Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Hasil Akhir 1,2


__ADS_3

Jam 15:23, aku dan Akishima pulang bersama. Kami pulang berduaan karena Aurora, Evelyn, dan Nina tidak menyadari tugas mereka, sehingga mereka harus mengerjakan tugas mendadak itu. Sheeran harus harus bertemu dengan seseorang yang cukup penting. Jadi, kami pulang bersama.


Ini waktunya aku melakukan kejutan untuknya.


Aku berjalan di tengah musim dingin bersamanya. Aku sudah mengikuti prosedur dokter untuk tidak melakukan aktivitas yang berlebihan pada musim dingin. Entah kenapa kemarin aku melanggarnya. Dokter akan memarahiku lagi.


“Akishima.” Aku memanggil Akishima.


“Eh?! Nani?” Sahut Akishima menoleh padaku.


“Sebenarnya, aku ingin memberikan … sesuatu padamu,” ungkapku dengan menahan perasaan malu.


“Hontou ni? Yada yo! Jangan bunga lagi! Aku sudah banyak bunga di rumahku,” tolak Akishima justru kekanak-kanakan.


“Bukan itu! Aku ingin memberikan hadiah … untukmu. Tapi, nanti saja. Kamu terlalu kekanak-kanakan,” tolakku tidak ingin memberikan sesuatu pada Akishima.


“Eh?! Ada apa denganmu?” Akishima tidak mengerti apa yang aku katakan.


Dengan cocoran itu, Akishima mengajakku ke taman kecil di Moskow. Aku dipegang olehnya dan ditarik ke taman kecil. Aku sedikit mengingat pada sebuah momen itu. Setelah sampai di taman kecil, Akishima berhadapan denganku dan merasa malu kepadanya.


“De? Apa yang kamu ingin berikan padaku? Aku harap hadiahnya tidak jelek,” harap Akishima tidak mendapatkan hadiah yang jelek.


“Ok. Sebenarnya, … aku membelinya sebulan yang lalu. Hadiah itu cukup untuk menguras kartu kreditku. Aku tidak melakukan apapun pada musim dingin saat itu. Aku hanya dirawat saja,” ungkapku mengenai kesalahanku.


“Jangan seperti itu! Aku melakukan itu hanya untuk menyelamatkan Nakamaku,” jelas Akishima membusungkan dadanya.


“Ok. Mana hadiahnya?” Tanya Akishima antusias dengan hadiah itu.


“Ini.” Aku memberikan hadiah pada Akishima.


Akishima menerima hadiah itu dan segera membukanya. Ia ingin tahu apa isi dari hadiah yang kuberikan. Setelah membuka hadiah itu, ia merasa terkejut dengan hadiah yang kuberikan. Tidak biasanya aku memberikan ini pada Akishima. Aku memberikan hadiah yang cukup spesial untuknya.


“I-iPhone 14 Pro Max?!” Akishima melihat kotak iPhone dan memegangnya.


“Iya. Itu menguras kartu kreditku,” jelasku berpaling dari tatapan Akishima.


“Wah! Sudah lama aku menginginkan yang ini!” Akishima menatap iPhone dengan berkaca-kaca.


“Iya. Itu untukmu. Aku memberikan itu pada Neesan. Habisnya, kamu membuatku nikmat,” ungkapku mengingatkan hubungan ranjang dengan Akishima tempo hari.


“Argh! Jangan panggil aku Neesan lagi! Aku akan meluncurkan Gomu-Gomu no Pistol padamu!” Akishima marah dan mengepal tangannya untuk memukulku.


“Oh iya. Selagi disini, kenapa kita tidak foto saja? Aku sudah punya tongsis untuk foto 360 derajat. Kamu pasti menyukainya,” usul Akishima mengeluarkan tongsis di dalam bajunya.


“Uhh. Iya. Tapi, lain kali, simpanlah yang benar!” Tegurku melihat Akishima yang membuka sesuatu dari dalam bajunya.


“Eh?! Apakah kamu ingin tubuhku?” Goda Akishima mendekatiku.


“Tidak! Aku malu,” tolakku ingin kabur darinya.


“Jangan malu. Aku akan putarkan Nekopoi 360 derajat untuk kita. Tapi, pelan-pelan saja,” jelasnya ingin memutarkan video Nekopoi.

__ADS_1


“Aku paham." Aku menghela nafasku.


“Jadi, kita foto!” Akishima mulai menyalakan iPhone 14 dan berswafoto.


Foto yang bagus. Ini berbeda dari sebelumnya. Karena Fitur iPhone 14 yang bagus membuat penggunanya menjadi lebih baik. Akishima menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Dia menjadi gadis yang ceria untukku.


Setelah itu, kami segera pulang ke apartemen kami. Namun, Akishima menolaknya. Ia lebih baik menginap di apartemenku karena apartemenku terasa nyaman untuk menonton Anime. Tapi, sudahlah! Aku tidak keberatan mengenai itu.


Aku juga menerimanya sebagai … pacarku.


[Hasil Perang Cinta


Akishima Renji Menang


Alasan : Hati Akishima sudah luluh karena iPhone 14]


[*^*]


28 Januari 2026, jam 15:12, Aku dan Aurora pulang bersama. Akishima tidak bisa pulang karena dipaksa Zhukov untuk mengerjakan pelajaran yang ia benci, yaitu matematika. Evelyn dan Nina masih mengerjakan tugas lagi. Sheeran sedang bertemu dengan Neesan untuk membicarakan sesuatu yang penting.


Hanya aku dan Aurora. Sepertinya sudah cukup.


Ketika pulang ke apartemen kami, aku memanggil namanya. Aku menoleh kepadanya dan membuatnya menghentikan langkahnya. Aurora pun menghentikan langkahnya dan segera menanyakan sesuatu padaku


“Ada apa, Rivandy?”


“Aurora. Aku ingin mengatakan sesuatu untukmu. Ini lebih penting daripada sebelumnya. Jadi, dengarkanlah aku!” Aku mengatakannya dengan serius


“Sebenarnya, aku ingin memberikan sesuatu padamu. Aku takut kamu menolaknya. Kamu menganggap itu hanyalah omong kosong belaka. Ini sedikit murahan bagimu. Tapi, setidaknya, aku ingin membuat sesuatu yang serius untukmu,” ungkapku seperti menyatakan perasaanku.


Aurora semakin tidak mengerti apa yang aku ucapkan. Dia beranggapan bahwa aku cukup aneh. Aku malah bertingkah seperti orang dewasa pada umumnya. Melakukan komitmen dan berusaha untuk tidak selingkuh lagi.


“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan padaku.” Aurora semakin tidak mengerti.


“Tidak ada pilihan lain. Ini. Untukmu. Aku harap kamu menyukainya.” Aku memberikan sesuatu pada Aurora.


Aurora menerima pemberianku itu. Dia membuka dengan perlahan dan rapi. Aurora tidak pernah membuka kado dengan berantakan. Ia mencari garis yang membuat kado kertas kado itu terkumpul. Setelah membuka kado, ia melihat ada otak yang membuatnya perhatian.


Ia membuka kotak itu dan melihat ada sebuah cincin yang biasanya dipakai untuk pertunangan. cincin itu adalah sebuah ikatan dan hubungan yang abadi. Aurora terkait dengan itu dan mengatakan sesuatu padaku.


“Rivandy. Ini ….”


“Kado apa ini?” Tanya Aurora mengenai kado itu.


“Itu adalah kado untuk tunangan. Kalau kita lulus, kau boleh memakainya,” jawabku menahan perasaanku.


Aurora merasakan getaran yang kuat. Ia merasakan perasaan hatinya yang semakin menggejolak. Ia merasakan kesetiaan dan ingin sekali mengatakan sesuatu padaku tapi tidak bisa. Dia mengurungkannya.


“Itu juga kado ulang tahun untukmu,” lanjutku.


Aurora terkejut dengan kado itu. Itu rupanya kado yang ia berikan padaku Aurora sangat tersentuh karena ada yang memberikan kado yang seperti itu. Ia harap ia bisa memakainya suatu saat nanti.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Aurora melancarkan aksinya untuk membalas kado itu. Ia memelukku dengan hangat dari belakangku. Ingin menangis di dalam punggungku. Aku hanya terdiam di tengah musim dingin dengan pelukan Aurora.


“Thank you, Rivandy Lex!”


Aku mengangguk dengan pelan. Sepertinya, Aurora memegang tubuhku dan tidak akan melepaskannya.


Aku juga ingin membalasnya. Namun, aku hanyalah remaja yang belum bisa jatuh cinta. Masih ada halangan di luar sana yang menanti. Entah kenapa aku merasa hatiku ditekan dengan keras. Ini karena luas penampang sangat kecil daripada jarum. Ini yang membuatku ingin mengutarakan kesedihanku.


Sekali lagi, tidak bisa. Aku dihadang lagi.


Setelah pelukan itu, Aurora mengajakku ke sebuah tempat. Tempat itu adalah tempat untuk romantis. Aurora berniat untuk mengajakku untuk menjalin hubungan kami yang romantis. Aku harap aku bisa bersamanya sampai akhir.


“Rivandy. Aku ingin berkencan denganmu. Apakah boleh?” Tanya Aurora melepaskan pelukannya.


“Boleh. Kita kan pulang sampai tengah malam,” jawabku menerima ajakan Aurora.


Aurora senang dengan ajakan itu. Ia tidak menyangka bahwa aku membuatnya hatinya luluh karena itu. Aku juga sudah membuat Aurora ingin sekali.berada di sisiku. Sepertinya, aku melakukan hal yang salah.


“Sekalian. Kita pesan hotel hanya untuk kita berdua,” lanjutku ingin melakukan sesuatu pada Aurora.


“Tidak perlu. Kita sudah punya apartemen,” tolak Aurora.


“Maafkan aku. Aku terlalu kaku,” sesalku ingin meminta maaf.


Kami memutuskan untuk kencan di musim dingin. Dia mengajakku ke suatu tempat yang hangat agar aku bisa diselamatkan. Aku mengikuti dengan lancar dan membuat Aurora merasa tersentuh.


Kemudian, Aurora mengajakku untuk ke tempat yang ingin dia kunjungi. Kami mengunjungi cafe dan segera memesan manisan. Itu karena Aurora menyukai manisan, apalagi stroberi. Stoberi adalah makanan kesukaan Aurora.


Malam harinya, kami berjalan pulang dengan romantis dan menikmati saat momen terakhir pada musim dingin. Aku merasakan kehangatan dari Aurora karena ia selalu berada di sampingku tanpa peduli dengan kondisi apapun itu.


Setelah sampai di apartemen, aku memilih menginap di apartemen Aurora dan tidur. Namun, Aurora mencegahku untuk tidur. Dia malah mengajakku ke suatu tempat. Pegangan tangan yang halus tidak akan tertolakkan.


Aku hanya bisa menerima Aurora. Aku merasakan Aurora berpengalaman karena ia menonton drama percintaan. Dengan teknik Aurora, dia membuatku merasa lebih baik dan ingin melakukannya lagi.


Kalau Aurora meminum alkohol, aku pasti menjadi milik Aurora. Aku akan mati dengan permanen.


Setelah menikmati malam, kami tidur bersama dengan hubungan seperti suami istri. Kami dikira melakukan hal yang aneh walaupun sebenarnya bukan. Aku merasa Aurora sangat menyukaiku. Ia tidak membiarkanku berhubungan selingkuh dengan gadis lain. Dia akan melindungiku dengan sekuat tenaganya jika perlu.


Aku tidak cemas dengan tindakan Aurora. Aurora sangat berusaha keras agar aku tidak membuatnya kecewa. Aku juga mengingat semua yang aku lakukan untuk membuat Aurora sakit hati. Aku juga membuat Aurora merusak perabotan rumah. Tapi, sekarang tidak.


Setidaknya, ini yang aku dapatkan. Aku membuat Aurora seperti ini karena Aurora percaya padaku.


Aku menciumnya dengan penderitaan, sehingga membuatnya luluh. Aku juga membiarkan diriku menderita hanya untuk Aurora.


Aku tidak bisa melupakan sikap Aurora saat itu. Aku tidur dengan luka dan Aurora yang hangat, sehingga merasakan hal yang sama pada Neesan. Aku ingin membujuk Neesan untuk melakukan sesuatu sebelum lulus akademi. Tapi, aku harus menjalani akademi dan mencari cara agar aku bisa bertahan hidup di dunia yang rapuh ini.


Kesempatanku hanya sekali saja.


[Hasil Perang Cinta


Aurora Sentinel Menang

__ADS_1


Alasan : Aurora mencium Rivandy sampai masuk ke kamar dan membuat Rivandy mendesah]


__ADS_2