
Suatu hari, di sebuah kapal pesiar, ada seorang kru memeriksa sebuah lorong yang tidak ia lihat. Ia segera memeriksa tempat lorong yang gelap itu, sehingga bisa melaporkan sesuatu pada nahkoda itu.
Tak lama kemudian, ada sebuah gerombolan kru yang berkumpul karena sebuah hal yang menarik perhatian mereka. Kru itu mencoba untuk membangunkan orang yang terluka itu. Mereka juga tidak memiliki simpati pada seorang remaja yang terluka karena suatu hal.
Ada penumpang gelap yang berlumuran darah. Seorang kru sudah berkumpul dengan yang lainnya. Mereka akan membangunkan remaja itu.
"Bangunlah, anak kecil! Sedang apa kau disini?!" Tanya salah satu dari kru sambil menendang remaja itu.
Dengan paksaan dan ocehan itu, membuat remaja itu terbangun dengan luka yang menempel pada sisinya.
"Kau sudah bangun rupanya! Sekarang kau harus ikut kami sekarang juga!" Suruh kru kapal pesiar itu pada remaja itu.
Namun, remaja itu terdiam dengan ocehan kru dengan sebuah memori itu. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kru itu berniat untuk membawanya pulang ke neraka.
"Apa kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan?! Sekarang, kau harus ikut kami atau kami akan …." Ucapan kru itu terpotong.
Remaja itu mengeluarkan pisau dan segera memenggal kepala kru itu. Kru itu sangat panik karena salah satu dari mereka sudah tewas. Alhasil, banyak dari kru menyiapkan pukulan pada remaja itu.
"Habisi dia sekarang juga! Dan kau panggil nahkoda agar dia segera tumbang!" Suruh Kru di garis depan pada kru yang di sampingnya.
"Baiklah!" Kru itu segera melaporkan itu pada nahkoda.
Satu kru kapal telah pergi. Saatnya penyerangan!
Sebagian besar kru melancarkan pukulannya pada remaja itu. Namun, mereka tidak bisa menyamai kecepatan remaja itu. Remaja itu menebas leher kru dan segera menancapkan pisaunya pada perutnya.
Ketika Nahkoda itu datang pada pembunuhan itu, ia melihat ada para kru terkapar di lantai koridor kapal. Tidak tanggung-tanggung, nahkoda itu segera menghampiri remaja yang memegang sebuah pisau miliknya.
Ia pun mengancam remaja itu dan berniat untuk menyerangnya. Dengan banyolannya, remaja itu hanya terdiam sesaat melihat nahkoda itu.
Nahkoda melihat remaja menyerangnya langsung mengarahkan senjatanya dan menahan serangan dari remaja itu. Ia bisa menahan serangan dari remaja itu. Namun, ia harus terhempas beberapa meter ke belakang.
Dengan kesempatan itu, remaja itu berlari ke belakang dan menusuk nahkoda itu dari belakang. Nakhoda mengetahui apa yang akan terjadi. Dia membalikkan badannya dan mulai menahan serangan itu.
Tapi, itu hanya tipuan. Remaja itu membuat targetnya untuk berbalik badan. Akhirnya, remaja itu menusuk perut nahkoda itu dan melakukannya secara berulang.
Nahkoda terkejut dengan tindakan remaja itu. Alhasil, ia terjatuh akibat tusukan di perutnya.
Para kru semakin ketakutan. Tatapan iblis remaja itu membuat orang yang melihatnya tidak tahan dengan tatapan itu. Remaja itu pun bergerak menuju krunya setelah menatap mereka dengan cukup lama.
Namun, remaja itu berhenti bergerak. Kru yang ketakutan cukup beruntung karena remaja itu berhenti bergerak. Remaja itu jatuh ke lantai secara mendadak.
Remaja itu tidak tahu apa yang orang itu bicarakan pada kru itu. Dia pun kehilangan kesadarannya sebelum mengetahui hal itu.
[*^*]
Di rumah sakit di Moskow, Rusia, aktivitas di tempat itu sangat sibuk. Banyak dokter dan perawat melakukan tugas mereka. Dokter yang memeriksa dan menyembuhkan pasien. Perawat yang merawat pasien sampai sembuh.
Di tengah kesibukan itu, ada seorang remaja yang sedang tertidur di ranjang. Ia memiliki tinggi badan 180 cm dan berat badan 60 kg. Lalu, ia berambut hitam namun berantakan beserta wajahnya sangat tampan layaknya pangeran.
Setelah melalui kegelapan itu, remaja itu membuka matanya secara perlahan. Melihat di sekitar dengan perasaan kebingungan. Dia dibawa seseorang yang menuju ruangan ini setelah kejadian pembunuhan itu.
Sebuah kota dan banyak bangunan yang tersusun rapi. Matanya tertuju kepada sebuah bangunan yang berwarna merah dan besar.
Beberapa menit kemudian, seseorang masuk kedalam ruangan dan menyapanya. Orang itu menghampiri remaja itu dan membawa makanannya dari restoran cepat saji.
Orang itu memberikan itu pada remaja itu. Ia orang yang ramah. Sedikit berkumis, perawakan manusia 40 tahun, dan berambut hitam rapi dan lurus. Tinggi dan beratnya hampir sama dengannya. Hanya beda jauh sedikit.
Namanya adalah Roman Spyxtria.
"Hei, Nak! Apakah kamu merasa baikan?" Tanya Roman pada remaja itu.
Remaja itu tidak bisa berbicara dengan Roman untuk sementara waktu. Ia mengingat sebuah memori yang takkan terlupakan. Roman memberikan kehangatan pada remaja itu. Remaja hanya menyimak apa yang Roman bicarakan. Suaranya terdengar di telinga remaja itu.
"Oh iya. Aku belum tahu namamu. Apakah kamu bisa menyebutkan namamu?" Tanya Paman Roman itu pada remaja itu.
Remaja itu hanya terdiam. Ia tidak akan memberi tahu namanya pada Paman Roman. Dia tidak mau Paman Roman mengetahui namanya. Karena nama sebenarnya adalah … Reinhardt Elizabeth V.
Paman Roman tertawa. Ia merespon,"Kau malah seperti Regen pada saat itu. Dasar Anak Muda! Jadi, aku akan mencari nama yang bagus untukmu." Sambil mengambil kertas HVS tebal dari kantong Doraemon yang ia beli seharga $1300.
Paman Roman menuliskan nama di kertas HVS tebal dan memperlihatkan senyumannya pada remaja itu. Ia sudah memberikan sesuatu yang penting pada remaja itu.
Remaja pun mengangguk sebagai tanda setuju dari orang itu. Ia sangat menyukai nama itu. Nama itu akan terdaftar sebuah kartu identitas di Rusia.
"Sudah kuputuskan! Mulai sekarang, namamu adalah Rivandy Lex!" Putus Paman Roman pada remaja itu.
Paman Roman menjenguk remaja itu dengan sebutan nama yang akan digunakan sampai mati.
Nama remaja itu adalah Rivandy Lex.
[*^*]
Beberapa bulan kemudian, mereka keluar dari rumah sakit lalu menuju ke rumah yang cukup besar. Mereka segera masuk dan menjalani kehidupan mereka.
Pada saat musim gugur di Moskow, remaja itu menghabiskan waktunya untuk membaca, memasak, dan membersihkan rumah. Ia tidak terlalu memperdulikan kesenangan sementara. Jadi, dia selalu mendapatkan sesuatu yang baik.
__ADS_1
Paman Roman menguji masakan remaja itu. Ia sangat menikmati masakan yang telah dicoba oleh remaja itu. Remaja itu menerima pujian itu. Ini terlalu berkaitan pada sebelumnya. Tapi, remaja itu tidak memperdulikan masa lalu lagi.
Paman itu tertawa. Ia mengoceh,"Aku sangat pintar memasak, Rivandy. Regen sangat payah memasak. Jadi, kami harus keluar rumah setiap saat. Tapi, tidak kali ini karena kamu selalu memasak dengan baik."
Dengan kata itu, remaja itu semakin menjadi lebih baik. Dia menjalani kehidupan menghangatkan hati dan suasana rumah itu.
Pada musim dingin, remaja itu jatuh sakit karena penyakit hipotermia yang akan menyerangnya. Jadi, dia hanya bisa tertidur di ranjang dengan suhu tubuhnya yang semakin menurun..
Paman itu sangat prihatin karena remaja itu mengidap sebuah hipotermia. Ia memeriksa tubuh remaja itu dan menyalakan kotatsu saat remaja itu tertidur dengan lelap.
"Dasar lemah! Salju saja bisa mengalahkanmu. Aku jadi teringat pada Regen yang sangat lemah pada musim dingin. Aku sampai kewalahan dalam merawatnya. Bahkan, dia seperti anak bayi saja."
Saat itu, membuat remaja itu istirahat sejenak. Paman Roman segera merawatnya dan menidurkan remaja itu di kotatsu yang hangat.
Ketika ujian akademi telah selesai. Remaja itu menerima surat dari pihak akademi. Paman itu sangat senang dengan pencapaian itu. Dia bersukacita dengan hasil remaja itu dapatkan.
Saat itu, remaja itu melihat notifikasi dari surat itu. Hasilnya cukup memuaskan karena remaja itu sering membaca buku pada saat waktu luangnya.
[Akademi Militer Spyxtria
Rivandy Lex
Ujian Peringkat 3
Peringkat 1 : Rivandy Lex
Peringkat 2 : Nina Alpenliebe
Peringkat 3 : Shiori von Zuckerberg.
Nilai Akademi : A+ (97,01/100)
Kelas akan diumumkan pada tanggal 1 September 2025]
Dengan itu, remaja itu akan masuk ke akademi yang akan membuatnya menjadi lebih mandiri lagi.
[*^*]
...[Rivandy Lex Point of View]...
Setelah menerima pesan dari paman itu sebelum pergi, aku memutuskan untuk membeli apartemen yang cukup mahal. Aku mencari apartemen yang modern dan bisa bersantai dalam waktu yang lama.
Beberapa hari kemudian, aku keluar dari apartemen untuk mengelilingi kota Moskow yang sudah lama tidak aku kunjungi. Aku mengeksplorasi tempat yang akan aku tinggali untuk beberapa tahun ke depan. Ini akan menjadi sebuah cerita yang akan tertulis dengan ketukan keyboard.
Aku berjalan memandang sekitar. Kota Moskow yang asri dan bersih. Tidak ada gelandang, preman, dan anak remaja nakal yang suka mencoret dinding fasilitas. Semua sudah dibersihkan oleh Presiden Rusia yang cukup bijak untuk mengatasi hal yang seperti itu.
Saat ingin memasuki bangunan kosong, ada seseorang yang menahan pergerakanku agar pandanganku tertuju pada seorang wanita dewasa yang akan mendekatiku.
"Mau kemana, Sayang?" Tanya wanita itu tersenyum dengan lipstik yang ia kenakan.
"E..." Aku tidak bisa berpikir keras karena tatapan wanita itu terlihat seperti seorang kakak yang sudah dewasa.
"Tidak boleh, Sayang! Kamu tidak boleh seenaknya masuk tanpa izin," tegurnya masih memegang tanganku.
"Karena kamu datang kesini, ikuti aku! Aku ingin menceritakan sesuatu padamu," ucap wanita itu berjalan seperti model. Aku hanya mengikuti wanita yang seksi menuju cafe.
Aku dan wanita itu menuju ke cafe untuk membicarakan sesuatu. Aku tidak mengerti kenapa aku diseret oleh wanita itu. Tapi, tidak ada pilihan lain. Aku harus mengikutinya.
[*^*]
Di sebuah cafe, aku dan wanita itu duduk di nomor meja yang sama dan menghadap. Saat itu juga, layar pemesanan pun diperlihatkan. Wanita itu memilih Blackcurrant, sementara aku Coffee White Cream.
Setelah menunggu sambil memandang wanita itu, Coffee White Cream dan Blackcurrant sudah berada di atas meja. Aku mengambil kopi itu dan bertanya, "Ada yang bisa kubantu?"
"Kamu pasti Rivandy Lex, iya`kan?" Tanya Wanita itu menebak namaku.
"Iya. Itu aku," jawabku singkat sambil tertunduk.
"Oh iya. Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Cherry Spyxtria. Kepala Sekolah Akademi Militer Spyxtria," papar wanita itu penuh percaya diri.
"Oh, begitu," responku sambil menyeruput kopi itu.
"Eh? Kamu tidak terkejut? Reaksimu cuek sekali," rengek Dr. Cherry manja dan menggoda seperti seorang Oneesan MILF.
"Oh, iya. Kamu mau masuk ke bangunan kosong itu. Kenapa?" Tanya Dr. Cherry penasaran.
"Aku hanya iseng aja," jawabku mengalihkan pandangan darinya.
"Aku akan menceritakan sesuatu, Sayang. Jadi, dengarkanlah aku, ya!" Perintah Dr Cherry dengan senyuman lipstik yang menggoda.
Aku pun mengangguk dengan tanda mengerti. Dr. Cherry pun menceritakan sesuatu padaku. Aku mendengar cerita itu sambil meminum kopi. Tiba-tiba, cerita itu membuatku tertekan.
Sebuah tekanan itu membuatku ingin mengucurkan air mataku. Aku tidak mengerti ada yang mengetahui identitasku yang sudah diubah oleh Paman Roman setahun yang lalu. Aku tidak tahu kenapa dia menceritakan itu padaku.
"Hah?!" Aku pun terkejut dengan ucapan itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengetahui identitasku? Padahal, aku tidak mau mendengar itu lagi!" Aku semakin tak terkendali karena sebuah cerita yang wanita itu ceritakan padaku.
Dr. Cherry menjadi riang setelah bercerita ia menyeka, "Ara-Ara! Maafkan aku! Aku memang nakal harusnya aku tidak menceritakan ini padamu. Jadi, lupakan saja!"
Karena aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku pun memutuskan untuk pamit dari Dr. Cherry. Aku harus meninggalkan cafe sebelum hal yang buruk terjadi lagi padaku.
Wanita itu mengucapkan selamat tinggal sambil mencium pipiku sebagai tanda cinta dan kasih sayang sehingga pipiku penuh dengan bekas lipstik.
Setelah perbincangan yang intens di cafe, aku semakin tidak ingin mendengarnya dan mengucurkan air mata. Kini, hatiku sangat bercampur aduk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pembicaraan itu hampir membunuhku.
Aku harus kembali ke apartemenku atau memori buruk itu akan membunuhku.
Aku kembali ke apartemenku dan menuju ke kamar dan menahan air mataku di ranjang dengan memegang bantal dengan erat di tengah hari yang cerah itu.
[*^*]
1 September 2025, aku terbangun dari tidurku yang cukup empuk. Aku mempersiapkan diri untuk menuju akademi. Jam 05:32, fajar sudah menyingsing dan matahari terbit sebelah timur, musim panas telah berakhir dan musim gugur sudah tiba. Aku sudah menyiapkan diri. Mandi, sarapan, bekal, alat pelajaran, dan lainnya sudah ku persiapkan.
Akhirnya, aku berangkat dari apartemenku dan menuju ke Akademi Militer Spyxtria. Aktivitas Kota Moskow kembali ramai. Banyak dari sektor jasa bekerja untuk memperoleh uang. Begitu juga dengan pegawai magang dan kasir di swalayan.
Siswa-siswi dari 36 negara yang dipilih oleh PBB untuk sekolah di Akademi Militer Spyxtria. Usia yang memenuhi syarat adalah siswa yang sudah lulus SD di negara masing-masing dan melanjutkan sekolah menengah di Rusia dengan dokumen yang telah diseleksi dari negara masing-masing.
Dengan kata lain, Akademi itu adalah sekolah khusus sekolah menengah di Rusia.
Sistem pendidikan di Rusia menggunakan “sistem 4-5-3” dimana para siswa dan siswi di Rusia menempuh pendidikan SD selama 4 tahun. Setelah itu, mereka menempuh pendidikan SMP selama 5 tahun, dan menempuh pendidikan SMA selama 3 tahun.
Akademi Militer Spyxtria merupakan sekolah khusus militer dibawah naungan PBB. Jadi, Pemerintah Rusia bidang pendidikan dan kebudayaan, menetapkan akademi tersebut sebagai sekolah internasional dan menjadikan masa pendidikan yang ditempuh menjadi 3 tahun.
[*^*]
Sebelum sampai di ruangan kepala sekolah dengan berbincang sedikit di jalan, aku merasakan keributan yang terjadi di aula karena penampilan wanita itu yang sangat mencolok. Aku tidak mengerti ada apa dengan wanita itu sampai memanggilku di ruangan kepala sekolah.
Aku pun dipersilahkan masuk terlebih dahulu sebelum dia masuk terlebih dahulu. Aku masuk dan duduk di hadapan meja kerja kepala sekolah sembari melihat rak yang berisi buku dan penghargaan akademi.
Setelah beberapa detik berselang, Dr. Cherry pun mulai membuka dialognya, “:Rivandy, bagaimana dengan hari pertamamu? Apakah menyenangkan?"
“Biasa saja sampai kau membuat kondisi menjadi kacau karena kau terlalu … ” ucapku terpotong karena aku menahan malu.
“Terlalu apa?” Goda Dr. Cherry mendengar keraguanku.
“Ah Sudahlah! Aku malu. Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan dan berusaha untuk menahan rasa maluku.
“Sederhana saja. Aku memberikan sesuatu padamu. Ambillah! Jangan dibuka dulu!” Pesannya sambil memberikan kado kecil kepadaku setelah mendekatiku.
Aku membuka kado warna merah dengan tali warna hijau yang mengikat kado tanpa pikir panjang. Setelah.dibuka, aku terkejut melihat itu. Aku ingin sekali mengeluarkan air mataku secara deras, tapi menahannya karena aku tidak tahu caranya menangis.
Itu adalah foto Percobaan Apocalypse yang dipotret oleh rekan wanita itu.
“A-apa ini?” Aku hampir mengucurkan air mataku karena melihat foto itu.
“Huft! Sudah kubilang, jangan dibuka, dasar tuli!” Tegur Dr. Cherry mendekatiku.
“Aku tidak mengerti. Apa maksudmu mengirimkan foto ini kepadaku?” Aku menghindari pandangan itu ke bawah.
“Karena itulah, aku mengajakmu kesini untuk melindungimu dari segala ancaman,” jawabnya dengan serius sekaligus kasihan memelukku erat.
“Rupanya, kau adalah seorang alat dari bangsawan Inggris, bukan?” ucapnya terpotong mengelus kepalaku.
“Iya, itu benar.” Aku pasrah dengan pernyataan yang keluar dari mulut Dr. Cherry.
“Tapi, …,”” ucapanku terpotong membalas pelukan dari Dr. Cherry.
“... Jangan pernah beritahu kepada orang lain! Aku memohon dengan sangat. Pernyataan itu telah membunuhku,” pesanku kepada Dr. Cherry sudah seperti kakakku sendiri.
“Aku tidak bisa kemana-mana lagi,” cetusku yang sudah tidak ada harapan.
“Sudah! Yang penting kamu selamat untuk sementara. Aku akan melakukan sesuatu agar kamu bisa tenang untuk sementara. Sisanya tergantung padamu,” pesannya lemah lembut memelukku hampir mengucurkan air mata.
“Oh iya. Kamu boleh memanggilku Cherry-neesan,” lanjutnya sambil memperkenalkan diri.
“Iya, Cherry-neesan,” panggilku dengan nada pelan.
Kami berpelukan erat. Jika saja ada seseorang yang memasuki ruangan ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, aku akan hancur saat itu juga.
Setelah pelukan yang hangat menenangkanku, Neesan membicarakan sesuatu padaku mengenai kelas yang sudah dibagikan.
Aku mendapatkan kelas A dengan 23 murid yang tidak ku kenal. Aku cukup tenang sekaligus was-was dengan nama itu. Setelah melihat kelas itu, aku bangkit dari pelukan itu dan bertanya, “Cherry-Neesan. Jika saja aku dikelilingi oleh banyak gadis, apa yang kamu lakukan?”
“Aku akan merayu mereka agar kamu tidak bisa dikelilingi oleh para gadis itu,” jawabnya dengan sedikit menunjukkan aura sadisnya.
“Oh, begitu. Aku akan ke kelas sekarang juga. Aku tidak boleh terlambat ke kelas kali ini,” pamitku ingin ke kelas.
“Satu lagi, dibalik foto itu, ada alamat di restoran bintang 5. Aku harap kamu akan datang jika kamu memiliki waktu luang,” pesan Cherry-neesan sebelum aku meninggalkan ruang kepala sekolah.
:Um. Aku akan ke sana jika ada waktu untukmu.” Aku undur diri dari ruangan kepala sekolah dan bergegas ke kelas.
__ADS_1
Masa lalu berakhir dan Kembali ke tanggal 2 April 2026.