsea Arslan dan Fillia Andela. Mereka mendapatkan tugas esai mereka dan mengerjakannya. Lalu, dikumpulkan. Aku tidak terlalu mengerti sistem akademi ini. Aku ingin tidur saja.
Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang membawaku ke suatu tempat. Dia dengan tenang menyembunyikan dirinya dan segera membawaku ke taman akademi.
Aku membuka mataku dan melihat Rin yang sedang berada di penglihatanku. Aku tidur di pangkuan pahanya. Aku merasakan paha Rin memang membuatku bisa tidur dengan tenang.
"Rin?"
"Ada apa, Rivandy?" Sahut Rin dengan mata cintanya.
"Tidak apa-apa. Aku agak lelah hari ini." Aku menoleh ke Rin dan merasakan keenakan dari paha Rin.
"Jangan khawatir! Silahkan istirahat! Aku akan menidurkanmu. Kamu seperti anak bayi saja."
"Apa kau yakin?" Tanyaku meragukan Rin.
"Iya. Aku yakin," jawabnya penuh keyakinan.
Aku menerima Rin. Aku juga membuat Rin luluh karena suatu hal. Aku membantunya untuk mencari sesuatu yang ia penting. Ia tidak lagi sendirian. Aku saja sudah cukup.
Sebelum tidur, aku membuka mataku dan ingin menanyakan sesuatu pada Rin. Dia dengan baiknya mempersilahkan ku untuk bertanya. Ia tidak keberatan kalau berhubungan ranjang lagi denganku. Asalkan aku saja sudah cukup. Dia tidak lagi mencari yang lain.
"Oh iya. Rin. Kenapa kamu mau melakukan ini padaku?"
"Karena ini," sodor Rin memberikan surat lamarannya padaku.
Aku membacanya surat lamaran cinta yang ada tertera di kertas itu. Aku memahami apa yang membuatnya datang kesini. Aku tidak sadar bahwa Neesan memberikan penjaga padaku. Dia memang anak yang baik.
"Oh. Surat lamaran. Ini untuk apa?" Tanyaku pada Rin
"Kochou-Sensei mencemaskanmu. Jadi, aku akan menjagamu sampai akhir," jawab Rin dengan senang hati.
"Oo. Begitu." Aku paham dengan kondisi Rin.
"Rin. Kalau tidak keberatan … bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" Tanyaku memandang langit.
"Untuk Rivandy, aku kabulkan," balas Rin dengan senang hati.
"Aku ingin kamu …."
Rin sangat terkesan dengan permintaanku meskipun cukup berat untuk dilayani. Aku merasakan Rin adalah orang yang cukup bertanggung jawab. Dia akan menerima permintaan itu meskipun ia merasa tidak enak. Ia tidak bisa menolaknya.
Dengan itu, aku dan Rin berduaan di akademi walaupun aku takut Aurora akan membunuhku. Tapi, … aku tidak keberatan kalau Rin akan membuatku seperti ini. Aku juga membuat Rin merasa ingin membantuku.
__ADS_1
Setidaknya, Rin menidurkanku di pahanya itu sudah cukup bagiku.
Biarkanlah! Rin memang gadis yang baik.