Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Gadis Mesum 1,2


__ADS_3

“Eleva?” Panggilku melihat Eleva yang termenung di akademi. 


Eleva yang sedang terpanggil segera menoleh ke sumber suara. Ia melihat ada seorang siswa yang berdiri di hadapan Eleva. Ia kenal denganku. Hanya saja, namanya saja. 


“Rivandy,” desis Eleva sambil termenung kembali.


“Mau apa kesini?” Lanjutnya sambil termenung.


“Aku datang kemari untuk meminta maaf. Aku tidak sengaja menembakmu dan membuatmu sial."


“Aku tidak sengaja melemparkan Udon kepadamu."


Eleva hanya terdiam dengan ocehanku. Aku datang kemari untuk meminta maaf karena membuat Eleva sial. Namun, bukan itu masalahnya. Ia tidak bisa meneruskan hubungan dengan gadis mesum.


“Kamu tidak apa-apa?” Aku bertanya pada Eleva yang sedang murung.


“Tidak. Aku hanya ingin sendiri,” jawab Eleva sambil memandangi ke bawah.


Aku tidak tahu apa yang Eleva rasakan. Aku mulai khawatir dengannya. Aku inisiatif dan segera bertanya, “Apa kamu masih marah padaku?”


“Tidak. Hanya masalah teman kecil,” jawabnya sambil menyentuh tanah.


“Oh, begitu,” desahku sambil mendekati Eleva dan segera bersandar di pohon.


Suasana yang sepi dan suram. Aku dan Eleva terdiam dengan seiring waktu berjalan. Kami belum mengatakan apapun. Kami hanya merasakan canggung pada perasaan kami.


“Hei, Rivandy. Aku ingin bertanya padamu,”


Aku menjawab, “Apa itu?” Mulai menoleh ke Eleva.


Eleva memulai berbicara, “Aku sudah … tidak tahan,” meskipun ia ragu dengan dirinya sendiri.


“Aku tidak bisa hidup dengannya lebih lama lagi. Dia selalu melekat padaku,” curhat Eleva sambil menatap dirinya dengan murung.


“Kalau begini terus, aku akan menyakitinya. Setelah itu, hubungan kami akan rusak dan dia akan meninggalkanku,” lanjut Eleva tanpa menoleh padaku. 


Mendengar curahan itu, aku mengingat sesuatu yang ada di kepalaku. Aku merasakan sesuatu yang terbesit di hatiku. Entah apa itu. Aku tidak tahu perasaan ini. 


Eleva bertanya, “Hoi! Rivandy. Apakah kamu memiliki gadis mesum? Aku ingin tahu apa yang kau lakukan padanya,”


“Aku iri denganmu. Kamu bisa berhubungan dengan banyak gadis dan melakukan harem. Aku benci mengakuinya. Kau layak menjadi pangeran,” ungkap Eleva dengan murung.


Aku mengingat sesuatu pada sekitarku ketika aku mendengar curhatan itu.


“Aku punya gadis mesum sepertimu. Dia …sering berada di sampingku. Dia … tidak akan membiarkanku bersama gadis lain dan selalu melindungiku,” ceritaku mengenai Sheeran.


“Dia selalu meluapkan hasratnya padaku. Namun, aku tidak terlalu peduli dengan itu. Aku menjalankan aktivitas bersamanya. Kadang aku mengeluh dengannya. Namun, setelah sebulan berlalu, aku sudah terbiasa dengannya.” 


“Dia tidak jahat. Aku hanya mengeluh dengan permintaannya. Aku sudah terbiasa dengannya sebulan kemudian. Selain itu, dia menyalurkan kasih sayang padaku. Aku tidak keberatan dengannya. Jadi, aku ….” ceritaku terhenti oleh sebuah gertakan.


“Jangan bercanda!” Eleva ingin marah padaku. 


“Mana ada orang yang bisa bertahan dari gadis mesum?” Eleva menoleh padaku dengan penuh amarah.


“Jangan berpikir kau tahu perasaanku! Aku sudah muak dengan banyolannya. Dia selalu mencampuri urusanku seolah-olah dia tahu semuanya.  Karena dia, aku diseret kesini. Dia selalu saja … selalu saja … selalu saja … selalu saja ….” Eleva tidak bisa meluapkan perasaannya lebih lama lagi.


Eleva tidak bisa melanjutkan perkataannya karena emosinya semakin tak tertahankan. Maka dari itu, dia berteriak dan memukul pohon sekeras mungkin 

__ADS_1


“Dia! Dia! Dia! Kalau saja Si Yarou itu tidak mengirimku kesini, bersama dengannya yang mesum dan sampahan itu, aku tidak akan menjadi seperti ini!” Eleva ingin memukul sambil berteriak sekencang mungkin 


“Lebih baik, dia bersama pejabat jelek itu dan menjadi gadis malam dan memperoleh uang banyak setiap harinya daripada bersamaku yang antisosial ini,” ungkap Eleva terus berteriak, sehingga pukulannya ke pohon semakin cepat dan keras.


Eleva terus memukul pohon sebagai pelampiasan yang ia bebani selama ini. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan Eleva yang melampiaskan amarahnya. Aku ingin bilang kepadanya bahwa jika ia memukul pohon terus menerus, pohon akan tumbang dan tangannya akan terluka.


Sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan itu.


“Aku ingin dia menjauh dariku. Aku tidak butuh kasih sayang. Aku … tidak perlu bersamanya."


“Aku hanyalah … seorang penyendiri yang sampah itu.” Ia menghentikan pukulannya dengan darah yang mengalir di tangannya.


Aku mendengar cerita itu dengan seksama. Aku segera menghampirinya dan segera melihat kondisinya yang semakin memburuk. Eleva mengatur nafasnya dan tidak akan berbicara untuk sementara waktu.


“Memang kau itu sampah, tidak berguna, dan tidak peduli. Hanya saja, kau tidak boleh menghancurkan barang sekitar sebagai pelampiasanmu,” saranku.


“Mungkin kamu harus menjalani waktumu sendiri,” lanjutku tanpa pikir panjang. 


“Kenapa aku harus mendengarkan saranmu?” Tanya Eleva dengan tatapan dingin.


Aku mendapatkan tatapan itu dari sebelumnya. Aku mengingat Akishima yang sedang bermasalah pada saat itu. Aku kenal dengan baik mengenai tatapan itu. Dia merasa menyalahkan diri sendiri.


“Gadis mesum tidak akan selalu bersamamu  Dia tidak mungkin 24 jam bersamamu  Dia memiliki waktunya sendiri untuk menjalankan aktivitasnya. Kau tidak perlu khawatir dengannya yang selalu bersamamu. Dia bisa mengatur waktunya sendiri. Dia bukan pelayanmu. Dia adalah manusia seperti kita,” 


Habisnya, tidak ada seorangpun yang bersama denganmu selama 24 jam lamanya ~ Rivandy Lex.


Eleva sedikit tersentuh dengan saranku itu. Ia terdiam beberapa saat untuk mengambil keputusannya. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya dan melupakan kejadian sebelumnya. Emosinya sudah habis. Ia hanya memiliki satu pilihan. Pilihan yang harus ia jalani. 


“Oi! Aku butuh kamu disini untuk sementara. Aku memang benci mengakuinya. Tapi, … setidaknya ….” Eleva bergerak menuju arahku dan memelukku dengan pelan.


“Biarkan aku disini untuk sementara waktu!” Pintanya dengan nada rendah. 


Semoga saja kami tidak menjadi pasangan sejenis. Aurora dan Akishima akan menyerangku dengan aturan dan lainnya,


Jam 12:30, aku dan Eleva melepaskan pelukan kami dan segera menuju ke kelas masing-masing. Namun, sebelum itu, Eleva berbalik badan dan mulai mengeluarkan suaranya.


“Rivandy. Aku ingin bolos sebentar. Aku ingin kau ikut denganku.” tawar Eleva dengan tatapannya yang serius. 


“Memangnya, apa yang kita lakukan untuk mengisi waktu bolos ini?” Aku bertanya pada Eleva secara tiba-tiba.


“Sepak bola. Aku punya tempat yang bagus untukmu. Jangan sampai kalah, ya!” Eleva mual tersenyum dan mengajakku untuk bermain sepak bola


Kami pergi ke aren, dimana tempat kami melakukan preview kemampuan militer kami. Eleva memasuki ke dalam sistem pengaturan arena dan memainkan FIFA 26. Arena berubah menjadi lapangan sepak bola.


Setelah itu, ada 20 pemain komputer yang siap untuk bermain. Aku dan Eleva bertanding di lapangan bersama pemain komputer untuk menghabiskan waktu kami. 


Aku harap kami tidak ketahuan oleh Cherry-neesan. Dia akan menghisap cairanku lagi. 


Setelah permainan berakhir, skor terpampang 6-0. 6 angka pada sisi Eleva dan 0 pada sisiku. Eleva terkejut dengan hasil itu. Ia yang sudah mencetak hattrick terdiam dengan skor kemampuan sepak bola ku, yakni sekitar 50. Sedangkan Eleva sudah menyentuh angka 90.


“Hei. Kau jangan-jangan … kau payah dalam bermain sepak bola?!” Eleva berteriak di hadapanku.


“Iya,” jawabku singkat.


“Kenapa kau tidak bilang dari tadi, hah?”


“Habisnya, aku harus mengikutimu untuk bolos,” jawabku dengan singkat.

__ADS_1


“Aku ingin main lagi. Pastikan kau harus mengeluarkan kemampuanmu sekarang juga!” Perintah Eleva dengan api yang membara.


Permainan dilanjutkan lagi. Eleva segera mengeluarkan kemampuannya sebagai atlet sepakbola. Aku sering kehilangan kontrol saat mengambil bola dan selalu di rebut oleh pemain komputer.


Hasil dari pertandingan itu  tidak sesuai dengan harapan Eleva. Ia melihat skor yang terpampang di notifikasinya. Ia melihat skor 10-0 pada full time. Babak pertama Eleva mencetak 3 gol dan babak kedua mencetak 3 gol. Jadi, ia hattrick selama 2 kali dalam satu pertandiungan.


“Kenapa … skornya semakin buruk, huh?” Eleva memarahiku melihat skor yang terpampang di notifikasinya. 


“Tidak ada pilihan lain. Aku tidak pernah bermain sepak bola,” celaku mendengar amarah itu.


“Tch! Lebih baik aku mengajak Andika atau Denis untuk bermain,” keluh Eleva sambil meninggalkanku.


“Denis? Kamu mengenalnya?” Tanyaku mendengar nama Denis.


“Hah? Kau tidak tahu? Aku kenal dari Zhukov. Dia selalu mencampuri urusanku,” pamitnya menuju ke kelas sambil melambaikan tangannya kepadaku.


Aku segera menuju ke kelas setelah membereskan sistem arena. Namun. jam menunjukkan pukul 15:00. Aku segera menuju ke kelas dan melihat Aurora dan Evelyn dengan pipinya yang menggelembung. Mereka memarahiku habis-habisan dan bertekad untuk menjagaku agar aku tidak kabur lagi.


Sial sekali dengan kedua gadis yang cukup protektif itu.


Belum lagi dengan Akishima dan Sheeran. Mereka akan menginap lagi di apartemenku.


[*^*]


Jam 15:02, Eleva bertemu dengan Andela di tengah muridnya yang membubarkan diri dari kelas mereka. Situasi yang canggung terjadi pada diri mereka. Andela ingin mengatakan sesuatu pada Eleva. Ia tidak mau Eleva memarahinya seperti dulu. 


Ini tidak seperti biasanya. Andela merasa bersalah karena ia overprotektif pada Eleva. Ia juga membuat Eleva bolos akademi selama dua jam pelajaran. Ia merasa bersalah karena ia terlalu mesum pada Eleva. Ia memulai berbicara dengan perasaan bersalahnya.


“Eleva. Aku …,” panggil Andela terpotong.


Eleva menghela nafasnya dan segera menjawab, “Ayo pulang! Kita tidak boleh di sini sampai malam nanti,” segera menuju ke tempat duduknya dan mengambil tasnya dengan santai.


“Eh?! Bagaimana dengan Klub Olahraga yang kau ikuti?” Tanya Andela kebingungan.


“Aku bolos dulu. Soalnya, aku terlalu hebat,” lanjutnya sambil tersenyum.


“Eh?! Kau tidak boleh bolos. Andika menunggumu, lho,” tegur Andela seolah\=olah ia ibunya Eleva.


“Aku sudah mengirim pesan melalui Telegram. Dia akan mengerti, kok,” cekal Eleva sambil santai.


“Kalau kau berbohong, kau harus mandi bersamaku dan tidur seranjang denganku,” banyolnya sambil menggembungkan pipinya.


“Hentikan! Aku tidak berbohong,” cocor Eleva menerima banyolan itu.


“Terus, kau bolos selama dua jam pelajaran. Kemana saja kau?” 


“Aku merenungkan diri di taman dan meluapkan amarahku."


“Eleva! Kamu berdarah lagi, yah?!” Tanya Andela melihat tangan Eleva yang diperban olehku.


“Tidak ini hanya aksesoris saja,” jawabnya berbohong.


“Kau berbohong lagi,” tegas Andela mendengar kebohongan itu.


“Tidak. Aku tidak berbohong,” cekal Eleva mendengar teguran itu.


“Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke hotel sekarang juga,” cetus Andela mengajak Eleva ke hotel malam.

__ADS_1


“Jangan ajak aku ke hotel! Aku bukan suamimu, kau tahu,” cocor Eleva.


Akhirnya mereka meninggalkan akademi dan menjalankan kehidupan mereka. Eleva tidak perlu takut dengan banyolan itu. Ia merasa lebih baik daripada sebelumnya.


__ADS_2