Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Perang Cinta Dimulai 1,2


__ADS_3

Jam 07:25, aku sampai di akademi dan ke kelas setelah memasuki gedung pintu masuk akademi. Aku berjalan dengan tenang dan ramai meskipun banyak gadis yang luluh padaku. Entah berapa banyak gadis sangat menyukaiku.


Ketika berjalan di lorong, ada seorang gadis yang menghampiriku. Dia dengan tangisan yang tidak biasanya Aku rasa dia menangis karena psikologi. Ia menangis karena sesuatu yang sepele.


“Rivandy!” Akishima memelukku dengan erat dan menangis di pelukanku


“Ada apa? Kamu seperti anak kecil saja,” tanyaku menyindir Akishima dan membalas pelukan Akishima.


“Tolong kerjakan soal matematikaku! Aku tidak mau dipanggil lagi,” minta Akishima menunjukkan soal dari ponselnya.


“Eh?! Bukannya kamu ingin diajar oleh Zhukov?” Tanyaku curiga dengan permintaan Akishima.


“Zhukov payah! Dia tidak membantuku. Dia ingin membuatku dipanggil oleh guru killer yang membawa Ak-47,” jawabnya dengan wajah kekanak-kanakan.


“Akishima. Kamu harus mengerjakan soalmu sendiri,” tegurku pada Akishima mengerjakan tugas matematika sendiri


“Kumohon! Aku akan melakukan apa saja untukmu! Kamu boleh mengajakku ke tempat sepi dan membuka bajuku. Kalau bisa, kamu boleh memotret foto mesumku,” minta Akishima terus terang.


“Aku tidak memintamu yang seperti itu,” cekalku karena mendengar permintaan yang aneh.


“Maaf saja. Aku harus ke kelasku dan ….” Aku melepaskan pelukan Akishima dan segera pergi menuju ke kelas.


“Pangeran Rivandy!” Panggil ketiga gadis itu memelukku dengan erat.


“Apa lagi?” Tanyaku mengelus kepala mereka bertiga


“Tolong kerjakan soal matematika ini!” Stephany menunjukkan soal dari Bu Minerva dari ponselnya.


“Bu Minerva sangat kejam!” Lanjut Aria memelukku dengan erat.


“Soalnya sama seperti soal perkuliahan,” lanjut Millia meremas tubuhku.


“Tunggu! Bukankah kalian kelas Soshum?” Tanyaku merasa curiga dan tidak percaya dengan ketiga gadis itu.


“Matematika juga merupakan pelajaran Soshum,” jawab Stephany meyakinkan.


“Aku akan mati kalau Bu Minerva tahu,” sambungnya ingin menangis.


“Aku akan dihukum untuk menjual diriku,” lanjut Millia menjadi terangsang.


“Chotto matte! Aku yang memintanya terlebih dahulu,” protes Akishima merasa ketidakadilan.


“Siapa cepat, dia dapat,” cekal Millia sambil meremas dadanya.


“Mana bisa begitu! Itu sama saja menyerobot antrian,” lontar Akishima menghampiriku yang dirayu.


“Gadis Malam seperti kalian lebih baik menyingkir saja,” lanjut Akishima mencemooh ketiga gadis itu.


“Siapa yang Gadis Malam? Kau sudah tidak perawan lagi mau katakan apa kepada kami yang perawan?” Tanya Aria mengejek Akishima.


“Aku tidak peduli dengan perawan atau tidak. Yang penting aku setia padanya,” lontar Akishima dengan cocorannya.


“Huh! Nanti, kamu yang hamil akan dicampakkan oleh pangeran dan dia akan kawin lari bersama kami. Terus, dia akan menghamili kami dan memiliki anak yang imut dan lucu,” hina Millia kecanduan film drama.


“Lalu, kau yang sedang dicampakkan harus menjanda dan harus meluapkan hasratmu ke lelaki lain. Jadi, kamu adalah seorang kupu-kupu malam yang malang."


“Argh! Aku tidak akan segan lagi kepada kalian,” tantang Akishima dengan senapan di tangannya.


“Coba saja kalau bisa,” adu Stephany merasa tertantang.


“Aku akan membawamu dan membuka semua pakaianmu. Lalu, aku akan memotret tubuhmu yang bekas orang lain dan kami akan mencoreng namamu lalu membawamu ke pasar malam,” jelas Milia dengan aura iblisnya.


Aku tidak mengerti lagi dengan mereka. Mereka berkompetisi agar aku bisa berada di samping mereka. Aku merasa pertengkaran ini membuang waktu saja. Makanya ini membuatku ingin pergi ke kelas.


“Aku pergi dulu. Aurora akan menungguku,” pamitku pada Akishima dan gadis lainnya.


“Tunggu aku, Rivandy! Jangan pergi! Bagaimana dengan soal matematikaku?” Tanya Akishima masih bertengkar.


“Kerjakan saja sendiri. Aku ke kelas dulu. Sampai jumpa,” pamitku pada Akishima.

__ADS_1


“Tolonglah! Jangan tinggalkan aku! Aku akan membawa mainan untukmu. Mainan untuk ranjang nanti. Nee! Anata! Nee! Jangan tinggalkan aku!” Akishima membujukku sambil menangis.


Aku meninggalkan Akishima yang bertarung dengan ketiga gadis itu. Akishima ingin segera menghajarku karena aku mengabaikannya. Padahal, kelas sudah mau mulai. Aku tidak tahu. Bu Minerva tidak pernah memberikan siswa soal sampai segitunya. Ia hanya menyeretku dan membuatkan soal level kuliah. Tidak ada cara lain. Aku harus menerima tawaran itu.


Dengan kata lain, mereka hanya membohongiku saja. Itu bukan tugas yang kubuat. Bu Minerva hanya memberikan soal level kuliah dari tanganku. Aku merasa soal itu bukan sungguhan, melainkan rekayasa.


Pantas saja Zhukov menolak tawaran itu. Dia tidak mau mengerjakan soal rekayasa itu.


[*^*]


Saat aku ingin menuju ke kelasku, ada seorang gadis yang sedang menghampiriku. Gadis itu memelukku dengan erat. Dengan dadanya yang sama seperti papan cuci, aku tidak merasakan rayuan yang menghantuiku. Tidak apa-apa. Mereka tidak jahat.


Tidak hanya itu, ada gadis yang berjas putih bersandar di tembok. Ia menunggu momen yang menegangkan pada saat itu. Ia berencana untuk membuatku ketakutan setiap aku pergi ke Klub Saintek.


"Rivandy-kun!" Panggil gadis itu memelukku.


"Furumi?" Sahutku melihat Furumi memelukku.


"Yo! Datang juga kau. Aku ingin memanggil Aurora dan minum air putih ini. Dia pasti mau meminumnya. Kalau sudah, aku akan merekam setiap adegan horor itu. Aku sudah mendapatkan 4 video," lontar Zaza memperlihatkan video horor kepadaku dan memegang botol alkohol di tangan satunya.


"Hentikan! Aku tidak tahan lagi. Itu bukan air minum. Itu alkohol," celaku melihat botol itu.


"Tidak apa-apa, Rivandy-kun! Aku melapor Zera-kun mengenai ini." Furumi melepaskan pelukannya dan menenangkanku.


"Jangan panggil Zera! Dia akan menghapus semua video ini. Dia juga mengunci folder handphone selama 3 hari. Aku bersusah payah untuk membuka kembali kunci itu," resah Zaza karena mendengar nama Zera.


"Zera-kun tidak mau kamu kecanduan film horor melakukan bahaya lainnya. Zera-kun mencemaskanmu juga," sanggah Furumi mendekati Zaza.


"Tidak ada pilihan lain. Aku mendapatkan video ini dengan susah payah. Aku mengeditnya dan mengirimkan ke kontes video Horor," cekal Zaza merasa ketakutan.


"Dia kenapa?" Tanyaku pada Furumi.


"Anone. Zaza-chan itu ...." Furumi dijatuhkan oleh Zaza.


"Hentikan! Kalau kamu membeberkan rahasia ini, hidupku akan berakhir!" Zaza merasa resah dan takut Furumi membeberkan rahasia Zaza.


"Kyaa! Zaza-chan, dame! Kamu membuatku terangsang!" Furumi merasa basah karena tubuhnya disentuh oleh Zaza.


"Persetan dengan Yuri! Aku tidak mau membiarkan kamu memberitahukan itu padanya," resah Zaza memeluk Furumi.


"Aku pergi dulu. Sampaikanlah salamku dari Zera," pamitku ingin segera ke kelas.


"Baiklah!" Terima Furumi masih diremas tubuhnya oleh Zaza.


"Teme! Lain kali, aku akan menakutimu. Ingat itu!" Zaza berteriak di lorong dan mengancamku agar aku ketakutan.


Aku merasa merinding karena ada Zaza membuat Aurora meminum alkohol. Aku tidak bisa membayangkan jika aku gagal melarikan diri dari Aurora. Kalau itu terjadi, aku akan menjadi milik Aurora dan kecanduan ****. Lalu, itu akan berimbas ke gadis yang tidak bersalah.


[*^*]


Sesampainya di kelas, aku bertemu dengan Aurora dan Evelyn. Aku dan Aurora menjadi orang tua Evelyn agar Evelyn mengerjakan tugasnya. Evelyn kesal walaupun mengerjakan tugasnya agar bisa bermesraan padaku.


Sejak saat itu, bel berbunyi keras dan kami segera mengikuti pelajaran militer yang diajarkan oleh Pak Stephan. Ia menerima siswa dan siswi mengumpulkan tugasnya. Ketiga siswa itu segera mengumpulkan tugas yang dibantu oleh Nina. Ini sedikit merepotkan bagiku. Tapi, Nina tidak pernah mengeluh dan tetap menjalankannya.


Saat itu, Aurora dan Evelyn akan melakukan sesuatu agar aku tidak direbut oleh gadis lain.


[*^*]


Jam 10:01, pelajaran berakhir. Aurora dan Evelyn segera mengajakku ke kantin. Mereka juga mengajak Nina untuk ke kantin agar dia menjagaku dari gadis lain. Mereka tidak membiarkan anggota Klub Pangeran mendekatiku dengan alasan kencan.


Nina dengan penjagaan ketat segera melancarkan sesuatu agar aku bisa melanjutkan perjalananku ke kantin. Aurora dan Evelyn mulai menjagaku dan tidak membiarkanku tertangkap basah oleh mereka. Aku berlari bersama mereka dan menuju ke kantin.


Entah kenapa para gadis itu selalu mengejarku. Aku tidak tahu apa tujuan mereka. Aku ingin tahu apa yang mereka inginkan dariku. Uang?? Cinta?? Tubuhku?? Libido?? Otak?? Sepertinya bukan. Hanya satu yang tersisa. Aku tidak tahu. Kenapa bisa begini?


Aku butuh seseorang untuk menangani situasi ini.


[*^*]


Setelah pelajaran militer selesai pada jam 12:00, semua siswa pergi keluar kelas untuk istirahat. Evelyn ditemani Aurora untuk menyelesaikan tugasnya. Aurora memperlakukan Evelyn seperti anaknya.

__ADS_1


Aku yang berperan sebagai Ayah Evelyn harus pergi menuju ke perpustakaan untuk mengambil buku militer. Aku diancam Aurora. Aku akan disiksa olehnya dan meminum alkohol jika aku dirayu lagi oleh gadis lain.


Kalau sampai seperti itu, aku akan mati ketakutan.


Aku pergi menuju ke perpustakaan. Berjalan di koridor dengan menggunakan teknikku. Aku harus mengendap-endap agar tidak bisa dideteksi oleh seorang gadis. Aku juga membuat rute yang cukup bagus agar tidak ketahuan.


Namun, sesampainya di perpustakaan, aku membuka pintu dengan perlahan agar mereka tidak melihat hantu. Aku juga bergerak dengan perlahan di sela rak buku. Entah itu buku pendidikan, buku ensiklopedia, dan lain sebagainya.


Ketika mencari buku, langkahku terhenti. Aku merasakan kelembutan dari sensasi ini. Aku tidak bisa melepaskan sensasi ini. Ketika aku melepaskan teknik itu, aku melihat ada gadis yang sedang memelukku.


“Tunggu! Apa yang kau lakukan?” Tanyaku mencoba untuk melepaskan pelukan itu.


Gadis itu tertawa kecil. Ia menjawab, “Ara-Ara. Apakah kamu menyukai susuku, Pa-nge-ran Me-sum?”


“Tidak. Tapi, aku sedang sibuk. Nanti saja,” bujukku agar dia melepaskanku.


“Ara-Ara. Semenjak kamu menyentuh susuku, aku menjadi terangsang. Aku menghabiskan tisu di kamar dan memikirkanmu.” Pelukan gadis itu semakin hangat dan harum


“Akhirnya, kita bertemu. Rivandy.” Harapan gadis itu menjadi tak terkendali.


“Setelah sekian lama aku menunggumu, aku menemukanmu di ruangan klub. Aku merasakan sosok Pangeran Matematika yang akan mewakili Olimpiade Internasional. Aku mengalami kekalahan pahit dalam lomba itu. Jika kau berkenan, kau akan mengikuti lomba itu dan mendapatkan piala Sains dan Teknologi. Aku mengandalkanmu, Rivandy."


“Tunggu sebentar. Darimana kau tahu namaku?” Tanyaku pada gadis itu.


“Aku mantan ketua Klub Saintek. Aku senang sekali bertemu denganmu. Dengan kemampuan sains mu, kamu bisa membawa nama harum klub ini.” Gadis itu menunjukkan lencana Klub Saintek.


“Aku harap kamu menjadi ketua Klub Saintek dan meneruskan prestasi itu.” harap gadis itu mengharumkan Klub Saintek


“Sedikit lagi, aku akan lulus akademi ini. Aku akan mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional Akademi,” jelas gadis itu wajahnya semakin memerah.


“Jadi, ayo! Kita akan bermesraan disini. Perpustakaan sepi, lho,” ajak gadis itu merayuku dan mencoba untuk menciumku.


“Tunggu sebentar! Aku tidak tahu namamu,” sanggahku mencoba memberontak.


“Rivera Marvel. Kelas III Saintek A. Panggil saja Rivera!” Jawab Gadis itu memelukku dengan erat.


“Rivera! Jangan! Aku tidak bisa. Aku sudah tidak ingin mencium lagi,” tolakku ingin melepaskan diri dari pelukan Rivera.


“Jaa, aku akan melakukannya pelan-pelan."


“Tidak! Jangan lagi” Aku memberontak namun percuma.


Kekuatan siswa/i angkatan 2023 jauh lebih kuat daripada angkatan junior. Mereka sebanding dengan asisten anggota PBB. Mereka lebih kuat daripada mata-mata. Jadi, biasanya, mata-mata lebih memilih mundur daripada berhadapan dengan siswa siswi kelas tiga.


Percuma saja aku memberontak. Kekuatan Rivera sangat hebat. Ia sekelas denganku. Hanya saja berbeda angkatan. Dia sekelas dengan Ketua Klub Pangeran, Chelsea Arslan. Hanya saja, aku tidak tahu hubungan mereka seperti apa.


“Tunggu sebentar! Jangan cium aku! Aku tidak mau. Aku belum siap,” Aku menolak dan ingin menangis.


“Tidak apa-apa. Aku akan melayanimu pelan-pelan saja.” bujuk Rivera ingin membuka bajuku.


Apakah kehidupanku akan berakhir?


Apakah aku tidak inginkan?


Iya. Aku ingin sekali mengakhiri hidupku. Aku merasa tidak peduli dengan dunia rapuh ini. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada seseorang


Selamat tinggal! Aku akan diperkosa dan akan menjadi alat Rivera selamanya. Kakak kelas yang se-klub denganku. Klub Saintek.


Ketika ingin sekali merasakan penyiksaan itu, aku merasakan ada suatu kekuatan yang akan membawaku ke suatu tempat. Itu adalah kekuatan supernatural. Kekuatan Nyang tidak aku ketahui.


“Hoi! Rivandy. Bangunlah!”


Aku mendengar suara itu. Aku membuka mata itu. Aku melihat Kotori yang berada di taman bersama denganku.


"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh?!"


"Maafkan aku, Kotori. Aku memang lemah." sesalku menahan penderitaan itu.


"Tidak apa-apa. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"

__ADS_1


"Aku harap kamu mendengarkan ini baik-baik," harap Kotori mendengarkanku cerita.


"Sebenarnya, Suasana akademi ini kacau karena ....."


__ADS_2