Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Agen Rahasia : BIN 1,2


__ADS_3

"Apa tujuanmu? Tindakanmu mencurigakan. Kamu malah membela orang yang salah." 


"Kenapa kau tidak mencurigai Chelsea? Kamu malah tidak bertindak lanjut sejak Insiden Veltron terjadi bersamaan dengan juaranya Chelsea pada MVP BLUE tahun 2024." 


Pertanyaan yang menyudutkan Cherry. Namun, bukan berarti Dr. Cherry akan mundur. Ia tetap menjawab pertanyaan itu meskipun hatinya terasa berat.


"Eh?! Itu ..."


"Aku tidak melakukan tindakan yang mencurigakan. Soal aku melindungi pangeran itu adalah aku tidak ingin keributan terjadi terus terjadi di akademi. Dia milikku dan tidak akan kubiarkan dikeluarkan dengan alasan tidak jelas."


"Kalau Regen, siswa yang suka main hakim sendiri, aku tidak ingin ia membuat masalah. Katena dia, kepala sekolah sebelumnya menjadi frustasi karena Israel tidak akan mengirimkan siswa dan siswi ke akademi dan menarik semua warga negaranya kembali ke tanah airnya."


"Israel kan menjajah Palestina. Ada pro kontra mengenai ini. Indonesia salah satunya. Harusnya kamu bahagia karena Israel tidak akan ke akademi lagi."


"Aku tidak tahu Chelsea adalah Weiss. Soalnya, itu masih wacana. Aku lebih memilih Ephixna yang menjadi anggota Weiss. Karena dia selalu mengadakan prostitusi di Cina."


"Kita tidak akan tahu kalau dibalik Insiden Veltron itu. Aku tidak peduli kalau insiden ini memakan banyak korban yang tidak sedikit."


"Dasar jahat! Kau malah membuat hal yang seperti itu. Kau tidak tahu banyak orang yang menderita karena itu." Kanjeng Mami mengecam Cherry karena menyindir Cina.


"Eh? Cina yang memberikan Corona pada sebagian besar negara. Jadi, ini balasannya. Udah capek-capek memberikan harta, eh malah memberikan dengan Corona pada tahun 2020. Kasihan."


"Florentino, Ketua Agen PBB dari Italia mengungkapkan bahwa Cina sudah melanggar banyak peraturan. Mengambil Natuna, menyebarkan tenaga kerja ke negara lain, dan lain sebagainya."


"Kasus yang parah terjadi pada negara Singapura yang didominasi oleh Inggris dan Cina. Itu memang tidak bisa dibiarkan kalau negara lain didominasi oleh mereka juga."


"Itu yang ia dapatkan. Aku ingin berharap Insiden Veltron akan terjadi untuk kedua kalinya. Ups! Aku cuman bercanda. Mana mungkin aku berpikiran seperti itu!" Cherry menahan tawanya meskipun percuma.


"Begitu yah. Aku paham apa yang anda lakukan. Setidaknya, kau harus menjaga mulutmu karena selalu menyindir." Kanjeng Mami menghela nafasnya.


Sekarang berbalik lagi. Cherry bertanya dengan Kanjeng Mami.  Dr. Cherry akan membuat serangan mutlak.


"Ada 3 pertanyaan untukmu. Apakah kedatanganmu kemari? Apa yang ingin kamu lakukan? Kenapa kamu memberitahuku tentang Stella dan Syaffa?"


"Aku, Sule, dan Makmur datang ke sini untuk suatu hal yang penting. Aku akan melindungi Bella sampai Stella datang ke akademi. Kalau Stella gak lolos seleksi, Bella tidak memiliki perlindungan lagi."


"Eh, bukannya Bella sudah dapat pacar? Jadi, gak perlu ada pengawasan lagi. Kan ada Rivandy."


"Ini tidak cukup! Masih banyak yang akan mengincar Bella. Perusahaan Besar di Cina bisa saja menculik Bella dan menggunakannya dengan seenaknya."


"Kedua. Aku ingin mengawasi Chelsea Arslan. Meskipun dia dicurigai anggota Agen Pemberontakan, selama menjadi Ace Spyxtria, yang bisa kulakukan hanyalah mengawasinya."


"Aku juga ingin mencari kasus kehancuran PT Putra Jaya. Mungkin, aku akan mendapatkan petunjuk mengenai kasus ini."


"Stella atau Syaffa. Mereka memiliki potensi untuk mengikuti jejak Chelsea Arslan. Seandainya mereka memenuhi 3 syarat secara mutlak, mereka mendapatkan julukan Ace Spyxtria."


"Syarat pertama, dia harus menjadi Champion pada Turnamen Spyxtria semester 2."


"Kedua,  dia mendapatkan juara 1 dalam Ujian Kenaikan Minimal  satu mata pelajaran mendapatkan nilai sempurna."


"Terakhir, yang terpenting dari semua kriteria di atas adalah ..." Hembusan angin menghalau lontaran kata Kanjeng Mami.


"Itu alasanku datang kemari."


Ucapan terakhir dari Kanjeng Mami telah berakhir. Dr. Cherry memutuskan memberikan ruang pada Kanjeng Mami. Asalkan tidak mengganggu adiknya. Itu sudah cukup.


"Oh begitu. Kau boleh menetap di Moskow dengan waktu yang ditentukan. Setelah itu, kamu boleh pergi ke Jakarta."


"Aku sudah menyiapkan ruangan mansion yang bagus untukmu. Kau bisa menetap untuk sementara waktu." Dr. Cherry memberikan ajakan pada mata-mata yang dianggap sebagai sahabat.


"Tidak. Terima kasih. Aku sudah bilang bahwa aku sudah memesan kamar hotel selama beberapa bulan."


"Sule! Makmur!"


Mereka berdua terbangun oleh teriakan Kanjeng Mami. Sule dan Makmur


"Bujung buset! Kaget ane! Dikira mau perang apa."


"Kanjeng Mami. Sudah gosipnya belum? Mau main sama Mbak Bahenol," lanjut Makmur mengucek matanya.


"Kita balik! Sebelum itu, kita cari Bella dan lainnya. Mereka menunggu kita."


Sule dan Makmur kecewa karena harus meninggalkan ruangan kepala sekolah.


"Gak mau, Kanjeng Mami! Aku mau main sama Mbak Manis ini." Sule  memegang kaki Kanjeng Mami sambil memohon.


"Tidak! Mbak Cherry mau main sama kita." Makmur merengek ingin main sama Cherry.

__ADS_1


"Diamlah kalian! Pekerjaan kita banyak tahu!"  Kanjeng Mami meneriaki di kepala mereka.


Tidak ada pilihan lain. Mereka harus meninggalkan Cherry untuk menjalankan tugas sebagai mata-mata. Mereka harus menyembunyikan identitas mereka agar tidak ketahuan.


Sebelum mereka pergi, Cherry memberikan pesan terakhir pada sesama Oneesan MILF untuk tida merayu seorang yang bisa didekati banyak gadis


"Satu lagi. Jangan menggoda Rivandy yah! Dia akan terangsang jika kamu membawanya ke ranjang."


"Aku tidak akan mengganggunya. Kalau Si Pelakor Murahan itu, dia pasti akan merayunya dan memanfaatkannya."


Setelah mereka pergi, Dr. Cherry kembali dengan pekerjaannya. Ia juga akan berkeliling di sekolah sambil menyambut siswa dan siswi di saat tugas dokumen PBB telah selesai.


[***]


Anivesta Bella Point of View


Jam 10:05, aku pergi ke kantin bersama dengan keempat temanku. Shiori harus mengikuti jadwal Klub Pemandu Suara.  Kotori menghilangkan entah kemanapun. Mungkin dia bersama dengan Rivandy.


Di tengah perjalanan, aku melihat tiga sosok di depan mataku. Mereka berempat bertanya pada sesama mereka. Siapa di depan sosok itu?


Andika dan Yudha mengenal seseorang di depan mataku. Andika maju ke depan dan mulai mengeluarkan sebuah teriakan.


"Wah! Sule! Makmur! Kau rupanya!" Andika berseru karena mengenal mereka.


"Andika! Yudha!"


Mereka menghampiri satu sama lain. Para wanita hanya terdiam dari belakang. Hanya menatap satu sosok yang tersisa.


Setelah mereka mendekati, Andika mulai menari seperti orang gila. Mereka berdua membuatku muntah. Tapi, aku mengenal lagu yang mereka nyanyikan.


Seolah-olah itu merupakan bagian dari memoriku.


Lirik Lagu Ampar Ampar Pisang.


Ampar ampar pisang


Pisangku belum masak


Masak sabigi dihurung bari-bari


Masak sabigi dihurung bari-bari


Patah kayu bengkok


Bengkok dimakan api


apinya canculupan


Bengkok dimakan api


apinya canculupan


Jari kaki sintak dahuluakan masak


Jari kaki sintak dahuluakan masak


Ampar ampar pisang


Pisangku balum masak


Masak sabigi dihurung bari-bari


Masak sabigi dihurung bari-bari


Mangga ricak mangga ricak


Patah kayu bengkok


Tanduk sapi tanduk sapi kulibir bawang


Tanduk sapi tanduk sapi kulibir bawang


Nang mana batis kutung dikitip bidawang


Nang mana batis kutung dikitip bidawang


Belum puas. Mereka menyanyikan lagu daerah khas Papua.

__ADS_1


Lirik Lagu Yamko Rambe Yamko.


Hee yamko rambe yamko aronawa kombe


Hee yamko rambe yamko aronawa kombe


Teemi nokibe kubano ko bombe ko


Yuma no bungo awe ade


Teemi nokibe kubano ko bombe ko


Yuma no bungo awe ade


Hongke hongke hongke riro


Hongke jombe jombe riro


Hongke hongke hongke riro


"Dasar! Mereka selalu begini." Farah menggelengkan kepala karena tingkah konyol mereka berempat.


"Sudahlah. Yang penting lagu daerah belum punah." Wulan tersenyum maklum dengan tarian itu.


"Sepertinya, aku akan muntah bukan karena lagu. Itu karena urat maluku pecah melihat tarian mereka. Terlalu norak." Aku merasa ilfill dan hanya memandang mereka dengan mata kosong


"Apa hubungannya muntah dengan urat malu?"


"Aku tidak tahu. Mereka memang seperti itu." Wulan menjawab sambil mengangkat bahu sebagai tidak tahu.


Di tengah tarian yang memalukan itu, seorang wanita datang menghampiri kami, sosok wajahnya dan tubuh yang seksi, memanggil suara yang tegas. Sama seperti seorang Kopassus.


"Anivesta Bella." Seorang wanita memanggil namaku.


"Eh?"


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Farah sopan pada wanita itu.


"Maafkan aku tentang kedua orang bodoh itu! Aku ingin bertemu dengan kalian."


"Tidak apa. Aku juga minta maaf atas kedua orang bodoh itu lagi." Aku melakukan hal yang sama.


"Sebelum itu, aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Kanjeng Mami. Mereka adalah Sule dan Makmur. Kalian tidak perlu berkenalan diri karena aku sudah tahu nama kalian." Kanjeng Mami menunjuk orang yang menari.


"Kau pasti BIN." Aku menebak karena tidak mungkin Kanjeng Mami adalah nama asli.


"Benar sekali. Aku datang ke sini untuk mengajukan beberapa pertanyaan pada kalian. Tapi, kita harus ke kantin dulu. Aku lapar sekali. Ingin makan seblak." Kanjeng Mami memegang perutnya yang seksi.


Farah dan Wulan tertawa kecil. Wanita seksi suka makan seblak.


"Yee. Itu sih adalah hal yang kusuka. Aku suka seblak."


"Aku tidak bisa bertahan hidup tanpa seblak sekalipun." Wulan mengungkapkan kecintaan akan seblak.


"Kalian memang tidak sehat. Kalau kalian ke rumah sakit, aku tidak akan membayar kalian."


Mataku tertuju pada mereka dengan malas. Terpaksa aku memanggil mereka agar tidak menjadi pusat perhatian oleh siswa dan siswi yang lain.


"Andika! Yudha! Aku akan meninggalkan kalian!" Aku berseru kepada mereka sibuk dengan tarian konyol.


Mereka pun menghentikan tarian reuni dan bergegas untuk menghampiriku.


"Tunggu aku, Bella!" Andika dan Yudha mengejarku.


"Kanjeng Mami! Jangan pergi! Aku gak bisa hidup tanpamu!" Sule berubah jadi cowok yang alay.


"Aku gak bisa hidup dengan tamparan susu yang nikmat!" Makmur menjadi bergairah.


"Terus saja mengoceh! Kalian aku gampar nanti!"


Ah. Ternyata mata-mata itu sama denganku. Selalu tidak bisa menjauh dengan dua orang bodoh itu. Mungkin Rivandy akan selalu lengkap bersama mereka.


Tidak ada yang lain. Hanyalah keseharian yang normal dengan dua lelaki yang aneh, dan dua cewek yang selalu menghabiskan uang hanya untuk seblak.


Aku malah teringat orang yang selalu suka makan seblak. Saking sukanya, dia tidak mau pakai baju kalau gak ada seblak.


Aku tidak tahu siapa orang itu. Yang pasti dia orang yang cukup penting bagiku.

__ADS_1


__ADS_2