
19 September 2025, jam 12:12, kami berlima makan di tempat duduk yang sama. Akishima dan Sheeran berada di sampingku dan tidak membiarkanku untuk lolos.
“Rivandy, cuaca ini semakin ekstrim, kan?” Tanya Aurora sambil menyantap Roast Meats ukuran kecil.
“Ah. Ini karena pemanasan global yang semakin memburuk,” jawabku sambil menyantap Sashimi.
“Sayang, aku kedinginan. Bolehkah aku tidur di sampingmu?” Rengek Sheeran menahan dinginnya suhu Kota Moskow.
“Tidak bisa. Aku menolak permintaan itu,” tolakku sambil mencicipi Sashimi.
“Eh?! Kenapa?” Tanya Sheeran terkejut dengan penolakanku.
“Habisnya orang mesum sepertimu akan terus ditolak oleh Rivandy,” elak Akishima sambil menyantap semangka miliknya.
“Blang sekali lagi aku akan menghajarmu, dasar Pelakor!” Hina Sheeran sambil mengarahkan pistolnya kepada Akishima.
“Hah?! Kalau begitu, aku akan …” Akishima mempersiapkan senjatanya.
“Kau juga, Akishima,” tambahku.
“Kenapa aku juga?” Kleuh Akishima dengan penolakan itu.
“Kalian ini seperti kucing dan anjing, desu,” jawab Evelyn yang mengenakan beanie miliknya
“Evelyn, kebetulan kamu mengenakan beanie."
“Soalnya, cuaca sekarang sedang tidak bagus, desu. Jadi, aku harus mengenakan beanie, desu,” jelas Evelyn sambil memotong makanan dengan pisau.
“Rivandy saja mengenakan syalnya, desu,” tambahnya sambil memakan Keju Cheddar.
“Arctic Warfare : Teleportation!”
Aku memegang piring kosong dan melakukan teleportasi menuju keluar meja. Mereka yang melihatku merasa terkejut bahwa aku punya teknik yang seperti ini.
“Aku sudah selesai. Aku mau mencuci piring dulu,” pamitku bergerak menuju ke wastafel.
“Hei! Curang! Kami belum selesai, tahu,” cocor Akishima tidak terima.
Karena aku sudah selesai makan, Aurora menghabiskan makanannya dan pamit, “Aku sudah selesai, cepatlah! Kelas sudah mau mulai,” meninggalkan mereka yang masih makan.
"Porsinya sangat sedikit. Wajar saja langsung habis,“ desis Akishima memakan semangka secara perlahan.
“Aku juga, desu,”
Akhirnya, Akishima dan Sheeran menghabiskan makanannya dan segera kembali ke kelas mereka. Aku, Aurora, dan Evelyn segera menuju ke kelas. Dengan terpaksa aku menggendong Evelyn dan dipeluk Aurora dari belakang.
[*^*]
Jam 12,30, aku dipanggil oleh Bu Rivera, guru Sejarah untuk ikut dengannya. Aku terpaksa mengikuti arahan itu. Aku berpisah dari Aurora dan Evelyn untuk mengikuti Bu Rivera.
Di perjalanan, aku bertemu dengan tiga siswa yang sedang menunggu arahan. Dua siswa itu sedang berbicara dengan sedikit topik. Namun, ada seorang siswa yang berkacamata mendekatiku sambil memeriksa apakah aku benar-benar pangeran.
“Apa yang bisa kubantu?” Tanyaku melihat siswa yang memeriksa kondisiku.
“Anu. Apakah kamu Rivandy Lex dari Kelas I Saintek A?” Tanya siswa itu dengan penasaran.
“Iya. Lalu?”
“Benarkah?” Duga siswa itu.
“Iya."
“Oh. Begitu. Aku mendengarmu dari Nona Claveriska. ” jelas siswa berkacamata itu.
“Begitu. Kamu mendengarnya dari anggota Klub Memasak, kan?” Dugaanku benar.
“Iya. Tuan Rivandy. Nona Claveriska mengutus aku kepadamu untuk memberikan surat ini padamu,” siswa itu memberikan surat itu padaku.
“Ok. Aku akan membacanya,” responku sambil mengambil surat dari siswa itu.
[Surat Cinta]
[Selamat Siang, Pangeran Rivandy]
[Apa kabar? Semoga saja kamu baik-baik saja,]
[Hari ini aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Kamu ingat dengan pertandingan kemarin? Aku kalah telak. Kamu lawan yang hebat. Karena itu aku menjadi kagum dengan tingkat memasakmu yang selevel dengan koki profesional. Aku jadi tertarik padamu setulus cintaku. Cinta pandangan pertama terus merasukiku]
__ADS_1
[Hatiku ingin meleleh dengan itu. Kalau bisa, aku ingin terus bersama pangeran sepertimu. Lalu, kita bisa hidup bersama selamanya. Kya! Aku ingin menghangatkan selangkanganku. Tapi, tidak bisa. Aku akan melakukan yang terbaik disini. Setelah lulus akademi, aku ingin melamarmu dengan penuh kasih sayang]
[Itu saja yang kusampaikan. Semoga kamu senang dengan surat ini. Penuh Cinta, Nona Claveriska]
[Tanda Tangan]
[Nona Claveriska]
Aku sangat tegang saat membaca ini. Aku tidak pernah menerima surat sangat elegan ini. Sepertinya dia merupakan keturunan bangsawan.
“Seharusnya aku menanyakan Telegram miliknya. Ini terlalu norak,” gumamku terdengar oleh siswa itu.
“Omong-omong, perkenalkan, namaku Spinx Sentinel. Senang berkenalan denganmu, Rivandy-dono,” ucap Spinx sambil menyodorkan tangannya kepadaku.
“Oh. Iya. Spinx,” desahku mendengar nama itu.
“Dia sekeluarga dengan Aurora,” lanjut pikirku.
Setelah berbicara sedikit, aku, Spinx, dan kedua siswa lainnya sedang mengikuti langkah dari Bu Rivera. Kami harus mematuhi perintahnya atau kami akan dihukum lagi. Hukuman Bu Rivera cukup mengerikan.
Setelah kami tiba di ruangan Bu Rivera yang cukup dekat dari ruang guru, kami berhadapan langsung dengannya. Bu Rivera langsung membuka pembicaraan.
“Ok, semuanya. Kalian datang kemari untuk apa?” Tanya Bu Rivera sambil mengeluarkan penggaris miliknya.
“Ada apa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun,” cekal Eleva dipanggil kemari.
“Lihat ini!” Seru Bu Rivera sambil memperlihatkan hasil tugas kami.
Kami melihat tugas yang diperlihatkan dan terdapat tugas yang cukup memalukan. Kami melihat hasil tugas yang berbeda. Tugas yang aku kumpulkan sangat rapi dan rajin, tugas Spinx agak sedikit berantakan tapi rajin juga, tugas Eleva tidak dikumpulkan tapi sedikit lebih rapi, dan Zera malah berbanding terbalik denganku.
Setelah itu, Bu Rivera pun berkata, “Karena ini, aku memanggil kalian untuk membersihkan kamar mandi pria dan segera lapor kepadaku jika sudah selesai,” bergerak meninggalkan
“Tunggu sebentar! Hanya itu kami dipanggil seperti ini?” Oceh Eleva sambil mengomeli Bu Rivera, tapi Bu Rivera tidak mendengar.
“Hei! Jawab aku!” Lanjut Eleva.
Karena ocehan itu, aku segera mengambil alat kebersihan dan mengajak, “Ayo, kita harus membersihkan kamar mandi sekarang juga,” sambil menoleh sedikit pandangan kepada mereka.
“Ayo, Eleva.” ajak Zera sabil mengambil alat kebersihan dan menghampiriku.
“Tunggu, Zera! Apa yang kau katakan?” Eleva bertanya ke Zera.
“Aku tidak keberatan. Ayo, Rivandy-dono,” terima Spinx sambil menempel padaku.
“Oi! Kacamata! Kenapa kamu harus mematuhinya?” Omel Eleva namun Spinx cuek dengan omelan itu.
“Aku tinggal, nih,” sahutku sambil meninggalkan Eleva.
“Oi! Tunggu aku!” Eleva membawa alat kebersihan nya dan segera mengikutiku.
[*^*]
Aku, Zera, Spinx, dan Eleva segera ke kamar mandi dan melihat suasana yang kotor. Tidak hanya dari segi penglihatan, namun, dari segi penciuman. Kami sedikit tidak nyaman dengan kamar mandi yang seperti itu. Itu berbeda dengan kamar mandi wanita.
Apa mereka tidak membersihkannya?
Ini penuh dengan jebakan. Dengan terpaksa, aku membersihkan ini semua.
“Kenapa kamar mandinya sangat kotor?” Cocor Eleva melihat kamar mandi yang kotor itu.
“Mereka membiarkannya,” jawab Zera dengan singkat.
“Mereka membiarkan kita untuk membersihkannya,” lanjut Spinx menganalisa betapa kotornya kamar mandi ini.
“Tch! Harusnya orang rajin dan rapi sepertimu tidak perlu dihukum,” sindir Eleva kepadaku.
“Justru itu aku semakin diincar. Ayo, bersihkan kamar mandi dulu. Baru kita akan ke kelas sekarang. Aurora dan Evelyn akan menungguku,” ajakku sambil meletakkan sebuah
“Aku juga. Nona Claveriska akan menungguku,” lanjut Spinx sambil mengelap tembok.
“Kamu tidak mau?” Tanya Zera menoleh ke Eleva.
“Iya. Aku akan bersihkan sekarang juga, dengan sedikit aksi,” tekad Eleva tersenyum kecil.
“Rasakan ini! Rebellion : Assault Strike!”
__ADS_1
Eleva memasukkan pisau miliknya dan segera menebas kotoran dengan pisau. Aku, Spinx, dan Zera menoleh kepada Elva yang penuh dengan aura agresif. Ia melakukan teknik itu untuk membersihkan kotoran yang menempel.
“Boleh juga,” gumam Spinx melihat Eleva membersihkan kamar mandi melalui aksinya.
“Ikeh! Estoc Arc : Storm Lie Slash!”
Spinx mengeluarkan pedangnya dan segera menebas kotoran dengan sebuah teknik pedangnya. Sabitan pedangnya sudah diberi cairan sabun agar kotoran itu menghilang dengan sekejap.
“Pistol Laser: Cleaner Slash!”
Zera mengeluarkan laser mode pembersih dan mengarahkan ke lantai. Lantainya jadi penuh dengan sasaran laser. Zera mengikuti apa yang mereka lakukan. Mereka tidak menggunakan alat pel, namun, dengan senjata mereka yang dilapisi dengan cairan sabunnya.
“Arctic Warfare : Assassinate!”
Aku meletakkan alat pembersih dan mengeluarkan sniper milikku lalu aku mengarahkan tembakan kepada kotoran yang bandel itu. Ini sedikit mengalami kerusakan. Tapi, ini lebih baik.
Namun, tidak sengaja peluru yang kulancarkan mengarah kepada Eleva. Eleva yang terkena tembakan itu langsung menyerangku dengan sabitan pisaunya. Aku menghindari tebasan itu sambil menyiapkan formasi yang tepat untuk menyerang.
“Oi! Apa yang kau lakukan, dasar bodoh?! Kau hampir membunuhku,” geram Eleva dengan tembakan yang mengenai di bahu kanannya.
“Seharusnya aku yang katakan itu,” balasku dengan cocoran yang tajam.
“Rebellion : Scorpion Slash!”
Eleva mengeluarkan tekniknya untuk menyerangku. Aku yang menyiapkan posisiku langsung menggunakan pistolku untuk menahan serangan itu. Tapi, Spinx melindungiku dari tebasan milik Eleva.
“Estoc Arc : Defender!”
Fungsi pedang Spinx menjadi perisai untuk melindungiku. Ia bertekad, “Takkan kubiarkan kau menyakiti Rivandy-dono. Dia akan menjadi tunangan Nona Claveriska,” menatap Eleva cukup tajam.
“Yang benar saja! Aku lelah dengan itu. Zera! Bantu aku sekarang juga!” Seru Eleva untuk membuat Zera membantunya.
“Iya,” jawabnya singkat sambil mengeluarkan pistol lasernya dan mengeluarkan tekniknya.
“Rebellion : Boateng Slayer!”
“Pistol Laser : Twin Laser!”
“Estoc Arc : Guardian Defender!”
Eleva dan Zera melakukan serangan untuk menjatuhkan Spinx. Spinx yang terkena serangan itu bertekad, “Sebagai Ksatria Perancis, ini tidak ada apa-apa dengan kekalahanku dengan Paladin!”
“Estoc Arc : Epic Comeback!”
Aku hanya terdiam dengan itu. Mereka terus bertarung sehingga kamar mandinya menjadi bersih. Mereka tidak menyadari bahwa pertarungan mereka membuat kamar mandi menjadi bersih.
Aku segera mengambil kain pengering dan segera mengeringkan kamar mandi di tengah pertarungan itu. Setelah mengeringkan kamar mandi, aku mengeluarkan peluit dan meniupnya untuk mengakhiri pertarungan mereka.
“Apa?!” Eleva berteriak padaku. Zera dan Spinx menghentikan pertarungan mereka.
“Sudah selesai. Waktunya, kembali ke kelas!” Jawabku sambil mengemas alat kebersihan.
“Hah?! Kenapa?! Kamar mandi masih kotor."
“Kamu bisa melihatnya sendiri,” jawabku dengan wajah datar.
Mereka melihat kamar mandi bersih seketika. Mereka tidak menyangka pertarungan yang mereka alami membuat kamar mandi menjadi bersih.
“Sasuga Rivandy-dono. Bagaimana Anda melakukannya?” Tanya Spinx dengan mata yang berbinar-binar.
“Aku hanya mengeringkannya. Kerja bagus! Kalian bisa kembali ke kelas kalian,” pamitku segera membawa alat kebersihannya untuk dibawa ke ruang Bu Rivera.
“Oi! Teme! Aku ingin duel denganmu!” Teriak Eleva sambil mengarah senjatanya kepadaku.
“Baiklah,” jawab Zera dan Spinx secara bersamaan melihatku sudah tidak ada.
“Jangan baiklah!” Sosor Eleva melihat tingkah mereka yang datar itu.
“Tch! Aku mau ke kelasku. Aku sudah lelah berteriak,” pamit Eleva sambil menuju ke kelasnya.
Akhirnya mereka membubarkan diri karena kamar mandi telah bersih. Eleva kesal dengan tingkahku karena aku sedikit cuek dan tidak ingin berduet dengannya. Jika itu terjadi, Eleva senang dengan itu.
Setelah mengembalikan alat pembersih, aku bergegas menuju ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Aku menjelaskan kepada guru yang mengajar hari ini mengenai ketidakhadiranku. Ia menyetujuinya dan memperbolehkanku untuk duduk di samping Aurora dan Evelyn. Mereka senang dengan kehadiranku.
Lalu, pelajaran akademi berjalan seperti biasanya. Ini akan sedikit melelahkan bagi orang biasa. Namun, aku tidak terlalu merasakannya. Aku hanya fokus dengan pelajaran sambil menulis. Aurora dan Evelyn membuat rencana mereka.
Rencana yang membuat aku harus memenuhi hasrat birahinya.
__ADS_1