Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Heroin Baru


__ADS_3

Jam 12:11, di kantin akademi, Nina, Sinta, dan Diana sedang makan siang. Zera selalu diajak Eleva untuk mengurusi gadis mesum seperti Andela. Rivandy dan Aurora saling berciuman di taman akademi. Evelyn dan siswa/i Kelas I Saintek A harus menyelesaikan tugas mereka yang banyak dan memberatkan beban.


Di tengah pembicaraan mereka, ada dua gadis menghampiri sekumpulan gadis bangsawan. Dengan langkah kaki mereka, bergerak menuju Nina, Sinta dan Diana yang duduk santai makan di kantin.


Gadis yang pertama memiliki tinggi badan yang hampir sama denganku. Dia ramping dengan memiliki rambut panjang sebatas pinggang berwarna biru cerah dengan poni yang disisir. Ia mengenakan bando putih di kepalanya.


Sementara yang satunya, adalah gadis ramping dan lebih tinggi daripada Aurora. Dia gadis berambut pendek dan bermata yang sama dengan Aurora. Namun, lebih dewasa dan agresif. Dia memiliki anting-anting warna emas di telinga kanannya. Dia adalah gadis yang cukup berbahaya.


Mereka adalah anggota Klub Saintek. Sama sepertiku dan Aurora. Mereka selalu menjahiliku dan memberikan Aurora alkohol. Jadi, aku merasa was-was jika memasuki ruangan Klub Saintek.


“Zera-kun!”  Panggil gadis jangkung itu.


“Furumi. Zera tidak ada,” sahut Nina sambil memakan Ramen.


“Eh? Tidak ada? Lalu dia dimana?” tanya Furumi dengan antusias.


“Dia pasti kabur lagi,” jawab seorang gadis dekat Furumi mengalihkan perhatiannya dari Nina.


“Mou. Zaza-chan. Kita disini untuk mencari Aurora-chan dan Rivandy-kun. Aku juga ingin mencari Zera-kun dan memeluknya,” jelas Furumi menegur Zaza


“Tadinya, aku tidak tahu mereka dimana. Yang pasti mereka saling berciuman,” tebak Zaza dengan Kenbunshoku Hakinya.


“Heh? Rivandy berciuman dengan Aurora? Kenapa kamu tidak memberitahuku?” Diana terkejut dan panik


“Iya. Sepulang sekolah, mereka akan bermain di ranjang dan segera melepaskan hasrat mereka,” jelas Zaza nada agresif.


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” Tekad Diana ingin menghabiskan makanannya dan pergi dari kantin.


“Terlambat. Rivandy menikmatinya. Dia tidak akan mencintaimu,” cegah Zaza tidak membiarkan Diana pergi.


“Lain kali, aku memberikan Aurora alkohol agar Rivandy menderita,” lanjut Zaza tertawa jahat.


“Kamu tidak boleh melakukan itu!” Larang Furumi.


“Kenapa?” Tanya Zaza dengan wajah polos.


“Kamu meminum alkohol dan menakuti Rivandy. Dia menjadi tidak tenang saat ingin masuk ke Klub Saintek.” curhat SInta mengenai kejadian kemarin.


“Tenang saja! Kamu juga harus meminumnya juga biar Rivandy masuk ke Klub Saintek,” usul Zaza punya ide.


“Tidak boleh! Aku tidak boleh meminum alkohol. Kita masih kecil. Dengan efek alkohol, aku menjadi tak terkendali dan membuat Zera ketakutan. Setelah itu, Zera melarangku belajar dan menyuruhku untuk bermain danharus memakan ikan kering saat makan malam,” tegur Sinta dengan mengingat hukuman Zera.


“Aku juga harus meremas tubuhku sendiri selama 3 jam,” lanjutnya.


“Hukuman Zera memang mengerikan. Jangan ingatkan aku!” Zaza merasa trauma dengan hukuman Zera.


“Dia akan memaksaku menonton Teletubbies dengan ikatan tali yang rapat. Aku sempat berteriak ketakutan dan mengira aku akan mati,” sambungnya wajah memucat.


“Tidak apa-apa. Kita harus menghormati Zera. Dia memberiku hadiah,” cela Furumi dengan optimis.


“Karena kamu melapor Zera, aku mendapatkan hukuman yang sadis.” Zaza menyalahkan Furumi.


“Tidak ada pilihan lain. Aku harus mencari perlindungan.” Zaza merasa putus asa.


“Zaza pandai bersandiwara. Kenapa kamu tidak ikut Klub Teater?” Tanya Nina memuji Zaza.


“Tidak mau! Klub Teater membosankan. Mereka itu lebay dan berlebihan. Jadi, aku lebih suka hal yang lebih menantang,” rengek Zaza seperti anak kecil.


“Iya. Aku mengerti,” respon Diana melihat tingkah laku Zaza.


“Aku pergi dulu,” pamit Zaza pergi dari kantin tanpa memesan makanan.


“Zaza. Kamu tidak makan dulu? Kue ini enak, lho,” tawar Sinta.


“Tidak. Aku akan mencari Rivandy dan akan mengajaknya ke suatu tempat,” jawab Zaza.


“Jika kau meminum alkohol, aku tidak akan memaafkanmu,” ancam Diana menunjuk Zaza.


“Iya,” responnya tidak menoleh.

__ADS_1


“Hmm? Aku tidak tahu apa yang Zaza-chan pikirkan. Yang pasti, aku akan membantumu, Diana-chan,‘ tekad Furumi serius.


“Terima kasih atas dukungannya, Furumi.” Diana berterima kasih pada Furumi.


Furumi memesan takoyaki dan menunggu pesanan sambil mengobrol dengan Nina dan Sinta tentang kelebihan Rivandy dalam berbagai aspek. Furumi berpikir Rivandy adalah remaja yang bisa membuat hati para gadis berdetak kencang. Diana merayu Furumi agar mereka mendapatkanku. Mereka akan membuat sebuah rencana besar.


Rencana yang akan membuat Perang Cinta meletus.


[*^*]


Jam 15:12, seorang gadis keluar dari kelasnya dan segera pulang.ke rumahnya dengan tas miliknya. Ia mengenakan seragam akademi dengan headphone yang menempel di kepalanya. Entah apa fungsi headphone itu. Yang pasti headphone itu berfungsi sebagai aksesoris gadis pada umumnya.


Warna rambut panjang sebahu warna coklat dan mata coklat. Ia merupakan gadis yang cukup tangguh dan kuat. Saking kuatnya, ia menjadi seorang gadis yang menjadi eksekutor junior pada Klub Militer dan Klub Robotik.


Ia adalah Hanna Son Asuka (한나 손 아스카), siswi kelas I Soshum C.


Dia berjalan lurus meninggalkan lorong dan aktivitas akademinya. Ia juga berjalan sendirian tanpa ada siapapun yang menemaninya. ia adalah seorang gadis yang cukup penyendiri karena suatu alasan.


Saat itu, dia terhempas ke belakang karena terus melamun karena memikirkan sesuatu. Dia membiarkan dirinya terjatuh dan tidak apa yang ia pikirkan. Setelah terjatuh, siswa itu menyadarinya. Ia menoleh Hanna dan mendekatinya. Kemudian, mengulurkan tangannya kepadanya.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya orang itu meraih tangannya ke Hanna.


Hanna merasa getaran hati yang tidak bisa ditebak. Uluran tangan dari seorang pangeran membuatnya terdiam kaku. Hanna melihat wajah yang akan mengubah masa depannya. Masa depan yang menuju lebih baik lagi.


“Kamu …Pangeran Rivandy, bukan?” Tanya Hanna melihat siswa yang mengulurkan tangannya.


“Iya,” jawabku.


Tebakan Hanna benar. Ia sudah menemukan apa yang ia cari. Ia  merasakan kemampuan militer cukup kuat karena menontonnya pertandingan preview militer dimana hasilnya akan seri.


Pada saat itu, sebuah panggilan yang membuat Hanna melancarkan aksinya. Ia bangun dan memegang tanganku lalu pergi dari panggilan itu. Aku dipegang oleh Hanna itu ingin sekali menyahut panggilan mereka. Namun, percuma saja. Tangan Hanna cukup mencekam dan tidak bisa dilepaskan begitu saja.


“Ikuti aku!” Hanna menoleh padaku.


“Kemana?” Tanyaku.


“Sudah! Kamu akan tahu nantinya,” respon Hanna dengan senyuman nakalnya.


Sesampainya di Kelas I Soshum C,aku dan Hanna masuk ke dalam kelas itu. Di sana, kelas itu sudah kosong. Tidak ada seorangpun yang berada di kelas itu. Aku dan Hanna hanya berduaan di sana.


Saat yang sama, Hanna pun memulai berbicara,“Pangeran. Aku ingin mengatakan sesuatu untukmu. Jadi dengarkan aku!”


Dia mengatakan sesuatu dengan serius padaku. Kata yang dilontarkan Hanna tidak main-main. Apakah ini pengakuan cinta? Aku tidak tahu. Kalau aku selingkuh, Aurora akan sakit hati lagi dan berencana untuk membunuhku. Aku hanya berharap dia sangat serius.


“Sebenarnya, … aku berterima kasih padamu. Kamu membuat hatiku luluh karena kamu … adalah orang yang salah satunya yang membuatku percaya padamu,” ungkap Hanna dengan senyumannya.


“Kamu memang bukan seperti lelaki yang ku benci sebelumnya. Kamu ...  menyelamatkanku dari kegelapan.”


“Itu adalah … Joe Hyeon Asuka.”


“Kamu membunuhnya. Iya kan?” Dia bertanya dengan penasaran.


Aku tidak tahu apa yang dia tanyakan. Kenapa ia bisa tahu? Aku tidak tahu bagaimana ia mengetahui nama itu dan tidak terlalu mengetahui hubungan orang yang dibunuh karena melecehkan Saphine dengan gadis ini. Aku memutuskan menjawab dengan pelan.


“E … iya. Aku … membunuhnya,” jawabku dengan terbata-bata.


“Wah! Kamu membunuhnya, yah? Aku dengar itu dari Lisa dan Dina. Mereka memberitahu segalanya tentangmu.” Hanna menjelaskan kematian orang itu dari mulut ke mulut.


“Mengenai Joe, dia selalu menggangguku. Dia mengajak temannya untuk mengambil pakaianku secara paksa di gang dan memotretnya. Aku berusaha memberontaknya. Namun, dia lebih kuat dariku dan menggunakan cara curang untuk melumpuhkanku lalu menjualku dengan harga murah.”


"Aku selalu melarikan diri darinya. namun, aku tidak bisa melupakannya. Aku terus beranggapan bahwa semua laki-laki itu jahat dan kejam. Maka dari itu, aku menghabiskan sisa hidupku dengan sekolah, klub, dan game online. Aku tidak ingin punya teman laki-laki.”


“Aku menjadi korban perbuatannya. Selalu melindungi diri dari orang jahat itu Semua pergerakanku terhambat. Aku harus pergi ke Klub Militer dan Klub Robotik secara diam-diam.”


“Tapi, ketika aku mendengar kematian darinya, aku terkejut. Aku merasa … aku bebas dari cengkramannya. Karena itu, aku mencari semua informasi itu. Bahkan menjadi detektif untuk menyelidiki kasus itu. Setelah sesaat kemudian, aku menemukan bahwa kaulah orangnya.”


"Setelah menemukan informasi, aku mencarimu di kelas pada saat musim dingin. Tapi, kamu tidak ada di akademi. Aku ingin menjengukmu di rumah sakit dan memberikan bunga padamu. Tapi, kamu tidak ada di rumah sakit. Aku memutuskan untuk menunggu beberapa saat kemudian.”


“Kumohon jangan bunga lagi!” Aku masih teringat dengan pemberian bunga dari Tuan Putri agar aku mati kedinginan.

__ADS_1


“Sampai saat ini, aku bertemu denganmu. Aku sangat senang kalau kamu memberi perhatian padaku. Habisnya, aku ingin sekali mengenalmu lebih lama, Pangeranku.”


Dengan pernyataan itu, secara tidak sengaja membuat gadis luluh padaku. Berapa banyak orang tersakiti karena human trafficking? Hatinya sangat tersentuh karena aku membunuh orang itu


“Ano. Aku ingin bertanya padamu,” ungkapku pada Hanna curhat selama kehidupan di akademi.


“Silahkan untuk Pangeranku tersayang,” terima Hanna dengan ikhlas menunggu pertanyaanku.


“Apakah kamu … bermain League of Legends?” Tanyaku pada Hanna.


“Tentu saja iya. Oh iya. Namaku Hanna Son Asuka. Aku suka bermain game online. Dota 2, Overwatch, League of Legends, Rainbow Six, Apex Legend, bahkan Counter Strike : Global Offensive.”


“Aku tidak terlalu suka dengan BTS dan EXO. Mereka sangat menyebalkan. Tapi, aku menyukai lagu Barat,” jelas Hanna dengan menghitung lagu yang diputar di headphonenya.


“Sebenarnya aku masih belum bisa bermain secara profesional. Padahal, aku sudah menonton semua pertandingan,” jawab Hanna pipinya menggembung sesaat.


“Ok. Coba masukkan nama ini!” Hanna memperlihatkan smartphone miliknya kepadaku.


[Profile League of Legends]


[Username : Mecha Pink]


[Level : 43]


[Tier : Emas II]


[Hero Favorite : Seraphine, Lux, Neeko]


[Persentase Kemenangan : 56,02%]


“Aku masih belum bisa bermain lebih baik. Mungkin kamu bisa membantuku untuk menaikkan level,” lanjutnya mengeluh dengan level itu.


“Ini. Pakailah sistem ini! Dengan memperlihatkan sistem ini, kita bisa menambah pertemanan dalam permainan ini,” usulku kepada Hanna.


Aku dan Hanna bertukar profile permainan LoL untuk mendapatkan undangan dan bisa bermain bersama. Baru tahu ada gadis yang menyukai game online. Hanya Eleva, Andika, dan Yudha yang hobi bermain game online. Meskipun begitu, tidak ada masalah akademik yang terjadi pada mereka.


[Profile League of Legends]


[Username : Dark Prince]


[Level : 35]


[Tier : Diamond III]


[Hero Favorite :Ahri]


[Persentase Kemenangan : 65,00%]


“Eh?! Diamond?! Kamu hebat juga. Bagaimana kamu bisa mendapatkan peringkat itu?” Hanna terkejut dengan peringkatku.


“Aku pernah membaca Wiki Fandom atau Gamepedia. Jadi, hasilnya seperti ini,” jawabku mengenai peringkat di permainan LoL.


“Kalau begitu, kamu ajari aku bermain LoL, yah!” Ajak Hanna.


“Boleh juga. Kalau aku luang, aku akan menghubungimu. Tugasku sudah selesai.” jawabku menerima ajakan Hanna.


“Ya ampun! Aku lupa. Aku harus mengerjakan soal matematika. Bolehkah kau menjadi guruku?” Tawar Hanna semakin akrab denganku.


Aku diajak oleh Hanna karena ia tidak bisa mengerjakan matematika. Ia selalu sibuk dengan permainan game online. Apalagi permainan FPS. Itu membantu kekuatan militernya.


“Aku tidak keberatan. ” jawabku tidak keberatan.


“Yeah! Kalau begitu, ….”


Ketika kami berduaan di kelas, ada seorang gadis yang bersandar di dekat pintu kelas. Gadis itu terganggu dengan momen romantis itu. Padahal, hanya menambah pertemanan game online. Tidak ada yang lain.


“Ara-Ara. Kamu datang kesini untuk merebut suamiku, yah?” Sapa Shiori cemburu dengan hubunganku dengan Hanna.


Aku terganggu dengan keberadaan dari gadis itu dan merasakan aura yang kuat dari Shiori. Dia cemburu denganku yang selalu akrab dengan gadis lain. Maka dari itu, Hanna memutuskan untuk menghindari konflik.

__ADS_1


“Lain waktu saja. Aku mau pulang dulu. Ini sudah sore. Bye. Sarangheo,” pamit Hanna menggunakan Finger Heart padaku. Aku membalasnya dengan hangat.


Sekarang, aku berhadapan langsung dengan Shiori. Aku tidak akan mengulangi kejadian yang sama


__ADS_2