Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Sheeran Chezka 1,2


__ADS_3

23 Desember 2025, jam 08:00, kami naik kereta api meninggalkan stasiun kereta. Aku dan Sheeran duduk bersama di dalam kereta. Kereta yang dipesan Sheeran adalah kereta umum. Suasana gerbong kereta menjadi sepi di dalam, namun sangat bising di luar. 


Ini mirip dengan kereta pada tahun 1925. Aku baru mengetahuinya dari sebuah buku yang telah kubaca dari PDF. Kereta itu adalah kereta yang modern. Meskipun begitu, nuansanya seperti pada masa peralihan antara Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.


Ini pertama kali aku pergi menggunakan kereta bersama seorang gadis. Kereta ini adalah salah satu kendaraan yang dapat meninggalkan kota Moskow.


Aku menatap keluar jendela. Sheeran hanya sibuk dengan menatap layar ponselnya sambil mencari sesuatu. Tempat ini cukup hangat. Aku bukan orang Rusia yang bisa bertahan hidup di cuaca yang dingin itu. Aku merasa dilemahkan musim dingin. 


Hal yang bisa kulakukan saat ini hanyalah duduk dan membaca novel. Aku sudah mengecek semua notifikasi di ponselku. Aurora dan Akishima sudah sampai di tempat tujuan mereka. Mereka mengirimkan tempat yang mereka kunjungi padaku. Aku mendownloadnya dan membalas pesan mereka.


Sheeran menutup ponselnya dan menyimpannya di jas musim dinginnya. Dia melihatku yang sedang membalas pesan di ponselku. Ia khawatir jika terjadi sesuatu padaku dan bertekad untuk melindungiku dari serangan musim dingin yang liar itu.


Ketika kereta keluar dari Moskow, dia menempatkan kepalanya di bahuku. Rasa cemasnya memegang mantel yang ku kenakan. Aku tidak menoleh padanya dan segera meneruskan pesan yang aku balas dari Telegram. 


Pada saat keheningan itu, Sheeran mulai membuka suaranya. Ia memanggilku dengan nada pelan di tengah ketenangan penumpang lainnya. Sheeran mulai mendekat padaku.


“Rivandy,” panggil Sheeran memegang mantelku.


“Iya,” sahutku.


“Maaf telah membuatmu begini. Aku terpaksa melakukan ini. Aku berjanji agar terus menjagamu,” ucap Sheeran sambil memelukku dengan erat. 


“Umu,” responku menerima tekad itu.


“Aku merasakan aku melakukan hal yang salah padamu. Kita seperti seorang pasangan yang lari dari orang tua pada film drama,” curhatnya.


Aku mendengar curhatan itu walaupun Sheeran menahan perasaan. Dia sepertinya tidak baik-baik saja. Aku mencoba untuk akrab dengannya. Tidak ingin keheningan yang berlebihan ini. Aku harus bertanya mengenai tujuan Sheeran.


“Aku ingin bertanya. Kita akan kemana?” Tanyaku pada Sheeran.


“Ke kampung halamanku,” jawab Sheeran sambil menidurkan diri di pangkuanku.


“Kita akan sampai di sana. Kau akan mengetahuinya,” gumam Sheeran


Aku hanya terdiam dengan jawaban itu. Aku segera menatap dengan Sheeran yang sedang tidur di pangkuanku. 


Rasanya aku kawin lari bersama Sheeran. Dia juga merasakan seperti itu. Aku adalah salah satu harapan bagi Sheeran, jika aku tidak ada, maka Sheeran tidak bisa lolos dari zona merah.


[*^*]


Jam 21:23, perjalanan kereta yang cukup jauh. Kami sampai di Voronezh, Rusia. Itu adalah sebuah kota di Selatan Rusia. 


Kami turun dari kereta dan berada di stasiun kereta kota tujuan. Rasanya ingin ke tempat yang aman.


“Sheeran. Kita pesan hotel. Nanti besok, kita lanjutkan perjalanan kita,” usulku.


“Tidak boleh!” Larang Sheeran untuk istirahat di hotel.


“Kita harus jalan sebelum lebih buruk lagi,” lanjut Sheeran menjadi suram.


“Tapi, aku ….” Aku mencela.


“Aku tidak mau ke hotel. Kita harus melakukan perjalanan secepat mungkin. Aku tidak mau tertunda oleh waktu saat ini,” cekal Sheeran menahan air matanya.


“Aku akan memesankan bus ke stasiun agar kita bisa ke desa besok. Tunggu saja di sini! Aku akan kembali,” pamit Sheeran segera menuju ke loket karcis untuk mendapatkan tiket bus.


“Um."


Aku hanya mengangguk pelan dengan Sheeran meninggalkanku. Aku menunggu sambil duduk di ruang tunggu dengan mengisi baterai ponselku. Aku membawa pengisi baterai sementara agar aku bisa mengisi baterai. Aku harap ini bisa penuh dan bisa digunakan.


[*^*]


Jam 21:40, aku sudah menunggu sejak lama. Udara dingin terus menyerangku. Kondisi ini membuatku mati dengan cepat. Aku berusaha untuk menghangatkan diriku. Namun, percuma. Aku butuh orang lain agar bisa menghangatkan diri.

__ADS_1


Pada saat itu, Sheeran kembali dengan semakin suram. Memegang tiketnya yang terpasang di ponsel miliknya. Dengan sistem QR, dia tidak khawatir dengan kehilangan barang bawaannya.


"Rivandy. Ayo! Kita lanjutkan lagi! Aku sudah memesankan bus untuk kita berdua,” ajak Sheeran memegang tiketnya.


“Sheeran! Tolong cium aku!” Rengekku sambil ingin dipeluk.


“Tch! Kau seperti anak bayi,” umpatnya mendengar rengekanku.


Sheeran menciumku secara terpaksa dan tubuhku terasa panas secara otomatis lalu melepaskan ciuman dan membantuku untuk berjalan. Kami berjalan dengan uluran tangan dan s


berlalu kw stasiun bus.


Akhirnya, kami tiba ke stasiun bus dan menaiki sesuai dengan bus itu. Aku dan Sheeran mendekati pintu bus lalu menyerahkan QR miliknya kepada bus yang sudah terpasang di depan pintu. Karena itu, kami bisa masuk ke tempat duduk yang cukup nyaman untuk kami berdua.


Bus yang kami tumpangi sudah dilengkapi dengan toilet dan penghangat ruangan. Ada WIFI yang bisa diakses pada bus itu meskipun ini kelas ekonomi. Jika kelas bisnis, ada sebuah gear untuk menghibur kami. Entah itu digunakan untuk televisi atau semacamnya.


Bus berangkat pada jam 22:11. kami lega dengan perjalanan itu. Aku merasa lebih baik pada suhu udara yang menghangatkan itu. Sheeran  terus-menerus memaksakan diri agar menjaga keselamatanku.


Padahal, dengan menginap di hotel kami bisa melakukan perjalanan untuk besok. Namun, Sheeran melarangku. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Aku merasa ada yang aneh dalam dirinya. 


Sheeran hanya terdiam saja dengan tekanan itu. Dia sedang tidak mood atau semacamnya. Aku selalu minum air putih agar suhu tubuh tetap berada dalam 36 derajat Celcius. Aku menatap suasana kota Moskow yang cukup dingin. 


Kami tertidur dengan berpaling dari satu sama lain. Kami bersentuhan karena Sheeran marah padaku. Padahal, aku menyarankan untuk menginap di hotel. Namun, aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya mengikuti perkataan Sheeran saja.


[*^*]


24 Desember 2025, jam 05:12, bus sampai di sebuah tempat stasiun bus. Aku dan Sheeran terbangun ketika bus menghentikan lajunya. Kami membuka mata dan mengemas barang kami lalu segera meninggalkan bus yang berhenti.


Kami pun turun dari bus dan istirahat terlebih dahulu sebelum kami pergi ke tempat yang Sheeran tuju, kampung halamannya. Aku berjalan bersama dengannya tanpa perbincangan sekalipun. Hanya berdiam diri dengan menahan perasaan kami. 


Kebetulan, ada sebuah pemandian air panas dekat stasiun bus. Dengan tempat yang kebetulan, kami menuju ke tempat pada sepagi itu. Aku tidak yakin pemandian itu buka pada jam sepagi itu.


“Rivandy. Aku mau mandi. Kamu boleh ikut mandi bersamaku,”  ucapnya dengan suram.


Kami tiba di pemandian yang cukup ramai. Tidak terlalu memperdulikan suasana yang ramai dengan orang di berbagai kalangan. Kami langsung menuju ke resepsionis. Sheeran menyuruhku untuk tetap di belakangnya. Aku hanya menerima perintah itu. 


“Selamat datang di pemandian ini! Ada yang bisa kubantu?” Tanya pelayan itu mengeluarkan aura sopan.


“Aku pesan kamar mandi. Untuk sepasang suami istri,” pesan Sheeran kepada pelayan resepsionis itu.


“Sebelum itu, silahkan isi nomor kartu identitasnya!” Pinta memberikan data kepada Sheeran.


Sheeran mengeluarkan surat nikah yang palsu untuk mengisi nama. Sheeran juga sudah mendapatkan kartu identitas sejak masuk akademi. Aku hanya berdiri di belakang Sheeran dan tidak terlalu ingin banyak aksi dan bicara.


“Suratnya sudah diterima. Silahkan dinikmati pemandiannya!” Lontar pelayan itu dengan senyuman nya setelah melihat data yang sudah diverifikasi.


Aku dan Sheeran berterima kasih pada resepsionis. Kami menuju ke tempat pemandian air panas untuk membersihkan tubuh kami. Aku diseret olehnya dan segera menyimpan barang bawaan kami sebelum ke kamar mandi untuk suami istri.


Tidak kusangka Sheeran melakukan itu. Dia menggunakan surat nikah yang palsu agar mendapatkan tujuannya. Dia menipu pelayan itu. Lebih baik aku dam saja.


Kamar mandi, kami membuka pakaian kami dan bergegas menuju bathub lalu mencoba untuk mendekatkan diri sebelum melakukan perjalanan yang sebentar lagi tiba.


Rivandy,“ panggil Sheeran.


“Iya,”


“Apakah kamu merasakan kehangatan di tubuhmu?” Tanya Sheeran.


“Umu,”


Suasana hening terjadi. Kami di ruangan yang sama dengan tubuh kami yang direndam oleh air panas. Aku tidak akan melakukan apapun yang menyakiti Sheeran. Mungkin dia sedang menstruasi. Sudahlah! Aku hanya menerimanya.


“Biarkan aku menggesekkan punggungmu! Sebagai istri masa depan, aku harus merawat suami yang kedinginan,” jawab Sheeran.

__ADS_1


“Eh? Tidak usah repot-repot. Kau tidak melakukan itu,” tolakku tidak membebankan Sheeran.


“Biarkan aku melakukan itu untukmu! Kau diam saja,” pinta Sheeran memarahiku.


Aku hanya pasrah dengan amarah seorang gadis yang biasanya mesum. Aku membalikkan badanku dan dia mengambil beberapa sabun dan menggosok punggungku. Beban yang cukup berat pada gadis mesum sampai-sampai dia melakukan sejauh ini untukku.


“Kenapa kamu … ?” Tanyaku dipotong Sheeran.


“Kamu kedinginan. Kamu berusaha terlalu keras. Aku tidak sadar kalau punggungmu sangat kedinginan. Jadi, aku ...akan menggosokkan punggungmu,” jelas Sheeran terus menerus menggosok punggungku.


“Iya,”


Setelah mandi dan berendam air panas, kami mengeringkan tubuh dengan handuk. Sheeran mengeringkan tubuhku dan membersihkan tubuhku dengan handuknya. Dia juga mengenakan pakaiannya lalu ia mengenakan pakaian padaku.


Setelah berpakaian, kami keluar dari kamar mandi dan segera membayar ke resepsionis. 


[Tagihan]


[Pemandian Air Panas]


[1 jam Kamar mandi untuk Suami Istri -- ₽ 1200]


[--------------------------------------------------------------]


[Total Pembayaran                               -- ₽ 1200]


Aku menggunakan Kartu Kredit VISA milikku untuk membayar tagihan itu. Namun, pada saat itu, ....


“Tidak boleh! Aku akan membayarnya,” larang Sheeran melihatku memegang kartu kredit.


“Tapi, aku khawatir kamu ….” Aku berusaha mencela.


“Sudah! Turuti saja perintahku!” Sheeran marah padaku.


Aku terdiam dan membiarkan Sheeran membayarnya.


“Maaf menganggumu, ini uangnya,” sodor Sheeran memberikan uangnya pada pelayan itu.


Pelayan itu menerimanya dengan ikhlas dan segera berterima kasih pada mereka. Kami pun segera meninggalkan pemandian air panas dan berjalan ke tempat yang Sheeran tuju. Aku hanya menerimanya dengan terpaksa dan mengikuti perintahnya.


[*^*]


Jam 06:56, kami berjalan tanpa kelelahan. Kami berjalan di tengah hutan dengan jalan kecil yang menelusuri jalan. Aku sudah memastikannya di handphone dan menyalakan Google Maps agar kami tidak tersesat. Sheeran juga sudah mengambil tindakan untuk mengetahui arah yang benar. 


Dia sudah meninggalkan desa itu sebelum menjadi seorang siswi di Akademi Militer Spyxtria. Dia mendapatkan apartemen di Toko Bunga Anita dan menjalani kehidupan akademi. Kemudian, bertemu denganku di taman. Aku tidak sengaja menciumnya di sana. Oleh karena itu, dia mengenalku. 


Kami berjalan di tengah paparan udara dingin yang cukup sepi. Tidak ada orang yang mengetahui jalan apa yang menuju ke sebuah tempat. Aku tidak yakin Google Maps mendeteksi lokasi dengan baik. Tapi, aku percaya dengannya dan Sheeran mengenai arah menuju ke tempatnya.


Aku ingin bertanya kepada Sheeran mengenai desa yang ia tinggal sejak kecil. Namun, ia tidak menjawabnya. Aku berusaha untuk membujuknya agar mendapatkan jawaban. Namun, dia memarahiku. Dia juga mengancamku agar membuangku di danau yang dingin itu. 


Danau yang membeku itu dapat membunuhku. Aku bisa mati dengan paparan udara dingin. Oleh karena itu, aku tidak tahu mengenai permainan ski dan semacamnya. Hanya Akishima yang tahu tentang itu.


Dengan terpaksa, aku mengikuti perintahnya dan mendapatkan larangan yang cukup tegas pada Sheeran selama perjalanan. Terkadang dia melakukan ancaman padaku. Aku tidak mengerti lagi dengan kondisi emosinya.


Akhirnya kami tiba di suatu desa yang cukup terpencil. Sebuah desa yang ditinggali hanya 70 orang saja. Tampang dari semua penduduk desa itu adalah menengah ke bawah. Aku terkejut dengan pemandangan yang tidak biasa. Bukan pemandangan yang indah dan menenangkan itu. Namun, dibalik indahnya, ada sebuah kondisi yang membuatku prihatin.


Jam 08:23, kami berjalan menghampiri desa yang terpencil dan indah. Kami berjalan dengan setapak di tengah musim dingin. Aku tidak mengerti dengan aturan ini. Ini jelas membunuh anak kota. Aku juga melihat desa yang miskin dan terbengkalai.


Tak lama kemudian, ada seorang anak yang berseru pada aktivitas desa yang cukup sibuk. Mereka berbondong-bondong dan menghampiri Sheeran yang pulang. Mereka yang tahu dan cukup berumur segera menghampiri Sheeran dan mengucapkan selamat datang.


Semua penduduk melihat Sheeran tiba mengucapkan selamat datang. Sheeran dengan senyuman palsunya menyahutnya dengan baik. 


Setelah sambutan dengan senyuman palsu, kami segera menuju ke rumah Sheeran. Sheeran membuka pintu dan memasuki sebuah gubuk itu.

__ADS_1


"Aku pulang, Papa, Mama."


__ADS_2